<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8495426&amp;blogName=Pikiran%2C+Cerita%2C+dan+Perjalanan+Saya&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Flatiefs.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Flatiefs.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Wednesday, October 27, 2004

Marhaban Tanpa Azan


Berpuasa di tengah orang yang tidak menjalankan ibadah Ramadhan, menyisakan suka dan duka. Kontributor Insani, A. Latief Siregar, meramu cerita berpuasa di Norwich, Inggris, menjadi pengalaman batin yang menarik. Berikut ini:

Aku menatap keluar dari balik jendela kamar yang berkabut. Sore menjelang disertai rintik hujan, menambah butiran embun di kaca jendela. Hari ini hari terakhir bulan Sya’ban dalam penanggalan hijriah. Artinya besok umat Islam di seluruh bumi, akan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kesunyian membawa lamunanku jauh ke tanah air.

Disana saat ini, pastilah nuansa Ramadhan sedang kental-kentalnya. Berita televisi dan koran, memuat acara penyambutan Ramadhan, seperti balimau di Sumatera Barat, meugang di Aceh, dan dug dher di Semarang. Belum lagi, semua layar kaca menampilkan acara menjadi berbau agamis seperti ceramah, termasuk artis yang mendadak alim dengan balutan busana muslim. Sementara di dapur, para ibu-ibu menyiapkan masakan khusus, untuk menyambut sahur pertama.

Sementara disini, waktu berjalan seolah besok adalah hari seperti hari ini. Tadi kami menelpon ke tanah air, menyampaikan maaf kepada keluarga, kerabat, dan handai taulan. Tak lupa basa basi, menanyakan masak apa hari ini, seolah dengan demikian, kami ikut memiliki perasaan bungah menyambut Ramadhan.

Selagi asyik melamun, aku mendengar istri yang terisak di depan komputer. Aku tak tau ia sedang bersurat-suratan dengan siapa. Mungkin ia sedang membaca cerita kesibukan menyambut puasa di tanah air sana.

Aku tak sedih dengan itu semua. Tahun ini, sudah tahun ke-18 aku tak berpuasa bersama keluarga besarku. Sejak tamat SMA, aku sudah pergi melanglang buana, hidup sendirian di perantauan. Namun jauh dilubuk hati yang dalam, aku rindu suasana Ramadhan. Dan kini, disini, tak ada satu tanda apapun yang menyiratkan besok Ramadan. Bayangkan, untuk waktu shalat dan azan, kami harus menyiapkan dengan men-download di laptop dan komputer genggam PDA . Bahkan di henpon, kami berlangganan pengingat waktu salat dari
www.5prayer.com. Menyesal rasanya, tidak membawa kumpulan lagu-lagu Bimbo. Kalau tidak, saat ini aku sudah bisa mendengar kidung kasidahan.

Malam semakin larut, lengkap dengan udara dinginnya. Tapi aku sudah bertekad memperoleh suasana Ramadhan. Meski dingin membekukan buku buku tangan, kami paksakan berangkat ke mesjid paling dekat dari rumah, mesjid kampus UEA yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer. Sambil menunggu bis di tengah malam yang berkabut, aku ingat guyonan kawan dari Malaysia. Katanya, pepatah melayu, tak mungin ada asap bila tak ada api, tak berlaku disini. Maksudnya, setiap kita bernafas, seolah-olah menyemburkan asap, karena udara hangat yang keluar dari hidung bersinggungan dengan embun.

Mesjid sudah terisi separuh ketika kami tiba. Sebagian besar berwajah arab. Hanya beberapa orang Indonesia. Selain kami sekeluarga, ada Ima, anak Habibie Center yang sedang mengambil PhD. Ada pula Mas Dono, anak FKM UI yang sudah selesai sekolah. Lalu ada Ratih, anak Ekonomi undergrade (S-1), yang baru lulus SMU Al Azhar Kebayoran tahun lalu.

Karena dikelola oleh mahasiswa asal Saudi Arabia, dugaanku tarawih akan 21 rakaat seperti biasa dilihat pada siaran langsung dari Masjid Al Haram Mekkah. Ternyata, tarawihnya hanya delapan rakaat. Tapi ayat yang dipilih memilih model Saudi, berurutan dari Alif Lam Mim, awal surat Al Baqarah. Sehingga, tarawih sekaligus menammatkan bacaan Quran. Tak heran, meski hanya 11 rakat termasuk withir, salat memakan waktu 1 jam lebih. Alhamdulillah, kami ikut juga merasakan suasana Ramadhan.

Mungkin karena sama-sama kesepian, mahasiswa asal Indonesia yang ada di Norwich, sepakat berbuka bersama pada hari kedua, yang kebetulan jatuh pada hari sabtu. Karena jumlahnya yang hanya belasan, mahasiswa non muslim juga ikut berpartisipasi. Namanya mahasiswa, maka sistemnya disepakati potluck. Yakni semua orang membawa makanan dan minuman. Jadi tuan rumah hanya menyediakan tempat saja. Supaya tidak ada makanan yang tumpang tindih, ada pengatur yang mendata jenis makanan yang akan dibawa. Kami menyetujui untuk membawa kolak pisang.

Ternyata, selain masalah suasana, kami dilanda kerepotan dalam menyiapkan ta’jil. Kami pun berkeliling ke toko yang biasa menjual bahan makanan Indonesia. Ada 4 toko yang biasa kami datangi, kami menyebutnya toko China dan Bangladesh, sesuai dengan kebangsaan pemiliknya. Kami hanya menemui ubi merah dan santan kelapa beku, yang bentuknya mirip sabun batang, yang terbuat dari ampas kelapa sawit.

Padahal sudah terlanjur janji. Tak ada rotan, akar pun jadi. Kami pun pergi ke super market, membeli pisang yang dimaksudkan untuk pencuci mulut. Dipilihlah yang setengah matang, supaya waktu dimasak tidak hancur. Suasana darurat kembali muncul, saat santan dihancurkan, ternyata agak encer. Jadilah, susu cair dimasukkan untuk menambahi fungsi santan.

Cara-cara darurat ini diperoleh dari pengalaman sesama mahasiswa yang merantau di luar negeri. Untuk bertukar resep murah, darurat, dan cepat ini, sarana yang digunakan ruang chatt, email, dan website. Mulai dari resep yang kategori bercanda ala mahasiswa, hingga serius ada. Yang serius, dikelola keluarga Hendra yang bermukim di Australia, dan seorang ibu asal Palembang yang menikah dengan warga Swedia. Saking banyak dan variatifnya, daftar makanan milik mereka, sudah bisa digunakan untuk membuka usaha katering.

Satu-satunya yang “menguntungkan” dengan berpuasa di negara empat musim ini adalah waktu yang pendek, dan suhu dingin. Setiap hari batas waktu sahur semakin siang, sedangkan waktu berbuka semakin sore. Memang hari semakin pendek, tidak 12 jam seperti di Indonesia. Itu semua karena pengaruh posisi latitude bumi yang semakin menjauh dari matahari. Nanti pada akhir Ramadhan, waktu berbuka jatuh pada pukul 16, sementara Isya dan tarawih pukul 19. Sahur rata-rata pukul 5.30, hanya dua kali diatas pukul 6. Kerabat dan teman yang kami beritahu waktu sahur ini, beranggapan ini enak, sebab sudah siang kalau mematok pada sistem jam Indonesia. Padahal, matahari terbit dua jam kemudian setelah sahur. Jadi tetap saja seperti di Indonesia.

Orang bijak berkata, dibalik keterbatasan pasti ada kelapangan. Dengan segala kemiskinan suasana, kesulitan mencari makanan, satu hal yang harus disyukuri adalah banyaknya waktu untuk beribadah. Kota kecil Norwich, tak mengenal kemacetan dan keterlambatan bus. Sehingga, tidak banyak waktu yang dibuang percuma. Dan, akhirul kalam, Marhaban ya Ramadhan

Thursday, October 21, 2004

Tube or not Tube


Dingin masih mencangkung di jalan Gloucester Street, ketika kami melangkah menembus kabut pagi. Masih ada waktu 25 menit untuk mengejar bus National Express yang akan membawa kami ke London. Tapi pagi begini, bis lewat sejam sekali, sementara menurut jadwal di halte York Street, bis sudah lewat 20 menit lalu. Kami putuskan berjalan kaki, meski udara dingin menggigit sumsum.

Dasar londo Inggris, waktu adalah segalanya. Kami tiba di penghentian Red Lion Street pukul 05.54. Artinya telat 4 menit. Bis yang sudah siap berangkat, kami kejar bak sprinter. Beruntung, meski mengomel, supir bis membolehkan kami naik.

Aku mengenyahkan tubuh, menghela nafas panjang. Akhirnya, jadi juga ke London, dengan ongkos 1 Pound, reduksi 13 Pound dari ongkos sesungguhnya. Ini semua berkat funfare, membeli lewat internet di situs bis National Express . Entah karena sopirnya bercelana biru, kemeja putih dan berdasi, atau karena bangun pagi dan terburu sudah jadi kebiasaanku 8 bulan terakhir, aku merasa seperti akan berangkat ke kantor saja.

Aku terbangun, saat bus memasuki pinggiran kota London. Pukul delapan sudah. Aku bilang sama Ari, ini persis naik dari terminal Depok lalu terbangun dua jam kemudian di Sudirman. Warga London sedang bergegas memulai aktivitas. Orang berjalan setengah berlari, dan kumpulan orang-orang yang tiba-tiba seperti nongol dari perut bumi sehabis ditumpahkan kereta underground, menjadi pemandangan pertama. Beda banget dengan Norwich yang cilik, London sebagai capital city-nya United Kingdom adalah kota yang sesak. Meskipun tetap teratur dan sepi dari klakson. Bayangkan Jakarta, man...

Sambil menunggu teman yang akan menjemput, kami memesan kopi di McD, Victoria Station. Menyantapnya bersama spageti yang kami bawa dari rumah. Maklum anak sekolah, semua cara menghemat harus dilakukan. Spageti ini hanya bermodal 1 Pound, bandingkan dengan harus membeli, bisa 5 Pound. Meskipun alasan klasik, adalah soal rasa, untuk menutupi kekikiran yang sebetulnya.

Tujuan pertama, adalah melaporkan di KBRI. Teman di Norwich mengusulkan naik tube, kereta bawah tanah yang jalurnya melingkar-lingkar, tapi stasiunnya jelas. Mbak Mariati, teman Ari sesama Awardee British Cheveaning yang menjemput kami, belum pernah naik tube juga. Jadilah kami naik bis. Praktik kekikiran berlanjut, beli karcis terusan sehari penuh, 2,5 Pound. Habis, sekali naik 1 Pound, bisa nggak jadi beli pete dan pare di China Town nanti.

Kami ingin menikmati matahari dulu di taman Hyde Park. Dari halte Marble Arch, kami jalan kaki 25 menit. Being British, means that you have to walk a lot. Buka bekal lagi, kali ini martabak isi kornet dan teh dari termos yang kami gandol dari Norwich.

Cukup, Mbak Mar berpisah dari kami, karena harus sekolah. Peta memuat jalur bus pun menjadi senjata pamungkas. Sesuai petunjuk kenek bus, kami turun di Mal Self Ridges di Oxford Street kalau mau ke Grosvenor Street, tempat KBRI berkantor. Oh ya, satu-satunya bus yang ada keneknya adalah bus tua yang pintunya hanya dibelakang.

Jalan kaki lagi. Ari mulai lecet, karena pakai sepatu bertumit. Ia meracau, karena aku larang pakai sepatu kets tadi pagi. Kegembiraan meuyak, saat melihat bendera merah putih berkibar di salah satu gedung mewah. Hebat, kedutaan Indonesia, negeri dunia ketiga dengan utang segudang, berdekatan dengan Kedutaan Amerika, Kanada, dan Italia. Entah kenapa melihat kain dua warna itu, aku merasakan sesuatu di relung batin. Lagu Bendera-nya Coklat pun mengalun pelan dilamunan:
“Merah putih teruslah kau berkibar, di ujung tiang tertinggi, di negara orang
ini... Merah putih teruslah kau berkibar, aku kan selalu menjagamu......”

Ke-Indonesia-an itu semakin kental, ketika kami mendapati beberapa pegawai kedutaan sedang duduk-duduk di luar menghisap kretek, sehabis makan siang. Mereka memberi tahu bahwa di dalam gedung ada kantin menjual masakan Indonesia. Hari ini, menunya soto, perkedel, gulai daging bola-bola, dan ikan tauco. Aku dan Ari saling menatap. Lalu seperti di komando, segera masuk. Di lorong, Ari nanya soal harga, aku bilang biar mahal yang penting sedaaaappp... Jangankan kami yang baru tiba dua pekan, karyawan KBRI yang sudah tinggal berbilang tahun saja, masih menyeka dahi dan ber-shhh..shhh.. menyantap pedasnya soto. Lumayan murah, per orang 4 Pound (kl 72 ribu rupiah), dapat semua menu, plus kopi atau teh. Tak lupa ada kerupuk udang, dengan kecap manis dan asin. Lengkap. Santapan lezat ini, semakin menguatkan tekad untuk ke China Town. Kata teman kami Karin yang pulang pekan lalu, disini tidak ubahnya pasar Depok. Maksudnya, semua dagangan Indonesia ada, bukan mengadopsi kekumuhannya.

Kami menuju Trafalgar Square, patokan untuk menuju “Glodoknya London”. Nah, Trafalgar Square ini juga salah satu landmark kota London. Sore begini, ramai sekali. Orang-orang berebut naik patung singa yang mengapit patung jagoan Inggris, Admiral Horatio Nelson, yang memenangkan peperangan di Selat Trafalgar. Semakin ramai dengan merpati yang bersileweran memburu pengunjung yang membagi sejumput makanan.
Sayang hujan untuk kedua kalinya turun hari ini. Matahari yang tadi menerangi kubah National Gallery dan Patung si Nelson merajuk, sembunyi di balik awan. Di kejauhan kami lihat menara Big Ben, seperti merayu untuk dilirik. Kami meneruskan jalan kaki. Melewati Horse Guard, markas penjaga kuda istana; 10 Downing Street, tempat Blair berkantor; dan gedung parlemen. Mendung berpadu dengan gelap malam, membuat kami harus merapatkan jaket dan berjalan sambil memasukkan tangan ke saku.

Tapi bayangan tentang bermacam-macam makanan Indonesia seperti pare, pete, labu, pare, bakso, tahu, teri, kacang tanah. Di Norwich sih ada toko Cina dan Bangladesh, tapi nggak selengkap ini. Meskipun harganya selangit dibanding Pasar Depok. Pete yang sudah dikupas, 100 gram dilego 1,5 Pound (kl 26 ribu), bakso 10 butir yang sudah dibekukan, 2 Pound. Tak apalah, demi kerongkongan, demi roso, demi tanah air (apa hubungannya?). Sebab, semua barang-barang yang tumbuh subur di Indonesia ini, diimpor dari Thailand, Malaysia, atau Vietnam.

Sudah pukul 19. Jadwal pulang masih 2,5 jam lagi. Sayang, manfaatkan sekali lagi tiket bus. Kami kembali ke Oxford Street. Tapi, hujan untuk keempat kalinya hari ini menyiram London. Seolah memberi tahu, hari ini cukup sudah. Kami pun mengarah ke Victoria Coach Stasion, dengan satu tekad akan kembali lagi. Dan, naik tube, meski sedikit lebih mahal dari bus. Tube or not tube, berakhir dengan indah.

London, 6 Oktober 2004






Tuesday, October 12, 2004

Jumatan di Negeri Seribu Kastil


Musim panas segera berujung. Hawa autumn mulai menyergap. Bagi warga yang biasa tinggal di kawasan dengan matahari hadir sepanjang masa, udara dingin terasa menyengat. Apalagi Norwich, 3 jam perjalanan arah timur dari London, mirip-mirip Bogor: hujan sekonyong-konyong menetes.

Seperti hari ini, Jumat pekan ketiga September. Aku berada di perpustakaan Universitas East Anglia. Menunggu waktu shalat, sambil membunuh rindu tanah air dengan membuka situs koran, majalah, dan portal berita Indonesia. Mendung mulai menggelayut, padahal tadi waktu berangkat dari rumah matahari bersinar terik.

Aku teruskan membuka internet. Kata teman-teman Indonesia, yang “senior” tinggal di Norwich, waktu shalat selalu berubah, mengingat adanya empat musim sepanjang tahun. Mereka menggunakan situs
www.islamicfinder.org untuk mencari waktu shalat. Situs ini juga menyediakan software azan yang bisa di-download dan mengumandangkan azan tepat pada waktu shalat, lima kali sehari.

Waktu shalat hari ini, pukul 13.15. Tapi cuaca makin tak bersahabat. Rintik hujan mulai membelah, menyentuh kaca perpustakaan. Aku buru-buru menutup komputer, mengembalikan kartu pengunjung, merapatkan jaket, dan berlari meninggalkan pelataran.

Uppss, aku tak tau dimana arah mesjid. Tadi, sewaktu masuk area kampus, aku cari-cari di papan petunjuk, tak satu pun yang menyebut penunjuk mosque. Dengan bahasa Inggris ala kadarnya aku coba bertanya. Walah, bahasa Inggris logat Norfolk, Inggris Timur ini, ku dengar seperti orang kumur-kumur saja. Aku hanya menangkap, dia menyebut dekat car-park.

Tuhan maha Adil. Aku melihat wajah melayu melintas. Tak dinyana, saudare dari negeri tetangga, Malaysia. “Di dekat karpak, ada bangunan macam kontainer. Tak de tanda kubah, cuma gambar bulan kecik pakai tiang macam antena”.

Betul, macam kata pakcik tu. Mesjid kampus Universitas East Anglia yang megah ini, hanya tiga susunan kontainer. Kesepian di lapangan luas yang hanya berisi mobil. Tapi begitu masuk, kehangatan dan suasana hangat segera merayap. Hangat karena diluar udara begitu dingin, suasana kehangatan karena merasa akrab dengan tata ruang. Ruangan sekitar 100 meter persegi ini, ditutupi karpet tebal berwarna merah marun. Ahai.. ini dia yang membuatku senang. Kamar mandinya dilengkapi kloset jongkok dan selang penyiram. Bukan apa-apa, aku tak biasa dan risih dengan konstruksi kamar mandi di rumah kost dan kampus, sebab kloset hanya dilengkapi tisu.

Meski bangunan sederhana, tempat wuduk disentuh warna modern. Ada air panas dan dingin. Ada pencuci tangan wangi sekali, mungkin buatan The Body Shop, peralatan perawatan tubuh yang memang bermarkas di Inggris sini. Karena waktu shalat masih jauh, aku ngejogrok di kursi khas arab, semacam sofa tak berkaki, yang terletak di pojok. Selain aku, baru ada 2 orang lain. Keduanya diam, tekun membaca.

Kuraih satu Al Quran dari salah satu rak gantung. Oh ya, Quran dan buku tersusun rapi pada enam rak gantung dan 3 lemari. Karena masjid ini ada diantara tempat parkir dan lokasi pengembangan kampus yan sedang dibangun, pengurus mesjid menyurati kampus, agar menghentikan kegiatan proyek pas pelaksanaan shalat. Dalam surat yang ditempel di didinding mesjid ditulis: ini adalah bagian dari saling menghargari sesama penganut agama.

Mansyur, anak Saudi Arabia, yang menjabat Ketua UEA Islamic Society, datang setelah aku. Ia menyalakan dupa khas Arab. Tidak pakai arang tentu, tapi menggunakan listrik. Beberapa saat bau harum pun menyebar.

Jemaah semakin banyak. Dari wajahnya, aku meraba-raba mereka berasal dari Arab, India, Pakistan, Malaysia, dan wajah Indonesia yang sudah kukenal. Ada Mas Dono, anak FKM UI yang jadi ketua Persatuan Pelajar Indonesia cabang Norwich. Ada Taufik, putra Minang, dan Bang Rizal, anak Aceh yang dulu aktif mendamaikan GAM dan TNI lewat Henry Dunant Centre. Umumnya jemaah adalah mahasiswa. Anak-anak yang ikut, kurang dari sepuluh orang.

Seorang pria tua berjanggu putih menaiki mimbar sederhana. Sesederhana jubah yang dikenakan sang khatib. Tapi khutbahnya hebat. Menggunakan campuran bahasa Arab dan Inggris, ia membahas tentang peranan kaum muslim dalam membantu sesama. Ia menggugat bantuan negeri Islam terhadap pengungsi di Darfur, Sudan. Menurutnya, bantuan Oxfam, LSM yang bermarkas di Inggris, jauh lebih banyak ketimbang negara Islam. Intonasinya semakin meninggi, saat membahas masalah Irak dan Palestina. Bagian suicide bomber, bom bunuh diri, banyak menyita pembahasannya dalam khotbah sepanjang 40 menit itu.

Salat Jumat di Norwich tak cuma ajang ibadah. Kesempatan berkumpul ini dimanfaatkan untuk bersilaturrahmi, berdagang, dan juga berdemo. Aktivis Hizbut Tahrir Britain, membagikan brosur ajakan mendemo Presiden Pakistan, Pervez Musharraf di London, pertengahan Oktober. Di dekatnya, warga Pakistan lain menggelar dagangan dalam mobil. Dagangan bertajuk halal butcher ini, menjual ayam, kambing, daun sop, kentang, dan beras.

Aku tak ikut membeli, sebab kami belum membeli beras dan rice cooker. Dari kampus, aku menaiki bus tingkat menuju pusat kota. Dari lantai dua bus, aku memandangi kota yang dipenuhi bangunan tua warisan abad pertengahan. Menurut sahibul hikayat, dulu ada 57 kastil, bangunan besar dan indah, yang dibangun pedagang wol untuk menunjukkan kekayaan mereka. Kini, tinggal 32 bangunan yang tersisa. Sembilan diantaranya digunakan sebagai gereja kristen Anglikan. Sisanya dipakai untuk kepentingan umum. Satu diantara gedung, berada persis di pusat kota, berubah fungsi menjadi mal, meski tetap menggunakan nama Castle Mall. Tak heran, gereja dan bangunan tua ini menjadi salah satu jualan Dewan Kota Norwich. Tak sadar, aku telah terlewat halte City Center.
Dimuat di Majalah Insani Oktober 2004

Pikiran, Ucapan, dan Perjalanan Saya Gambar perjalanan lain, klik disini