Marhaban Tanpa Azan
Berpuasa di tengah orang yang tidak menjalankan ibadah Ramadhan, menyisakan suka dan duka. Kontributor Insani, A. Latief Siregar, meramu cerita berpuasa di Norwich, Inggris, menjadi pengalaman batin yang menarik. Berikut ini:
Aku menatap keluar dari balik jendela kamar yang berkabut. Sore menjelang disertai rintik hujan, menambah butiran embun di kaca jendela. Hari ini hari terakhir bulan Sya’ban dalam penanggalan hijriah. Artinya besok umat Islam di seluruh bumi, akan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Kesunyian membawa lamunanku jauh ke tanah air.
Disana saat ini, pastilah nuansa Ramadhan sedang kental-kentalnya. Berita televisi dan koran, memuat acara penyambutan Ramadhan, seperti balimau di Sumatera Barat, meugang di Aceh, dan dug dher di Semarang. Belum lagi, semua layar kaca menampilkan acara menjadi berbau agamis seperti ceramah, termasuk artis yang mendadak alim dengan balutan busana muslim. Sementara di dapur, para ibu-ibu menyiapkan masakan khusus, untuk menyambut sahur pertama.
Sementara disini, waktu berjalan seolah besok adalah hari seperti hari ini. Tadi kami menelpon ke tanah air, menyampaikan maaf kepada keluarga, kerabat, dan handai taulan. Tak lupa basa basi, menanyakan masak apa hari ini, seolah dengan demikian, kami ikut memiliki perasaan bungah menyambut Ramadhan.
Selagi asyik melamun, aku mendengar istri yang terisak di depan komputer. Aku tak tau ia sedang bersurat-suratan dengan siapa. Mungkin ia sedang membaca cerita kesibukan menyambut puasa di tanah air sana.
Aku tak sedih dengan itu semua. Tahun ini, sudah tahun ke-18 aku tak berpuasa bersama keluarga besarku. Sejak tamat SMA, aku sudah pergi melanglang buana, hidup sendirian di perantauan. Namun jauh dilubuk hati yang dalam, aku rindu suasana Ramadhan. Dan kini, disini, tak ada satu tanda apapun yang menyiratkan besok Ramadan. Bayangkan, untuk waktu shalat dan azan, kami harus menyiapkan dengan men-download di laptop dan komputer genggam PDA . Bahkan di henpon, kami berlangganan pengingat waktu salat dari www.5prayer.com. Menyesal rasanya, tidak membawa kumpulan lagu-lagu Bimbo. Kalau tidak, saat ini aku sudah bisa mendengar kidung kasidahan.
Malam semakin larut, lengkap dengan udara dinginnya. Tapi aku sudah bertekad memperoleh suasana Ramadhan. Meski dingin membekukan buku buku tangan, kami paksakan berangkat ke mesjid paling dekat dari rumah, mesjid kampus UEA yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer. Sambil menunggu bis di tengah malam yang berkabut, aku ingat guyonan kawan dari Malaysia. Katanya, pepatah melayu, tak mungin ada asap bila tak ada api, tak berlaku disini. Maksudnya, setiap kita bernafas, seolah-olah menyemburkan asap, karena udara hangat yang keluar dari hidung bersinggungan dengan embun.
Mesjid sudah terisi separuh ketika kami tiba. Sebagian besar berwajah arab. Hanya beberapa orang Indonesia. Selain kami sekeluarga, ada Ima, anak Habibie Center yang sedang mengambil PhD. Ada pula Mas Dono, anak FKM UI yang sudah selesai sekolah. Lalu ada Ratih, anak Ekonomi undergrade (S-1), yang baru lulus SMU Al Azhar Kebayoran tahun lalu.
Karena dikelola oleh mahasiswa asal Saudi Arabia, dugaanku tarawih akan 21 rakaat seperti biasa dilihat pada siaran langsung dari Masjid Al Haram Mekkah. Ternyata, tarawihnya hanya delapan rakaat. Tapi ayat yang dipilih memilih model Saudi, berurutan dari Alif Lam Mim, awal surat Al Baqarah. Sehingga, tarawih sekaligus menammatkan bacaan Quran. Tak heran, meski hanya 11 rakat termasuk withir, salat memakan waktu 1 jam lebih. Alhamdulillah, kami ikut juga merasakan suasana Ramadhan.
Mungkin karena sama-sama kesepian, mahasiswa asal Indonesia yang ada di Norwich, sepakat berbuka bersama pada hari kedua, yang kebetulan jatuh pada hari sabtu. Karena jumlahnya yang hanya belasan, mahasiswa non muslim juga ikut berpartisipasi. Namanya mahasiswa, maka sistemnya disepakati potluck. Yakni semua orang membawa makanan dan minuman. Jadi tuan rumah hanya menyediakan tempat saja. Supaya tidak ada makanan yang tumpang tindih, ada pengatur yang mendata jenis makanan yang akan dibawa. Kami menyetujui untuk membawa kolak pisang.
Ternyata, selain masalah suasana, kami dilanda kerepotan dalam menyiapkan ta’jil. Kami pun berkeliling ke toko yang biasa menjual bahan makanan Indonesia. Ada 4 toko yang biasa kami datangi, kami menyebutnya toko China dan Bangladesh, sesuai dengan kebangsaan pemiliknya. Kami hanya menemui ubi merah dan santan kelapa beku, yang bentuknya mirip sabun batang, yang terbuat dari ampas kelapa sawit.
Padahal sudah terlanjur janji. Tak ada rotan, akar pun jadi. Kami pun pergi ke super market, membeli pisang yang dimaksudkan untuk pencuci mulut. Dipilihlah yang setengah matang, supaya waktu dimasak tidak hancur. Suasana darurat kembali muncul, saat santan dihancurkan, ternyata agak encer. Jadilah, susu cair dimasukkan untuk menambahi fungsi santan.
Cara-cara darurat ini diperoleh dari pengalaman sesama mahasiswa yang merantau di luar negeri. Untuk bertukar resep murah, darurat, dan cepat ini, sarana yang digunakan ruang chatt, email, dan website. Mulai dari resep yang kategori bercanda ala mahasiswa, hingga serius ada. Yang serius, dikelola keluarga Hendra yang bermukim di Australia, dan seorang ibu asal Palembang yang menikah dengan warga Swedia. Saking banyak dan variatifnya, daftar makanan milik mereka, sudah bisa digunakan untuk membuka usaha katering.
Satu-satunya yang “menguntungkan” dengan berpuasa di negara empat musim ini adalah waktu yang pendek, dan suhu dingin. Setiap hari batas waktu sahur semakin siang, sedangkan waktu berbuka semakin sore. Memang hari semakin pendek, tidak 12 jam seperti di Indonesia. Itu semua karena pengaruh posisi latitude bumi yang semakin menjauh dari matahari. Nanti pada akhir Ramadhan, waktu berbuka jatuh pada pukul 16, sementara Isya dan tarawih pukul 19. Sahur rata-rata pukul 5.30, hanya dua kali diatas pukul 6. Kerabat dan teman yang kami beritahu waktu sahur ini, beranggapan ini enak, sebab sudah siang kalau mematok pada sistem jam Indonesia. Padahal, matahari terbit dua jam kemudian setelah sahur. Jadi tetap saja seperti di Indonesia.
Orang bijak berkata, dibalik keterbatasan pasti ada kelapangan. Dengan segala kemiskinan suasana, kesulitan mencari makanan, satu hal yang harus disyukuri adalah banyaknya waktu untuk beribadah. Kota kecil Norwich, tak mengenal kemacetan dan keterlambatan bus. Sehingga, tidak banyak waktu yang dibuang percuma. Dan, akhirul kalam, Marhaban ya Ramadhan