<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426</id><updated>2011-08-30T07:23:46.609-07:00</updated><title type='text'>Pikiran, Cerita, dan Perjalanan Saya</title><subtitle type='html'>Judul lembaran ini, diambil (dengan segala hormat), dari judul buku mantan Presiden Soeharto. Meskipun ia orang yang tak saya hormati, namun judul buku itu mengilhami. Sebab menggambarkan sebuah jalan panjang.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>117</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-116695251040587279</id><published>2006-12-24T01:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-24T01:28:30.426-08:00</updated><title type='text'>Bukan cuma Smackdown</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 179px; HEIGHT: 170px" height="239" hspace="3" src="http://www.grinningplanet.com/2005/01-25/coffee-cartoon-copyright2.gif" width="179" align="left" /&gt;Aku menyuruhnya lagi. Segelas kopi dan sebungkus rokok pun hadir. Tak lupa ia kubelikan sebungkus rokok juga. Padahal, dulu sepulang dari Inggris aku sudah berniat mengurangi pertolongan &lt;i&gt;office-boy&lt;/i&gt;. Tapi, ketika pertama masuk, aku tak menemukan jejeran gelas dan rak kopi di dapur. Mau tidak mau, aku ikut pegawai lain: menyuruh. Lagipula, dengan memerintah mereka, aku punya peluang “menolong”. Recehan sisa uang rokok atau mie ayam, bisa berpindah tangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Simpatiku kepada kaum itu, membesar sejak tinggal di Inggris. Disana aku pernah &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/14"&gt;bekerja&lt;/a&gt; seperti mereka. Tapi disana, aku tetap dalam posisi terhormat. Managerku saja menyuruh begini: “Abdul, if you have a time, could you please bla..bla..”. &lt;i&gt;Off course&lt;/i&gt; aku punya waktu bos. Kalaupun tidak, pastilah aku jawab punya, karena itu tugasku. Aku bawahanmu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Disini, tak ada yang aneh dengan menyuruh OB, &lt;i&gt;office boy&lt;/i&gt;. Itu tugas mereka, disuruh2. Dengarlah &lt;i&gt;theme song&lt;/i&gt; &lt;a href="http://www.rcti.tv/sinetron/index.php?kode=64"&gt;komedi OB&lt;/a&gt; di RCTI: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;i&gt;OB tolong ini dong..&lt;br /&gt;OB beli itu dong..&lt;br /&gt;OB kesana kemari…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita pun tertawa. Padahal, kalau dicermati, itu mengajarkan sejak dini, bahwa OB, pembantu, pramuwisma, atau apapun istilah eufemistis lainnya, adalah untuk disuruh2 karena sudah dibayar. Maka, ramailah liburan Idul Fitri, dengan cerita susahnya tidak ada pembantu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img hspace="4" src="http://pike.extension.psu.edu/Nutrition/HealthierWeighs/2000/images/pushup.jpg" align="left" /&gt;Andai mereka terhormat, baik secara gaji maupun perlakuan, tentu bisa berdampak kepada kehidupan pemerintahan. Ah, kejauhan ’Dul. Bukankah kalau kopi sudah tersedia, pemanas air otomatis, kita tak butuh pembantu. Bukankah jika aturan birokratis tertata baik, kita &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; butuh calo, katabelece, dan kolusi dengan orang dalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Mungkin kita masih butuh sinetron OB. Sama dengan butuhnya kepada pembantu. Tapi kita tak butuh &lt;i&gt;smack down&lt;/i&gt;, sehingga dia harus enyah. Tokh, kekerasan masih bisa kita lihat di program berita sekalipun. Termasuk sinetron OB yang berlabel komedi. Disana ada Odah yang tiap hari mem-&lt;i&gt;bully&lt;/i&gt; rekan kerjanya, dan Pak Taka yang kejam kepada anak buah kecuali sang sekretaris yang &lt;i&gt;oon&lt;/i&gt;. Push up, kamu..!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-116695251040587279?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/116695251040587279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=116695251040587279' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116695251040587279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116695251040587279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/12/bukan-cuma-smackdown.html' title='Bukan cuma Smackdown'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-116520346217343163</id><published>2006-12-03T19:35:00.000-08:00</published><updated>2006-12-03T19:39:17.773-08:00</updated><title type='text'>Pecinta Rima, Pendaki Nunung</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 176px; HEIGHT: 107px" height="85" hspace="3" src="http://baird.region14.net/webs/campus.bms/upload/runners--cartoon.jpg" width="176" align="right" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Keheningan pagi diganggu teriakan aba-aba. Lapangan kecil di dekat pintu masuk Taman Safari, diramaikan oleh ratusan orang berseragam kaos merah, topi rimba, dan celana gunung. Mereka, peserta lintas alam Trekatlon Kompas 2006, sedang pemanasan dan mendengar petunjuk dokter, sebelum dilemas menyusuri perkebunan dan hutan pegunungan Pangrango, Bogor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku bersama 2 teman kantor, bergabung dalam satu tim di kelas Prestasi. Satu berperawakan gendut, satunya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;em&gt;climber&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; dan aku penggembira. Paduan yang baik, bukan. Ransel sudah terisi 3 botol air mineral, cemilan coklat, juga air isotonik. Semua pembagian panitia, yang pastilah diperkirakan cukup selama perjalanan. Melihat bekal yang sedikit, aku berpikir bahwa jalur tidaklah berat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Seperti peserta lain, kami pun ikut berlari dari garis start. Tak sampai setengah jam, aku sudah mulai berjalan. Tanjakan membuat nafasku ngos-ngosan. Otomatis 2 temanku pun ikut berjalan. Permainan ini mengutamakan kecepatan dan kekompakan. Udara segar perkebunan teh dan hamparan sawah, membuat paru-paruku membesar. Segar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Di pos pertama, salah satu temanku mulai terguling. Keringat harus segera tergantikan. Sambil minum kami duduk mengatur nafas. Lepas pos I, tanjakan terjal menyambut. O..oww, temanku si gendut memuntahkan isi sarapan. Terpikir untuk mundur, tapi balik kanan juga sudah jauh. Perlahan kami terus bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Bertemu petani setempat, membakar semangat. Masak orang2 itu sambil membawa beban saja bisa, kita mundur. Dengan bahasa Sunda, aku ajak ngobrol bapak2 yang sedang menyemprot daun teh. Mungkin ia heran, ada apa pagi ini banyak sekali orang melintas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Gak tau dia, untuk bisa jalan2 di hutan seperti ini, kami “si orang kota”, harus merogoh kocek 600 ribu perak. Jumlah yang mungkin saja sama, dengan yang ia peroleh selama sebulan. Mungkin ia heran, ada orang mau membayar mahal untuk bisa menjelajahi tebing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku teringat masa kecil. Masa kecilku akrab dengan hutan dan sungai. Sekolah lewat sungai, main di hutan. Tak ada teve, apalagi PS. Di salah satu punggung bukit, sebuah bangunan sedang dikerjakan. Mungkin untuk vila. Hutan dan sawah akan segera berganti dengan bata, baja, dan kaca. Argghh.., tahun 2015 nanti, untuk cross country begini, apakah kami harus lebih jauh lagi ke atas bukit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Di pos kedua dari 8 pos, kami dapat kabar sudah ada yang finish. Anggota Kopassus yang dulu menaklukkan gunung Everest. Padahal baru 3 jam sejak start tadi. Tak apa, niat awal memang menikmati alam. Seperti yang disampaikan seorang bapak, yang kesakitan karena kram, ”Kita khan cuma pecinta rima, pendaki nunung. Biarlah pecinta rimba dan pendaki gunung yang menang”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Pukul 5 petang, dibawah hujan rintik, kami akhirnya tiba di finish. Teman kami si gendut, tiba lebih awal. Ia akhirnya dievakuasi. Masih ada 1 pos yang belum kami capai. Tapi karena sudah sore, hadiah saja sudah dibagi, kami dibawa panitia lewat jalan pintas. Meski jalan seharian, rasanya badan kok segar ya. Bapak2, kami rakyatmu butuh hutan, bukan beton..!!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-116520346217343163?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/116520346217343163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=116520346217343163' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116520346217343163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116520346217343163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/12/pecinta-rima-pendaki-nunung.html' title='Pecinta Rima, Pendaki Nunung'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-116486012949013984</id><published>2006-11-29T20:13:00.000-08:00</published><updated>2006-11-29T20:15:29.530-08:00</updated><title type='text'>Kejar Aku Kau Kusalip</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 251px; HEIGHT: 167px" height="237" hspace="4" src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/11/03melanggar.gif" width="251" align="left" /&gt;&lt;em&gt;Gdubraakk...!!!&lt;/em&gt; Suara kencang di bagian belakang itu, sontak menghentikan laju angkot yang kutumpangi. Sebat, sopir turun. Dari balik kaca, aku lihat si sopir dan pengendara motor yang menabrak angkot bertengkar. Rentetan klakson yang memekakkan telinga dari pengguna jalan lain, menghentikan perdebatan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Angkot pun melaju kembali. “Motor kudu &lt;em&gt;digituin&lt;/em&gt;, kalo gak kita yang gawat”, kata si sopir melanjutkan amarah. “Digituin”, maksudnya dimarahin duluan, sebab solidaritas motoris bisa membuat motor selalu benar. Kubiarkan sopir meracau menyucikan emosi. Aku diam saja, termasuk saat ia bilang: “ini akibatnya kalo harga motor murah, dimana-mana motor. Bukan aku setuju pendapat itu. Tapi tampaknya ini sudah pendapat umum. Seolah harga murah berkorelasi linier dengan jumlah motor di jalanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Sewaktu tiba di Norwich, September 2004, niat pertamaku adalah membeli mobil atau motor. Waktu yang luang, dan jalanan lapang menjadi pendorongnya. Tapi hingga pulang setahun kemudian keinginan itu tak terwujud. Bukan karena tak ada duit. Mobil Mitshubishi Galant tahun 2001, cuma 1100 pound (kl 18 juta perak), Range Rover 1997 3000 Pound (kl 50 juta perak). &lt;i&gt;Housemate&lt;/i&gt; kami malah membeli Alfa Romeo setara gajinya sebagai &lt;i&gt;cleaner&lt;/i&gt; rumahsakit, 700 Pound.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 180px; HEIGHT: 229px" height="280" hspace="4" src="http://www.nscc.govt.nz/images/Transport_and_roads/New/Park-ride.jpg" width="180" align="left" /&gt;Terpikir cara lain. Sesiangan mobil dibawa saja ke kampus. &lt;em&gt;Eits&lt;/em&gt;, tak semudah itu kawan. Kampus hanya mengeluarkan stiker tanda parkir, bagi mahasiswa yang mondok di kawasan tidak dilewati jalur bus kota. Padahal rumah kami, Gloucester Street berada di kawasan &lt;i&gt;golden triangle&lt;/i&gt; Norwich, dimana bus kota mengalir 24 jam sehari tiap 10 menit. Pihak kampus menganjurkan mobil di parkir di &lt;i&gt;Park and Ride&lt;/i&gt;, lalu naik bus kota ke kampus. Usul yang terlalu gila untuk dituruti, mengingat jika ditarik garis lurus, kampus berada di tengah antara rumah kami dan &lt;i&gt;Park and Ride.&lt;/i&gt; Belum lagi, ternyata tarif parkir juga sangat mahal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Pelan tapi pasti, perburuan memiliki mobil pun terkikis. Tak pernah kami terhalang, untuk bepergian. Baik di dalam mamupun luar kota. Angkutan publik nyaman, tepat waktu, dan bisa murah jika tau triknya. Seperti tiket terusan, atau membeli jauh-jauh hari dari tanggal bepergian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Mungkin itulah syarat utama “memaksa” warga beralih ke angkutan publik. Bahwa naik angkutan umum tidak merubah apa-apa dari kenikmatan naik mobil pribadi. Justru naik mobil pribadi menciptakan kesusahan sendiri. Hanya mobil umum yang boleh melewati kawasan kota. Mobil umum berhenti lebih dekat ke kampus dibanding tempat parkir yang jauh di luar kampus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Mulai pekan ini, polisi Metropolitan Jakarta memberlakukan jalur khusus motor, dengan ujicoba di kawasan Cawang. Ini bisa jadi “pukulan” buat motoris. Bukankah selama ini, ‘kenikmatan’ naik motor itu bebas dari aturan. Bisa naik trotoar, bisa melawan arah, bisa jalan paling kanan, bisa selap selip diantara mobil. Pemerintah Jakarta juga berencana memberlakukan &lt;i&gt;Electronic Road Pricing&lt;/i&gt;, atawa sistem jalan berbayar untuk Sudirman Thamrin. Jika ini diikuti parkir yang mahal di tengah kota, larangan mobil memasuki pusat keramaian, penyediaan angkutan publik nyaman (busway, monorel), serta trotoar dan penyeberangan elok, maka jalanaan Jakarta nan lengang, bukan mimpi belaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ayo, pilih gubernur peduli publik!!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-116486012949013984?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/116486012949013984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=116486012949013984' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116486012949013984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116486012949013984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/11/kejar-aku-kau-kusalip.html' title='Kejar Aku Kau Kusalip'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-116105961440895045</id><published>2006-10-16T21:29:00.000-07:00</published><updated>2006-10-16T21:33:34.423-07:00</updated><title type='text'>Syukur di Hari Fitri</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 241px; HEIGHT: 169px" height="286" hspace="4" src="http://www.kutaikartanegara.com/berita/2004/tanjong6.jpg" width="241" align="left" vspace="4" border="3" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Dedaunan masih berselimut embun, ketika aku melangkah menuju sungai. Obor di tangan ayah, cukup terang untuk menghindari tersandung akar pepohonan. Gemeretak gigi beradu dengan kecipak air dan serangga hutan. Bagi ayah, yang terbiasa mandi sebelum subuh, air tentu sudah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;tak dingin. Tapi bagi aku, wuihhh....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ketika pagi terang tanah, aku sudah duduk di atas sadel honda (baca=motor). Memeluk erat ayah(*), melawan dingin. Semua demi melihat kota, membeli baju lebaran. Jarak antara kampungku dengan kota, sebetulnya tak jauh. Hanya 30 kilometer. Tapi jalan berpasir, berkubang lumpur memaksa kami berangkat dini agar bisa pulang petang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Padahal tak banyak yang dibeli. Paling 2 stel, yang panjang dan pendek. Tapi senangnya bukan main. Aku juga membeli rokok, dari merk yang tak masuk ke kampung. Entah kenapa, saat lebaran, anak-anak kecil boleh merokok. Padahal diluar itu, sampai SMA pun, kalau aku menyentuhnya, aku bakal kena gebuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 123px; HEIGHT: 97px" height="80" src="http://www.shabox.com/%5Cj2me_files/kok/0046_103x80.gif" width="123" align="left" vspace="4" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kelak setelah jalanan diaspal, dan aku bisa naik motor, kok ya pergi ke kota itu biasa saja. Begitu pula, saat sekarang aku bergaji sedikit di atas UMR (&lt;i&gt;Allahumma Inni Nas-aluka Barokatan Fir Rizki&lt;/i&gt;), membeli baju itu terasa biasa. Tak aneh, sepekan sebelum lebaran, aku belum membeli apa-apa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku berpikir, adakah rasio antara kebutuhan dengan ketersediaan? Ketika sesuatu mudah tersedia, maka tingkat kepuasan memperolehnya menjadi nihil. Ketika kuliah dulu dengan uang saku pas-pasan, mencari makan begitu mudah. Karena pilihannya sempit, warung padang atau warung sunda. Kini, terkadang lapar semakin panjang hanya karena bingung mau makan yang mana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah, sepekan lagi lebaran, hari nan fitri akan tiba. Suasana lebaran di kampung itu menyeruak. Sayang, aku tak mudik. &lt;strong&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf Lahir dan Bathin&lt;/strong&gt;, selamat kembali ke fitrah, selamat kembali ke kampung halaman, selamat kembali ke kesederhanaan. Sesungguhnya di hidup sederhana itu, banyak terselip kebahagiaan. Semoga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-116105961440895045?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/116105961440895045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=116105961440895045' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116105961440895045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116105961440895045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/10/syukur-di-hari-fitri.html' title='Syukur di Hari Fitri'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-116073634163553301</id><published>2006-10-13T03:44:00.000-07:00</published><updated>2006-10-13T03:45:41.900-07:00</updated><title type='text'>Berkah di Sisa Malam</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 201px; HEIGHT: 206px" height="300" hspace="4" src="http://www.acclaimimages.com/_gallery/_SM/0093-0602-2307-5343_SM.jpg" width="214" align="left" vspace="3" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Suara musik, berpadu dengan getaran ponsel beradu dengan meja, membuatku tergeragap. Secepat ini, sudah waktu sahur. Aku alfa, tadi alarm yang biasa aku set-up di angka 03.30, aku geser menjadi 00.30. Mundur 3 jam, karena aku pengen menyalakan mesin air. Maklum, sejak kekeringan melanda, mesih hanya berbunyi mengantar angin. Aku tunggu dibawah tower. Aliran air sporadis, mungkin tiap 2 menit baru tercampak segenggam. Ah, kekeringan yang selalu kuberitakan itu menimpaku juga akhirnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Pagi, dengan mata terkantuk aku periksa lagi mesin. Masih mengaung, dan tentu saja panas. Tetangga mengusulkan, "dalemin aja". Memang, lima tahun tinggal di kontrakan itu, belum pernah ada upaya pendalaman sumber air. Padahal tetangga, sudah bermain di angka 40 meter. Kami tetap 20 meter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;i&gt;"Dalemin aja!&lt;/i&gt; Kata yang mudah. Biaya operasional tidak terlalu mahal. Lalu, tanpa proses administrasi. Betapa "enaknya" hidup di negeri liberal ini, Sobat. Bayangkan, dulu waktu di Norwich, kami meminta &lt;i&gt;landlord&lt;/i&gt; memasang pintu di lorong samping menuju pintu belakang, lebih dari 3 bulan baru terwujud. Rupanya harus ada izin pemda, verifikasi, izin tetangga. Lalu, hanya bengkel yang ditunjuk saja yang boleh mengerjakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Tolong, jangan bayangkan kerumitan ini terkait dengan upaya KKN. Izin Pemda, dan izin tetangga itu untuk kemaslahatan umat. Karena lorong itu dipakai juga oleh orang lain. Sedang verifikasi, apakah pemagaran tidak mengganggu upaya penyelematan jika terjadi kebakaran. Rumit deh. Coba disini, mau bangun &lt;i&gt;monggo&lt;/i&gt;, bahkan mendirikan bangunan di tanah bukan milik sendiri saja, sah-sah &lt;i&gt;wae&lt;/i&gt;. Bebas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kebebasan yang dianalogikan Kyai Sejuta Umat, dengan tingkah seorang penumpang kapal. Sang penumpang membayar tempat di dek paling bawah. Karena malas naik turun ke kamar mandi di bagian atas, ia lobangi saja dinding kapal. Ketika ditegor penumpang lain, ia marah: "Aku sudah bayar bagian ini, terserah mau aku apain". Padahal, ketika air masuk kapal, bukan si penumpang itu saja yang tenggelam, tetapi seisi kapal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Nah, masih mau enak sendiri, dan membiarkan orang lain kekeringan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-116073634163553301?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/116073634163553301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=116073634163553301' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116073634163553301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/116073634163553301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/10/berkah-di-sisa-malam.html' title='Berkah di Sisa Malam'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115961511311057625</id><published>2006-09-30T04:15:00.000-07:00</published><updated>2006-10-03T22:35:03.260-07:00</updated><title type='text'>Riwayat Negeri Pilu</title><content type='html'>&lt;img src="http://www.cartoon-it.com/imagesshirts/header-cart.gif" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Terik mentari menyinari pagi bekas hujan. Kurang sempurna apa untuk bepergian. Kuraih sepatu &lt;strong&gt;Clark &lt;/strong&gt;dari dalam kotak. Sejatinya, musim panas begini, enaknya pakai sandal. Setelah berbilang bulan kaki selau tertutup sepatu, apalagi kaos kaki tak lekang kecuali mandi. Tapi tidak. Setelah kubeli akhir tahun lalu saat &lt;em&gt;boxing day&lt;/em&gt; –dimana harga dibanting serendah2nya—sepatu itu belum pernah kupakai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Sejenak aku sudah menunggu bus 25, yang akan membawaku ke &lt;em&gt;city center&lt;/em&gt;. Ada 2 halte di pusat kota, aku memilih halte di dekat &lt;b&gt;boots&lt;/b&gt;. Lebih asyik jalan kaki dari arah situ, banyak pemandangan. Lagi pula sikat gigiku udah mulai rusak. Tepat, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;oral b&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; lagi dijual &lt;em&gt;bogof &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;buy one get one free&lt;/em&gt;). Sedikit ragu, ada sabun mandi &lt;strong&gt;adidas&lt;/strong&gt; juga lagi diskon. Tapi kami masih punya persediaan. Ari beli beberapa sabun dari &lt;strong&gt;bodyshop&lt;/strong&gt;. Beli ah, baunya lebih pas dengan &lt;em&gt;body splash&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;harvard&lt;/strong&gt; keluaran &lt;strong&gt;Mark and Spencer&lt;/strong&gt; ku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Lanjut lagi. aku mampir di &lt;strong&gt;Mark and Spencer&lt;/strong&gt;. Panas begini kerongkongan cepat kering. Kuraih sebotol minuman. Kalau beruntung, suka ada &lt;em&gt;bogof&lt;/em&gt; juga. Kali ini tidak, tapi tak apa. Tokh harganya sama saja dengan merek lain macam &lt;strong&gt;volvic&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;evian&lt;/strong&gt;. Aku menyeberang, berhenti sesaat di &lt;strong&gt;Debenhams&lt;/strong&gt;. Di depannya ada pengamen menggunakan &lt;em&gt;bagpipe&lt;/em&gt; dan pakaian khas skotlandia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ari sms menanyakan aku dimana. Ia bersama teman Indonesia lain sedang berburu diskon di &lt;strong&gt;Topshop&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Topman&lt;/strong&gt;. Aku meluncur, tapi aku tak masuk. Aku malas, sebab modelnya tak lebih bagus dari distro yang bertebaran di bandung sana. Aku memilih duduk di bangku taman, memandangi orang melintas. Di sebelahku duduk beberapa buruh bangunan yang sedang merapikan trotoar. Mereka sedang istirahat makan siang. Ada yang menyesap kopi &lt;strong&gt;starbuck&lt;/strong&gt;, ada pula yang &lt;strong&gt;coke&lt;/strong&gt;. Tak lupa penganan seperti &lt;em&gt;sandwich&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;fish and chip&lt;/em&gt;, dan entah kenapa pisang. Mereka sangat senang makan pisang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Istriku, Ari sms lagi, mereka lanjut ke &lt;strong&gt;Miss Selfridges&lt;/strong&gt;. Dasar orang Indonesia, beli kalau diskon doang. Maklum pelajar, dengan beasiswa yang untuk ukuran orang inggris masih lebih rendah dengan UMR &lt;em&gt;cleaner&lt;/em&gt;. Aku malas gabung, aku berjalan-jalan saja. Mampir sejenak di &lt;strong&gt;NEXT, &lt;/strong&gt;aku beli kaus kaki. Lagi diskon, 3 helai hanya 3 Pound. Harga yang sama dengan buatan Bata. Terus melintas di salon &lt;strong&gt;Tony and Guy&lt;/strong&gt;. Letaknya, jika dibanding salon &lt;em&gt;Johny Andrean&lt;/em&gt; yang banyak di mal-mal, jauuhh. Aku tertarik dengan sebuah toko penjual bijo kopi. Ia memajang toples kaca gede, mirip di pasar tradisional. Duhai gusti, harga yang paling mahal &lt;em&gt;goes to&lt;/em&gt; kopi mandailing. Kopi nikmat yang pernah aku sesap di pinggir Aek Singolot, Purba Baru. Nun jauh, bangsaku memuja kedai kopi bermerk Barat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ari telpon, berjumpa di rumah makan Cina. Jauh-jauh merantau aku tetap Indonesia tulen, &lt;em&gt;my stomach growl if i dont eat rice everyday&lt;/em&gt;. (aku bersyukur, bahwa aku bukan Indonesia dalam bentuk lain: &lt;em&gt;makes major decision based on gengsi&lt;/em&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku teringat masa di Norwich ini, setelah dua media besar pekan lalu menulis tentang konsumtivisme yang makin menggila di Jakarta. Ditandai dengan serbuan merk Inggris. Tentunya aku tak ingin mengadili bahwa memuja barang bagus itu salah. Hanya mau sampaikan, di negara asalnya sana, barang2 itu bagian dari keseharian belaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Pulangnya kami menunggu bus, di depan toko buku &lt;strong&gt;WH Smith&lt;/strong&gt;. Oh ya, kota Norwich yang kecil ini memiliki banyak sekali toko buku. selain WH Smith, ada &lt;strong&gt;Ottakar&lt;/strong&gt; juga &lt;strong&gt;Waterstone&lt;/strong&gt;. Aku ngunandika, kenapa ya para pesohor Indonesia itu tidak ada yang membawa wabah toko buku ini ke Jakarta sini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115961511311057625?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115961511311057625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115961511311057625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115961511311057625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115961511311057625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/09/riwayat-negeri-pilu.html' title='Riwayat Negeri Pilu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115840641537077117</id><published>2006-09-16T04:32:00.000-07:00</published><updated>2006-09-16T04:33:35.386-07:00</updated><title type='text'>Waktumu Uangku</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 213px; HEIGHT: 119px" height="157" hspace="3" src="http://www1.istockphoto.com/file_thumbview_approve/517578/2/istockphoto_517578_taxi.jpg" width="213" align="left" vspace="3" /&gt;Angkot itu berhenti lagi. Aku nikmati saja. Aku duduk sendirian di depan. Kebetulan kantorku pun, tidak saklek soal jam kerja. Tapi tidak dengan mbak2 di belakang. Ia menggerutu. Karena angkot tak jalan juga, ia pun turun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;"Ngejar waktu nih, bang", katanya sewot, sambil melemparkan gumpalan uang kertas. Sopir tak kalah gertak. Katanya, "Kalo mau cepat naik taksi, mbak".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Aku senyum di kulum. Ingat kelakuan sohibku, &lt;a href="http://dekaakbar.multiply.com/"&gt;Mas Paijo kondo-kondo&lt;/a&gt;. Suatu kali, ia naik angkot, ngejar waktu. Ketika ia desak untuk jalan, sopir menjawab "kalo mau cepat naik taksi". Tapi ia tak marah, apalagi turun. Tabah. Kelak, ketika ia sampai tujuan, barulah "ketabahan" nya terungkap. Ia hanya membayar &lt;em&gt;seceng&lt;/em&gt;, dari yang seharusnya &lt;em&gt;noceng&lt;/em&gt;. Ketika sopir angkot bilang kurang, dengarlah jawabnya: "Kalo mau dapat ongkos mahal, jadi sopir taksi". Haha...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Begitulah. Aku salut sama si mbak dan mas paijo. Si mbak berani menanyakan sesuatu yang menjadi hak publik. Hak memperoleh layanan, karena telah membayar. Di negeri maju sana, dimana bus dikelola negara, warga yang merasa pembayar pajak, bisa protes. Termasuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;a href="http://www.firstgroup.com/ukbus/eastanglia/eastanglia/timetables/timetable.php?day=1&amp;source_id=2&amp;amp;service=25&amp;routeid=725299"&gt;jadwal&lt;/a&gt; yang harus ditepati. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Jika ini bisa dipenuhi, maka angkutan publik disuka, bukan mimpi belaka. Jadi, tak perlu taksi khan, buat cepat. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115840641537077117?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115840641537077117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115840641537077117' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115840641537077117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115840641537077117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/09/waktumu-uangku.html' title='Waktumu Uangku'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115727679107827170</id><published>2006-09-03T01:12:00.000-07:00</published><updated>2006-09-03T02:46:31.153-07:00</updated><title type='text'>Berakit ke Tepian</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 206px; HEIGHT: 137px" height="188" src="http://www.smeru.or.id/newslet/2002/ed02/200202field2.jpg" width="206" align="left" border="4" /&gt;”Jembatan bang”, teriak penumpang kepada sopir. Ini udah berulang kali terjadi, setiap melintasi jalan Raya Bogor. Pagi ini akhirnya, aku cari, apa gerangan yang menbuat tempat turun ini bernama “jembatan”. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Biasa&lt;/span&gt;, bangsa ini sangat kreatif menciptakan nama berdasarkan kondisi, situasi. Sebutlah, Pasar Jumat, Pasar Senen, atau Jembatan Lima.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kreativitas yang pantas diacungi jempol. Kreativitas yang didorong &lt;strong&gt;ketiadaan aturan&lt;/strong&gt;. Dimana &lt;em&gt;halte&lt;/em&gt; hanya pajangan, dan &lt;em&gt;penyebarangan&lt;/em&gt; masih jauh dalam harapan. Padahal, halte dan penyeberangan, adalah bukti kecil ketaatan kepada hukum, dan penanda sebuah peradaban kota.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kembali ke jembatan. Benar, tepat di seberang RS Tugu Ibu, ada jembatan kecil. Hanya terlihat dari balik deretan kios&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Jembatan memang banyak disini, karena ada sungai persis di sisi jalan. Di beberapa bagian, terutama kawasan pabrik, seperti YKK, Bayer jembatan itu jelas, karena tidak ada bangunan penghalang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Memang, nyaris sepanjang jalan dihiasi bangunan. Umumnya semi permanen. Aku berani bertaruh, banyak bangunan yang berdiri bukan di atas tanah pemilik sah. Bayangkan, jarak antara jalan raya dengan tubir sungai hanya sekitar 3 meter. Bagaimana mungkin, tanah itu ada pemiliknya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px" height="184" alt="Foto di Ely, Norfolk, UK" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/ely.jpg" width="320" border="2" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;em&gt;Sungai Ely &lt;/em&gt;di&lt;em&gt; UK&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/center&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;font-size:85%;"&gt;Nah diatas bangunan "liar" itulah berbagai aktivitas berlangsung. Mulai dari jual tiket, warteg, hingga pencucian mobil. Sungguh berbahaya. Aktivitas terus menerus dalam jangka panjang, akan mengurangi kekuatan struktur tanah. Pelan2 akan tergerus, dan suatu masa, akan longsor. &lt;em&gt;Nauzu billahi min zalik&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika masa itu tiba, barulah kita tersedar, betapa sungai itu nikmat Allah yang berbahaya, jika tidak dikelola. Sebaliknya, amat indah, jika dikelola. &lt;em&gt;(Aku pernah lihat iklan, ada buku "power of water").&lt;/em&gt; Nyaris semua kota2 di Eropa sana, memasukkan sungai dalam brosur wisata. Kita? Menganggap sungai adalah pembuangan. Itulah pula, bangunan rumah (nyaris) selalu membuat sungai sebagai bagian belakang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di atas angkot yang terus melaju, aku mengkhayal suatu masa, berakit2 di Kali Ciliwung bak Kapten &lt;em&gt;encik Awang&lt;/em&gt;. Sambil mengenang kecantikan &lt;a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=247989&amp;amp;kat_id=84&amp;kat_id1=&amp;amp;kat_id2="&gt;Siti Maemunah&lt;/a&gt;, putri  Pangeran Geger dan Nyai Polongan yag kesohor itu. Dayung, bang....!!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115727679107827170?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115727679107827170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115727679107827170' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115727679107827170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115727679107827170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/09/berakit-ke-tepian.html' title='Berakit ke Tepian'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115573299638584543</id><published>2006-08-16T05:54:00.000-07:00</published><updated>2006-08-16T05:57:11.126-07:00</updated><title type='text'>Bayi di Perutku</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 150px; HEIGHT: 130px" height="180" hspace="3" src="http://www.bradfitzpatrick.com/stock_illustration/images/cartoon_pregnant_woman_01.gif" width="190" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ada kabar menarik di Jepang. Perempuan hamil, yang naik angkutan umum, diberi pin "Ada bayi dalam perut saya" (&lt;i&gt;Thanks to &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2006/08/14/INO/&lt;b"&gt;Tempo&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Tujuannya, menggugah penumpang lain agar memberikan tempat duduk bagi perempuan hamil. Elok benar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Andai ini ada di Jakarta, pasti banyak peminatnya. Sebab, di KRL yang selalu padat itu, banyak penumpang yang PPP (Pura-pura Pulas) begitu melihat orang tua dan ibu hamil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Namanya menggugah, tentu saja tak ada jaminan orang memberi. Belum lagi kalau berhadapan dengan "aktivis PPP" tadi. Yg juga baik, adalah pemerintah mengatur kewajiban memberi ruang bagi kelompok disable ini. Bis di Inggris, dua lapis pertama ditempeli tulisan "Berikan kursi ini untuk orang tua dan ibu hamil". Lalu sebaris kursi lainnya, dialokasikan menjadi ruang terbuka untuk kereta dorong bayi dan kursi roda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Melihat bis disini, perlu ada aturan semacam IMB dalam bangunan agar bis menjadi nyaman. Yg pernah naik bis eks Jepang, macam nomor 45 UKI-Blok M, pasti berasa berbeda dengan bis lainnya pabrikan Indonesia. Jarak kaki lebih luas, turun naik lebih mudah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 134px; HEIGHT: 113px" height="349" hspace="3" src="http://www.buttergray.com/file_images/porto_true_images/graphic/merdeka.png" width="240" align="right" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Sayang, angkutan publik, sesuai stikernya "Anda butuh cepat, kami butuh uang", tak pernah membicarakan kenyamanan. Besok, 17 Agustus datang lagi. Tapi merdeka untuk memperoleh pelayanan masih terasa jauh. Merdeka masih sebatas kebebasan berbuat apa saja. Bukan merdeka dari melanggar aturan. Apalagi merdeka dari menjajah orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Merdeka..!!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115573299638584543?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115573299638584543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115573299638584543' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115573299638584543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115573299638584543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/08/bayi-di-perutku.html' title='Bayi di Perutku'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115405921444558126</id><published>2006-07-27T20:56:00.000-07:00</published><updated>2006-07-27T21:00:14.510-07:00</updated><title type='text'>Hilang Tak Berbilang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 246px; HEIGHT: 162px" height="240" hspace="4" src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1105/29/03Langgar%20Rambu.gif" width="277" align="left" vspace="4" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Moncong mobil yang kami tumpangi terus memaksa masuk jalan Margonda Raya. Tepat di simpang Kober, angkot menyesak tanpa rasa salah. Akibatnya kami harus menengah, padahal kenderaan yang melaju di jalan Margonda Raya, tak kalah buas siap menyergap. Suara klakson pun menyaru-nyaru kejam, karena jalur terhalang. Apa boleh buat, jika harus menunggu, kapan bisa jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;”Kalo nyetir di Inggris, pasti kita udah ketabrak nih”, kataku begitu huru hara itu berlalu. Keponakanku langsung menyambar, “Macam apa rupanya jagonya orang Inggris itu nyupir, Tulang”. Ia wajar “tersinggung”. Sebab jam terbangnya di jalan raya sudah tak diragukan lagi. Sebelum tiba di Depok, ia sudah menyetir dari Palembang, Semarang, Jombang, Surabaya, lalu Bandung. Ia juga sudah berkali menyusuri jalur lintas Sumatera dari Bandung ke Medan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Justru karena mereka tak jago. Sebab mereka terbiasa dengan aturan yang ketat. Angkutan umum tidak akan berhenti sembarangan, dan menyeberang pada tempatnya saja, sudah cukup membantu menjaga arus pada jalur masing-masing. Belum lagi ketersediaan garis dan kepatuhan terhadapnya. Ini membuat tidak ada gangguan arus, yang memaksa kenderaan lain menyalip. Kalau begini, alamat bengkel klakson tak laku, sebab klakson juga menjadi tak berguna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 246px; HEIGHT: 157px" height="262" hspace="4" src="http://www1.moe.edu.sg/nadi/arkib/2005/ogos/bahasa/cintaibahasa/car_overtaking.gif" width="215" align="left" vspace="4" /&gt;Suatu kali di koran lokal Norwich, ada berita tentang penumpang yang menggugat perusahaan bus. Nenek itu terluka akibat bus mengerem mendadak. Sopir bus tak diam, ia menggugat juga pengemudi lain, yang berhenti mendadak bukan pada tempatnya. Bayangkan, betapa tidak piawainya mereka menyetir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Lalu disini, mana garisnya yang harus kami patuhi, teriak pengguna. Capek ah, dimana-mana rambu kami dirikan hanya jadi penghias jalan, timpal pemerintah pula. Jika untuk urusan keselamatan di jalan raya, yang jelas-jelas terdeteksi dan terduga kita tak makruf, apatah lagi menghadapi bencana yang datang tak menyapa hilang tak berbilang. &lt;em&gt;Ya Allah&lt;/em&gt;, sayangi negeriku..!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115405921444558126?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115405921444558126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115405921444558126' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115405921444558126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115405921444558126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/07/hilang-tak-berbilang.html' title='Hilang Tak Berbilang'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115270558472127657</id><published>2006-07-11T21:22:00.000-07:00</published><updated>2006-07-12T04:59:44.800-07:00</updated><title type='text'>melenguh dalam peluh</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 261px; HEIGHT: 180px" height="240" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/FIGO.jpg" width="261" align="left" vspace="4" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Ciuman hangat itu menghunjam tajam. Bergantian anak-anak azzuri menumpahkan rindu dendam kepada piala lambang supremasi sepak bola dunia. Suasana makin meriah, ketika confetti warna tercurah dari langit. Menyiram anak muda yang sedang tersiram suka ria. Italia 5 Perancis 3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Tak ada adegan tukar kaos. Padahal biasanya adegan paling menjijikkan dari pertandingan sepakbola, itu menjadi ritual penutup. Menjijikkan, tetapi bisa sekaligus bermakna keakraban. Egaliter. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Bertukar peluh, ih. Aku bertekad, hanya akan bertukar peluh dengan istriku saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Berpeluh dan melenguh, adalah ciri utama Piala Dunia kali ini. Waktu 90 menit, bahkan 120 menit sekalipun tak membuat kendor semangat para pemain. Aku malah khawatir. tim teknis FIFA mengusulkan menambah jam permainan, atau meminta perluasan lapangan. Tengoklah, bagaimana para pesepakbola itu tetap mengejar bola hingga ke garis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Tiada keluh, hanya peluh dan lenguh. Bahkan ketika pemain memprotes keputusan &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/157"&gt;pengadil&lt;/a&gt;. Pengadil jujur, pemain sopan, maka yang terhidang adalah permainan cantik. Andai saja kehidupan itu teratur dan berkelindan macam itu. LLAJ memasang rambu dan lampu pengatur dengan baik. Polisi menindak setiap pelanggar. Hakim mengadili sesuai aturan. Samsat menggunakan data pelanggaran sebagai pertimbangan perpanjangan. Kas Negara menyimpan uang denda dan mempergunakan untuk rakyat. Aih, indahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 191px; HEIGHT: 162px" height="150" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v75/persiantiger/Z.jpg" width="150" align="left" vspace="4" /&gt;Sepakbola tak hanya kerja keras. Ia tak luput dari sifat purba tipu muslihat. Lihat aksi Christiano "Diver" Ronaldo, yang setiap masuk kotak pinalti lawan, hampir selalu terjatuh. Hasilnya, anak-anak Portugis berhasil mengusir Wayne Rooney dan menjungkalkan Inggris. Tapi apa lacur, namanya sebagai &lt;em&gt;nominee&lt;/em&gt; &lt;a href="http://fifaworldcup.yahoo.com/06/en/w/bypa/index.html"&gt;Best Young Player&lt;/a&gt; pun lenyap. Padahal tanpa diving pun, tarian sambanya adalah dribling paling mumpuni,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang mendapati "kesuksesan" hidup dengan cara tidak terpuji. Menerapkan manajemen kodok, menyembah ke atas, menendang kiri kanan, dan menginjak ke bawah. Apakah ini kesuksesan hakiki?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Selamat Lippi, Italia, dan 31 tim lainnya. &lt;em&gt;Trinidad and Tobago&lt;/em&gt; yang hanya setitik dalam peta dunia, harum ke seluruh jagad. Jika ada adagium yang bilang: perilaku sebuah bangsa dapat dilihat dari caranya berlalulintas, maka seperti apa kita melihat sebuah bangsa yang jika bermain bola, justru berenergi ketika memburu wasit dan membakar stadion?. Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115270558472127657?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115270558472127657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115270558472127657' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115270558472127657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115270558472127657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/07/melenguh-dalam-peluh.html' title='melenguh dalam peluh'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115198988625644755</id><published>2006-07-03T20:09:00.000-07:00</published><updated>2006-07-03T22:11:26.336-07:00</updated><title type='text'>Hamba Wet Bersuka</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 256px; HEIGHT: 182px" height="331" hspace="4" src="http://kotisivu.mtv3.fi/hkpro/ind2.jpg" width="214" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Angkot melaju melampaui jembatan layang UI. Seperti pagi yang lain, kemacetan menyambut di dekat halte UI. Angkot lalu beringsut menyusuri belokan menanjak, di dekat penjaja kembang. Aku menebak, pasti tidak ada polisi, di pertigaan menuju Srengseng. Jadi, kemacetan ini disebabkan berhenti sembarangan di pertigaan itu, dan bersambung dengan pertigaan yang membelah rek KA di depannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Lepas, di depan Universitas Pancasila, angkot sudah melaju normal. "Gangguan" kembali muncul di pertigaan Lenteng Agung, dan nanti di dekat stasiun Tanjung Barat. Penyebabnya serupa: ngetem. Jika di pertigaan jalan Joe lancar, tebaklah pasti ada polisi berjaga.  Tebak2an ini akan semakin panjang, karena setiap kawasan punya kasus seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 184px; HEIGHT: 182px" height="331" hspace="4" src="http://www.pcbypaul.com/wpclipart/people/police/policeman_cartoon.png" width="214" align="left" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Begitulah, di usianya yang ke-60, 1 Juli, polisi masih figur yang ditakuti. Bukan dihormati, apalagi disegani. Tak apa. Terlalu banyak faktor dibaliknya. Sopir-sopir yang rajin memberi recehan, pasti tau belaka polisi itu gampang diajak berselingkuh mengelabui aturan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Momen milad ini --dimana Polri merayakan tanpa formalitas dan kemegahan, tapi ramah dan akrab di tengah masyarakat--, bisa menjadi titik tolak perubahan citra dan perilaku. Salah satunya menegakkan aturan mengatasi kemacetan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam rangka ulang tahun, bolehlah polisi menjaga titik macet yang ada, tapi menjauhkan diri dari tindakan batil. Seluruh persimpangan rawan macet, dijaga ketat. Pelanggaran sekecil apapun, ganjar dengan tilang. Lalu, setelah dua atau tiga hari, hasilnya dicek. Jika masyarakat puas, maka &lt;em&gt;traffic management&lt;/em&gt; terkini bisa dijalankan. Negara pun puas, mendapat masukan besar dari pembayaran denda yang bukan lewat pat gulipat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Ke depan, dalam penataan lalu lintas, kehadiran polisi secara fisik di jalanan harus dikurangi. Peranan polisi, digantikan oleh kamera pengintai, dan penegakan aturan diwakilkan oleh ketegasan denda tilang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Jika ini berhasil, maka semboyan "Polisi mitra masyarakat" menjadi khalwa telinga yang empuk didengar. Dirgahayu, hamba wet!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115198988625644755?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115198988625644755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115198988625644755' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115198988625644755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115198988625644755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/07/hamba-wet-bersuka.html' title='Hamba Wet Bersuka'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-115086674670491158</id><published>2006-06-20T20:26:00.000-07:00</published><updated>2006-06-20T23:11:20.430-07:00</updated><title type='text'>Jauh Pengadil dari Batil</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 224px; HEIGHT: 169px" height="152" src="http://www.bbc.co.uk/worldservice/learningenglish/newsenglish/images/referee_203x152.jpg" width="224" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Perancis menangis, Brazil berhasil. Obrolan itu terus mengiring sepanjang jalan yang macet di Senin pagi. Sopir ini menguasai jagat bola, seperti pemahamannya terhadap jalan dan dinamikanya. Penumpang yang duduk di sebelahnya, tak kalah sigap. Ia bahkan memuja wasit, yang katanya super tegas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Tiba-tiba, “Dasar polisi sialan, mata duitan” umpatnya kesal, melihat polisi mengarah ke angkot 19 yang lain. Angkot itu, tertahan karena KRL sedang melintas di Tanjung Barat. Dan ia berhenti di jalur menuju Pasar Minggu, sehingga menutup arus. Angkot yang semula &lt;i&gt;keukeuh&lt;/i&gt; oleh klakson di belakangnya, akhirnya ngacir ke arah yang salah. “Daripada 20 ribu melayang, mending buang waktu”, kata si sopir terkekeh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Diskusi bola terus berlanjut. Si bapak yang memuja wasit lalu bercerita tentang kekalahan Serbia Montenegro dari Argentina 0-6.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Udah kalah, pemainnya di kartu merah lagi. Mestinya gak usah ya. Kasian"&lt;br /&gt;"Iya, tega kali," sambung si sopir.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 222px; HEIGHT: 187px" height="172" hspace="4" src="http://www.kabaddiinternational.org/images/image98.jpg" width="250" align="left" /&gt;Bagi penikmat bola di tanah air, --yang setiap hari disajikan wasit yang menjadi bulan-bulanan pemain dan penonton--, sikap wasit di Piala Dunia memang pantas dipujikan. Wasit menjadi penganjur ketertiban, melarang kekerasan, menjaga ritme persaingan, serta menghindari tindakan batil semacam pembegalan dari belakang. Meskipun, wasit tetaplah manusia yang memiliki sisi lalai, sehingga sering dimanfaatkan pemain dengan tipuan &lt;em&gt;diving,&lt;/em&gt; tetapi ia telah mempraktekkan sikap &lt;strong&gt;pengayom&lt;/strong&gt;. Sikap yang harus diemban aparat negara dan hamba hukum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan2 aparat kita punya sifat ini, tetapi kalah oleh ketidak tegaan. ANgkot pun dibiarkan berhenti sembarangan, karena itu menyangkut receh seribu dua. Polisi membiarkan ojek melawan arah, karena alasan serupa. Pun ketika PKL mengokupasi trotoar dan halte. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal tanpa sadar, pembiaran ini membuat rasa keadilan kita immun. Lalu ketika muncul kasus besar kita terperangah. Sebutlah, pengampunan mantan Presiden Soeharto, penolakan hakim tipikor memeriksa ketua MA, dan ketidakmauan polisi menyidik bekas bossnya dalam kasus suap BNI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lamunanku buyar. Seorang anak kecil nangkring di lantai angkot. Melantunkan lagu Samson: "Aku.. adalah lelaki". Mestinya jam segini, ia duduk di bangku sekolah, dan menyanyi:  "Aku seorang kapiten..". Melihatnya, aku tersadar, jauh panggang dari api bicara aturan, jika urusan perut masih barang utama. Begitukah?&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-115086674670491158?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/115086674670491158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=115086674670491158' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115086674670491158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/115086674670491158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/06/jauh-pengadil-dari-batil.html' title='Jauh Pengadil dari Batil'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114991838517632240</id><published>2006-06-09T22:34:00.000-07:00</published><updated>2006-06-09T22:46:26.246-07:00</updated><title type='text'>Awas Tiga Singa</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 338px; HEIGHT: 218px" height="300" src="http://wallpapers.soccerfansnetwork.com/wallpapers/albums/England/england2.sized.jpg" width="400" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Dingin membungkus siang yang basah. Kami terpaku di halte tanpa atap, di depan supermarket &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.morrisandspottiswood.co.uk/images/projects/morrisons.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Morrison&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt; . Bus 25 yang menurut jadwal datang tiap 30 menit (khusus Sabtu), tak kunjung nongol. Ada apa gerangan, pelayan publik ini berani mangkir. Oho..ternyata ini Sabtu, kesebelasan Norwich City yang stadionnya bersisian dengan Morrison akan main sore itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Inilah dampak terparah jika ada pertandingan sepak bola. Selebihnya, biasa saja. Anak-anak, kakek nenek, bahkan orang cacat pun ikut menonton. Tak ada ketakutan rusuh, tak ada lempar2an, tak ada merusak  stadion dan fasilitas kota jika tim kalah. Sebab sepakbola adalah hidup itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Bagaimana kehidupan sehari-hari warga Inggris, lihatlah bagaimana pertandingan sepakbola mereka. Penonton yang berdiri di belakang garis, tetap diam meski tak ada pagar besi pembatas. Pemain yang patuh total kepada wasit. Wasit yang kejam, menghukum pemain hanya karena tersenyum sinis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 242px; HEIGHT: 167px" height="302" hspace="3" src="http://www.manchesteronline.co.uk/ContentResources/987.$plit/C_17_photogallery_161_list_photo_list_photo_item_5_photo.jpg" width="261" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Kenapa mereka patuh pada aturan. Ya karena sepak bola adalah kehidupan itu sendiri. Tak ada orang yang mau berbuat onar, karena itu artinya dia di &lt;em&gt;blacklist&lt;/em&gt; sebagai anggota Fans Club. Artinya, dia tak bisa nonton bola seumur-umur di stadion. Pemain juga demikian. Prestasi dan kelakuan buruk, berakibat harganya turun, dan berujung putusnya karir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Bukankah fans Inggris terkenal sebagai &lt;em&gt;hooligan&lt;/em&gt;, perusuh akbar. Setiap bicara hooliganisme, orang pasti merujuk pada tragedi Heysel, Belgia. Aku sendiri melihat, media mengangkat hal ini, karena Inggris menganut hukum  &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.opsi.gov.uk/acts/acts2003/20030038.htm"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Anti social behaviour&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Dalam pasal ini, jangankan merusuh, menatap perempuan dan si perempuan merasa tidak senang, bisa diperkarakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Begitulah. Jumat besok perhelatan sepak bola dunia di Jerman akan dimulai. Inggris, &lt;em&gt;the three lions&lt;/em&gt;, akan menjadi salah satunya. Apakah Rooney, Walcot bisa menghidupkan panasnya persaingan, saksikanlah!. &lt;em&gt;Go England&lt;/em&gt;!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114991838517632240?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114991838517632240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114991838517632240' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114991838517632240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114991838517632240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/06/awas-tiga-singa.html' title='Awas Tiga Singa'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114956744851736531</id><published>2006-06-05T20:54:00.000-07:00</published><updated>2006-06-05T21:17:28.620-07:00</updated><title type='text'>Bandung, Miris van Sampah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 231px; HEIGHT: 209px" height="180" src="http://www2.slac.stanford.edu/tip/2005/nov04/images/recycle_truck.jpg" width="231" align="left" /&gt; &lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Hujan membasahi pagi. Titik kecil tak deras, tapi dingin menusuk ngilu. September 2004, Norwich yang &lt;em&gt;autumn&lt;/em&gt; bersuhu 10C di pagi hari. Suhu yang berbeda jauh dengan Jakarta, yang baru kami tinggalkan dua hari bersilih. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Suara gradak gruduk di bawah, memaksaku lepas dari jeratan &lt;em&gt;duvet&lt;/em&gt;. Mengintip dari jendela lantai dua, melihat tukang sampah sedang memindahkan isi tempat ke kereta dorongnya. Gila. Kardus bekas kami membawa rempah dan bumbu untuk setahun, diterlantarkan begitu saja. "Tukang sampah apaan nih", pikirku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Baru setelah &lt;em&gt;housemate&lt;/em&gt; kami, yang sudah setahun di Norwich bangun, aku tau jawabannya. Pertama:  the bin man hanya mengangkat sampah yang terikat rapi dalam plastik. Kedua, kardus dalah jenis recycle bin, yang pengangkatannya berbeda hari dengan sampah basah. Dan sampah kardus, botol, kertas, dan kain harus ditaruh di halaman, bukan di belakang. Jangan2 tukang sampah tadi, ekawicara: "warga macam apaan nih"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Ya, pelajaran sosial pertama tinggal di Norwich, adalah soal sampah. Penanganan sampah sudah dimulai dari dapur, dengan pemisahan dan penempatan yang baik. Pantesan hanya 2 orang yang mengoperasikan truk besar itu. Sayang, aku tak pernah sampai ke area pengolahan, sebab sama sekali tak menyangka, akan terjadi darurat sampah macam di Bandung saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 134px" height="180" src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/29/03sampah.gif" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kini bukit dan gunungan sampah merebak di antero kota Bandung. Bukit sampah itu, seperti mengejek &lt;i&gt;sawargi&lt;/i&gt; Bandung, yang memapas bukit jadi &lt;i&gt;griyo&lt;/i&gt;, FO, resto. Sampah memang harus dilihat bukan sebagai tumpukan pembuangan belaka. Tetapi sebagai sampah sebagai muara penerapan aturan yang keliru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Ketika sungai banjir di msuim hujan, kekeringan di masa kemarau, kita alpa bahwa itu disebabkan pinggiran kali tak tertangani dengan baik. Ketika jalanan macet, akibat penempatan mal dan warung di belokan jalan, kita khilaf bahwa itu bukti penerapan IMB tidak sesuai aturan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Banjir dan macet berlalu seiring waktu. Tapi sampah tidak. Baunya menyengat hingga istana. Presiden yang datang ke Bandung pun, mengaku mencium uapnya. Padahal, ia ada di dalam mobil mewah, dan sepanjang jalan yang dilaluinya pasti sudah "ditertibkan" aparat lokal. Lalu, seperti apa pula bau yang tercium warga Bandung?&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kalau sesuatu yang sudah terduga macam sampah ini, tak bisa diatasi, &lt;em&gt;pegimane&lt;/em&gt; pula dengan gempa Sabtu kelam di Bumi Mataram? &lt;em&gt;Subhanallah.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114956744851736531?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114956744851736531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114956744851736531' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114956744851736531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114956744851736531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/06/bandung-miris-van-sampah.html' title='Bandung, Miris van Sampah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114811196605320365</id><published>2006-05-20T00:53:00.000-07:00</published><updated>2006-05-20T00:59:26.066-07:00</updated><title type='text'>Salah yang Kalah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 186px; HEIGHT: 143px" height="270" hspace="3" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/104877/2/istockphoto_104877_shake_hands.jpg" width="186" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku memandangi perempuan itu lekat. Ia jelita sungguhan. Tapi sungguh aku tak tertarik. Bukan karena aku sudah mengganti orientasi seksual (yukk..), tapi demi melihat lakunya. Ia naik di pojok perempatan jembatan "semanggi" UI. Padahal, di prapatan menuju jalan Akses UI ini, tanpa ada yang berhenti pun jalur ini sudah macet karena lampu merah yang tak pernah berfungsi sejak didirikan. (&lt;em&gt;Eh, Pak Nur yang walikota itu tiap hari lewat sini lho&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku terus memandanginya dengan sedikit kekesalan. Ia terlalu cantik, modis, untuk berbuat salah itu. Angkot 112 Depok-Rambutan, terus berjalan. Di pertigaan Taman Bunga, jemari lentik si jelita mengetuk atap angkot, minta berhenti.  Sekali, angkot terus melaju. Memang, saat itu lampu pengatur sedang hijau. Masya Allah, jemari lentik itu berubah menjadi tangan besi bak film &lt;em&gt;cyborg&lt;/em&gt;. Menggedor dengan keras.  Mungkin khawatir atapnya rusak, sang sopir memilih berhenti, diiringi sungut si jelita. Ya Rabb, betapa maha Adil Engkau, Kau beri dia wajah jelita, tapi pekerti tiada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Aih, kejamnya aku menilai pekerti orang hanya dari disiplin berlalu lintas. Bisa saja, dia tidak tau bahwa yang dilakukannya salah. Bukan kesalahan yang dihalalkan demi kepuasa belaka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Di depan kampus Gunadharma, persis di bawah plang berisi Perda no. 14 tahun 2001 tentang larangan berdagang, berderet PKL yang menutup keindahan kampus. Di salah satu kios, tertempel poster &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Penggusuran=Pembunuhan".&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Sungguh poster yang ambigu. Apakah artinya, &lt;em&gt;penggusuran itu membunuh saya &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;gusur aku, kau kubunuh&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 149px; HEIGHT: 132px" height="132" alt="gambar dari http://www.muhajirlawfirm.com/images/timbangan.gif" hspace="3" src="http://www.muhajirlawfirm.com/images/timbangan.gif" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Dua pilihan makna yang sulit. Entah rasa salah sudah kalah oleh beratnya kehidupan. Atau betapa sulitnya mencari titik ekuilibrum, dalam neraca kehidupan yang semakin tak adil. Sehingga &lt;em&gt;amok&lt;/em&gt; massa pun menjadi pilihan yang tidak lagi salah.  Tapi bicara tentang neraca, berarti melibatkan dua pendulum yang harus setara di titik berat. Ada salah, ada baik. Ada upat, ada puji. Ada rahayat, ada pejabat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Lalu, darimana mau memulai perasaan bersalah ini. Dari istana yang ternyata kebanjiran dan dimakan rayap itu. Dari Trunojoyo yang kebagian uang batil BNI. Atau dari Senayan, yang pimpinannya tetap pas pus.. merokok di ruang sidang ber-AC itu. Udah ah, dari diri sendiri saja. Karena merasa bersalah membebani &lt;em&gt;inbox&lt;/em&gt; kalian, maka aku akhiri tulisan ini disini. &lt;em&gt;Tabik&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114811196605320365?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114811196605320365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114811196605320365' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114811196605320365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114811196605320365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/05/salah-yang-kalah.html' title='Salah yang Kalah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114665847228478877</id><published>2006-05-03T05:12:00.000-07:00</published><updated>2006-05-03T05:36:14.410-07:00</updated><title type='text'>Berarak Mega</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 248px; HEIGHT: 195px" height="160" hspace="4" src="http://alaska.fws.gov/fire/role/unit1/images/introvince.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Desau angin menggoyang dedaunan. Bergesekan, berderak tak ritmis. Lengkingan kera di kejauhan menambah pekat suasana hutan. Mengembalikan kenangan ke masa kecil. Saat hutan, kebun, ladang menjadi satu-satunya hiburan. Tempat bermain. Kuhirup dalam, udara bercampur bau getah karet, dan pesingnya amoniak dari pupuk urea yang tak sempurna tertanam. Sampai kapan ini semua bertahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pertanyaan yang muncul demi melihat “kemajuan” kota kelahiran, Rantau Prapat. Serta orang yang berpikir “keliru” mengenai apa itu &lt;b&gt;&lt;u&gt;kota&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;. Orang yang bertanya: &lt;i&gt;seramai apa Inggris?&lt;/i&gt;. Tanya yang wajar. Sebab aku pun berpikiran serupa, ketika pesawat akan menjejak. Tak ayal, aku pun tergagu, saat perjalanan dari bandara Heathrow menuju pusat kota, masih banyak ditemukan tanah kosong yang dibiarkan meranggas. Dan lebih membisu lagi, sepanjang perjalanan tanah pertanian luas terdapat hampir sepanjang jalan London-Norwich. Antara satu kota dan lainnya, terpisah oleh hutan, ladang, dan sungai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 379px; HEIGHT: 227px" height="160" hspace="4" src="http://www.dandypages.com.au/image/cartoon.gif" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sementara kotaku, sedang berbenah, atas nama pembangunan. Di Aek Tapa, suatu kawasan yang dulu menjadi pinggir kota, ditandai dengan sawah dan sungai, kini sebagian besar sudah diuruk jadi bangunan. Ruko. Sungai pun mengecil, tanah merekah. Warga kota ini secara finansial maju. Harga karet yang melambung, melampaui harga beras, membuat simbol kemakmuran tampak dimana-mana. Mobil, rumah, mal. Tapi secara sosial –tanpa mereka sadari—mereka terpinggirkan. Hanya karena semua berebut menjadi binatang ekonomi. Karena perbedaan harga tanah di kota dan pinggiran, banyak yang menjual tanah, dan membeli di pinggir kota, demi sebuah margin keuntungan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak ada yg salah dengan cara ini. Ini logika ekonomi biasa. Ada pembeli yang menawar, ada penjual bersedia. Bungkus. Sayang, pemerintah yang semestinya menjadi pengatur, mana yang boleh dibangun, mana yang harus dihutankan, tak berfungsi sebagaimana mestinya. Atau mereka juga menjadi binatang ekonomi, dengan memanfaatkan kuasa untuk praktek kebatilan penyulitan izin?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kota kami berubah total, menjadi kota –yang oleh arsitek tata kota Wayne Attoe disebut sebagai "sistemik fungsionalis"--. Kota yang terdominasi oleh hegemoni fungsi infrastruktur atau fungsi ekonomi semata, sehingga kehadiran dan wujud fisiknya jauh dari rasa keadilan dan nilai-nilai humanis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak apa, nun di Jakarta sana pun demikian. Tak puas dengan metropolitan yang besar dan segala kekacauannya, mereka ingin lebih besar, dengan mengarak istilah “megapolitan”. Seolah itu adalah konsep. Padahal, berdirilah suatu masa di atas ketinggian. Lalu tatap lalu lintas dibawah sana. Semua berebutan, terkadang 3 jalur, 4 jalur. Naik turun dimana saja bisa. Adakah bedanya dengan di kampong sepi. Kotakah ini, jika menyeberang saja sulit, jika membuang sampah bebas dimana-mana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Awan terus berarak, dan mentari mulai condong. Penderes (ada juga yang menyebut penakik) sudah pulang sedari tadi. Kupandangi getah yang menetes perlahan. Ini adalah aliran air yang menghidupi keluarga besar kami. Yang memungkinkan bisa sekolah. Malamnya, aku akan kembali ke Jakarta, tempatku menderes rezeki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114665847228478877?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114665847228478877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114665847228478877' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114665847228478877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114665847228478877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/05/berarak-mega.html' title='Berarak Mega'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114628667378732744</id><published>2006-04-28T21:50:00.000-07:00</published><updated>2006-04-28T21:57:53.800-07:00</updated><title type='text'>Strategi Jangka Imah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img height="200" hspace="5" src="http://www.pedigreecharm.co.uk/acatalog/MPP57-Cavalier-King-Charles-Spaniel-dog-lover-gifts.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Malam melarut, embun pun menitik. Sesekali raungan suara beca motor, memecah hening malam. Tetangga yang tadi memenuhi undangan menghadiri maulid, sudah kembali. Tapi beberapa kerabat terdekat, masih terus bercengkerama. Maklum dua tahun tak pulang, berpadu dengan kesenangan orang Batak “markombur”, plus kopi pekat dan pisang goreng --(yang dijamin lebih enak dari pisang Pontianak yang sedang digandrungi publik Jakarta itu)--jadilah malam yang seru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Berbagai hal kami bicarakan. Harga getah karet yang menjulang, tanah yang semakin banyak dikuasai saudara kita dari tirai bambu, hingga pemerintah daerah. Bupati yang memasuki masa jabatan kedua tetap tak berbuat apa-apa. Wakil Bupati yang bekas guru STM, tetapi pengurus &lt;u&gt;Pujakesuma&lt;/u&gt; (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), diuntungkan oleh pilkada langsung. Populasi suku Jawa di Kabupaten Labuhan Batu, daerah perkebunan di timur Sumatera Utara, memang lebih besar dibanding penduduk lokal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku iseng: “&lt;em&gt;Gimana&lt;/em&gt; kalau 5 tahun nanti aku ikut maju”. Bukan keinginan sungguh-sungguh, hanya sekedar membaca aura politik lokal. Tapi diluar dugaan, sambutan mereka antusias. Yang bikin sedih dan miris, tak satu pun mereka yang mendukung karena alasan perbaikan daerah. Ada yang bilang, “Sudah capek &lt;em&gt;nih &lt;/em&gt;diatur, sekali2 jadi pengatur”. Atau, “Biar keponakanmu bisa masuk kantor Pemda”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Lebih banyak lagi alasan finansial. “Bentar lagi pensiun, jadi kontraktor pemda khan lumayan”. Pastilah mereka belajar dari kenyataan yang sudah ada, bagaimana keluarga yang tadinya biasa, menjadi “lain”, setelah ada saudaranya yang moncer. Memang di jalan yang kami tempati saja, ada Camat, yang semua sanaknya ikut jadi camat. Ada pula yang sebelum jadi anggota dewan, setia dengan motor tua, kini memarkir Inova. Entah ini terjadi juga diluar sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku ingat, waktu mahasiswa di Bandung, masa-masa kampanye dulu. Ketika jurkam berapi-api membeberkan strategi jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek, seseorang di barisan pendengar berteriak: &lt;i&gt;“Aya nu bade jangka imah, teu!”&lt;/i&gt;. Teriakan yang lalu disambut tawa meriah. &lt;b&gt;Jang ka imah&lt;/b&gt; ini, kira2 bermakna: &lt;u&gt;yang bisa dibawa pulang ke rumah&lt;/u&gt;. Maksudnya kalau menjabat tidak usah sibuk dengan pembangunan segala macem deh, pikirkan saja yang bisa dibawa pulang. Atau, sperti plesetan ...... “jangan tanya apa yang bisa yang kamu berikan kepada negara, tapi pikirkan, apa milik negara yang bisa kamu bawa pulang”. Satir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img hspace="4" src="http://www.grinningplanet.com/2004/07-20/money-cartoon-copyright2.gif" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Fakta ini memilukan, sungguh. Karena aku pernah baca, korupsi dan tindakan batil lain yang dilakukan pejabat, banyak dipengaruhi oleh orang terdekat. Sehingga jagad politik kita, mengenal diksi “diplomasi ranjang”, yang kira2 maknanya: kalau mau sesuatu dari pejabat anu, dekati istrinya. Biar istrinya yang mengurus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Tapi ini di kampung kami saja kok. Lebih spesifik lagi, di keluarga kami saja. Dulu, waktu aku masih meliput, bertugas melihat keluarga Kuntoro Mangkusubroto (sekarang bos BRR di Aceh), akan ditunjuk menjadi Menteri Pertambangan era Soeharto. Begitu diumumkan, istrinya tersedu. Bukan karena gembira belaka. Katanya, ia ingat bagaimana beratnya tugas suaminya, saat menjadi Direktur PT Timah di Bangka sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Dinihari menjelang tidur, aku cium kening istriku yang sudah lelap dari tadi. Sambil &lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;menyatakan syukur, bahwa ia –setidaknya hingga malam itu—tak pernah mendorongku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;masuk pemufakatan jahat. Semoga keluarga kami, tetap &lt;em&gt;nrimo ing pandum&lt;/em&gt;. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114628667378732744?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114628667378732744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114628667378732744' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114628667378732744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114628667378732744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/04/strategi-jangka-imah.html' title='Strategi Jangka Imah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114611585811754185</id><published>2006-04-26T22:22:00.000-07:00</published><updated>2006-04-26T22:30:58.153-07:00</updated><title type='text'>The Butek Airline</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 233px; HEIGHT: 151px" height="200" hspace="3" src="http://www.liputan6.com/files/sosbud/pic/181205cadamair.jpg" width="205" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kami makan berlauk klakson. KFC di terminal 1 Bandara Soekarno Hatta, tempatnya asik. Terbuka. Tapi mobil, bus, taksi dibawah sana berebut tempat tak sabaran. Aneh, tak jauh dari sini, di Terminal 2 sana, pembagian parkir sudah ok. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Namanya makanan cepat saji, makannya juga &lt;em&gt;kudu&lt;/em&gt; cepat. Kami pun &lt;em&gt;check in&lt;/em&gt; jauh sebelum jam H. Soalnya sewaktu beli tiket, agennya sudah wanti-wanti, jika telat 45 menit saja, tiket sudah dijual untuk penumpang &lt;em&gt;go show&lt;/em&gt;. Boardinglah kami satu jam sebelum jadwal 19.15. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Menunggu, aku pandangi logo besar &lt;a href="http://www.flyadamair.com/funstuff/logo-rear-angel.htm"&gt;Adam Air, The boutique Airline&lt;/a&gt;. Sambil membayangkan, besok pagi sudah sarapan di rumah mamak. 15 menit sebelum jadwal terbang, belum juga diminta naik, aku tanya. Santai mereka menjawab, "telat. Ini sudah seharian. Masalah operasional". Kalau udah seharian, kenapa tadi waktu &lt;em&gt;check-in&lt;/em&gt; tidak diberitahu ya. Aku kembali duduk sambil bersungut. Tak lama, baru ada pengumuman. &lt;em&gt;Just information&lt;/em&gt;. Bukan permintaan maaf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Seolah telat itu biasa. Mungkin memang biasa. Lihatlah, mereka sudah menyiapkan &lt;em&gt;box&lt;/em&gt; berisi 2 potong kue, yang segera diserbu penumpang. &lt;em&gt;Gilaning&lt;/em&gt;, ada juga &lt;em&gt;extra joss&lt;/em&gt;. Mungkin.. agar kuat menahan amarah. Aku pandangi wajah2 penumpang lain. Semua tenang, tidak ada yang risau, apalagi marah. Jangan-jangan lucu, jika aku protes. Konsumen memang selalu menjadi pihak yang dirugikan. Padahal dalam relasi produsen dan konsumen, produsen adalah entitas terbesar, karena memegang hak regulasi. Mestinya hak ini dibarengi tanggungjawab besar, bukan wewenang besar saja, seperti menjual tiket begitu penumpang terlambat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Aku hanya bisa kesal. Bukan aku sok Inggris, sok tepat waktu. Tapi jadwal perjalananku akan buyar, jika ada salah satu yang terkendala. Perjalanan pendek 2 hari, membuatku harus membuat &lt;em&gt;itenerary&lt;/em&gt; yang ketat. Aku sudah pegang tiket KA Medan-Rantau Prapat. Waktu memesan tiket ke &lt;/span&gt;&lt;a href="http://dennysb.multiply.com/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Medan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;, beberapa hari sebelum berangkat, aku ditertawakan Ari, “Ini bukan Inggris, &lt;em&gt;mate&lt;/em&gt;”. Maksudnya, di Inggris itu biasa kita lakukan. Semua perjalanan harus diatur dengan ketat. Karena yakin, nyaris tidak ada yang meleset.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Setelah ikut-ikutan minum &lt;em&gt;extra joss&lt;/em&gt;, akhirnya pukul 20.40, telat 85 menit, kami terbang juga. Berdoa agar selamat, dan kereta api terlambat berangkat. Tibalah di Polonia pukul 22.45. Bergegas ke stasiun KA. Taksi tiba pukul 23.05 dan mendapati pelataran stasiun yang melompong. Terang saja, jadwal KA khan 22.45. Uh..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;Kami lalu mencari alternatif. Menginap dan berangkat besok pagi, atau carter mobil. Tengah malam itu, dapat mobil yang mengantar ke Rantau Prapat, tapi harus membaya full 7 penumpang x Rp 75 ribu. Sudahlah, itu jumlah yang setara jika harus menginap. Bukankah lebih cepat sampai, lebih banyak waktu bercengkerama. Gara-gara &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.adamair.co.id/"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;the boutique airline&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;, eh gara-gara 85 menit jumlah pengeluaran melipat. &lt;em&gt;Gimana&lt;/em&gt; turis mau datang ke Parapat yang indah itu, jika jadwal pesawat --moda angkutan termahal-- saja jika tidak pasti. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Setelah terkantuk-kantuk selama 5 jam di jalan yang tidak sepenuhnya mulus, kami tiba. Disambut dengan derai tawa, senda gurau kerabat. Dua tahun tidak pulang, pohon kekerabatan itu semakin rimbun. Dulu cuma sampai ranting keponakan, kini keponakan itu pun sudah bercabang. Aku sudah bercucu. Ah, aku semakin senja rupanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114611585811754185?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114611585811754185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114611585811754185' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114611585811754185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114611585811754185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/04/butek-airline.html' title='The Butek Airline'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114559418404745066</id><published>2006-04-20T19:52:00.000-07:00</published><updated>2006-04-20T23:53:01.750-07:00</updated><title type='text'>Sepenggal Paris van Java</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img src="http://www.asiatravelling.net/indonesia/bandung/images/bandung_gedung_sate.jpg" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dua tahun berlalu. Aku kembali menyusuri jalan ini. Keluar tol di Buah Batu, lalu menyusuri jalan Terusan Buah Batu. Aku membayangkan kemacetan akan menyambut, menjelang jembatan hingga perempatan by pass Soekarno Hatta. Lho, hamparan jalanan lebar melancarkan arus kenderaan. Wow, aku nanar, meski tak sampai gila sasar. Nyaris aku salah arah ke RM Laksana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beruntung, perubahan itu tak sampai ke Laksana. Sambelnya tetap nyoss, melilit lidah dan menggelontor ludah serta desis kenikmatan. Apalagi teman kami, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://dekaakbar.multiply.com/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mas Paijo Kondo-kondo&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; yang baru sekali menjejak kaki ke Laksana. Memang, niat utama kami ke Bandung kali ini, adalah mengantar teman itu, yang sudah beberapa kali ke Bandung tapi cuma berpusing-pusing di daerah Lembang, Ledeng, Setiabudi. Kami sendiri, sejak kedatangan dua tahun lalu --sebelum merantau ke Norwich-- baru datang lagi kali ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selesai makan, berteman hujan lebat, kami masuki daerah tengah. Di Cikapayang, aku tergagap. Bentangan jalan layang membuat bingung, ini Cikapayang atau Mampang (Jakarta). Jalan layang itu membuat Bandung bak kota yang bergegas. Rupanya jalan layang ini juga membunuh komunitas Balubur. Ada berapa banyak jiwa yang kehilangan masa silam. Nyaris semua anak ITB, pasti pernah menjelajah Pasar Balubur saat Opspek tiba. Mencari karung, bola plastik, tali temali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://cest-ma-maison.net/album/campus/aulasj.gif" align="right" /&gt;Kami berbelok ke jalan Ganesa. Mas Paijo menginginkan anaknya juga berwisata ilmu. Seperti yang biasa dilakukan orang di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latiefs.blogspot.com/2005/07/berlayar-ke-lembah-ilmu.html"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cambridge&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; sana. Mesjid Salman, masih seperti yang dulu. Lantai kayu yang mengkilat, orang belajar bersama, dan aturan &lt;i&gt;no smoking&lt;/i&gt; sejak &lt;i&gt;baheula&lt;/i&gt;. Sedikit berbeda pada gedung kantin, meski menu dan cara penataan makanan tetaplah serupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena perjalanan hany sehari, dan ini kali pertama mas Paijo punya guide (ck..ck..ck.), kami berusaha mengelilingi seluruh Bandung. Di kawasan Setiabudi, kami disambut ratusan billboard yang tak lagi menyisakan pemandangan. Deretan segala pedagang, tak ayal membuat suasana tidak teratur. Macet. Selain Setiabudi, di Bandung kini tersebar banyak pusat keriaan, macam Dago, jalan Riau. Entah bagaimana kondisi alun-alun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Padahal, jika pusat kota terpadu macam alun-alun --ada terminal kebun kelapa (dulu), dekat stasion KA, ada alun-alun, banyak pertokoan--, maka pengaturan lalulintas, dan &lt;strong&gt;area jalan kaki&lt;/strong&gt; lebih mudah. Aku membayangkan jika pada akhir pekan pemda Bandung menerapkan sistem Park and Ride, yang sudah teruji ampuh menekan kemacetan. Maka, para pelancong Jakarta itu pun "dipaksa" memarkir mobilnya, dan beralih ke bus kota yang nyaman. Bergerak bebas menyusuri &lt;em&gt;factory outlet&lt;/em&gt; yang menjamur, mencicipi makanan yang jadi enak karena banyak dipublikasikan, serta membeli barang benar-benar baru yang dilabeli barang bekas di &lt;em&gt;babe&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari hampir berganti. Setelah kesusahan mencari makanan, karena deretan pedagang di Simpang Dago sudah bergeser, kami meninggalkan Bandung, yang malam itu masih saja hangat&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114559418404745066?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114559418404745066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114559418404745066' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114559418404745066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114559418404745066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/04/sepenggal-paris-van-java.html' title='Sepenggal Paris van Java'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114463895459941071</id><published>2006-04-09T19:57:00.000-07:00</published><updated>2006-04-14T23:03:32.380-07:00</updated><title type='text'>Sepi nan Sepoi di UI</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia, times new roman, times, serif;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://web.uvic.ca/hrd/indonesian/images/rektorat.jpg" align="left" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Suara klakson menyeru bertautan. Tapi itu tak membuatku menggegas langkah. Dengan perlahan kutapaki zebra cross di halte bis kuning, tak memedulikan pengendara yang terus menekan tombol klakson. Agaknya ia mau meberitahu dunia: hei, ada orang tolol nih lagi nyebrang. Ah, peduli syaiton. Ini penyeberangan, ini kampus. Orang terdidik, mestinya tau zebra cross tempat orang melintas dengan aman. Sesama pengguna jalan memiliki hak sama. Di rontal mana engkau membaca, bahwa pengendara mobil berkasta lebih mulia daripada pejalan kaki. Mpu mana yang mengajarmu, kalau engkau memiliki mobil maka engkau telah berkasta brahmana, lebih mulya dari pejalan kaki sudra itu. Aku berlalu tiada berlawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Buat apa kuganggu hari indah ini dengan persoalan kecil macam itu. Kuhirup udara segar di hari yang mulai menaik. Menyusuri trotoar, menyapa penyapu jalan. Aku selalu menyukai suasana kampus UI pagi dan sore hari. Jalanan luas, trotoar (meski &lt;i&gt;grajal grujul&lt;/i&gt;, pepohonan hijau, danau, halte bis, dan kereta api mengingatkan pada kampung kecil tercinta, Norwich. Mungkin karena luasnya yang tidak jauh berbeda pula. Aku selalu mengkhayal, sebagai kampus --jika mau--, UI bisa menjadi laboratorium contoh sistem lalulintas yang baik. Juga sistem penataan kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi dekat dengan bundaran psikologi, ada hal yang membuatku tersenyum simpul. Disitu, ada tanda larangan parkir dwi-bahasa, plus ancaman denda untuk melepas &lt;i&gt;clamp&lt;/i&gt;. Pastilah inisiatornya, alumni luar negeri yang mahfum efektifitas sebuah denda dalam penegakan aturan. Namun ohoii.. persis dibawah rambu itu, dipasangi drum berisi semen, menjorok 1 meter dari trotoar. Tujuannya pastilah agar tidak ada yang parkir disana. Seharusnya, warga UI yang notabene cerdik cendekia terpelajar, &lt;u&gt;memprotes&lt;/u&gt; ini. Bukankah perbedaan mendasar orang terdidik dengan yang tidak adalah kepandaian membaca simbol. Tidak cukupkah rambu dwibahasa tadi sebagai larangan. Lain hal, jika ini terminal, dimana garis pembatas jalan pun harus dibuatkan tembok, baru tidak dilanggar. ....&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/147 "&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;round about&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; &lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114463895459941071?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114463895459941071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114463895459941071' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114463895459941071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114463895459941071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/04/sepi-nan-sepoi-di-ui.html' title='Sepi nan Sepoi di UI'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114389061104197696</id><published>2006-03-31T20:02:00.000-08:00</published><updated>2006-04-14T23:05:27.510-07:00</updated><title type='text'>Menatap Blair di Tanah Air</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;center&gt;&lt;img hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/blair.jpg" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jarum jam sudah berlalu beberapa menit dari angka 11. Tapi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sctv.co.id/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;di layar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; masih tersiar pertandingan sepakbola. Padahal aku sudah menunda jam berenang, hanya untuk melihat Haji Awan, live dari istana. Lalu, wajah itu muncul. Ia mengabarkan kedatangan PM Inggris, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/62"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tony Blair&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; ke Indonesia. Mulai dari pertemuan empat mata dengan Presiden, bertemu tokoh Islam, dan rencana ke pesantren Darunnajah, di Ulujami sana.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hingga ia masuk ke bagian “menarik” ini: “Saudara, hal yang menarik adalah, Tony Blair berjalan kaki dari istana ke kantor Presiden”. Aku langsung berpandangan dengan Ari. Sebagai orang Inggris &lt;i&gt;sepuhan&lt;/i&gt; atawa palsu, tentu saja kami tak heran dengan acara jalan kaki itu. Ternyata koran pun mengangkat bagian ini, menjadi hal menarik dari kunjungan Blair, selain pakaian casual yang ia kenakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku membayangkan, jika pihak media &lt;i&gt;Downing Street&lt;/i&gt; mengumpulkan semua pemberitaan tentang bossnya. Pastilah bagian jalan kaki dan pakaian casual ini menjadi perbincangan hangat. &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/146"&gt;MI-5 dipanggil&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114389061104197696?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114389061104197696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114389061104197696' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114389061104197696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114389061104197696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/menatap-blair-di-tanah-air.html' title='Menatap Blair di Tanah Air'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114363953407766487</id><published>2006-03-29T05:28:00.000-08:00</published><updated>2006-04-14T23:06:12.553-07:00</updated><title type='text'>Menyambut Raksasa</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img height="150" hspace="3" src="http://www.amin.org/cartoon/2005/april/baha/big/11.jpg" width="250" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ada yang menarik pada sebuah toko dekat rumah kami di Norwich, Inggris. Toko Burrel and Son, yang berdagang alat rumah tangga macam ember, sapu, dan paku genap berusia seabad. Selain memasang spanduk besar tanda syukur, hari itu radio BBC Norwich pun siaran langsung dari toko yang terletak di jalan Unthank Road tersebut. Kepada warga yang melintas, sekelompok orang membagikan selebaran. Selebaran yang sama ditempel di kaca toko-toko seputaran &lt;em&gt;Burrel and Son&lt;/em&gt;. Isinya: mengajak warga menolak pendirian supermarket &lt;em&gt;Tesco&lt;/em&gt;. Karena berada di jalan Unthank, maka toko baru itu disebut Unthank Tesco. Agaknya, para aktivis yang menolak Tesco, memanfaatkan ulang tahun seabad Burrel&amp;amp;Sons sebagai momentum perlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku teringat kisah yang terjadi beberapa bulan lalu itu, saat membaca berita supermarket &lt;strong&gt;GIANT&lt;/strong&gt; di Margo City menyebabkan kemacetan. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://margocity.com/MCsquare_ProgressReport/indexprogress.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Margo City&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, pertokoan besar tentu tak sebanding dengan &lt;em&gt;Unthank Tesco&lt;/em&gt;, yang menilik luas tanahnya hanya akan sebesar gerai Indomaret yang kini tersebar di banyak komunitas warga. Lewat sebuah proses panjang dan demokratis, akhirnya Unthank Tesco gagal berdiri. Sedangkan Giant, meskipun sempat diancam tidak diresmikan walikota, karena belum memenuhi berbagai persyaratan, seperti pembangunan jalur lambat dan gorong-gorong pembuangan air, tetap beroperasi. Sebuah perbedaan mencolok akan kita lihat nanti. &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/145"&gt;&lt;U&gt;Kembali ke Norwich...&lt;/U&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114363953407766487?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114363953407766487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114363953407766487' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114363953407766487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114363953407766487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/menyambut-raksasa.html' title='Menyambut Raksasa'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114302702021202657</id><published>2006-03-22T03:27:00.000-08:00</published><updated>2006-03-22T03:30:20.223-08:00</updated><title type='text'>Seribu Air Seribu Masalah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 171px; HEIGHT: 171px" height="200" hspace="4" src="http://collectiblefun.com/gif/collectible-fun-lg57.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kokok ayam menyeru-nyeru membawaku bangkit dari peraduan. Diluar, pagi masih kelam. Semakin paripurna untuk melanjut tidur, karena hujan titik merintik. Tapi gegas aku berdiri. Ada sesuatu dari perut yang paling dalam, yang meronta ingin melesak. Sesaat, aku sudah berada dalam permenungan. Menikmati salah satu karunia dengan penuh ikhlas. Selesai, kubasuh tangan dengan sabun cair antiseptik. Di pagi yang masih buta ini, peracunan air dan bumi telah kumulai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beberapa jenak, aku mulai mandi. Diawali menggunakan shampo, lalu sabun. Selesai, aku mengoleskan deodoran ke bawah ketiak, memakai tonik untuk rambut yang mulai masuk musim &lt;i&gt;autumn&lt;/i&gt;, menumpahkan &lt;i&gt;body splash&lt;/i&gt;, dan menyemprotkan parfum. Di kamar mandi, Ari mulai byur..byur. Pastilah ia menggunakan bahan kimia yang lebih banyak. Pun nanti, dalam hal mengolesi badan serta rambut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Disaat kami berkemas, mbak Siti sang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://arisemut.multiply.com/journal/item/25"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;bedinda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, sudah datang dan memulai aktivitas yang tak kalah seru. Merendam cucian dengan deterjen, mencuci piring, mengepel lantai dengan cairan pewangi, menggosok lantai kamar mandi, mengusir lalat dan nyamuk dengan semprotan, mengkilatkan kaca, memoles meja, dan nanti menyetrika pakai cairan pewangi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Nah, di pagi hari saja, 3 orang warga bumi sudah menggunakan air berliter-liter dan 25 (7 + 10 + 8) bahan kimia yang meracuni air dan udara. Dulu di sewaktu di Arab, pihak hotel memamasang pesan di dekat gantungan handuk. Bunyinya kira-kira begini: “Ada jutaan handuk yang dicuci setiap hari. Itu membutuhkan ribuan liter detergen dan ribuan galon air. Sayangilah bumi dan anak cucu. Jika anda berkenan, jangan buru-buru mengganti handuk”. Sebagai sebuah pesan, tentulah ia mendapat berbagai tanggapan. Ada yang bilang, ini akal-akalan pihak hotel, agar mereka tak mengganti handuk setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img height="180" hspace="3" src="http://www.uea.ac.uk/menu/admin/rsd/accom/profiles/images/Riverside.jpg" width="200" /&gt;&lt;img height="180" src="http://www.rpfuller.com/photographs/Yorkshire/York/River/2002_1228_113820AA_640.JPG" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pinggir sungai Norwich dan York, UK&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pagi ini di radio, aku mendengar : &lt;strong&gt;Ada 100 juta rakyat Indonesia yang tidak mempunyai akses kepada air bersih. Padahal, setelah udara, air adalah kebutuhan dasar kedua yang paling dibutuhkan manusia&lt;/strong&gt;. Akibatnya banyak warga yang tinggal di bantaran kali, mengotori kali yang sudah kotor menjadi semakin kotor&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Padahal &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; kota-kota lama, selalu berpusat di dekat air, sang sumber kehidupan. Sayang, kota-kota macam itu, tersisa di negara maju sana. Disana, sungai adalah sumber kehidupan, keindahan, dan kenyaman. Sementara kita. Jawablah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114302702021202657?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114302702021202657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114302702021202657' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114302702021202657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114302702021202657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/seribu-air-seribu-masalah.html' title='Seribu Air Seribu Masalah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114239242968573344</id><published>2006-03-14T18:56:00.000-08:00</published><updated>2006-04-14T23:09:11.453-07:00</updated><title type='text'>Republik (kereta api) Indonesia</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 365px; HEIGHT: 182px" height="265" src="http://www.nicholsoncartoons.com.au/cartoons/new/2005-04-23%20Joh%20Bjelke%20Petersen%20for%20Canberra%20train%20450.JPG" width="385" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sia-sia aku bergegas memburu kereta. Kereta sudah di peron saat aku tiba di depan loket stasiun UI. Ada beberapa orang yang sedang antri. Tergoda untuk berbuat “curang”, dengan membayar di atas. Tapi akhirnya aku putuskan membeli tiket, meski harus telat. Penjaga loket menukas yakin: “15 menit lagi”, ketika kutanya jadwal berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku lalu larut dalam kepikukan stasiun, yang tak beda dengan pasar. Ada wartel, rental komputer, &lt;i&gt;game stasion&lt;/i&gt;, hingga warung seafood. Dulu, 9 tahun lalu saat aku berkantor di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://gatra.com"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Wisma Kosgoro&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, dan pemegang tiket bulanan, suasana stasiun masih resik. Sejauh mata memandang, hijau, “hijau”, dan rindang. Pertumbuhan ekonomi begitu pesat rupanya, sehingga setiap jengkal tanah harus bertunas uang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;15 menit janji berlalu, kereta tak juga nongol. Setengah jam. Lalu, menit ke 40 kereta pun datang. Penjaga mengumumkan, kereta ini penuh, tidak usah memaksakan naik. Kereta berikutnya akan datang 10 menit. Kereta memang sudah bak bersayap, saking banyaknya yang bergelantung. Janji 10 menit lagi, tapi tidak, aku tak mau tertipu. Tadi katanya 15 menit, nyatanya 40 menit. &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/143"&gt;...&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/143"&gt;bergelantungan.... &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114239242968573344?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114239242968573344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114239242968573344' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114239242968573344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114239242968573344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/republik-kereta-api-indonesia.html' title='Republik (kereta api) Indonesia'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114169956996176666</id><published>2006-03-06T18:39:00.000-08:00</published><updated>2006-03-06T18:46:09.976-08:00</updated><title type='text'>Bertunang Kunang-kunang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;A Postcard from Pasarrebo III&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/teknologi/news/0304/22/094255.jpg" align="left" border="3" /&gt;Malam turun sempurna menyudahi senja. Tapi Pasarrebo tetap saja riuh. Aku memasuki prapatan “legendaris” ini, dari sudut yang lain. Terkadang begitu. Terutama malam Rabu dan malam Sabtu. Bukan soal kekeramatan malam, tapi karena malam itu aku main bulutangkis, di kawasan yang angkotnya melewati Kampung Rambutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku pun terjerembab di tengah kemacetan. Untung duduk di depan, hingga serasa disetiri sopir pribadi. Nikmat betul, tak harus berkonstrasi menekan pedal gas dan kopling, dan mengawasi kenderaan kiri-kanan-muka-belakang yang siap menyodok dan tersodok. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mataku berhenti di atas jembatan layang yang melintang gagah. Di atas sana, ada deretan motor terparkir. Mungkin ada 30-an. Sopir yang menangkap keherananku menukas, “Biasa bang, rekreasi murah”. Nun di atas, di sadel motor mereka sedang menikmati malam. Ada yang berduaan, pacaran. Berpelukan erat seolah pemilik dunia. Ada juga yang datang &lt;i&gt;sak brayat&lt;/i&gt;, sekeluarga. Bersama memandangi lampu-lampu di kejauhan. Membayangkan berada di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://ti2n.net/?p=16"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hotaru na Sato&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; (&lt;em&gt;ya, Titin san&lt;/em&gt;). Mungkin mengubur kerinduan masa kecil di desa, menatap kerlip kunang-kunang. Libur kecil kaum kusam, kata Iwan Fals. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Beberapa waktu lalu, di dekat rumah kami di gang Kober, perhelatan sepak bola remaja, setiap petang dihadiri ratusan orang. Padahal lapangannya hanya beberapa meter, adanya di cerukan pembuangan sampah pula. Warga ramai-ramai menguruknya, meretakan, memasangi gawang, dan terciptalah futsal ala kampung. Kalau paginya hujan, alamat pertandingan petang juga ditiadakan. Karena lapangannya &lt;i&gt;belok&lt;/i&gt;, becek. Sewaktu Billy, anaknya engkong haji yang jadi panitia mengajukan “proposal”, aku bertanya, apakah bakal ada peserta. Ternyata ada 14 tim, rela membayar uang pendaftaran 100 ribu, untuk hadiah yang hanya 500 ribu juara pertama. Tak heran, UI di hari minggu, bak pasar dipenuhi orang bermain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://data.startrek.or.id/album/night/DSC05785.jpg" width="200" align="left" mheight="160" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kaya papa &lt;i&gt;emang&lt;/i&gt; butuh liburan. Bedanya ada yang ke kebun engkong, ada yang ke Hong Kong, ada yang ke (plaza) Senayan, ada pula yang ke Ragunan. Lalu dari mana para binatang ekonomi itu tau, semua warga butuh mall, sehingga mereka tega menjadikan semua tanah menjadi mall. Seolah mall bisa menyediakan segala, mulai makanan, pakaian, hingga kesenangan. Lihatlah Detos (Depok Town Square), meski menyandang nama gagah, tak lebih hanya metamorfosa Depok Mal yang sudah ada lebih dulu. Hanya ada super market “hypermart”, yang tak lain milik “Matahari” yang ada di Depok Mall. Selebihnya pedagang kaki lima yang diusung masuk ruang ber-AC. Pun ITC Depok. Jualannya cuma Carrefour. Kalau cuma super market, kenapa bukan pasar Depok Lama saja yang dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi &lt;em&gt;itung2an &lt;/em&gt;warga jelata macam saya, tentu berbeda dengan pemodal itu. Mereka pintar mencipta citra. Membuat orang merasa berbeda jika &lt;em&gt;ngupi&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;Starbuck.&lt;/em&gt; Membuat orang merasa lebih cantik kalau &lt;em&gt;nyalon &lt;/em&gt;di &lt;em&gt;Tony and Guy&lt;/em&gt;. Tak peduli, salon itu hanya terjepit di deretan toko berjalan sempit di Norwich sana, bersisian dengan salon tanpa merk yang memberi harga diskon buat mahasiswa. Membuat orang merasa jadi bangsawan Inggris, jika &lt;em&gt;cami’an&lt;/em&gt;nya biskuit bermerk &lt;em&gt;Mark and Spencer&lt;/em&gt;. Padahal disana, penganan ini hanya sekelas kue mari Roma disini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Siapa peduli itu semua. Tak hirau, gara-gara mal dan godaan di dalamnya, tengah bulan mata sudah kunang-kunang pusing membagi uang belanja. Ah, tentu saja kunang-kunang ya ini, bukan kembang malam pengelana gulita, yang merindu kasih menanti jawab itu. Merindu tanah leluhur yang damai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Kunang-kunang&lt;br /&gt;Kelana di rimba malam...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;(by: Ismail Marzuki)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114169956996176666?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114169956996176666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114169956996176666' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114169956996176666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114169956996176666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/bertunang-kunang-kunang.html' title='Bertunang Kunang-kunang'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114155792497149779</id><published>2006-03-05T03:21:00.001-08:00</published><updated>2006-03-05T03:34:43.186-08:00</updated><title type='text'>Pilkada, eh Pil KB</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;A Postcard from Pasarrebo II&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 242px; HEIGHT: 180px" height="180" hspace="3" src="http://sportsillustrated.cnn.com/events/1996/olympics/daily/july21/cartoons/traffic.gif" width="180" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Malam menjelang, pengingat pulang. Aku bergegas menyetop angkot, yang melaju sebat mengejar asa. Sejauh mata memandang, deretan mobil warna merah mengisi jalanan di depan asrama haji. Terbersit pikir, wajar mereka menyetir kesetanan, &lt;i&gt;kalo gak&lt;/i&gt; bagaimana dia dapat uang ditengah belantara ketakteraturan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Perlahan tapi pasti, angkot akhirnya memasuki kawasan Pasarrebo. Dari kejauhan, jembatan layan yang kosong sudah tampak. Tapi aku naik angkot, dan harus berbelok ke kanan, arah Tanjungbarat. Angkot mulai tertahan, bersamaan dengan terlihatnya kerlip lampu pengatur di prapatan Pasarrebo. Gara-gara jalan layang, jalur di bawah tinggal 3 jalur. Masing-masing untuk berbelok ke Rambutan, lurus ke Cijantung, dan belok kanan ke Tanjungbarat. Ini menunjukkan pembangunan tak pernah berpihak pada &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt; pengguna angkutan umum. &lt;i&gt;Gimana&lt;/i&gt; mau koar-koar mengurangi penggunaan mobil pribadi, kalau jelas-jelas naik mobil itu lebih nikmat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi sesuai namanya, &lt;b&gt;Pasar&lt;/b&gt; Rebo, tentu tak lengkap jika tak ada perniagaan. Maka trotoar pun diokupasi pedagang buah. Belakangan diramaikan PKL lain. Tak ayal, pejalan kaki harus turun ke jalan yang semestinya buat kendaraan. Ini belum seberapa. Yang bikin parah, satu jalur dipakai buat &lt;i&gt;ngetem&lt;/i&gt;. Terjadilah &lt;i&gt;bottleneck&lt;/i&gt;, ketakseimbangan kapasitas masuk dan kapasitas keluar. Maka untuk melampaui 100-an meter prapatan ini, dibutuhkan waktu 20 menit. Bukan cuma waktu, jalur ini membutuhkan ketabahan dan kesabaran. Silap-silap moncong angkot bersirobok, karena semua memburu celah kosong sekecil apapun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.opensocietyparadox.com/mt/archives/traffic%20cartoon.jpg" align="left" /&gt;Wuih.., akhirnya tiba di deretan terdepan. Lampu masih merah. Lho, ada pos polisi tho disini. Lantas kemana polisinya ditengah suara klakson bertalu ini. Aku melongok dari kejauhan. Didalam ada polisi sedang memandang sesuatu dengan tersenyum. Ah, pastilah ia sedang menonton TV. Mungkin Bajaj Bajuri, sinetron kesukaan yang tak prnah lagi kutonton gara-gara kemacetan durjana ini. &lt;i&gt;(Tak mungkin ia tertawa menonton berita, sebab isi berita semuanya memilukan khan)&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Begitu lampu hijau, jangan berkhayal perjalanan sudah mulus. Ada puluhan penyeberang yang tak hirau dengan keselamatan, eh lampu pengatur. Sungguh ketidak-teraturan yang sempurna. Mestinya jarak TMII-Margonda, kurang lebih 20 kilometer, bila dipacu dengan kecepatan sedang 60 km/jam bisa ditempuh 20 menit. Tapi ini, butuh 1 jam, gara-gara.... (banyaklah!). Seorang teman pernah bilang, jika keberhasilan 100 hari walikota Jakarta Timur dilihat dari Pasarrebo, keberhasilan walikota Jakarta Selatan dilihat dari penataan Pasarminggu, alamat kita bakal &lt;i&gt;ngadain&lt;/i&gt; Pilkada tiap 3 bulan. Sungguh biaya yang tidak kecil. Sehingga harus dihindari, sebab daripada mendanai Pilkada mending duitnya beli pil KB. Atau bikin acara semacam Pildacil, agar semakin banyak orang yang mengajak menjauhi pil koplo. &lt;em&gt;Tiiinnn...tin....tin....&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114155792497149779?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114155792497149779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114155792497149779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114155792497149779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114155792497149779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/03/pilkada-eh-pil-kb_05.html' title='Pilkada, eh Pil KB'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114075448985629523</id><published>2006-02-23T20:12:00.000-08:00</published><updated>2006-02-23T20:14:49.866-08:00</updated><title type='text'>Bukan Salah Burung di Sarung</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;A Postcard from Pasarrebo I&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://www.zn30.com/mainimg/main-photo1.gif" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Suara klakson bersipongang memecah pagi. Entah mau kemana makhluk fana ini begitu gegasnya. Bukankah ada lampu pengatur, yang menjadi patokan. Merah artinya berhenti, hijau itu berjalan, kuning hati-hati. Sedari TK itu sudah diajari lewat lagu. Kenapa untuk pelajaran mudah itu saja, negeri yang parlemennya kayak TK ini sulit. Tak puas dengan klakson, seorang kenek kampungan jurusan Kampung Melayu-Kampung Rambutan, turun menghalau mobil yang berhenti di depannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Si sopir yang dihela, tak mau kalah. Ia berhenti karena di depannya seorang nenek berdiri kebingungan. Tak ke kiri, tak juga ke kanan. Raut wajah tua itu bingung dan takut. Agaknya ia baru saja turun dari sebuah angkutan, dan mendadak lampu berubah hijau. Aku tak kuasa berbuat apa. Motor, bus, angkot sudah menekan gas siap memangsa.&lt;br /&gt;Lalu berlarilah dewa penyelamat. Mengepit koran dagangan, membentuk sayap bak Superman, ia gamit tangan si nenek menepi. Untung ini bukan sinetron, kalau tidak pastilah ia menggendong si nenek (seorang gadis belia yang rambutnya di cat putih untuk mendapatkan unsur tua), diringi tepukan meriah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ah, betapa indahnya. Orang kecil itu sudah lama membentuk jejaring sosial, menolong sesama, ditengah ketiadaan kepastian aturan dari pemerintah. Kemana polisi? Tadi sebelum aku tiba di prapatan Pasarrebo ini, aku melihat mereka berkerumun di depan rumah sakit, 200 meter nun disana. Mereka sedang razia. Mungkin menyigi teroris, mungkin juga menisik narkoba. Sungguh mulia. Padahal ditengah ketakberdayaan aturan, prapatan riuh nan hiruk pikuk ini, membutuhkan banyak polisi, sebagai kekuatan pemaksa agar tertib. Apatah lagi, disini tak jelas dimana halte, &lt;i&gt;zebra cross&lt;/i&gt;, sehingga selalu simpang siur. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img height="160" hspace="3" src="http://image.guardian.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/martin_rowson/2005/10/24/martin.jpg" width="200" align="left" /&gt;Toleransi dan semangat kerjasama &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt; ini, acap kali membuat kita nyaman sesaat. Sehingga alpa bahwa hanya dengan aturanlah, warga dibelahan bumi lain sana menjadi lebih maju. Kita seolah tak terganggu dengan prapatan yang tak beraturan, abai bahwa trotoar telah diakuisisi, bantaran kali diokupasi. Lalu kaget, saat sebuah menara menjulang ratusan meter roboh menimpa rumah warga. Lebih kaget lagi, ternyata setelah sekian lama tegak, tiang besi itu tak punya IMB. Maha kaget lagi, ketika flu burung mematok. Ada hal kecil, yang jika dijalankan tak akan serumit sekarang. Yakni kebersihan kandang, kewajiban vaksinasi, dan sanitasi yang baik. Tapi jika menara yang terlihat telanjang saja, aparat kebobolan, bagaimana lagi dengan ternak kecil. Kasip, kini kita butuh 30 Milyar untuk pemusnahan, 17,5 juta dollar (kl Rp. 16 M) untuk penelitian, membeli tamiflu (1 kaplet= Rp 60 ribu), membeli &lt;i&gt;rapid test&lt;/i&gt; 1 strip 100 ribu, dan membeli peralatan baru untuk 44 rumah sakit khusus flu burung.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sungguh jumlah tak kecil, ditengah banyaknya jeritan warga memakan nasi aking. Kata orang dulu, bukan salah bunda mengandung, tapi salah yang punya (flu) burung. Halah...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114075448985629523?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114075448985629523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114075448985629523' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114075448985629523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114075448985629523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/02/bukan-salah-burung-di-sarung.html' title='Bukan Salah Burung di Sarung'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-114015120659019405</id><published>2006-02-16T20:28:00.000-08:00</published><updated>2006-02-16T23:18:08.806-08:00</updated><title type='text'>Habis Amarah Terbitlah Hikmah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.pembrokeshiretv.com/content/articlefiles/1434-denmark%20burns.jpg" align="left" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ia berdiri mematung sunyi. Menatap kosong ke jalan raya yang ramai merimba. Aku berdiri tak jauh darinya. Bersiap menyeberang jalan. Oho.., lelaki berkaca mata hitam itu ternyata tunanetra. &lt;i&gt;My God&lt;/i&gt;, bagaimana dia bisa menyeberang ditengah belantara ini. Kugamit tangannya, dan kami bergandengan mengadu peruntungan, berharap belas kasihan pengendara untuk melambat sesaat. Selamat, kami berhasil. Tapi ia belum usai. Ia masih harus ke stasiun UI. Naik kereta api yang padat di pagihari.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pagi-pagi aku sudah melihat secuil potret karikaturis sebuah bangsa. Mungkin saja karena kita menemui kondisi ini setiap hari, kita tak lagi menganggapnya sebuah keanehan. Beda jika dilihat orang lain, terlebih ia seorang karikaturis, maka ia akan menggambarnya dengan satir. Namanya karikatur (dari kata &lt;i&gt;caricare&lt;/i&gt;, bahasa Italia) tentu mencemooh dengan ”melebih-lebihkan” satu atau beberapa ciri khas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Inilah yang terjadi belakangan ini. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://face-of-muhammed.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kartun2 itu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; menyentak, menggelorakan amarah, &lt;i&gt;nafsuin&lt;/i&gt;, bikin &lt;i&gt;bete&lt;/i&gt;, dll-etc. Orang-orang dungu itu, menggambarkan junjungan kita Nabi Muhammad dan agama Islam, hanya dari pengetahuannya yang sempit. Bak orang buta menaksir bentuk gajah. Kepegang kuping, bilang gajah lebar, kesentuh gading, sebut gajah runcing laksana tombak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi 12 kartun itu, adalah hasil lomba yang diikuti banyak orang, untuk ilustrasi buku anak-anak tentang pemahaman Islam. Meski hasilnya, sebuah ketidakpahaman yang picik mengundang api amarah, namun (&lt;i&gt;bagiku, paling tidak&lt;/i&gt;) ada hikmah besar: Mengapa mereka memandang sekeliru itu? Berapa banyak orang yang berpandangan dungu seperti ini? Bahwa Islam adalah kumpulan orang &lt;b&gt;pengobar kekerasan&lt;/b&gt;, Muslim adalah &lt;b&gt;merendahkan perempuan, anti perbedaan pendapat, dan pemburu sorga dengan bunuh diri&lt;/b&gt;. Sesuatu yang dibungkus oleh syakwasangka belaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img height="180" alt="Image taken from Kompas" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/danish1.jpg" width="200" align="left" border="2" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dan ini seolah menjadi identifikasi Islam yang mengendap di kepala mereka. Menarik membaca editorial koran &lt;em&gt;Jordan Times&lt;/em&gt; (31/1/2006), yang menulis koran Denmark itu melanggar dalil utama masyarakat beradab dan demokratis: bahwasanya &lt;i&gt;kemerdekaan seseorang menjadi berakhir manakala ia melanggar martabat dan kemerdekaan orang lain&lt;/i&gt;. Nah, kita memprotes pelanggaran ini. Namun , apa yang kita lihat sehari-hari, &lt;i&gt;pelanggaran kebebasan orang lain&lt;/i&gt; itu begitu mudah ditemui. Merokok sembarangan, kenderaan yang saling serobot, orang yang sulit untuk beringsut memberi tempat pada orang lain di angkutan umum, dan banyak lagi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keadaan ini, termasuk pengalaman lelaki tunanetra tadi, menujumkan seolah kita –&lt;b&gt;negara berpenduduk Islam terbesar di dunia ini&lt;/b&gt;--, tak peduli kemaslahatan publik. Padahal, Khalifah Umar ibnu Khottob semasa memimpin, “tak pernah nyenyak karena takut ada hewan piaraan warga terperosok di jalan tak rata”. Namun kini, dimana kita bisa berjalan tanpa ketakutan terperosok. Dimana para manula bisa jalan-jalan tanpa takut terantuk karena matanya yang tak awas. Dimana pula kita bisa melihat pengguna jalan patuh kepada lampu, rambu, hingga garis pembatas, meski tak ada polisi. Seolah mereka mendapat ajaran, “Takutlah kepada Tuhanmu, karena Tuhanmu dekat melebihi dekatnya urat lehermu”. Islam mengajarkan, “Hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu”, dan “lindungilah kaum lemah”, tapi dimana kita bisa melihat ibu-ibu dan perempuan naik angkutan publik sesuai marwahnya, tanpa khawatir &lt;i&gt;diempet-empet&lt;/i&gt;, dan terkantuk2 sambil berdiri. Islam punya aturan &lt;i&gt;muamalat&lt;/i&gt; bahwa “syarat sahnya jual beli adalah akad dan persetujuan kedua belah pihak”, tapi dimana kita bisa melihat penjual dan pembeli saling berucap terima kasih tanda kepuasan atas transaksi itu. Dimana kita bisa melihat tak ada sampah terbuang sembarangan, tidak meludah sembarangan, tidak kencing sembarangan, seolah mereka bersemboyan “Annadzofatu minal Iman”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Masih banyak deretan tindakan tak mencerminkan&lt;/span&gt; kehidupan Islami, yang bisa kita &lt;i&gt;kulak&lt;/i&gt; sehari-hari. Padahal sang &lt;i&gt;junjungan&lt;/i&gt; mengajarkan, Islam adalah &lt;i&gt;rahmatan lil alamin&lt;/i&gt;. &lt;strong&gt;&lt;u&gt;Islam adalah&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;ketika orang tak cemas oleh kehadiranmu, tak terancam oleh tanganmu, tak terlukai oleh lisanmu&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;Sampai disini, kasus kartun itu tidak sekedar penghinaan nista yang memuakkan, melainkan diambil hikmahnya sebagai sebuah kritik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tentu saja ini hanya sebuah &lt;b&gt;refleksi personal yang naif&lt;/b&gt; dari seorang hamba yang &lt;i&gt;dhaif&lt;/i&gt;. Bukan pula cerminan kualitas keimanan penulisnya. Kepada Allah pemilik segala kebenaranlah, aku memohon ampun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-114015120659019405?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/114015120659019405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=114015120659019405' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114015120659019405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/114015120659019405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/02/habis-amarah-terbitlah-hikmah.html' title='Habis Amarah Terbitlah Hikmah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113973628718540134</id><published>2006-02-12T01:23:00.000-08:00</published><updated>2006-02-12T01:24:47.196-08:00</updated><title type='text'>Jauh di Mata Dekat di Kaki</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img height="190" alt="”foto" hspace="3" src="http://www.showbus.com/logo/bigbus.gif" width="200" align="left" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gerimis belum sempurna menyudahi diri. Perempuan itu berlari menebas rintik, memburu angkot yang tak utuh berhenti. Pantatnya yang &lt;i&gt;big size&lt;/i&gt; belum terjejak, angkot sudah kembali memburu. Ada ruang kosong di bagian dalam, tapi ia menginginkan di ujung dekat pintu. “Dekat”, katanya. Tapi ditempat itu sudah bercokol seorang ibu paruh baya berukuran sejenis, yang juga ngotot dengan kata “dekat”. Setelah berbilang menit, dapur itu bergoyang bak goyang gergajinya Dewi Persik, dengan bersungut mau juga si ibu paruh baya bergeser. Cuma sejengkal, dan selesailan persoalan. Kelak aku tau, ibu paruh baya yang naik di Lenteng Agung, dan ibu kedua yang naik sebelum stasiun Tanjungbarat, sama-sama turun di Rumah Sakit Pasar Rebo. Jarak yang sungguh tak dekat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dekat, menjadi kata sakti penumpang yang malas beringsut. Suatu kali, sopir yang sudah mahfum dengan kilah ini, dengan kesal bilang: “Kalo dekat jalan aja bu, sayang duitnya. Ini kan jaman susah, harus menghemat. Lagian biar sehat”. Pernyataan yang tidak sepenuhnya tepat. Sebab ongkos angkot begitu murahnya, &lt;i&gt;seceng&lt;/i&gt; bisa untuk jarak 2 kilometer.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.bigbus.co.uk/phila/html/i/walking.gif" align="left" /&gt;Namun bukan soal sehat dan hemat saja, yang bisa dipetik dari kemauan berjalan ini. Yang terpenting lagi, adalah mengurangi kemacetan. Bagi yang akrab dengan angkutan umum tau belaka, angkot dan bus seenaknya bisa dihentikan dimanapun untuk naik dan turun. Tak jarang, bus yang sedang di kanan sekalipun mendadak bisa pindah ke kiri. Atau malahan berhenti di tengah jalan sekalipun. Untuk alasan meladeni pasar pula, angkot, bus, ojek, juga bajaj &lt;i&gt;ngetem&lt;/i&gt; berlama-lama di mulut gang, di pertigaan, dan di prapatan. Dibawah rambu larangan berhenti. Jelas ini sumber kemacetan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi apa mau dikata. “Kalo tak ngetem disitu, mana dapat sewa kita, Bang”, jawab seorang sopir. Saking malasnya jalan, banyak penumpang yang marah-marah menggedor langit-langit atau kaca, jika bus tak langsung berhenti begitu dia teriak “kiri!”. Ironisnya, kemalasan berjalan ini tak cuma dimanfaatkan sopir angkutan umum. Juga pebisnis. Maka banyak mal dibangun di &lt;i&gt;hook&lt;/i&gt;, ada jasa &lt;i&gt;valet parking, car call&lt;/i&gt;, dan layanan atm dan resto cepat saji tanpa turun dari kenderaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bangsa yang besar adalah bangsa yang &lt;strike&gt;menghargai pahlawan&lt;/strike&gt; banyak alasan. Haltenya mana? Trotoarnya diambil pedagang &lt;i&gt;tuh&lt;/i&gt;. Nyebrangnya repot. Kadang melihat ini semua, aku &lt;i&gt;ngunandika&lt;/i&gt;, gimana korupsi mau diberantas jika untuk berjalan dan mematuhi aturan saja malas. Bukankah bibit utama korupsi itu &lt;b&gt;malas&lt;/b&gt; dan gemar mencari &lt;b&gt;jalan pintas&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Capek &lt;i&gt;mikirin&lt;/i&gt; korupsi ah, &lt;i&gt;mending&lt;/i&gt; berdendang: &lt;i&gt;langkahkan kakimu ke kiri ke kanan ikuti irama dan bentuklah putaran sepanjang hari..jalan..!!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113973628718540134?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113973628718540134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113973628718540134' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113973628718540134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113973628718540134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/02/jauh-di-mata-dekat-di-kaki.html' title='Jauh di Mata Dekat di Kaki'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113911395238185598</id><published>2006-02-04T19:32:00.000-08:00</published><updated>2006-02-04T21:31:56.386-08:00</updated><title type='text'>Elegi Sepenggal Pagi</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 166px; HEIGHT: 161px" height="161" hspace="3" src="http://www.jeffreywigand.com/insider/images/sfk2002.gif" width="200" align="left" /&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Deritan kaca bergeser membuat beberapa orang mencuri pandang. Dua orang di pojok itu cuwek bebek. Bercerita dengan volume suara keras. Sekeras hembusan asap rokok yang mengepul membumbui obrolan. Kaca kembali bergeser. Mungkin pelakunya berusaha menunjukkan ketidak senangan atas asap rokok yang mengotori kesegaran udara pagi. Tapi kaca bergeser perokok berlalu. Tak peduli ada &lt;strong&gt;Perda Larangan Merokok.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebagai orang yang terdidik ala Inggris (&lt;i&gt;ck..ck..ck..&lt;/i&gt;) tentu saja aku bergeming. Namun suara dan tawa mereka yang melewati ambang batas, membuatku menyimak juga.&lt;br /&gt;“Beli tiket lu”&lt;br /&gt;Tersipu si bapak bergigi renggang itu memasukkan tiket kereta yang tadi menyembul.&lt;br /&gt;Mereka memang naik di dekat stasiun Tanjungbarat.&lt;br /&gt;“Dasar penakut. Gue sih kagak pernah. kecuali mau turun di (stasiun) Gondangdia. Suka ada Brimob. Serem”. Punya takut juga nih si gondrong kribo, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 151px; HEIGHT: 160px" height="186" hspace="3" src="http://www.personainternet.com/teeper/spoon.jpg" width="206" align="left" /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ceng go ini”&lt;br /&gt;“Eh, cenggo bisa dua batang tuh”&lt;br /&gt;“Lu pelit banget sih, ceng go doang” Si gigi renggang tak mau kehilangan muka, dicela di dekat cewek ber&lt;i&gt;mek-ap&lt;/i&gt; tebal yang sedari tadi diliriknya.&lt;br /&gt;“Pelit? Emangnya gue pak Asep”. Entah Asep siapa, yang jelas mereka tertawa terbahak begitu nama itu tersebut. Mungkin mereka punya referensi yang sama tentangnya. Lihatlah.&lt;br /&gt;“Iya tuh, &lt;em&gt;entu&lt;/em&gt; orang emang pelit abis dah. ngerokok kagak, jajan juga kagak.”&lt;br /&gt;“Makan aja bawa bekal dari bini”&lt;br /&gt;“Emang piknik”. Tawa pun berderai berlomba dengan raungan angkot.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ekonom sedunia bersatulah. Menangkap suara rakyat terkadang tak perlu survei dengan metode canggih bin rumit. Dengarlah suara bangsaku yang &lt;i&gt;nrimo ing pandum&lt;/i&gt; itu. Melihat gelagatnya, mereka bukan orang berpenghasilan besar. Asal bisa merokok, &lt;i&gt;ngupi&lt;/i&gt;, korupsi tiket kereta, jajan bakso sudah dihinggapi bahagia. Pagi-pagi sudah terbahak. Jadi lupakan penelitian rumit soal &lt;em&gt;under poverty line&lt;/em&gt;, yang mengharuskan berpenghasilan 2 dollar sehari baru dianggap lepas dari kemiskinan. Bangsaku miskin, tapi kaya hati. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113911395238185598?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113911395238185598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113911395238185598' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113911395238185598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113911395238185598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/02/elegi-sepenggal-pagi.html' title='Elegi Sepenggal Pagi'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113781923320543708</id><published>2006-01-20T20:47:00.000-08:00</published><updated>2006-01-20T21:26:30.690-08:00</updated><title type='text'>Menuai Janji Menunai Bhakti</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 226px; HEIGHT: 164px" height="200" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/nurr.jpg" width="160" align="right" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Assalamu Alaikum Pak Nur,&lt;br /&gt;Pagi ini mungkin amat menyenangkan buat Antum. Kantor berita &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.antara.co.id/seenws/?id=26185"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Antara &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;mengabarkan, Menteri Dalam Negeri sudah mengeluarkan surat pelantikan walikota Depok. Artinya &lt;i&gt;goro-goro&lt;/i&gt; yang menyelimuti perjalanan anda menuju bangku tertinggi di Depok, telah lampau. Maka tak lama lagi, hari ini, besok, atau lusa, Antum akan menyusuri jalan Margonda Raya untuk menuju kantor Walikota. Kalau Antum tetap tinggal di Kompleks Tugu Asri, begitu keluar kompleks, Antum akan disambut baliho besar, “Anda memasuki kawasan tertib lalulintas” persis di pangkal jalan Margonda Raya. Kelak beberapa meter setelah melewati baliho itu, Antum akan tau, bahwa pesan itu hanya omong kosong tanpa makna. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Seratus meter setelah pesan itu, deretan angkot &lt;i&gt;ngetem&lt;/i&gt; di simpang jalan kober akan mengganggu kelancaran perjalanan Antum. (Kecuali kalau Antum mau berlaku seperti pejabat lain yang gila kuasa, dipandu &lt;i&gt;vorijders&lt;/i&gt;). Penghambat lainnya adalah penyeberang jalan. Karena disini salah satu pintu masuk ke kampus UI bagi pejalan kaki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Kemacetan sejenis, akibat angkot &lt;em&gt;ngetem,&lt;/em&gt; berhenti sembarangan, dan penyeberang yang mengadu peruntungan, akan banyak Antum temui sepanjang Margonda Raya. Sebab selain beberapa kampus, di jalan Margonda ini banyak mal dan pertokoan. Belum lagi, sepanjang jalan Margonda berderet pertokoan yang membuat Depok tak punya kota terpusat, layaknya sebuah pusat kota. Warung-warung menjadikan trotoar sebagai tempat parkir. Sedangkan penjaja mobil, merebut jatah pejalan kaki itu untuk ajang pamer. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 160px; HEIGHT: 180px" height="180" alt="source:pks jaktim" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/badrul.jpg" width="140" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Kata orang bijak, pribadi sebuah bangsa bisa dilihat dari lalulintasnya. Lantas apa makna kemacetan ini buat Antum? Tidakkah ini menujumkan sebuah keadaan &lt;b&gt;salah urus&lt;/b&gt;. Margonda ibarat nenek tua yang tak sanggup lagi menyunggi beban, tetapi ke pundaknya beban baru terus menerus diembankan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Ini karena pemerintah berlaku seperti calo. Mengutamakan keuntungan, tak peduli akibat perbuatannya ruang publik terebut. Pak Nur, aku yakin warga sudah muak dengan semua ini. Buktinya warga memilih Antum, bukan saingan anda, &lt;em&gt;incumbent&lt;/em&gt; walikota. Pasti karena warga menginginkan perubahan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Cukup banyak permintaan kami sebagai warga. Tentu saja sebagai politisi &lt;i&gt;cum&lt;/i&gt; ulama, Pak Nur mahfum kisah teladan ini.Yakni ketika &lt;a href="http://www.indomedia.com/bpost/9901/29/opini/opini1.htm"&gt;Umar bin Abdul Aziz&lt;/a&gt;, khalifah dari Bani Umayyah terpilih sebagai khalifah. Ia justru menangis tersedu. Bukan karena gembira, tapi oleh kesedihan mendalam karena harus memikul tanggungjawab berat. Yang semuanya harus pula dipertanggungjawabkan bukan hanya di depan DPRD, tapi di pengadilan maha tinggi, mahkamah Allah Swt. Akhirul kalam, selamat bertugas, Pak Nur. Wassalam!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113781923320543708?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113781923320543708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113781923320543708' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113781923320543708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113781923320543708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/01/menuai-janji-menunai-bhakti.html' title='Menuai Janji Menunai Bhakti'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113781777251476060</id><published>2006-01-20T20:20:00.000-08:00</published><updated>2006-01-20T20:31:14.076-08:00</updated><title type='text'>Bus Gratis, Bus Way, Bus Wae...</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 254px; HEIGHT: 152px" height="412" hspace="3" src="http://www.dompetdhuafa.org/picture/Bus%20GRATIS%20baner.jpg" width="218" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku berjalan melampaui halte yang sepi. Mestinya aku menunggu di halte dekat toko togel ini. Karena ini adalah halte terdekat dari rumah kami. Nun sekitar 150 meter dimuka ada halte lain. Kesanalah aku berjalan, menyusuri trotoar lebar yang rata, tak dikuasai pedagang, atau pengendara motor. Tak sekedar mau sehat. Tapi ingin berhemat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bayangkan. Jika aku naik di halte toko togel, sampai &lt;i&gt;city center&lt;/i&gt; aku harus membayar 1,6 pound (atau 2,8 pp). Tapi jika aku rela jalan kaki seperti yang aku lakukan barusan, aku hanya perlu merogoh kocek 0,8 pound sekali jalan, dan 1,2 pp. Ada perbedaan 1,6 pound. Ini bukan tak seberapa. Dengan 1,6 pound, lumbung bisa terisi 3 kg beras atau 5 liter jus jeruk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ini bisa terjadi, karena Norwich menggunakan sistem &lt;i&gt;zoning&lt;/i&gt; dalam pembayaran tiket. Tidak jauh dekat (yang sesungguhnya bisa ditawar juga). Sistem zoning hanya salah satu dari sekian banyak sistem &lt;i&gt;ticketing&lt;/i&gt; angkutan publik di kota-kota di Inggris. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 223px; HEIGHT: 142px" height="200" hspace="3" src="http://www.hinnerup.dk/kommuneplan-2005/billeder/bus" width="223" align="left" /&gt;Aku teringat ini, setelah bersua dengan temanku yang bekerja untuk &lt;b&gt;Dompet Dhuafa&lt;/b&gt;. Mereka meluncurkan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/metro/news/0601/19/083344.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;bus gratis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; kaum dhuafa oktober lalu, dan bus gratis khusus pelajar rabu, 18 jan 2006, di SMU 73 Jakarta Utara. Sayang, media –termasuk televisi tempat aku bekerja—tak berminat pada “berita kecil” yang “hanya” 2 bus ini. Tak sepadan dengan jumlah dan kehebohan &lt;i&gt;uba rampe&lt;/i&gt; peluncuran busway.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Naik bus secara gratis. Aku tak 100 persen setuju dengan ide ini. Aku memilih sistem subsidi. Makanya kepada teman itu aku usulkan sistem ticketing itu. Selain pembagian zona, dikenal pula tiket multi-trip. Sekolah, kampus dan kantor, bekerja sama dengan pemerintah, mengeluarkan tiket tahunan dengan sistem subsidi. Mahasiswa di Norwich, hanya dikenai tiket tahunan 135 Pound, setara dengan 2,6 Pound per minggu. Padahal untuk sekali naik bus, ongkos termurah adalah 0.8 Pound dan termahal 2.8 Pound sekali jalan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain tiket tahunan, dikenal juga tiket mingguan, bulanan, dan tiket berkelompok. Satu lagi, tiket konsesi bagi lansia. &lt;i&gt;Old citizen&lt;/i&gt; ini diberi potongan besar, dengan menunjukkan kartu konsesi. Mungkin disini ini kurang bermanfaat, sebab disini lansia tak dianjurkan bepergian menggunakan angkutan umum. Dimana dia hendak menyeberang, dan dimana dia hendak berjalan aman dengan penglihatan yang tak lagi awas &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Satu pelajaran penting, Dompet Dhuafa meluncurkan sebuah program publik berdasarkan penelitian dan survey. Makanya ketika Gubernur Sutiyoso memanggil mereka, justru penguasa Betawi itu segendang sepenarian, tertarik dengan program bus gratis ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya membayangkan, daripada membangun mal, lebih baik lahan kosong dibangun &lt;i&gt;Park and Ride&lt;/i&gt;, yakni tempat parkir luas dan menjadi titik awal perjalanan bus berikutnya. Andai pemerintah kota penyangga Jakarta, macam Depok, Bekasi, dan Tangerang menyediakan bus menuju &lt;i&gt;Park and Ride&lt;/i&gt;. Kalau saja rencana ini terwujud, Park and Ride misalnya ada di Lebak Bulus, pekerja dari Depok, Ciputat, dan Bintaro cukup memarkir kenderaan disini, dan langsung naik busway menuju Sudirman dan Thamrin. Tiket parkir dipadukan dengan tiket bus, dan pengguna dirangsang dengan penerapan tiket multi-trip. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau angkutan umum nyaman, harapan mobil pribadi berkurang akan jadi kenyataan. Asa agar memiliki jalur khusus &lt;/span&gt;&lt;a href="http://myshant.multiply.com/journal/item/140"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;sepeda&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, ada di depan mata. Mari bersepeda…!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113781777251476060?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113781777251476060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113781777251476060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113781777251476060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113781777251476060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/01/bus-gratis-bus-way-bus-wae.html' title='Bus Gratis, Bus Way, Bus Wae...'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113688327258230021</id><published>2006-01-09T23:43:00.001-08:00</published><updated>2006-01-10T00:54:32.643-08:00</updated><title type='text'>Sapi Juga Manusia</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 160px; HEIGHT: 201px" height="180" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/kambing_kurban.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Anyir darah meruap ditengah lenguhan dan jeritan meregang nyawa. Lalu puluhan lelaki bersenjata pisau dan parang merangsek. Badan tak bernyawa itu pun tersayat, terpotong, terbelah, lalu teronggok. Tak ada wajah sedih, semua bergembira menyaksikan “pembantaian” itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari ini, Indonesia menjadi &lt;i&gt;the Killing field&lt;/i&gt;. Ribuan, mungkin ratusan ribu sapi dan kambing menemui ajal di tangan algojo. Anyir darah yang terbang bersama sengak pipis dan kotoran hewan, memang menjadi ciri khas di hari yang menjadi simbol keikhlasan manusia terhadap perintah Allah ini. Keihklasan yang akan dibayar NYA dengan kemuliaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari mulia kali ini bersamaan dengan bencana di Jember dan Banjarnegara. Selarik tanya terbersit nun di sanubari. Mengapa bencana itu tetap Engkau kirim. Apakah kami kurang ikhlas. Jangan-jangan bapak-bapak itu menyumbang, hanya karena bapak pejabat lainnya menyumbang. Jangan-jangan bapak anu memberi sapi karena tak mau kalah dengan bapak ono yang menyumbang kambing. &lt;i&gt;Uppsss....&lt;/i&gt;, pagi-pagi aku sudah mengotori jiwa dengan syakwasangka buruk. &lt;i&gt;Astaghfir Allah&lt;/i&gt;, ampuni aku, telah mengadili niat orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun dalam skala kecil, bagi yang rutin menyusuri jalanan, akan berpikir sama bahwa keihlasan itu masih jauh. Pengendara yang menekan klakson hanya karena ada orang menyeberang. Penyeberang jalan yang menghindari jembatan penyeberangan, hanya karena tak ikhlas energinya berkurang menaiki tangga. Calon penumpang yang memilih berkerumun di perapatan, hanya karena tak rela berjalan kaki sedikit jauh dari sana. Sopir angkutan yang memilih &lt;i&gt;ngetem&lt;/i&gt; di bawah tanda "&lt;strike&gt;S"&lt;/strike&gt;, karena tak ihklas penumpang memilih angkutan lain yang melanggar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Suara klakson bersahutan menyadarkan lamunanku. Rupanya aku minta angkot berhenti di jalur ramai di tempat larangan berhenti. &lt;i&gt;Walah..&lt;/i&gt;. Semoga keihlasan sang sapi, sebagai perwujudan keihklasan Nabiyullah Ibrahim dan Ismail, juga menjadi keihlasan bagi umat manusia. Ikhlas sapi, juga manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;Selamat hari raya Idul Qurban&lt;/b&gt;. Selamat berkorban. Tak hanya hari ini. Tapi sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113688327258230021?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113688327258230021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113688327258230021' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113688327258230021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113688327258230021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/01/sapi-juga-manusia_09.html' title='Sapi Juga Manusia'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113616208515443889</id><published>2006-01-01T16:31:00.000-08:00</published><updated>2006-01-01T16:34:45.166-08:00</updated><title type='text'>Kita Bangsa Formalin</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.qkiz.com/concentration/images/hot-fish.gif" align="left" /&gt;Ikan-ikan itu berenang menjauh. Goncangan kapal akibat deburan ombak, membuat permukaan akuarium raksasa naik turun. Tapi bukan itu yang membuat ikan bergejolak. Melainkan polah ikan hiu &lt;i&gt;batita&lt;/i&gt;, yang pongah siap memangsa. Memasukkan ikan hiu ke dalam kumpulan ikan tangkapan, merupakan metode anyar yang digunakan nelayan jepang, untuk memenuhi hasrat konsumen akan ikan segar bugar. Keberadaan ikan hiu itu, memaksa ikan-ikan waspada dan berusaha &lt;i&gt;melek&lt;/i&gt;. Masa pengawetan mengggunakan media es sudah lewat. Sebagai penyuka ikan mentah, warga jepang menuntut rasa yang lebih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tapi itu di Jepang. Di Jepara –dan pantai pantai lain-- beda lagi. Hantaman halimun krisis ekonomi, menjadi salah satu alasan penggunaan formalin. Media &lt;/span&gt;&lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0512/29/UTAMA/2324548.htm"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; menyebut, seliter formalin (kl 10 ribu perak) bisa mengawetkan 10 ton kilogram, yang jika diawetkan menggunakan bongkahan es butuh 350 balok seharga lebih dari 2 juta perak. Sungguh penghematan kocek luar biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img height="160" hspace="3" src="http://www.ices.utexas.edu/~organism/random-stuff/images/tims/tiny.skull.flower.gif" width="120" align="left" /&gt;Luar binasanya, penggunaan formalin ini didorong oleh pilihan konsumen. Banyak pembeli yang menginginkan ikan, tahu, juga mie yang kenyal, awet, dan tak berbau. Lhadalah, formalin-lah barang termudah untuk memenuhi kriteria pilihan konsumen ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Mungkin kelewat banyak mengasup formalin, tak jarang kita menjumpai perilaku pekerja “formalin” di perkantoran. Pekerja yang kenyal macam karet, yang bisa melar mengkeret --atau faham situasi-- seperti kata Iwan Fals. (&lt;i&gt;jadilah karet jangan besi// sebab sebuah karet kenal semua kondisi// jadilah durno jangan jadi bimo// sebab seorang durno punya wajah seribu//&lt;/i&gt;). Kelas kenyal ini memang menghasilkan pekerja yang awet, tak kenal turun jabatan apalagi dipecat. Sekaligus tidak berbau, wangi jali-jali karena tidak perlu banting tulang, atau tidak memiliki cacat di mata atasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tengoklah lingkungan terdekat. Kawan yang memilih berbeda jalan dengan atasan, justru bekerja super awas bin waspada. Siaga karena ada banyak mulut yang siap memangsa. Mungkin tekanan justru merangsang mereka belajar lebih tekun, berpikir membuka kemungkinan-kemungkinan dalam karir. Dalam hidup. Makan ketika mereka keluar atau dikeluarkan, justru tetap, bahkan semakin &lt;i&gt;payu&lt;/i&gt;. Sementara yang ABS (Asal Bapak Senang), terlena dalam zona nyaman dan aman. Sibuk memanjangkan lidah sehingga lupa harus bekerja secara baik. Ia telah tersiram formalin yang mengawetkan. Tak peduli efeknya membuat iritasi sejawat, atau kelak menjadi kanker bagi saudagar penggaji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kaum pekerja sedunia, bersatulah. Tapaki 2006, dengan memilih jadi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0512/31/opini/2327307.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ikan jepang&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; apa ikan jepara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ffff00;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;judul&lt;/span&gt; diilhami dari pidato bung karno: “jangan menjadi bangsa tempe”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113616208515443889?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113616208515443889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113616208515443889' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113616208515443889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113616208515443889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2006/01/kita-bangsa-formalin.html' title='Kita Bangsa Formalin'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113593202295430141</id><published>2005-12-30T00:37:00.000-08:00</published><updated>2005-12-30T00:45:01.283-08:00</updated><title type='text'>Makin Asyik Aja di 2006</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img height="200" hspace="3" src="http://www.tvhistory.tv/1931%20May-June%20TV%20News.JPG" width="160" align="left" /&gt;Ombak yang memabukkan dan mengombang-ambingkan itu, sirna sudah. Kerlap lampu pelabuhan --sekecil apapun itu-- adalah tanah pengharapan. Warsa 2005 yang sudah senja, membawaku berlabuh di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tpi.tv"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Taman Mini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sejatinya, aku sudah mendapat &lt;i&gt;exit permit&lt;/i&gt;, izin berlabuh sejak september. Hanya beberapa saat pulang dari Norwich. Aku meminta waktu setelah puasa dan lebaran berlalu. Disinilah pusaran ombak datang menerjang panjang. Memabukkan dan mengombang ambing. Hanya sehari sebelum janji ditunai, syahbandar sebuah pelabuhan jiran datang meminang. Tentu saja ia menawarkan kepeng ongkos bongkar muat yang lebih memukau. Ada pula tawaran menjadi &lt;i&gt;suhu&lt;/i&gt; di padepokan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.isai.or.id"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ternama&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, yang membuka jalan menuntut ilmu hingga ke negeri cina.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maka, meski tak berkegiatan hidup tak terasa sepi. Pagi terasa indah, menyesap kopi susu ditemani kokok ayam sayup suara. Benar kata pepatah, &lt;i&gt;“Don’t start the day without hope”&lt;/i&gt;, aku pun mengisi hari dengan penuh harap. Kerani Taman Mini yang memintaku segera berlabuh, kutolak dengan kilah negosiasi. Sebetulnya itu hanya untuk menyuburkan snobisme profesionalisme belaka. Hingga suara itu datang dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://arisemut.multiply.com"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kawan serakit&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; sedayungan. “Sejak kapan di rumah ini, materi menjadi pertimbangan utama”. Menohok, menyayat bak sembilu nun jauh di lubuk kalbu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="4" src="http://www.corfina.com/images/tpi-logo.jpg" align="left" /&gt;Pekan pamungkas warsa 2005 pun menjadi saksi. Aku menjatuhkan pilihan ke &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tpi.tv"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Taman Mini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;. Diamanati menjalankan program &lt;b&gt;Lintas 5&lt;/b&gt;, yang tayang pukul 5 petang. Tiga bulan mereka rela menanti, pastilah ada sesuatu asa dibaliknya . Terasa ada walau tak dikatakan. Bersaing dengan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://metrotvnews.com"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kakak seperguruan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;? Ah, itu terlalu muluk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Begitulah. Kata kembara bestari, “Pelabuhan adalah tempat paling aman bagi sebuah kapal. Tapi kapal tak diciptakan untuk itu”. Maka pelayaran belumlah usai. Pelabuhan yang lain masih mungkin akan tersinggahi. Kapan dan dimana, entahlah. akhirul kalam, semoga warsa 2006 yang sudah di depan mata, memberikan manfaat, kemudahan, dan kenikmatan. Serta membuat hari-hari kita, &lt;i&gt;Makin Asyik Aja...!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113593202295430141?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113593202295430141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113593202295430141' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113593202295430141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113593202295430141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/12/makin-asyik-aja-di-2006.html' title='Makin Asyik Aja di 2006'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113539744336491533</id><published>2005-12-23T20:03:00.000-08:00</published><updated>2005-12-23T20:19:14.450-08:00</updated><title type='text'>Kaos Undang Chaos</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 132px; HEIGHT: 158px" height="251" hspace="3" src="http://www.smartguy.dk/VareBilleder/6094_Presentation.jpg" width="166" align="left" /&gt;Stasiun kereta UI siang itu tak terlampau ramai. Aku duduk menunggu, seraya melempar pandang ke orang-orang yang lalu lalang. Mataku tertumbuk dengan selarik kalimat pada kaos yang dipakai seseorang. &lt;em&gt;&lt;b&gt;“I’m hotter than your gilrfriend”&lt;/b&gt;.&lt;/em&gt; Terhenyak, aku mencari tahu si pemilik kaos. Wow, wajahnya manis, gayanya modern, dan tampilan khas mahasiswi. Menilik dandanan dan penampilannya secara umum, ia tak terlihat binal apalagi nakal. Tahukah ia makna tulisan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bukan sekali ini saja aku bertemu dengan kaos bertuliskan hal diluar dugaan macam itu. Kali itu malah lebih gawat: &lt;em&gt;&lt;b&gt;“Click this if you want to see me naked”&lt;/b&gt;.&lt;/em&gt; Masya Allah, titik di huruf “i” pada kata &lt;em&gt;“this”,&lt;/em&gt; tepat di bagian yang kalau &lt;i&gt;di-click&lt;/i&gt; bisa mengundang &lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt;, kekacauan. Perempuan itu naik di halte di seberang kampus IISIP, yang biasa disebut halte kampus. Aku yakin dia mahasiswi juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berada di tempat umum dengan memakai baju provokatif model itu, tidakkah berbahaya. Potensil mengundang pelecehan, mengingat aturan hukum tentang hak-hak perempuan yang kurang kuat. Coba kalau ada yang usil bertanya, “Really?”. Atau nekat mencoba meng-click titik “i” tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Boleh jadi baju tersebut dibeli di luar negeri sana. Kultur, kebiasaan, etika, dan hukum yang berbeda bisa menuai tindakan yang berbeda pula. Disana, jangankan menjail, bersuit, menatap saja jika membuat seorang perempuan tak senang, sudah cukup membawa kasus ini ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual. Aku ingat musim panas beberapa bulan silam di Norwich. Ketika bersilih dengan seorang perempuan yang mengenakan kaos tipis, belahan rendah, sehingga sesuatu yang membongkah dibaliknya nyaris mencelat. Yang bikin terkesima, tulisan di kaos itu: &lt;em&gt;“&lt;b&gt;Not just for baby only!"&lt;/b&gt;.&lt;/em&gt; Alamaaakkk.... pengen &lt;i&gt;mimik&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113539744336491533?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113539744336491533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113539744336491533' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113539744336491533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113539744336491533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/12/kaos-undang-chaos.html' title='Kaos Undang Chaos'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113497245206214838</id><published>2005-12-18T22:02:00.000-08:00</published><updated>2005-12-18T22:07:32.080-08:00</updated><title type='text'>Biarkan Air Mengalir</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 228px; HEIGHT: 165px" height="165" src="http://www.tempointeractive.com/hg/photostock/2005/04/05/s_musi1.jpg" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungai Musi, Palembang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 50px; PADDING-TOP: 1pxfont-family:times;font-size:70;"  &gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;ENJA yang menua menyungkupi jembatan Ampera, Palembang. Semburat keemasan berpendar di atas sungai Musi yang kecoklatan. Puluhan orang menikmati petang di seputaran jembatan legendaris itu, dari Plaza Benteng Kuto Besak (BKB). Tempat yang dulu sumpek, dipadati pedagang buah dan sayuran, memupur wajah untuk menyambut semboyan Palembang, sebagai “Kota Wisata Air”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selain pengamen, seseorang mendekakti kami. Rayunya, tak lengkap menonton sungai Musi tanpa melayarinya. Ia adalah nakhoda perahu bermesin yang tertambat tak berdermaga. Tawar menawar, harga pas, tancap gas. Erat kedua lenganku mencengkram pinggiran perahu berdimensi 1,5 kali 3 meter itu. Kami berenam, dan sang nakhoda menyesaki perahu yang tampak kecil di alur sungai Musi yang lebar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Perahu memutar sebat di bawah jembatan Ampera yang legendaris, menyisakan percik air di muka. Kami mencoba tertawa, meski terdengar getir, karena tawa itu hanya penawar rasa takut. Agaknya si nakhoda menikmati rasa khawatir kami. Sesekali ia tancap gas seolah tak melihat perahu lain yang akan bersilih. Setelah dekat baru ia berbelok. Atau melayari gelombang yang diciptakan kapal berukuran besar, yang rasanya seperti berkendara di jalanan berbatu. Syukur, setelah 25 menit, perahu akhirnya menepi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Naik &lt;i&gt;speed boat&lt;/i&gt; di sungai Musi ini melengkapi “petualangan” menyusuri sungai di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/photo/18/9.JPG"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;York&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, Cambridge, Ely, dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/23"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;London&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, serta di Amsterdam. Memang, sungai merupakan salah satu andalan kota-kota di Inggris. Tak terkecuali Belfast, wahah di Irlandia Utara yang dilanda perang saudara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 207px; HEIGHT: 141px" height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/lon23.jpg" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berlayar di London&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun, kali ini paling segalanya. Paling mengerikan. Paling murah, hanya 40 ribu satu perahu. Bandingkan di York, 9 Pound (kl 160 ribu/orang), di Cambridge 8 Pound (kl 145 ribu), dan Amsterdam 7 Euro (kl 70 ribu). Juga paling &lt;i&gt;cuwek&lt;/i&gt;. Si nakhoda hanya tersenyum simpul ketika kutanyai apakah ia menyediakan pelampung. Biarlah, ia tak sendirian. Ada jutaan kepala di negeri ini, yang menganggap kecelakaan, kemalangan merupakan takdir yang tak bisa dicegah, meski dengan penyediaan infrastruktur yang baik. &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kembali ke Benteng Kuto Besak. Benteng ini adalah peninggalan Belanda yang dulu digunakan sebagai pos pemantau musuh yang datang dari air. Lama ia dia teronggok tanpa makna. Hingga Palembang &lt;i&gt;ketiban sampur&lt;/i&gt; sebagai tuan rumah PON. Segalanya pun berubah. Bisa jadi, otonomi daerah yang mengembalikan Sumatera Selatan sebagai provinsi ke-lima terkaya, turut berpengaruh. Terlambat. Ya, karena sama dengan kota-kota di Inggris, sungai merupakan pelengkap sebuah kota. Tak aneh, sebab sungai adalah sumber penghidupan yang menjadi pusat aktivitas sebuah komunitas sebelum ia membesar menjadi kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tak hanya Palembang. Nyaris seluruh kota di Indonesia punya sungai pembelah kota. Sekedar mengabsen, Kalimas di Surabaya, Cikapundung di Bandung, Ciliwung di Jakarta, dan Krueng Aceh di Bandaaceh. Tak terhitung pula situ atawa danau. Ada banyak potensi wisata yang menguntungkan di sungai ini: &lt;i&gt;cruishing&lt;/i&gt;, resto terapung, pemancingan. Semuanya bisa tanpa merusak fungsi sungai, dan membiarkannya berdampingan antara kekinian dengan ke-&lt;i&gt;baheula&lt;/i&gt;-an.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Petang itu, di Plaza Benteng Kuto Besak, yang sudah dipenuhi banyak coretan aku membolak balik koran &lt;i&gt;Sumatera Ekspress&lt;/i&gt;. Pada salah satu halamannya terbaca: “Seorang pengusaha papan atas, berminat membangun hotel dan mall di Benteng Kuto Besak”. Ah, mengapa banyak pula kepala yang berpikir bahwa mall adalah ruang publik yang paling dibutuhkan masyarakat?.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kumandang azan dari Mesjid Agung yang tak jauh dari jembatan, membuyarkan lamunanku. Sejenak tadi, aku terkenang ketika menyusuri sungai Seine di Paris sana, yang dibiarkan indah ditengah modernitas sebuah negeri maju.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113497245206214838?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113497245206214838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113497245206214838' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113497245206214838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113497245206214838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/12/biarkan-air-mengalir.html' title='Biarkan Air Mengalir'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113401512658638352</id><published>2005-12-07T19:55:00.000-08:00</published><updated>2005-12-07T20:12:06.656-08:00</updated><title type='text'>Malam di Kamar 507</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 254px; HEIGHT: 174px" height="200" alt="Foto taken by Chika Hakim" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/sakit.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Kupandangi cairan infus yang menitik perlahan. Disana ada aura kehidupan. Lalu berpaling ke langit-langit yang memutih. Disana ada aura kebosanan. Beruntung aku kebagian di sebelah luar dari kamar berkatil tiga ini, ada bagian pemandangan alam, sehingga aku tak terkungkung hanya berteman botol infus, langit-langit, dan gordin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Dalam dua pekan terakhir, aku tinggal di kamar ber-&lt;i&gt;view&lt;/i&gt; luas. Mulai dari kamar 605 di Rayong Beach Resort, 500 kilometer di luar kota &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;a href="http://www.pcij.org/training/ijcourse.html"&gt;Bangkok&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;. Lalu kamar 913, Royal River Hotel di tubir sungai Chao Phya, yang membelah kota Bangkok. Sayang, yang terakhir adalah kamar 507, adanya di RS Mitra Internasional, Jatinegara. Begitu tiba di Jakarta, oleh-oleh panas dan pening yang kubawa dari Bangkok, membawaku ke &lt;/span&gt;&lt;a href="http://putrihakim.multiply.com/journal/item/229"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;kamar 507&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; ini. Positif &lt;b&gt;demam berdarah&lt;/b&gt;(DBD). Gusti Allah Sang Maha Penulis skenario yang Agung, membuat suka dan duka dalam &lt;i&gt;scene&lt;/i&gt; hidupku, begitu cepat bersilih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Nyamuk &lt;i&gt;aedes aegepty&lt;/i&gt; telah menggerogoti trombositku hingga titik rawan 14.000 (dari jumlah minimal normal 150.000). Meski sempat mimisan dan pendarahan gusi, sejatinya aku merasa semuanya berjalan oke. Di malam pertama, Ari malah aku larang ikut “melantai” di rumah sakit. Aku masih bisa berdikari. Ke kamar mandi sendiri, makan sendiri. Apalagi petuah dokter, selama tujuh hari sejak panas bermula, trombosit akan turun terus tanpa bisa dihambat. Infus, banyak minum bukan menaikkan, hanya membantu menurunkan panas, agar infeksi tidak berlebihan, dan mengeliminir pusing, demam, mual, dan pendarahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 236px; HEIGHT: 200px" height="200" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/sakit2.jpg" width="200" align="left" /&gt;Tapi rupanya tidak demikian bagi yang melihat dan hanya mendengar. “Babe sehat dong, babe gak pantas sakit”, begitu sms yang melayang jauh dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://aljayuzi.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;keluargaku&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; di Norwich sana. Keluarga di kampung, belajar dari pengalaman empirik kegagalan penanganan DBD, karena sepekan sebelum lebaran keponakanku berpulang karena penyakit ini. Bisa juga karena &lt;i&gt;kulakan&lt;/i&gt; berita di TV, tentang akhir tragis penyakit ini (padahal wajar tokh, TV &lt;i&gt;emang&lt;/i&gt; senangnya menampilkan gambar dramatis keluarga korban yang menangis tersedan, ketimbang keluarga yang pulang karena sehat).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Itu semua menjadi cermin yang membuat sanak saudara handai taulan khawatir berganda. Apalagi ini adalah pengalaman pertamaku kena jarum infus dan &lt;i&gt;ngendon&lt;/i&gt; di rumah sakit. Mungkin karena kesulitan memilih kata yang &lt;i&gt;make sense&lt;/i&gt; tentang arti penurunan trombosit, abangku di kampung menjelaskan dengan bahasa sederhana, “ darahnya tinggal sedikit”. Maka mereka pun segera menggelar Yasin-an, yang pastilah sambil mendaras doa-doa dibawah untaian air mata. Mamak dan Abang yang sedang dalam persiapan keberangkatan haji di Palembang, segera terbang. Adik dan keponakan yang bersekolah di Bandung dan Yogya, muncul. Pun saudara dan teman2 yang ada di Jakarta, &lt;i&gt;ngeluruk&lt;/i&gt; ke rumah sakit. Ada yang membawa doa dan semangat, ada yang membawa jus jambu yang melihat merahnya saja sudah membuat aku mual saking &lt;i&gt;overload&lt;/i&gt;. Ada pula yang membawa &lt;i&gt;angkak&lt;/i&gt;, obat tradisional Tiongkok kuno, yang rasanya pahit dan baunya sangit, tapi dipercaya menggenjot jumlah trombosit. Tak terhitung pula sms, hingga nun jauh dari &lt;/span&gt;&lt;a href="http://sikrit.multiply.com/"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Perancis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; sana. Kamar 507 pun hiruk pikuk sepanjang hari, selama 6 hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Begitulah, setelah larut malam, aku kembali ke kesendirian. Berteman langit-langit, kerlip lampu di kejauhan , dan jarum infus. Jarum yang membawaku kepada kesadaran, bahwa tiada yang lebih nikmat daripada sehat. Jarum yang membuatku setengah tak berdaya, menghambat kegiatan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://ummiss.multiply.com/journal/item/131"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;menulis&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;(&lt;i&gt;sehingga tulisan ini pun harus dibuat beberapa hari setelah kembali ke rumah&lt;/i&gt;), membaca, tidur tengkurap, dan (&lt;i&gt;maaf!&lt;/i&gt;) buang air besar. Waktu luang itu pula yang membawaku merenung, apa yang telah kuperbuat di usia menuju &lt;i&gt;laruik sanjo&lt;/i&gt; ini. Memahami betapa banyak sayang yang terlimpah dari&lt;i&gt;dunsanak&lt;/i&gt;, handai taulan, dan rekan sekalian. Sadar bahwa bagi para tetua, anaknya ini tak pernah sungguh besar dan mampu berdiri sendiri. Anaknya ini boleh terbang jauh kemana-mana, tapi tetaplah anak yang merindukan belaian dan suapan kasih sang induk. Ah, sebuah bentangan jejaring sosial yang sukar aku telaah. Betapa beruntungnya aku berada dalam jejaring kekerebatan yang mencipta rasa aman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Malam semakin menyayukan mata. Sebelum benar-benar terlelap, aku kembali memujakan syukur, meski ini hanya kamar kelas III, tapi cukup apik dan resik untuk beristirahat. Tak terbayang bagaimana pedihnya, ditengah pusing, demam, dan mual yang membutuhkan kelezatan tempat &lt;i&gt;berihat&lt;/i&gt; itu, harus terbaring di &lt;i&gt;velbed&lt;/i&gt; lorong rumah sakit yang berangin dan berisik, seperti yang dialami banyak saudara kita yang lain demi harga yang ringan. Ya Allah, sesungguhnya sehatku, sakitku, hidupku, dan matiku, adalah Karunia-MU.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113401512658638352?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113401512658638352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113401512658638352' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113401512658638352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113401512658638352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/12/malam-di-kamar-507.html' title='Malam di Kamar 507'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113246863818741435</id><published>2005-11-19T22:35:00.000-08:00</published><updated>2005-11-19T22:37:18.196-08:00</updated><title type='text'>Hari-hari Telor Iris</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.tempointeraktif.com/hg/photostock/2005/03/14/s_K18A03608_high_thumb.jpg" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dengan nafas ngos-ngosan kutanjaki jalanan berbatu tak mulus itu. Pas di sebuah belokan, aku kaget dan sontak melompat. Nyaris kasip. Segayung air yang disiramkan seorang ibu untuk menghela debu jalanan, hampir mengguyurku. Sedikit cipratan di sepatu, tak menghalangiku meneruskan lari pagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Ini memang bukan jalur nikmat untuk berolahraga. Jalan rusak, sempit, dan menembus perkampungan padat penghuni. Kalah jauh dibanding berlari di kampus UI. Tapi tak apa. Aku harus membagi waktu bersosialisasi dengan warga sekitar. Ada sih pilihan lain: shalat berjamaah di mesjid. Tapi aku putuskan menghindari pilihan kedua. Dalam kondisi perang melawan terorisme dewasa ini, harus bijak memilih langkah. Betul..?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Bayangkanlah jika kejadian-kejadian di televisi menimpa anda. Ada seseorang yang menyebut nama anda terlibat terorisme. Lalu sejumlah orang bersenjata merangsek, membekuk, membekap, menutup muka, dan membawa anda di bawah pengawalan ketat. Tak lama, gambar kejadian itu sudah nongol di televisi. Dilengkapi wawancara dengan tetangga: orangnya tertutup, tidak bergaul, rajin ke mesjid, temannya sering datang. Kamera pun menyoroti semua yang berbau Islam, sajadah, ayat kursi yang menempel di dinding, buku-buku agama (istimewanya) yang mengandung kata &lt;b&gt;jihad&lt;/b&gt;. Ih....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Sungguh aku tak mau itu menimpa. Apalagi namaku berbau Timur Tengah, plus kumis, jenggot, dan jambang. Potongan-potongan yang sempurna buat televisi mendapukku sebagai teroris. Tak peduli bahwa dituduh saja sejatinya belum memiliki kekuatan hukum apapun. Tapi cara televisi menyajikan berita terkait terorisme, benar-benar bikin miris. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Lupakan teroris. Keringat yang meleler semakin deras. Lebih dari setengah jam aku berlari. Aku harus berbalik arah. Di rumah pasti sudah menunggu kopi susu, dan nasi goreng telor iris. &lt;i&gt;Hmmmm...&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113246863818741435?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113246863818741435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113246863818741435' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113246863818741435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113246863818741435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/11/hari-hari-telor-iris.html' title='Hari-hari Telor Iris'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113142080918244021</id><published>2005-11-07T19:30:00.000-08:00</published><updated>2005-11-07T19:45:54.276-08:00</updated><title type='text'>Reshuffle Keran Bocor</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 159px; HEIGHT: 170px" height="170" hspace="3" src="http://www.bandaaceh.go.id/images/infopublik/pdam03.JPG" width="175" align="left" /&gt; NGUUUNGGG..., suara mesin air menderu saat kami memasuki rumah. Meski lelah sehabis berkeliling lebaran, tak urung bunyi mesin itu mengundang perhatian. Soalnya, kami menggunakan tabung air dengan kontrol ketinggian permukaan. Mesin akan menyala otomatis jika batas kontrol terlampaui. Nah, galibnya dikala tak ada penggunaan air, semestinya mesin tidak bekerja. Kecuali ada kebocoran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Memang beberapa hari lalu, keran dikamar mandi tetap menetes dalam keadaan tertutup. Karet penahan air sudah aus. Dulu waktu SMA, jika mendapati keadaan macam ini, aku paling rajin memperbaiki. Bukan apa2 dari emak dapat uang pengganti keran baru, tapi aku hanya mengganti karet dengan potongan ban dalam bekas, dan uang pembeli keran masuk kantong. Bakat koruptor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Nah kali ini, mengganti karet malas membeli keran baru tak sempat. Sebenarnya bisa diakali, yakni memutarnya tidak &lt;em&gt;full&lt;/em&gt;. Karena pengguna keran bukan cuma aku, kebocoran acap terjadi lagi. Benar kata orang pintar, untuk mencapai kesempurnaan komunal tak bisa bergantung kepada personal. Tapi harus kepada sistem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://www.rediff.com/news/2003/jan/18buzz1.jpg" align="right" /&gt;Penggantian keran itu disambut gembira oleh mbak Siti, &lt;i&gt;bedinde&lt;/i&gt; yang membantu kami. “Mestinya Pak &lt;i&gt;Beye&lt;/i&gt; juga begini. Yang bocor ganti &lt;i&gt;aja&lt;/i&gt;,” katanya. Lho, kok bolehnya melebar. Sebelum semakin jauh, aku meminta sang &lt;i&gt;bedinde&lt;/i&gt; kembali ke belakang, bekerja. Bukan sok feodalis bin sadistis, atawa anti kritik. Tapi demi menertibkan rumah tangga kami dari kegiatan subversi. &lt;em&gt;Mosok&lt;/em&gt; menteri disamakan dengan keran bocor, dan tugas Presiden disebangunkan dengan tugas mengelola rumah tangga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Mumpung masih lebaran, kepada Pak Presiden (juga para pembantunya), maafkan &lt;i&gt;batur&lt;/i&gt; kami yang telah lancang menyamakan menteri anda dengan keran bocor. Maaf juga, karena kami &lt;i&gt;wong cilik&lt;/i&gt; ini sering lalai menyangka mengurusi negara itu seperti mengurus rumah tangga. Sambil membaca &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0511/08/Politikhukum/2185866.htm"&gt;koran&lt;/a&gt; aku terngiang perkataan Mbak Siti soal "ganti aja" tadi. Serasa pengamat &lt;em&gt;pulitik&lt;/em&gt;, aku mereka-reka siapa yang bakal diganti. Lalu..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Pokoknya ganti sekarang.."&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Mengko tho.."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;"Ganti.."&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Mengko.."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari balik jendela aku intip eyel mengeyel si &lt;em&gt;bedinde&lt;/em&gt; yang lagi mencuci dengan anaknya yang bajunya basah sebagian. &lt;em&gt;Mengko tho&lt;/em&gt;... Kirain..!!!&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113142080918244021?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113142080918244021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113142080918244021' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113142080918244021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113142080918244021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/11/reshuffle-keran-bocor.html' title='Reshuffle Keran Bocor'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113072769528537151</id><published>2005-10-29T18:59:00.000-07:00</published><updated>2005-10-30T19:01:35.303-08:00</updated><title type='text'>Tape Perekam Rindu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 50px; PADDING-TOP: 1pxfont-family:georgia;font-size:70;"  &gt;S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;udah dua hari ini, Mpok Nung tidak berjualan. Padahal usaha pecel lele dan nasi goreng, menjadi tumpuan hidup tetangga kami itu. Tak ada yang membantu, katanya saat kutanya. Selama ini suami istri itu dibantu oleh saudara sekampung suaminya. Tapi sejak tiga hari lalu, sang asisten ngotot pulang kampung. Mudik. Iming-iming tambahan gaji tak membuatnya bergeming. Ia sudah tidak konsentrasi bekerja. Daripada celaka, ketumpahan minyak penggoreng lele misalnya, lebih baik diikhlaskan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="200" hspace="3" src="http://www.babonmultimedia.com/bin/news/images/2/Lebaran.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Ya, mudik. Ritual melelahkan fisik dan menguras kantong selalu berulang setiap tahun. Dilakoni dengan rasa keriaan mendalam. Tak peduli kemacetan durjana yang melelahkan raga. Tak hirau pelayanan angkutan publik yang aca kadut. Kata cerdik cendekia, mudik adalah oase. Ini adalah ziarah jiwa yang lelah oleh kejamnya dunia, dan pulang kepada ketenangan yang muncul saat berkumpul dengan sanak saudara dan handai taulan. Dan kerinduan yang membuhul, terkadang hanya karena makanan kecil &lt;/span&gt;&lt;a href="http://tianarief.multiply.com/journal/item/536"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;masakan emak.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; Masakan emak membangkit ingatan bawah sadar, dan banyak hal jasmaniah masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Pun aku. Lebaran di rumah emak, berarti segantang tape pulut (&lt;i&gt;orang jakarte bilang ketan&lt;/i&gt;) yang manisnya bukan kepalang. Berkali kucoba tape pikulan berbungkus daun pisang, juga dalam kemasan higienis ala supermarket. Jangankan sebanding, dekat-dekat saja tidak. Tape itu mampu membuat kami ingin segera pulang, meninggalkan anjangsana ke tetangga. Ah, itu khan dipengaruhi kelaziman masa kanak-kanak dan rasa &lt;i&gt;uber alles&lt;/i&gt; anak terhadap karya ibunya belaka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tape buatan emak, memang fenomenal dan dibumbui ritual diluar akal. Setelah ketan dikukus dan didinginkan, emak akan bertitah supaya yang tidak siap jiwa raga meninggalkan dapur sebelum ia mulai melamurkan ragi. Yang hatinya tidak gembira, sedang (maaf) datang bulan harap menyingkir. Aku termasuk korban ekstradisi, di &lt;i&gt;persona non grata&lt;/i&gt;. Karena suatu kali ketika muda, saat ragi mulai digelontor, aku membuang gas beracun. Kontan tape asam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Setelah besar, aku berani mendebat pendapat ini. Aku bilang ini adalah proses biologi bin kimiawi hasil fermentasi belaka. Mungkin kualitas ragi tidak sebagus sebelumnya. Tidak ada relasi dengan suasana hati dan gas beracun tadi. Sia-sia aku mengajak emak menghitung jumlah berhasil dan gagal, lalu mendedahnya dengan hitung-hitungan probabilitas dan statistika. Sudahlah, sebagai orang tua, ia memiliki wilayah pengetahuan yang tak dapat dipenuhi oleh studi literatur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Ritus belum usai. Ketan berlumur ragi itu pun ditutup dengan daun keladi. Harus daun keladi, bukan daun lain. Lalu sejumlah cabe merah diletakkan di atas daun, dan dibalut berhelai-helai kain butut. Dandang yang sudah dibalut tadi diletakkan di atas lemari. Harus disana, karena bila dilangkahi, alamat tape asamlah yang akan diperoleh. Tape untuk lebaran ini, dibuat tiga hari sebelumnya. Selalu begitu. Supaya pas lebaran, puncak manisnya tercapai. Maka tidak boleh diendus, apalagi diintip. Pokoknya sehabis salat id, ziarah ke makam ayah, tape manis luar biasa itu sudah tersaji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Begitulah. Emak mengajarkan makna generik sebuah kesederhanaan pikir, bahwa dalam kehidupan ada hal-hal yang tak dapat dirumuskan, di-matematika-kan, atau ditata lewat aturan simbolik. Sebagai keluarga petani, ia lekatkan lewat tauladan pola pikir "tak ada mengetam, tanpa menanam", atau "mau berada harus berusaha". &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Demikian pula hubungan kita sesama manusia. Tak ada rumusan salah benar yang abadi dan universal. Bisa jadi kita sering berada dalam getaran gelombang yang berbeda. Aku pikir itu suka, ternyata buat kalian duka. Aku rasa itu gurau, kalian baca itu galau. Aku maksud keramahan, kalian tangkap sebagai kemarahan. Banyak lagi. Lebaran pun segera tiba. &lt;b&gt;Maafkan lahir bathin&lt;/b&gt;. Semoga kesalahan-kesalahan yang kita buat selama ini, menjadikan kita banyak belajar, untuk kemajuan pemikiran dan perasaan yang lebih baik. Tabeek...!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113072769528537151?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113072769528537151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113072769528537151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113072769528537151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113072769528537151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/tape-perekam-rindu.html' title='Tape Perekam Rindu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113031680263357564</id><published>2005-10-25T01:25:00.000-07:00</published><updated>2005-10-26T01:53:22.666-07:00</updated><title type='text'>Meretas Faqir Lewat Karitas</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 50px; PADDING-TOP: 1pxfont-family:times;font-size:70;"  &gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;au kamper menyergap, segera setelah pintu lemari terkuak. Sebelum meninggalkannya setahun lalu, kami memang sengaja menebar kapur barus beraroma wangi sengak itu. Tak cuma bau kamper, uap debu pun menyebar begitu pakaian ditebah. Pembersihan dilakukan, demi menyambut barang-barang yang dikirim lewat kapal laut tiba. Memang, buku dan sejumlah pakaian kami shipping, untuk menyiasati harga jika dibawa lewat pesawat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img height="160" hspace="3" src="http://www.cry.org.uk/img/shops/eastleighfascia2.jpg" width="200" align="left" vspace="3" /&gt;Karena kapasitas lemari tak bertambah, tak ayal penyortiran pun dilakukan. Ada yang bermigrasi ke tukang loak. Ada yang turun pangkat dari layak pakai karena masih bisa ditambal, menjadi gombal. Ada pula yang di grey area, masih layak pakai, tapi mau disimpan dimana. Ia tergerus oleh hukum &lt;i&gt;first in first out.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Ketika mau memilah mana yang dibawa pulang mana yang tinggal, kami tak sebingung ini. Sejumlah toko charity bertebaran di seluruh Norwich. Bisa dengan mengantar ke pintu toko, atau meninggalkannya di pagar rumah dan menelpon lembaga yang dimau. Beres.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Lha disini. Padahal dibanding Inggris, aku yakin lebih banyak kaum dhuafa disini. Terpikir untuk memberi tetangga, yang secara kasat mata hidupnya dibawah kami. Kok ya nggak enak. Sungkan. Alternatif lain, meletakkannya dipagar dan menempeli tulisan: “Silakan ambil”, juga tak enak sama tetangga yang kesannya membagi barang buangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 177px; HEIGHT: 152px" height="212" hspace="3" src="http://www.idhn.de/Grafiken/Zakat.gif" width="184" align="left" vspace="3" /&gt;Beruntung ada kegiatan macam aksi di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://srisariningdiyah.multiply.com/journal/item/73"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Rumah Cahaya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;. Terlintas pikiran, kenapa sistem toko derma (charity shop) itu tidak dilembagakan saja. Ada banyak lembaga yang bisa mengambil peranan disini. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.dompetdhuafa.org/home.php"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Dompet dhuafa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://baznas.or.id/"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Badan Amil Zakat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt; misalnya. Jangan-jangan banyak orang yang ingin berbagi tapi tak tau jalannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Seorang teman berkisah, ketika tsunami terjadi dulu ia tiba-tiba melihat rasa kebersamaan dan rasa berbagi yang begitu meraksasa. &lt;a href="http://www.metrotvnews.com"&gt;Metro TV&lt;/a&gt; misalnya, sampai harus mengumumkan telah menutup dompet peduli, karena sudah kebingungan menempatkan sumbangan yang terus mengalir. Jalanan menuju Kedoya, tempat televisi itu bermarkas setiap hari macet total karena banyaknya orang datang menghantar sumbangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tanpa disadari, setiap orang dari kita juga menjadi penderma di jalan raya. Sumbangan untuk Pak Ogah, pengamen, atau kotak amal, meski ada unsur “takut” tetaplah harus dilihat sebagai derma. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Acara-acara reality show di televisi, menunjukkan bahwa rasa iba dan emosi setia kawan itu masih tebal. Meski terdetak juga nun di lubuk hati ini mengekploitasi kemiskinan demi rating dan iklan. Lupakan perasaan samping itu. Yang jelas acara itu menggugah dan menggerakkan. Kecuali haru dan empati, niscayalah ini membangkitkan wacana bagaimana mempraktekkan agar nyata dan berkesinambungan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Di Inggris toko karitas ini menjual berbagai macam. Mulai dari pakaian, buku, kaset, furnitur, hingga alat elektronik. Mereka bisa beruntung besar, meski menjual dengan harga murah, karena barang datang secara gratis. Sebagian penjaganya juga gratis, karena mereka relawan. Yakni kakek nenek yang mengisi waktu senja. Semua bisa menyumbang macam-macam. Mumpung dalam semangat Ramadhan, mari bersama kita derma! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113031680263357564?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113031680263357564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113031680263357564' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113031680263357564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113031680263357564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/meretas-faqir-lewat-karitas.html' title='Meretas Faqir Lewat Karitas'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-113020905685188524</id><published>2005-10-23T19:51:00.000-07:00</published><updated>2005-10-24T19:57:36.913-07:00</updated><title type='text'>Aku Tuan Kau Hamba</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 214px; HEIGHT: 141px" height="160" hspace="3" src="http://www.firehouse.com/cartoon/combs_march05_large.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 50pxfont-size:70;" &gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;eganya masuk ke ruangan itu. Terpaan hawa sejuk yang &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;dipuntal kipas angin, mampu menghela panas akibat berjalan tadi. Aku menyodorkan KTP, lazimnya bila berinternet di kampus Psikologi UI. Penjaganya, seorang lelaki menghambat tanganku yang menyodor dengan sepatah kata: “tutup”. Hanya itu. Aku masih berusaha ramah.&lt;br /&gt;“Biasanya akhir pekan buka sampai sore, Mas”&lt;br /&gt;“Pelatihan”. Masih pendek dan ketus.&lt;br /&gt;Kupaksakan senyum. “Sampai jam berapa, Mas”&lt;br /&gt;“Sore”. Getas dan tanpa ekspresi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku mematung di depan loket. Tak percaya ini terjadi di negeri bertajuk ramah tamah. Agaknya ia merasa aku tak mengerti. Lalu,....&lt;br /&gt;“We close (tanpa &lt;em&gt;&lt;strong&gt;are&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;), Is it clear?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hening sejenak. Aku terbahak seperti bos mafia di film India. Sungguh diluar kesadaran dan kehendakku, tapi nada ketawaku sarkastik. Aku berharap ia mendongak sehingga kami bermuka-muka. Tapi ia menunduk, seraya aku melempar beberapa larik kalimat, yang pastilah dipenuhi nuansa satiris. Arghh...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Untung aku tidak bersengaja hanya mau main internet jauh-jauh jalan ke kampus. Urusan utamaku adalah ke ATM, sepelemparan batu dari warnet tadi. Sehingga kesalku tidak berkepanjangan. Pikiranku menerawang jauh, ke sebuah negeri yang tak menolak disebut beragama sepakbola, tapi perbincangannya dipenuhi tata krama. Kata “tolong”, “thanks”, dan “please” begitu banyak menghias bibir. Belum lagi &lt;em&gt;“sweetheart”&lt;/em&gt; dan “&lt;em&gt;darling&lt;/em&gt;” yang lebih mengesankan penghormatan ketimbang godaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Untuk membuang kesal, aku amini ajakan Ari belanja ke Carrefour di ITC Depok. Dasar mantan &lt;i&gt;cleaner&lt;/i&gt;. Aku begitu &lt;i&gt;iritating&lt;/i&gt; melihat tumpahan cairan di lantai. Mbak penjaja berkaus dengan tulisan “Kami Siap Membantu” tak melakukan apa-apa. Padahal pengunjung sangat ramai. Kemungkinan orang terpeleset sangat besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku melintas di depannya, sambil memberi tahu ada tumpahan. Diluar dugaan ia menjawab sebat: “Udah tauk, bentar lagi juga dibersihkan”. Terkesiap, aku introspeksi. Apakah nadaku memerintah? Memarahi? Menggurui? Atau ia merasa aku mencampuri profesionalitasnya? Argghhh....Dua kali dalam sehari ini aku harus mengucap kata bernada keluh itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img height="200" hspace="3" src="http://www.pritchettcartoons.com/cartoons/king.jpg" width="160" align="right" /&gt;Kudorong troli menjauh sambil tetap bertanya apa yang salah. Sewaktu aku menjadi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/82"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;cleaner&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; dulu, aku akan sangat berterimakasih bila ada yang memberitahu ada bagian kotor di area kerjaku. Pertama karena itu menolongku dari cercaan menejer (yang juga takut dicerca supervisornya). Kedua, itu menyelamatkanku dari gugatan jika ada yang terpeleset akibat ada tumpahan di lantai yang menjadi tanggungjawabku. Rasa tanggungjawab inilah yang membuatku tidak merasa diperintah, digurui oleh orang yang memberitahu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sudahlah. Mungkin si Mas dan si Mbak tadi hanya menyontek kehidupan di sekelilingnya. Bahwa berkedudukan, atau berseragam adalah posisi di atas yang dibutuhkan. Bukankah kita terbiasa mengalami, mereka yang berkedudukan dan berseragam itu alfa telah dibayar untuk melayani, berubah menjadi orang yang harus dilayani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Si Mas dan si Mbak itu, bisa jadi adalah pribadi yang lelah dijajah. Maka meski dalam ruang kecil mereka bermetamorfosa menjadi penguasa. Aku butuh layanan internet, ia penguasa yang berwenang memutus apakah aku layak memperoleh atau tidak. Aku butuh kenyamanan dalam berbelanja, si Mbak itu penguasa yang berhak memvonis apakah aku layak mendapatkan atau tidak. Sopir bis, yang notabene kelangsungan hidupnya tergantung kepada bayaran ongkos penumpang, masih saja berani menurunkan penumpang ditengah perjalanan. Omong kosong dengan pelayanan. Ini relasi siapa menguasai siapa. Siapa tuan siapa hamba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Maka tak usah heran, semboyan “Kami Siap Melayani”, “Setia Melayani Anda”, tinggal jargon belaka. Karena siapa memberi dan siapa menerima, menentukan di starata mana anda berada. Sebagai tuan atau sebagai hamba.®&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-113020905685188524?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/113020905685188524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=113020905685188524' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113020905685188524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/113020905685188524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/aku-tuan-kau-hamba.html' title='Aku Tuan Kau Hamba'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112960803326103933</id><published>2005-10-17T20:59:00.000-07:00</published><updated>2005-10-17T21:03:00.303-07:00</updated><title type='text'>Seragam Jelang Shiyam</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img height="200" hspace="2" src="http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/img/menara-mesjid.jpg" width="160" align="left" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Talu tambur semakin menjauh. Berganti dengan suara televisi. Biasanya Ari bangun lebih dulu menyiapkan penganan, baru aku menyusul. Ritual sahur pun berlangsung berteman acara televisi. Lihat stasiun anu, pencet lagi, stasiun berikutnya sukar untuk membedakan acaranya. Bertemu kisah serupa: lawakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau tak salah, tema lawakan kala sahur ini dirintis Eko dan Ulfa 6 tahun silam. Mungkin karena rating, maka semua stasiun pun menggunakannya sebagai jualan. Maka bulan Ramadhan pun menjadi semarak lengkap dengan wajah jelita artis sebagai gincu pemanis. Artis yang mungkin sadar dipasang sebagai pemanis, seolah tak mau kalah berusaha tampak lucu juga. Tak jarang sukses, meski lebih sering terkesan menyalahi takdir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sungguh sayang, lawakan yang muncul tak berkembang. Trend yang banyak diusung Warkop, slapstick bin sarkasti&lt;/span&gt;k tetap ramai. Pelecehan "wanita", eksploitasi kekurangan, kasar (memukul, menendang, menjorok). Heran, apa orang ini nggak dibekali &lt;em&gt;philosophy of humor&lt;/em&gt;, tulisan kecil yang aku baca hari pertama bergabung dengan &lt;strong&gt;Loedroek ITB&lt;/strong&gt; dulu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Suatu kali, seorang pesohor bilang: "Eh ada babi ngepet". Seruan itu untuk menyambut kehadiran lawan mainnya. Lalu perbincangan pun bertema babi. Lupakah mereka, bagi sebagian orang, utamanya anak-anak, televisi adalah "guru". Maka kata babi yang melesat dari mulut pesohor itu, kelak akan diucapkan dengan mantap seolah itu adalah hal lucu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Keseragaman lain adalah bagi-bagi rezeki lewat kuis. Pasword pun dibuat selucu mungkin. Aha, dengan pertanyaan yang sangat super sederhana, macam nama lapangan tempat berkumpul di akhirat kelak, dengan pilihan jawaban: Padang Panjang, Padang Mahsyar, dan Padang Sidempuan. Begitu mudah. Ironis, disaat jutaan orang berdesakan mendapat kompensasi BBM 100 ribu/bulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Memang ada stasiun yang tetap menampilkan unsur dakwah, meskipun dengan porsi sangat sedikit. Saat begini, Metro TV dengan Tafsir Al-Misbah nya, dan Lativi dengan Grebeg Sahur (mengunjungi keluarga miskin yang tak mau kalah dengan kemiskinannya, tetap menyekolahkan anak) menjadi alternatif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Apapunlah, televisi yang berlomba menyajikan keramaian, cukup menolong dalam melawan kantuk. Apalagi bila membanding dengan setahun silam sahur di Norwich. Sahur dipelukan udara dingin, tanpa azan, tanpa acara TV, tanpa tetangga yang bangun di jam yang sama, sungguh kesepian yang mencekam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112960803326103933?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112960803326103933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112960803326103933' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112960803326103933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112960803326103933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/seragam-jelang-shiyam.html' title='Seragam Jelang Shiyam'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112927075886251667</id><published>2005-10-12T22:51:00.000-07:00</published><updated>2005-10-13T23:31:37.273-07:00</updated><title type='text'>Alam Takambang Jadi Guru</title><content type='html'>&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;erempuan itu sungguh tabah. Berulangkali penumpang yang mau turun dan naik, tersendat oleh lututnya. Namun ia bergeming, tak mau bergeser tetap duduk di dekat pintu. Teriakan sopir agar mengisi bagian dalam dulu, diacuhkannya. Memang, meski mendung menggayut, udara terasa pengap. Agaknya hujan akan segera turun. Duduk di dekat pintu diterpa semilir angin adalah pilihan tepat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 126px; HEIGHT: 115px" height="160" hspace="1" src="http://www.beritajakarta.com/images/foto/banjirlagi8.jpg" width="200" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 128px; HEIGHT: 113px" height="160" hspace="1" src="http://www.kompas.com/photo/metro/banjir.jpg" width="200" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 117px; HEIGHT: 113px" height="160" src="http://www.fotomatic.nl/data/thumbnails/12/banjir.jpg" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;font-size:78%;color:#ffcc33;"&gt;Suasana Jakarta jika diterpa hujan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Namun malang tak dapat ditolah, untung tak dapat diraih. Lepas perapatan Pasar Rebo, rintik mulai menitik. Perlahan tapi pasti tempias mulai masuk menggantikan semilir angin. Si mbak itu mulai gelisah. Berulang ia memandang ke arah dalam, mencari tempat kosong untuk pindah. Apa lacur, angkot sudah penuh. Sesekali ia melap wajahnya yang terbasuh air hujan. Tak cuma kebagian tempias, sesekali jika angkot melewati jalanan yang sudah memayau, ia kebagian cipratan. Kenikmatan dan sengsara begitu cepat bersilih.&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Begitu ada yang turun, si mbak langsung ngeloyor masuk. Meninggalkan kursi yang disenanginya sedari tadi. Alam menegornya, membuat ketabahannya, kerelaannya disenggol orang demi kenyamanan pribadi, rontok. Alam telah menjadi guru yang baik. Ya, alam pun bicara. Kupandangi jalanan yang sudah mirip sungai, paya-paya kecil. Air hujan tak tau lagi kemana hendak pergi, selain memenuhi jalanan. Rawa-rawa sudah berubah menjadi gedung tinggi. Sungai sudah menjadi tempat sampah raksasa. Selokan sudah tertutup entah oleh sampah atau sengaja ditutup. Seperti selokan di jalan Kober menuju rumahku. Ditutup oleh sekelompok pengojek, demi sebuah pangkalan yang nyaman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Maka hujan sebentar saja, Jakarta tak lagi metropolis. Jauh dari kemewahan. Teringat aku Amsterdam, kota yang berada dibawah permukaan laut, tapi tak tergenang meski hujan lebat. Ah, tak elok membanding sesuatu yang tak sebanding. Tapi elok merenu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;ngkan nasehat &lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/30/metro/460479.htm"&gt;Cornelis Chastelein&lt;/a&gt;, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) VOC yang pada era 1700-an diberi wewenang menangani tanah luas yang kini menjadi Depok.&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; Chastelein berwasiat: &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"... MAKA hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe... dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,..."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sedikit banyak &lt;em&gt;kasoekaran &lt;/em&gt;yang disebut&lt;em&gt; toewan &lt;/em&gt;Cornelis Chastelein mulai muncul di depan mata. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112927075886251667?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112927075886251667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112927075886251667' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112927075886251667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112927075886251667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/alam-takambang-jadi-guru.html' title='Alam Takambang Jadi Guru'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112917214920116503</id><published>2005-10-11T19:54:00.000-07:00</published><updated>2005-10-12T19:58:50.910-07:00</updated><title type='text'>Data Yang Tertata</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 50pxfont-family:georgia;font-size:70;"  &gt;G&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;elas sudah tiga kali berganti isi. Coke dingin, berganti ke teh manis panas pakai susu, dan kembali lagi minuman ber-es, es teh manis. Tapi perbincangan kami tak kunjung usai. Tanpa jeda. Mulai dari soal besar, seperti peternakan gajah, hingga hal-hal ringan macam kulakan kerupuk. Entah sudah bahasan keberapa, kami tiba pada soal penyalah gunaan pasword telepon. "Si anu kaget, biaya telponnya bengkak, padahal dia termasuk jarang pakai telpon".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku tersentak. Jangan-jangan password telpon dan pasword masuk jaringan komputer &lt;em&gt;Advance News Network (ANN)&lt;/em&gt; milikku masih aktif. &lt;em&gt;Olala...&lt;/em&gt; setelah kutinggal setahun, dengan status mengundurkan diri, ternyata pasword itu masih aktif. Coba kalau ada tangan jahil, menggunakan pasword itu mengobrak-abrik bahan siap tayang, bisa berabe. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 183px; HEIGHT: 133px" height="133" hspace="4" src="http://www.lvmvideo.com/Enviro/biodiesel_cartoon1.jpg" width="260" align="left" /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku ingat beberapa hari sebelum &lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/82"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;pensiun&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; dari jabatan cleaner dulu, aku masih disurati soal suntik hepatitis tahap kedua. Hanya seminggu setelah mengundurkan diri, aku konfirmasi tanggal penyuntikan. ENtah kenapa, prosesmya lebih lama dibanding penyuntikan pertama sebulan sebelumnya. Rupanya, dataku sebagai pekerja yang berhak mendapat layanan itu sudah di-delete. Secepat itu. Rumah sakit, sebagai institusi yang memperkerjakan aku, sudah berkordinasi dengan health center, lembaga yang melayani fasilitas kesehatan pekerja. Sungguh penataan data yang bagus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Hari-hari ini, kepada kita tersaji contoh penataan data yang &lt;em&gt;aca kadut&lt;/em&gt;. Penyaluran subsidi langsung tunai, sebagai &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.gatra.com/artikel.php?id=89120"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kompensasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; kenaikan harga BBM, kacau dimana-mana. Ada yang miskin beneran tidak dapat. Tapi yang &lt;/span&gt;&lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/11/utama/2120976.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;mengaku-aku&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; justru kebagian. Harga minyak di pengecer mengangkasa tak tentu arah, hanya karean Harga Eceran Tertinggi (HET) belum diputus. Kebajikan Gubernur soal tarif baru angkutan mubazir tak dipatuhi. Mungkin karena terburu-buru setelah didera demo, sehingga kebijakan itu tak berbuah kebajikan bagi sebagian orang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Padahal sumber utama kekisruhan itu, yakni kenaikan harga BBM, sudah digadang-gandang jauh hari. Koq bisa, penentuan HET lelet, pembagian tak karuan, dan penentuan tarif tak arif. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lalu, suara tok..tok..tok membuyarkan perbincangan kami. Di langkan tegak pria berseragam biru dan perempuan berbaju putih. Ia mengenalkan diri sebagai petugas pengecekan tabung gas, dari perusahaan kongsi kerja Gas Negara. &lt;em&gt;Lhadalah&lt;/em&gt;, sejak tiba tengah September lalu, mereka ini orang ke-empat yang datang mengecek gas. &lt;em&gt;Gimana sih&lt;/em&gt; penataan data mereka ini, kok bisa-bisanya empat kali datang dalam rentang tiga pekan. Mau marah tak tega. Gimana berharap perusahaan ini memiliki database yang bagus, kalau negara saja tidak memilikinya. Apatah lagi ini puasa, mengendalikan amarah itu penting. Ya gak.. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112917214920116503?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112917214920116503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112917214920116503' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112917214920116503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112917214920116503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/data-yang-tertata.html' title='Data Yang Tertata'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112858841196302018</id><published>2005-10-06T01:33:00.000-07:00</published><updated>2005-10-07T02:20:47.530-07:00</updated><title type='text'>Setan Budak Pedagang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v381/imponk/polisiEYD.jpg" align="left" /&gt;Sopir itu melambatkan laju. Tetapi belum sempurna berhenti, ia menancap gas kembali. "Ada setan", teriaknya. Lalu, seratus meter kemuka, ditepikannya mikrolet itu, sambil menunggu perempuan yang tadi melambai. "Kok gak berhenti sih Bang", sergah si perempuan muda.&lt;br /&gt;"Ada setan, gawatlah. Bisa kena go cap", jawabnya santai. Setan yang dimaksudnya, adalah polisi yang mengatur arus di seputaran Bank BCA, dekat Gramedia Depok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar logat utaranya, aku nimbrung.&lt;br /&gt;"Kenapa rupanya Lae, kok gak boleh pinggir disitu?"&lt;br /&gt;"Ya gak bolehlah. Itu khan pertigaan. Dekat putaran pula"&lt;br /&gt;"Bisa makin macet ya"&lt;br /&gt;Dia tak menjawab, hanya mengangguk sambil memencet klakson berulang, seolah dengan begitu ia mendapat kelancaran jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senyum. Bersyukur ia mengerti. Memang di area yang dijaga polisi itu, adalah pertigaan Margonda dan jalan Karet. Lalu, ada putaran untuk berbalik arah (&lt;em&gt;U turn&lt;/em&gt;). Tapi kenapa tetap melanggar? Mungkin inilah buah paradigma keliru "Jalan raya adalah sarana ekonomi". Bukan sekedar sarana transportasi. Begitu banyak warga --sopir, pengojeg, PKL, pak Ogah-- (juga aparat) yang menggantungkan hidup di jalan raya. Tak ayal, kepatuhan itu pun menjadi sesuatu yang sukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;em&gt;abi&lt;/em&gt; Quraish Shihab, kepatuhan itu ada tiga tingkatan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;patuh budak:&lt;/strong&gt; patuh karena takut kepada pengawas, atasan, polisi, tramtib&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;patuh pedagang&lt;/strong&gt;: kepatuhan yang mendatangkan keuntungan. Sesaat, semu, dan pura2.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;patuh cinta&lt;/strong&gt;: kepatuhan yang didasarkan kepada kecintaan kepada ketertiban, taat asas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pilih jadi setan, budak, pedagang, atau pecinta, silakan. Yang penting mari sama2, wujudkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keep Depok Safety.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;image dari &lt;a href="http://imponk.blogsome.com"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112858841196302018?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112858841196302018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112858841196302018' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112858841196302018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112858841196302018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/setan-budak-pedagang.html' title='Setan Budak Pedagang'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112839679030348159</id><published>2005-10-03T20:30:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T20:33:10.306-07:00</updated><title type='text'>Menjelang Sepenggal Jeda</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;&lt;i&gt;Ada penggal waktu untuk jeda&lt;br /&gt;seperti pohon yang meranggas di musim gugur&lt;br /&gt;saat dedaunan jatuh&lt;br /&gt;pulang ke akar&lt;br /&gt;menjadi pupuk kehidupan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#cc0000;"&gt;Yudi Latief, &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/opini/2097325.htm"&gt;Kompas&lt;/a&gt; 3 Oktober 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="PADDING-RIGHT: 5px; FLOAT: left; LINE-HEIGHT: 45px; PADDING-TOP: 1pxfont-family:times;font-size:70;"  &gt;P&lt;/span&gt;agi datang berteman kokok ayam, dan sahutan azan. Terkadang aku masih didera kaget, kenapa terang telah tiba di hari sepagi ini. Subuhan, ngopi, sambil melahap koran. Tiada berita yang menyenangkan. Ada berita bom Bali yang semakin lengkap, dengan sapuan analisa &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/opini/2097397.htm"&gt;Daeng Sul&lt;/a&gt;. Bom Bali juga diwarnai perdebatan tentang &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/utama/2103465.htm"&gt;CCTV&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/utama/2103471.htm"&gt;Badan Anti Teror.&lt;/a&gt; Tertarik dengan dua berita ini, karena ini adalah jalan mengurangi aksi kejahatan teror berikutnya. Sayang, makna tulisan itu hanya berputar pada undang-undang dan aturan. Adakalanya, aturan itu memudahkan. Namun sering pula, aturan menjadi perintang. Demi sebuah syahwat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Salah satunya syahwat perut. Beruntung aku menemukan tulisan Yudi Latief. Sehingga aku bisa mahfum, kenapa benteng hukum, Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung memilih jalan ketamakan. &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/Politikhukum/2103414.htm"&gt;Ketua MA&lt;/a&gt; diduga meminta uang suap milyaran dari pengusaha. &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0510/04/Politikhukum/2103429.htm"&gt;Kejaksaan Agung&lt;/a&gt; menghentikan proses hukum Direktur BNI yang diduga korupsi. Wahai, ketamakan, engkau telah ada dimana-mana.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Besok, puasa datang kembali. Ia tiba ditengah jeritan kepedihan yang telah berganti menjadi lolong. Hidup yang penuh kenisah kesah. Sesekali kita perlu meranggas, membiarkan egosentrisme terbakar, tersungkur sujud, menginsafi kefanaan dan menerbitkan hasrat untuk berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain. Semoga Ramadhan ini penuh manfaat. &lt;strong&gt;Selamat berpuasa.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112839679030348159?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112839679030348159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112839679030348159' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112839679030348159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112839679030348159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/menjelang-sepenggal-jeda.html' title='Menjelang Sepenggal Jeda'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112839383752262683</id><published>2005-10-02T19:42:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T19:43:57.533-07:00</updated><title type='text'>Senja di Margonda</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;img height="160" alt="gambar dari members.virtualtourist.com" hspace="3" src="http://p.vtourist.com/2192447-Travel_Picture-Welcome_Gate_Depok_City.jpg" width="200" align="left" /&gt;Kakek itu berdiri tak gagah. Mengenakan kaus cap angsa warna putih, ikat pinggang besar berwarna hijau, dan celana komprang khas jagoan betawi, ia sepantasnya disapa engkong. Sedari tadi ia menatap arus lalulintas di jalan Margonda yang tak kunjung sepi. Ia ingin menyeberang, tapi beberapa kali tertunda. Terkadang ia sudah masuk selangkah dua, tapi motor yang tak kenal ampun melintas sebat persis di sebelah rusuknya. Ia tentu iri dengan mahasiswa yang nekat menyebrang disela laju kenderaan, hanya dengan melambaikan tangan. Tapi si engkong tentu tak sanggup mengikutinya, karena langkahnya tak lagi gesit dan tindakannya tak tangkas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Aha, seorang polisi yang dari tadi mengatur lalulintas diseberang, berlari ke arah engkong. Mendekat, bapak polisi tak berlari ke arah si engkong. Rupanya ia memburu pengendara motor yang pemboncengnya tak memakai helm. Dapat, polisi itu kembali menyeberang ke tempat semula. Si engkong, sama dengan aku, yang tak sadar hak, membiarkan polisi berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Hak menyeberang dengan aman dan nyaman, memang tak pernah terpikirkan. Pun aku. Sebelum pergi ke tanah Blair, aku tak sadar bahwa menyeberang, trotoar itu adalah sesuatu yang harus diperoleh pejalan kaki. Maka, menyeberang pun menjadi ritual yang penuh perjuangan dan penuh kewaspadaan, plus mengadu takdir. Aku pandangi mahasiswa/i itu menyeberang dengan melambai, meliuk, memperlambat, mempercepat, menghindar diantara arus kenderaan yang tak sedikit jua melambatkan laju. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;center&gt;&lt;img height="138" hspace="2" src="http://www.crossalert.com/images/Dangr_Inters_after_sm.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 151px; HEIGHT: 138px" height="139" hspace="2" src="http://www.dot.wisconsin.gov/safety/motorist/images/pedestrians-scooter.jpg" width="200" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 130px; HEIGHT: 138px" height="171" src="http://acclaimimages.com/_gallery/_SM/0018-0405-2007-3659_SM.jpg" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#33cc00;"&gt;Ini Norwich, bukan Depok&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ingat aku, &lt;em&gt;grandpa&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;grandma&lt;/em&gt; di Norwich yang menyeberang tanpa kerut dan takut. Berjalan lambat layaknya sepuh, memb&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;awa tas beroda tanpa pendamping, mereka menyeberang dengan santai. Bergabung bersama ibu muda yang mendorong kereta bayi. Tak perlu gesit, tak perlu muda untuk menyeberang.&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Andai para mahasiswa itu menyisakan sedikit suara, spanduk, dan cat sisa unjuk rasa anti BBM, untuk berdemo menuntut penyeberangan yang layak. Bukankah keamanan dan kenyamanan menyeberang itu, juga hak. Meskipun barangkali, demo ini tak sehebat dan seheboh demo anti BBM yang heroik itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Andai pula, para pengembang yang menjadikan sepanjang Margonda sebagai pusat kota yang panjang, mau menyisakan rezeki membangun penyeberangan yang layak. Selain sebagai fasilitas, mempermudah calon pembeli masuk toko mereka, sebutlah ini sebagai bagian dari &lt;em&gt;community development&lt;/em&gt;, membagi kebajikan bagi warga sekitar, yang pastilah ada bagian hidupnya yang terampas akibat pembangunan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Senja semakin turun. Aku tinggalkan jalan Margonda yang semakin ramai oleh pedagang yang bersiap mendirikan tenda. Di atas trotoar tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112839383752262683?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112839383752262683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112839383752262683' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112839383752262683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112839383752262683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/10/senja-di-margonda.html' title='Senja di Margonda'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112781773953961226</id><published>2005-09-27T03:40:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T19:23:26.223-07:00</updated><title type='text'>Kabar dari Kober</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="120" hspace="4" src="http://www.designofsignage.com/application/symbol/hands/image/600x600/hand-shake-love.jpg" width="120" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Genap sepuluh hari tak bersentuhan dengan teknologi internet, ditandai dengan munculnya 700 lebih &lt;em&gt;inbox&lt;/em&gt; di emailku. Sedih tak bisa membalasnya satu persatu. Sedih karena “hilang” dari sebuah domain pergaulan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tapi apa mau dikata. Tiga hari pertama didera &lt;em&gt;jetlag&lt;/em&gt; yang membuat jam tidur terganggu. Sementara kerabat, dan handai taulan yang datang maupun bertelepon, tak hirau dengan kondisi ini. Jadilah krang kring jam 6 pagi, padahal saat itulah kantuk mulai menyerang bersamaan dengan tengah malamnya waktu Norwich. Lantas tiga hari terakhir, perutku yang mendadak dipenuhi gulai kapalo kakap, pecel lele pete tahu tempe, sate padang, batagor, bakso, opor ayam, tiba-tiba protes, berbalik menolak makanan. Sebah, kembung, dan diakhiri muntah (&lt;em&gt;sesuatu yang kutakuti, selain disuntik dan anjing&lt;/em&gt; :D)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Belum lagi suhu 32 (nyaris setengah suhu air mendidih) yang membuat kepala menggelegak, melingkupi Depok sepekan terakhir. Sempurnalah kemalasanku. Ini membuatku malas beranjak dari &lt;em&gt;enclave&lt;/em&gt; milik engkong Haji Sainan. Aku sebut &lt;em&gt;enclave&lt;/em&gt;, karena lokasi kontrakan di jalan Kober ini, hanya seratus meter dari hiruk pikuk jalan Margonda yang tak pernah sepi 24 jam. Berada di balik tembok yang hanya menyisakan jalan pas satu mobil, dilingkari kebun pisang, belimbing, dan rambutan, membuat kawasan ini seperti terpisah dari kebingaran Depok. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Bermain internet berarti harus pergi ke jalan Margonda. Tak rela rasanya meninggalkan kedamaian kecil ini. &lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Pernah kucoba menggunakan &lt;em&gt;telkomnet instant&lt;/em&gt; dari rumah. Aduh, boro2 &lt;em&gt;posting&lt;/em&gt;, baca aja gak kesampaian. Setelah menunggu dan malah menghasilkan kondisi disconnect, akhirnya kuputuskan saja. Tentu saja dengan perasaan kesal yang kututupi dengan rasa syukur, bahwa aku pernah mendapatkan fasilitas internet tanpa batas waktu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Sungguh ini bukan kilah, alasan, atau permaafan. Ini hanya sebuah Kabar dari Kober. Kabar pertama setelah seratus lebih kabar dari Gloucester. Kabar ringan ditengah serbuan kabar duka flu burung, demam berdarah, antrian BBM, kelaparan, dan heboh foto telanjang berbungkus seni Anjasmara. Selamat bertemu lagi, juga selamat berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112781773953961226?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112781773953961226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112781773953961226' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112781773953961226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112781773953961226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/09/kabar-dari-kober.html' title='Kabar dari Kober'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112656141836202474</id><published>2005-09-11T14:40:00.000-07:00</published><updated>2005-09-12T15:06:26.856-07:00</updated><title type='text'>Go..go..Glasgow</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="200" hspace="4" src="http://www.caingram.info/Scotland/Glasgow/Glasgow_university_1.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Syahdan, disuatu pagi yang basah. Terbangun, si &lt;em&gt;Englishman&lt;/em&gt; segera sarapan. Pilihannya roti berbalut &lt;em&gt;&lt;strong&gt;marmalade&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, bikinan ibu Keiller &lt;em&gt;from&lt;/em&gt; Dundee. Bersiap pergi, ia menyampir &lt;strong&gt;jas hujan&lt;/strong&gt;, buatan seniman cum arsitek Charles McIntosh. Ia lalu menyetir mobil inspirasi James Watt. Melaju di jalanan, &lt;strong&gt;ban&lt;/strong&gt; mobilnya yang dibuat John Boyd Dunlop, beradu dengan jalanan yang dilapis &lt;strong&gt;bebatuan&lt;/strong&gt; hasil kerja John MacAdam. Kerja hari itu, diawali si &lt;em&gt;Englishman&lt;/em&gt; dengan menggunakan &lt;strong&gt;telepon&lt;/strong&gt; karya Alexander Graham Bell. Ia mengontak dokter, perihal obat &lt;strong&gt;&lt;em&gt;penicilin&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; temuan Sir Alexander Fleming. Karena nanti sore ia akan menjemputnya dengan mengayuh &lt;strong&gt;sepeda&lt;/strong&gt; kreasi Kirk Patrick MacMillan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kisah ini mudah dijumpai bila berpergian ke Skotlandia. Dalam bentuk tulisan yang tertoreh di kain atau kertas, dan dijual di gerai barang cenderamata. Entah congkak entah bangga, dua kondisi yang nuansanya berbeda setipis kulit bawang belaka. Atau sekedar "ketidak-relaan" para&lt;em&gt; Scottish&lt;/em&gt; berada dibawah hegemoni &lt;em&gt;Englishman&lt;/em&gt;. Maka bendera Skotlandia, garis silang putih diatas warna biru pun berkibar bersama Union Jack, penyatu Inggris Raya (Inggris, Skotlandia, Irlandia, dan Wales).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Berhenti di pagar kampus Universitas Glasgow, nama sejumlah ilmuwan penemu pun terpatri disana. Ada Adam Smith, nama yang pasti dikenal oleh mereka yang belajar ilmu ekonomi. Juga Lord William Thompson Kelvin, yang moncer di kalangan pembelajar ilmu fisika, dengan teori termodinamikanya. Kebesaran nama James Watt diabadikan sebagai nama gedung fakultas teknik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Glasgow, kota terbesar di tatar Skotlandia, merupakan kota revolusi industri pertama yang dijalankan di Inggris Raya. Kota ini memiliki tipikal pekerja dimana banyak pabrik dan industri berat. Tak heran, di jalanan mudah dijumpai orang-orang berjas, berjalan kaki atau naik bus kota. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Namun sebagai kota industri, tak berarti Glasgow kehilangan ciri kota tua khas kota-kota lain di Inggris. Menara kampus Universitas Glasgow, menjulang tinggi bak kastil di pinggang bukit. Kampus yang dibangun abad 14 ini, merupakan kampus tertua ke-empat di Inggris Raya. &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 216px; HEIGHT: 124px" height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/armadillo.jpg" width="200" align="right" /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Kemurnian adalah kekuatan. Mungkin ini tepat buat Glasgow. Kota industri bukan berarti pabrik dan cerobong asap menjulang. Glasgow membiarkan kota tua seperti sedia kala. Taman kota, katedral hitam menua, dan berhala para tetua. Tapi ia juga berkembang mengekor jaman. Maka, sedikit saja lepas dari tengah kota, di kawasan Pacific Quay, terhampar bangunan bak keong raksasa bernama Armadillo. Disebelahnya, tegak gedung megah, SECC &lt;em&gt;(Scottish Exebition Confrence Center).&lt;/em&gt; Sesuai namanya, ia tempat pameran dan konfrensi, yang dipercaya terbesar di Inggris Raya. Kawasan Pacific Quay, tadinya adalah kawasan industri kapal laut yang dibangun ulang menjadi taman dengan menyemai berbagai bibit pohon. Sisa kejayaan industri kapal, berupa &lt;em&gt;crane&lt;/em&gt; masih berdiri gagah menjadi salah satu landmark Glasgow.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Di sore yang berguyur gerimis itu, SECC ramai oleh ABG berdandan metal yang ingin menonton konser. Aku bergegas kembali, menyuruk di kanopi Bell's Bridge, yang dibangun untuk memudahkan pejalan kaki melampaui jalan bebas hambatan dan rel kereta api. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112656141836202474?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112656141836202474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112656141836202474' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112656141836202474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112656141836202474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/09/gogoglasgow.html' title='Go..go..Glasgow'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112530729229710413</id><published>2005-08-29T02:20:00.000-07:00</published><updated>2005-08-29T02:25:36.616-07:00</updated><title type='text'>Mengenang Cak Nur di Lampu Merah</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="PADDING-RIGHT: 5px; PADDING-LEFT: 5px; PADDING-BOTTOM: 5px; WIDTH: 400px; LINE-HEIGHT: 120%; PADDING-TOP: 5px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="MARGIN: 0px auto; WIDTH: 400px"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="BORDER-TOP: slategray 3px solid; MARGIN-TOP: 2px; FONT-SIZE: xx-large; MARGIN-BOTTOM: 5px; COLOR: red; LINE-HEIGHT: 0.8em; BORDER-BOTTOM: chocolate 1px solid; FONT-FAMILY: Georgia,Arial,sans-serif; TEXT-ALIGN: center"&gt;Nurcholis Madjid&lt;/h3&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- End top header --&gt;&lt;img style="BORDER-LEFT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-COLOR: red; WIDTH: 154px; BORDER-TOP-STYLE: inset; BORDER-TOP-COLOR: red; BORDER-RIGHT-STYLE: inset; BORDER-LEFT-STYLE: inset; HEIGHT: 150px; BORDER-RIGHT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-STYLE: inset" height="200" hspace="2" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/caknur3.jpg" width="173" vspace="2" border="4" /&gt;&lt;img style="BORDER-LEFT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-COLOR: red; WIDTH: 154px; BORDER-TOP-STYLE: inset; BORDER-TOP-COLOR: red; BORDER-RIGHT-STYLE: inset; BORDER-LEFT-STYLE: inset; HEIGHT: 150px; BORDER-RIGHT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-STYLE: inset" height="227" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/caknur.jpg" width="155" border="4" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="BORDER-LEFT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-COLOR: red; WIDTH: 154px; BORDER-TOP-STYLE: inset; BORDER-TOP-COLOR: red; BORDER-RIGHT-STYLE: inset; BORDER-LEFT-STYLE: inset; HEIGHT: 187px; BORDER-RIGHT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-STYLE: inset" height="203" hspace="2" src="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/cak%20nur%20pict.jpg" width="159" vspace="2" border="4" /&gt;&lt;img style="BORDER-LEFT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-COLOR: red; WIDTH: 154px; BORDER-TOP-STYLE: inset; BORDER-TOP-COLOR: red; BORDER-RIGHT-STYLE: inset; BORDER-LEFT-STYLE: inset; HEIGHT: 187px; BORDER-RIGHT-COLOR: red; BORDER-BOTTOM-STYLE: inset" height="200" src="http://www.tempo.co.id/majalah/img/0725/pt-cak-Nur.jpg" width="156" border="4" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;NURCHOLIS MADJID, 1939-2005&lt;/center&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;Seteguk kopi dan sejumput kacang, tak kuasa mengusir kantuk dan bosanku. Sedari pagi, aku sudah ada di ruang besar milik UGM itu. Beberapa pembicara sudah selesai membahas perjalanan reformasi, tapi aku belum menemukan tokoh yang pas untuk wawancara panjang. &lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;Hari itu, dan dua hari kemuka aku meliput seminar perjalanan reformasi yang diadakan UGM. &lt;a href="http://metrotvnews.com/"&gt;Jakarta&lt;/a&gt; yang sudah mengirim orang dari pusat, meski ada koresponden di Jogja, merasa sah untuk menuntut banyak. Jadilah aku tak bisa kongkow di teras, menyesap kopi dengan nikmat. Sesaat sebelum sesi makan siang, tampillah Cak Nur. Mengenakan baju putih tanpa dasi dan jas, ia tampil santai. Jauh dari kesan retorik dan berapi-api. Tapi idiomnya bernas. Ingat, tokoh Paramadina inilah yang menggaungkan istilah misi, visi, dan gizi saat mengikuti Konvensi Partai Golkar menuju RI-1. Gizi adalah penghalusan istilah untuk uang saku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;"Selama bangsa ini tidak bisa mematuhi lampu merah, maka reformasi akan sia-sia", yang disambut tepuk tangan hadirin. Begitu turun dari panggung, aku sambangi &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/05/30/nrs,20040530-05,id.html"&gt;Cak Nur&lt;/a&gt;, untuk wawancara panjang. Tapi karena beliau harus makan siang bersama Rektor UGM dan pembicara lain, ajudan menjanjikan sehabis makan siang dan shalat zuhur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;Cak Nur lalu bercerita tentang lampu merah itu. Pengalamannya bersekolah di luar negeri ia tumpahkan. Disana orang tetap berhenti di lampu merah, meski tak ada polisi. Tengah malam sekalipun. Tidak ada pengendara yang celingak celinguk mengecek keberadaan polisi, meski jalanan sangat-sangat sepi. Inilah makna kepatuhan. "Kalau bangsa ini sudah bisa patuh sama aturan kecil, maka pelan-pelan kita akan patuh pada aturan besar", terang Cak Nur, bernada optimis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;Dua tahun berlalu. Aku mendapat masa bepergian ke luar negeri. Pertama aku melihat pengendara berhenti di lampu merah jalanan kosong, aku teringat padamu, Cak Nur. Kepatuhan demi kepatuhan tampak jelas, menjadi sebuah alur kehidupan yang niscaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-family:'Courier New';"&gt;Dan pagi ini waktu Norwich, wajah Cak Nur itu membayang lebih jelas lagi. Tadi siang waktu Jakarta, Cak Nur menghadap yang kuasa. Ia &lt;a href="http://kompas.com/utama/news/0508/29/144731.htm"&gt;wafat&lt;/a&gt; dalam usia 66 tahun. Cak Nur telah tiba di "lampu merah" keabadian sang Ilahi. Berhenti untuk selamanya. Tapi, semoga buah pikirmu akan terus bergemuruh. Bila bangsa ini telah patuh pada lampu merah, engkau akan kuberitahu, Cak. Selamat beristirahat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112530729229710413?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112530729229710413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112530729229710413' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112530729229710413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112530729229710413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/mengenang-cak-nur-di-lampu-merah.html' title='Mengenang Cak Nur di Lampu Merah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112499264626079635</id><published>2005-08-24T10:54:00.000-07:00</published><updated>2005-08-25T10:57:26.270-07:00</updated><title type='text'>Bus Kota Yang Kutunggu</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;img style="WIDTH: 360px" height="131" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/ka.jpg" width="360" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Butir-butir air memukul kaca jendela bus. Lalu pecah menjadi aliran, mengaburkan pandang ke depan. Ada sedikit kemacetan di dekat lampu merah, bundaran dekat gereja Katedral. Kemacetan bukan karena hujan, tapi pembangunan zebra cross di depan mall Chapelfield yang akan dibuka November nanti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kemacetan kecil yang tak urung membuatku resah. Karena selama setahun tinggal disini, nyaris tidak pernah bersua kemacetan berarti. Dan kurang dari sebulan, kami akan kembali kepelukan Jakarta tercinta. Yang artinya berpelukan dengan kemacetan durjana itu. "Sekarang makin parah", adalah kabar yang aku terima setiap bertanya soal kemacetan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Syukurlah, Jakarta juga berbenah soal mengatasi kemacetan ini. Ada &lt;/span&gt;&lt;a href="http://tianarief.multiply.com/journal/item/452"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;perubahan trayek&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;  bis, supaya pengguna busway maksimal. Ada pula iming-iming &lt;/span&gt;&lt;a href="http://jkt.detiknews.com/indexfr.php?url=http://jkt.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/24/time/171418/idnews/428436/idkanal/10"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;tiket berhadiah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; buat pengguna KRL, agar bayar tiket resmi, dan yang pengguna moda lain beralih ke KA. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 232px; HEIGHT: 150px" height="180" hspace="3" src="http://www.showbus.com/p1/r842dvfr551cng.JPG" width="200" align="left" /&gt;Sebuah usaha yang patut diacungi jempol, meskipun sangat kentara upaya ini tidak didasari &lt;em&gt;frame work&lt;/em&gt; yang benar.  Mestinya, PT KAI mengadakan survei, kenapa orang naik kereta. Aku setengah yakin, jawaban: "tak ada pilihan lain" menjadi jawaban favorit. Lihatlah  wajah angkutan umum rakyat itu. Setiap hari berjejal, tak aman apalagi nyaman. Jawaban paling mudah atas tuntutan kenyamanan dan keamanan ini: "gitu aja tetap ramai kok".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Akhir Agustus nanti, Norwich, akan meresmikan terminal. Rupanya, Pemda Norwich sudah membaca akan ada peningkatan kemacetan. Sebelum ini mereka luncurkan 6 jalur &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.passengertransport.norfolk.gov.uk/publictransport/parkandride.htm"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Park and Ride&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, sistem angkutan bersinergi dengan parkir. Misalnya, kalau Park n Ride ini ada di Lebak Bulus, maka pengguna mobil dari Ciputat, Bintaro, dan Fatmawati memarkir kenderaan disana dan beralih ke bus yang membawanya masuk ke tengah kota. Mereka dirangsang dengan harga yang murah, sementara biaya parkir di tengah kota mencekik leher. Pemda Norwich mengklaim, sistem ini menahan masuknya seribu kenderaan setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pengguna angkutan umum juga dimanja dengan sistem pertiketan berjenjang. Membeli dalam jangka panjang semakin murah. Maka harga harian lebih mahal dari mingguan, bulanan, apalagi tahunan. Sampai disini, tampak paradigma berbeda antara disini dengan kebijakan Jakarta. Disini, pengguna bus lebih  diuntungkan dibanding pengguna mobil pribadi. Mulai dari harga, sampai kemudahan menuju lokasi yang dituju. Bayangkan, kalau harus parkir jauh dari pusat kota, dengan biaya selangit, sementara bus berhenti di tengah kota. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kalau saja penguasa kota bisa membuktikan naik angkutan umum dan kereta api lebih nyaman dan aman ketimbang naik mobil pribadi, maka tanpa iming-iming motor pun, warga akan berebutan. Semoga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112499264626079635?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112499264626079635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112499264626079635' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112499264626079635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112499264626079635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/bus-kota-yang-kutunggu.html' title='Bus Kota Yang Kutunggu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112476484267476261</id><published>2005-08-20T19:39:00.000-07:00</published><updated>2005-08-22T19:40:42.680-07:00</updated><title type='text'>Jalan Sudah Berujung</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 221px; HEIGHT: 148px" height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/babbqok.jpg" width="200" align="left" /&gt; Rintik masih menitik, ketika arang mulai dipantik. Cuaca memang tak bersahabat di akhir pekan ini. Tapi, salah satu rekan kami di Norwich, Jonathan &lt;em&gt;van&lt;/em&gt; Soe, NTT, akan pergi ke Eropa, dan langsung pulang ke tanah air akhir bulan. "&lt;em&gt;Beta&lt;/em&gt; s&lt;em&gt;onde&lt;/em&gt; bisa hari lain". Karena, &lt;em&gt;the&lt;/em&gt; Soe &lt;em&gt;must go on, &lt;/em&gt;maka acara harus berlangsung ditengah cuaca tidak bersahabat&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebetulnya ada pohon besar tempat berteduh di halaman. Tapi perjanjian dengan pihak kampus, bara api minimal 10 meter dari daun, semeter diatas rumput. Bahkan, kipas angin untuk menolong membesarkan api pun tak boleh digunakan, kecuali kabelnya &lt;em&gt;water proof&lt;/em&gt;. Aduh, aturan tak selamanya mengenakkan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan ketabahan hati, mulailah "Daeng" Latief beraksi membakar sate kambing, kalkun, dan ayam. Di dalam ruangan juga sudah tersaji ikan bumbu kuning, bakwan, onde-onde, rendang. Tak lupa salad dan makaroni schotel. Bukan untuk tamu yang bule, tapi untuk menghargai lidah kami yang sudah setahun di Inggris. Karena kami yakin, para bule itu pasti memilih sate kambing yang eksotis kemerahan dan sedikit gosong, meski itu menambah kesengsaraan mereka karena kepedasan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 235px; HEIGHT: 163px" height="300" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/KBNor.jpg" width="400" align="right" vspace="3" /&gt;Acara berlangsung penuh kegembiraan dan tawa canda. Tapi nun jauh di lubuk hati, terbersit rasa sedih. Bukan tak cinta tanah air dan keluarga. Tapi kekeluargaan yang terbentuk disini juga terasa berat untuk ditinggal. Belum lagi suasana "desa ditengah kota" yang penuh keteraturan. Tiada kemacetan, tiada polusi. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selain &lt;em&gt;farewell party&lt;/em&gt;, suasana menjelang pulang juga kental di rumah. Kondisi kamar sudah tak lagi indah. Sebagian barang-barang mulai masuk kardus. Baik yang akan dibawa pulang lewat &lt;em&gt;shipping&lt;/em&gt;, maupun yang akan dilungsurkan kepada pendatang baru. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari-hari kemuka masih harus diisi dengan kesibukan menutup rekening, memutus kontrak telepon, internet, mengurus &lt;em&gt;tax refund&lt;/em&gt;. Juga mengambil masa mendatangi tempat yang belum sempat disambangi. Macam Skotlandia dan Irlandia Utara.  Untuk meredam sedih, kucoba sebuah cara yang tak sepenuhnya mujarab: membayangkan pecel lele, pete, tahu, dan tempe. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112476484267476261?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112476484267476261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112476484267476261' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112476484267476261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112476484267476261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/jalan-sudah-berujung.html' title='Jalan Sudah Berujung'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112439846901261722</id><published>2005-08-17T13:53:00.000-07:00</published><updated>2005-08-19T14:19:01.570-07:00</updated><title type='text'>O Merdeka.. O Indahnya</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 236px; HEIGHT: 235px" height="100" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/IMG_3271.jpg" width="100" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;klik &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/albums/v600/alsiregar/?action=view&amp;current=IMG_3271.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; untuk gambar lebih besar, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;dan &lt;a href="http://arisemut.multiply.com/photos/album/11"&gt;dimari&lt;/a&gt; untuk gambar lainnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;O Merdunya....&lt;br /&gt;Itu lagunya....&lt;br /&gt;Lagu India....&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lengkingan lagu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Terajana&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; membahana dari panggung yang kosong. Sejenak muncullah perempuan berbalut gaun putih mengkilat. Denada Tambunan. Pengunjung yang tadinya melipir menghindari panas berbalik ke tengah lapangan. Merentang tangan, menggoyang kaki, atau sekedar memainkan jempol. Berjoged. Wisma Nusantara, tempat tinggal Dubes RI di East Finchley, London Utara pun tak ubahnya lapangan RT di Kukusan sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 179px; HEIGHT: 135px" height="100" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/IMG_3255.jpg" width="100" align="right" /&gt;Dangdutan, melengkapi rasa endonesia perhelatan tujuhbelasan nun jauh di negeri orang ini. Sebelumnya ada makan siang berteman tempe bacem, urap, kerupuk. Juga balap bakiak, memasukkan paku ke dalam botol, dan tarik tambang. Tak di kampung tak di London, permainan jauh dari aroma kompetisi ini selalu mengundang teriakan dan tawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Roso&lt;/em&gt; itu semakin mantap dengan mencium bau kretek dimana-mana. Membual bergerombol sambil &lt;em&gt;cekakakan&lt;/em&gt;. Benar kata pepatah, sejauh bangau terbang kembali ke pelimbahan juga. Maka pesta taman pun berganti rupa menjadi lesehan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Semua ingin menjadi Indonesia. Anak-anak yang sebagian besar lahir dan tumbuh di negeri orang, menjadi Indonesia dengan bermain. Uniknya, tarik tambang dan permainan memasukkan paku dalam botol, diringi petunjuk dalam bahasa Inggris. Bahasa boleh &lt;em&gt;cas cis cus,&lt;/em&gt; selera boleh Eropa, tapi alunan dangdut yang mendayu, menghentak sendi untuk bergoyang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Iramanya melayu..&lt;br /&gt;duhai indah sekali...&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merdeka..!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112439846901261722?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112439846901261722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112439846901261722' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112439846901261722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112439846901261722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/o-merdeka-o-indahnya.html' title='O Merdeka.. O Indahnya'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112423134042156250</id><published>2005-08-16T15:27:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T15:29:00.423-07:00</updated><title type='text'>Semangat Dibalik Bantal</title><content type='html'>&lt;P align=justify&gt;&lt;IMG height=160 hspace=3 src="http://www.liputan6.com/ibukota/img/180804aHutRI_Jkt.jpg" width=200 align=left&gt;Si Petualang Asmara itu maju dengan segenap kesombongan. Ia beringsut di sebatang pohon pinang, yang melintangi kolam butek berwarna kehijauan. Sejurus ia menatap ke arah lawannya, dalam pertarungan gebug bantal. Perlahan mulai dari bagian perut yang diisi rusuk menonjol akibat kekurang-sejahteraan. Naik ke bagian dada berhias guratan merah akibat kerokan. Ditingkahi musik, fisik utuh sang lawan pun tergambar lengkap di layar: kakek tua kurus kerontang bertempel koyok. Ironis. Si Petualang Asmara, Sly --singkatan dari Rusli--, tak mampu melanjutkan pertarungan, dan memilih jalan kalah dengan menjatuhkan tubuh ke kolam. &lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Penonton bersorak. Sly sesenggukan. "Kamu bijaksana dengan mengalah," puji sang guru pelatih. "Untung kamu mengalah, kalau tidak bisa lewat itu aki", hibur teman seperjuangan.&amp;nbsp;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;&lt;IMG hspace=3 src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/bantal.jpg" align=right&gt;Gebuk bantal, permainan yang ramai dipertandingkan pada peringatan 17-an, menjadi benang merah film &lt;A href="http://www.gatra.com/2004-03-24/versi_cetak.php?id=34960"&gt;&lt;STRONG&gt;"Kwaliteit 2"&lt;/STRONG&gt;&lt;/A&gt;, besutan sutradara independen merangkap pemain, Denis Adishwara. Meski terlambat, akhirnya berkat Oom Yo yang mengirimi dari Paris, aku bisa memirsa film&amp;nbsp;ini. Sebuah film &lt;EM&gt;jayus, garing, bin norak&lt;/EM&gt;, tapi cukup membuatku tertawa nyaris&amp;nbsp;selama 90 menit.&lt;STRONG&gt;&amp;nbsp;&lt;/STRONG&gt;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Tapi ini norak-norak bergembira. Norak yang disadari sebagai tema. Bukan&amp;nbsp;norak sekelas film atawa sinetron bertema wah, tapi penuh kejanggalan disana sini. &lt;EM&gt;(Seperti merayakan malam Valentine di bawah menara Eiffel, hanya mengenakan tank top, dalam "Eiffle, I'm in Love".&lt;/EM&gt; Heiii&lt;EM&gt;, bukankah Eropa di bulan Februari sedang berbalut salju, kawan?).&lt;/EM&gt;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Lewat gebug bantal, &lt;EM&gt;Kwaliteit 2&lt;/EM&gt;&amp;nbsp;menanamkan nilai perjuangan, kesetiakawanan dan kerja keras. Semangat dan energi anak muda berlumur emosi rebutan kuasa dan cinta,&amp;nbsp;disalurkan dalam bentuk positif, yaitu olahraga. Kekalahan yang dibuktikan dengan tercemplung ke air, justru menjadi bahan tertawaan, dan sumber sorak sorai keriaan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Besok, 17 Agustus, permainan ini akan berlangsung dimana2. Umumnya di atas kali berair kotor, sehingga si kalah semakin lengkap menderita. Andai filosopi ini meresap ke semua sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pastilah tak ada yang membakar kantor KPUD hanya karena kalah Pilkada. Tak ada pula yang mengkhianati perdamaian di Aceh sana, karena perdamaian bukanlah soal kalah menang.&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Sayangnya, mayoritas peserta permainan ini adalah kaum tak bersuara. Kaum yang tak merdeka bahkan dari ketakutan tidak memperoleh sepiring nasi. Ah, semoga ini bukan retorika kosong belaka. &lt;/P&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112423134042156250?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112423134042156250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112423134042156250' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112423134042156250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112423134042156250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/semangat-dibalik-bantal.html' title='Semangat Dibalik Bantal'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112423125623934297</id><published>2005-08-15T15:27:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T15:27:36.243-07:00</updated><title type='text'>Bagimu Negri, Jiwa Raga Kami</title><content type='html'>&lt;IMG height=153 hspace=4 src="http://www.dnet.net.id/images/content/thumb_bangkitlah.jpg" width=210 align=left&gt; &lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Kulepas pandang ke laut lepas. Lalu&amp;nbsp;kutiup potongan ikan yang berkepul panas. Berteman sambel pedas, makanan kebangsaan orang Inggris, fish and chips itu melintas juga di kerongkongan. Berbekal sebatang Dji Sam Soe yang membuat penghuni meja sebelah terbatuk, kutatap suasana pantai. Anak remaja&amp;nbsp;yang berjalan riang sambil menjilat es krim, juga orang tua beriring anjing. Ramai. Padahal pantai Hunstanton ini --sejam dari Norwich--&amp;nbsp;bukan pantai yang layak kunjung, bila anda sudah terbiasa dengan Kuta, Pasir Putih, bahkan Ancol sekalipun. Kami kesini, membawa orang tua salah seorang teman, yang datang menjenguk &lt;A href="http://aljayuzi.blogspot.com/"&gt;putrinya&lt;/A&gt;.&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Namun seruan, "Coba begini di Indonesia" tetap saja keluar dari mulut&amp;nbsp;orang tua kami itu. Entah ini ucapan yang keberapa. Melihat jalan raya yang tak berlobang, kesantunan pengguna jalan, rambu dan batas kecepatan yang disesuaikan dengan kondisi daerah yang dilalui, hingga sistem parkir tanpa manusia (pay and display). &lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;"Sistem kayak gini bisa gak sih &lt;EM&gt;Pap&lt;/EM&gt;, ditiru&amp;nbsp;di Indonesia," gugat sang istri kepada suaminya yang pernah menjadi anggota dewan. &lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Tentu saja bisa. Jumlah putra-putri&amp;nbsp;Indonesia yang belajar di negeri orang tak kurang-kurang. Dari Inggris hingga Perancis, mulai&amp;nbsp;Jerman sampai&amp;nbsp;Teheran, Australia sampai Italia, juga negeri Matahari Terbit dan&amp;nbsp;negeri Piramid. Ilmu yang dituntut pun beragam. Di Norwich saja, teman-teman mengambil bidang yang "aneh-aneh". Sebutlah, Lingkungan, Penanganan Bencana, Jender, Studi Pembangunan, dan Kebijakan Kesehatan Publik. Lihat pula keluarga besar &lt;EM&gt;multiply&lt;/EM&gt;. Ada pakar kelautan, Resolusi Konflik, Pasukan Perdamaian, Perkapalan, Konflik dan Agama, Arsitektur Urban, Tatakota Negara Berkembang, Corporate Governance, dan Kebijakan Publik. Ada Doktor kajian sains, teknologi, dan masyarakat, yang buah pikirnya sering terbaca di media nasional. Juga ada yang mendunia, hingga masuk&amp;nbsp;&lt;A href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/11/naper/552289.htm"&gt;CNN&lt;/A&gt;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Kurang apa lagi. Tapi dengarlah balada bapak&amp;nbsp;Doktor Dindin &lt;EM&gt;(bukan nama asli, tapi cerita asli&lt;/EM&gt;)dari Paris ini. Ia lulus dengan predikat&amp;nbsp;sungguh sangat memuaskan, dari kampus ternama. Kampus yang tau potensinya segera menawari menjadi pengajar, dengan posibilitas besar menjadi ketua jurusan, dan embel-embel sebagai penasehat Presiden Perancis bidang transportasi. Tentu saja dengan euro bergepok. &lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Dengan rasa nasionalisme membuncah di dada, selaksa asa di kepala, ia menolak. Memilih&amp;nbsp;kembali ke pangkuan pertiwi. Berbekal tekad besar membangun Indonesia. Tahun berganti, kereta bawah tanah yang diidamkan mengatasi kemacetan Jakarta, tak kunjung terwujud. Yang tersisa hanya satu: dia masih setia dengan kijang butut, meski teman2nya yang kapabilitas jauh dibawahnya sudah bergonta ganti mobil. Sebuah idealisme.&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;&lt;IMG style="WIDTH: 157px; HEIGHT: 167px" height=378 hspace=3 src="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Jakarta/2804k1.jpg" width=201 align=right&gt;Lain lagi pengalaman Nunung MSc &lt;EM&gt;(nama samaran, kejadian beneran&lt;/EM&gt;). Kembali ke kantor lama, ia membawa cita-cita mengatasi kerusakan jalan akibat truk kelebihan tonase. Usulannya dicibir, karena berbau Eropa. Tak hilang akal, ia ajak sejawat dan atasannya studi banding ke Malaysia. Sesama negara berkembang, dan sesama puak Melayu pula, yang mempraktekkan sistem serupa. Hasilnya, sistem kir kenderaan otomatis, dan pemanfaatan jembatan timbang secara maksimal. Apa lacur, atasannya bilang, "terlalu banyak biaya sosial, jika sistem dimesinkan". Mesin memang, tidak bisa disogok. &lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;P align=justify&gt;Pertanyaan&amp;nbsp;"Bisa gak sih begini di Indonesia", terus mengiang. Jawabnya ada pada benak kita masing-masing. Aku yakin, ibu pertiwi, yang pekan depan usia merdekanya sudah 60 tahun, suatu masa akan berubah. Kata si Cut Inong dari Atjeh, &lt;EM&gt;Pat ujeuen han pirang, pat prang tan reda&lt;/EM&gt;. Tak ada hujan yang tak usai, tak ada perang yang tak berakhir. Merdeka..!!!&lt;/P&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112423125623934297?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112423125623934297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112423125623934297' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112423125623934297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112423125623934297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/bagimu-negri-jiwa-raga-kami.html' title='Bagimu Negri, Jiwa Raga Kami'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112419053418156235</id><published>2005-08-14T04:05:00.000-07:00</published><updated>2005-08-16T15:26:38.926-07:00</updated><title type='text'>Ingin Murah Sebut Car Boot</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 203px; HEIGHT: 157px" height="200" hspace="3" src="http://wheatley-village.org/images_and_maps/wheatley_school_fayre_110704/car_boot_sale_3.jpg" width="160" align="right" /&gt;Matahari sudah sepenggalah, ketika kami tiba di lapangan luas itu. Setelah menaruh mobil di tempat parkir tanpa penjaga, kami berjalan menyusuri jalan tanah. Sesekali menutup rapat muka, menghindari debu bila ada mobil melintas. Puluhan, mungkin mencapai seratusan, mobil dengan bagasi terbuka berjejer rapi membentuk shaf. Sebagian menggunakan meja sebagai tambahan untuk menggelar dagangan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sudah lama aku berminat mendatangi pasar bernama &lt;em&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Car_boot_sale"&gt;Car Boot Sale&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; ini. Karena tempatnya di luar kota, dan tidak dilayani jalur bus, maka harapan tinggal harapan. Hari ini kesempatan itu terwujud, karena Mas Dono, mantan Lurah PPI Norwich, yang sudah pindah ke Sandy, datang dan mengajak kesini. Sebelumnya aku pernah ke &lt;em&gt;Car Boot&lt;/em&gt; dekat kampus UEA yang bisa dijangkau dengan sepeda. "Itu belum seberapa, ntar deh aku ajak ke yang lebih gede," begitu pak Lurah berpromosi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 246px; HEIGHT: 160px" height="187" hspace="3" src="http://www.alleyns.org.uk/other/car_boot_sale.jpg" width="246" align="right" /&gt;Sebutan &lt;em&gt;Car Boot&lt;/em&gt; bermula dari model berniaga dengan meletakkan dagangan di bagasi mobil. Ini ciri khas yang terus dipertahankan. Dan, yang terpenting, harga yang sungguh sangat murah. Mulai dari mainan anak-anak, baju, sepatu, buku, CD, tanaman, sepeda hingga mobil. Jangan silap, semuanya adalah bekas.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Meski ada ratusan pedagang, suasananya tenang. Tak ada teriakan mikropon kualitas rendah menjajakan dagangan. Tak ada "pemaksaan" atau pertanyaan ringan macam "yang mana pak", "ayo..ayo barang bagus". Si penjual duduk saja menghirup kopi, sampai kita yang bertanya. Mereka juga tertib membentuk jalur-jalur, sehingga pembeli yang berkorsi roda dan membawa dorongan bayi pun nyaman berbelanja.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ketika hari semakin tinggi, di tangan sudah terjinjing 10 buku hardcover senilai 12 Pound. Salah satunya adalah buku tentang Mao, &lt;a href="http://www.amazon.co.uk/exec/obidos/ASIN/0224071262/202-4131069-6307058"&gt;&lt;em&gt;The Unknown Story&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;, yang baru keluar dua bulan lalu dengan harga asli 25 Pound. Harga dan sistem berjualan di &lt;em&gt;Car Boot&lt;/em&gt; ini memang unik. Dugaanku, mereka tak mencari untung. Tapi mencari kesibukan, dan menggunakan kesempatan ini untuk bersosialisasi belaka. "Bapakku gila baca, jadinya rumah kami penuh oleh buku. Saya jual saja sebagian", kata seorang pedagang yang aku soal mengapa menjual buku yang seharusnya dikoleksi ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mengurangi isi rumah, itulah salah satu makna perniagaan ini. Karena rumah yang kecil, sedangkan model terus berganti, maka perlu ada pergantian stok. Ada juga karena, rumah yang harus dikosongin, karena rumah akan segera dilelang, atau penghuninya yang manula akan segera masuk panti jompo &lt;em&gt;(nursing house)&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tak heran, mobil yang digunakan tergolong mewah. Ada jeep Landrover, Nissan Terrano, Mitshubishi Pajero. Karena tidak berniat mengambil untung, maka aroma persaingan pun nihil. Mungkin ini yang membedakan pasar ini dengan pasar kaget Minggu pagi di kampus UI Depok. Semua berusaha berdagang di pintu masuk, tak peduli disana sudah sesak bahkan sulit untuk berjalan. Atau &lt;em&gt;empet2an&lt;/em&gt; itu juga merupakan seni saudagar jalanan?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112419053418156235?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112419053418156235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112419053418156235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112419053418156235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112419053418156235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/ingin-murah-sebut-car-boot.html' title='Ingin Murah Sebut Car Boot'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112362862808476535</id><published>2005-08-06T16:00:00.000-07:00</published><updated>2005-08-09T16:03:48.096-07:00</updated><title type='text'>Eiffle, I'm Not on Top</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 232px; HEIGHT: 185px" height="160" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/paris.jpg" width="200" align="right" /&gt;Kami terbangun oleh suara alarm. Pagi sudah meninggi, padahal satu dari kami, &lt;a href="http://ratihm.multiply.com"&gt;Ratih&lt;/a&gt;, akan ke Jerman pagi ini. Kami terkapar kelelahan rupanya. Seharian kemarin berkeliling &lt;strong&gt;Champ Ellysees&lt;/strong&gt;, Musee du Louvre, dan mengunjungi &lt;strong&gt;Chateau Versaille&lt;/strong&gt;, istana Raja Louise XIV. Malamnya karena ingin melihat hari berganti di menara Eiffle, kami nyaris ketinggalan kereta terakhir. Dari Eiffle ke Saint Denis, perlu ganti Metro 3 kali. Artinya, kami deg-degan 3 kali, berkejaran juga 3 kali. Untung ini bukan di Inggris. Jika tidak, bisa2 gambar kami yang berlarian di kereta bawah tanah dengan ransel di punggung, diburu Scotland Yard. Syukur semuanya sesuai jadwal, meski tiba dengan kelelahan yang sangat. &lt;em&gt;Merci&lt;/em&gt;, terima kasih waktu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sedianya, kami juga akan ke Jerman. Tapi beberapa &lt;a href="http://ekobk.multiply.com"&gt;teman&lt;/a&gt; di Paris bilang, Jerman kota yang kaku bila dibanding &lt;em&gt;La France&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;feminine&lt;/em&gt;. Namun bukan itu pertimbangan kami, sehingga batal ke Jerman. Soal rasa, pasti berbeda bagi setiap orang. Ini hanya soal waktu, sehari termasuk perjalanan, apa yang bisa kami peroleh. Belum lagi, &lt;em&gt;Paris est une grande villa&lt;/em&gt;, sehingga masih banyak yang belum kami lihat. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebelum lanjut bertamasya, tiket pulang harus dimajukan beberapa jam. Beberapa jam harus dibuang untuk ini. Pelayanan yang lambat, terkadang sambil menelpon, juga antri yang tidak teratur. Dari kacamata orang Jakarta, Paris terlihat teratur. Tapi tidak, kalau dilihat dari kacamata sebagai warga Inggris. Biasanya orang Paris, akan menjawab, "&lt;em&gt;C'est Paris!".&lt;/em&gt; Tak ubahnya orang Medan, yang bangga bilang: "Ini Medan, Bung!" &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 219px; HEIGHT: 126px" height="160" hspace="3" src="http://www2.sjsu.edu/depts/jwss/bath2004/images/Ecole%20Militaire%2001.jpg" width="200" align="left" /&gt;Kurang afdhol rasanya, bila tak menziarahi Napoleon Bonaparte di &lt;strong&gt;Musee de L'armee, &lt;/strong&gt;dan kembali ke Eiffle. Menyaksikan ribuan manusia menyemut berebut naik ke menara. Aku sapu pandang berkeliling. Eiffle, Trocadero, &lt;strong&gt;Ecole Militaire&lt;/strong&gt; berada dalam satu kompleks besar. Tanpa pagar. Dibanding Monas, pemerintah Perancis menghemat dana ratusan juta untuk membangun pagar. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebagai negara maju, Paris tentu saja akrab dengan pembangunan. Hebatnya, mereka tidak mau mengganggu kondisi kota tua. Bangunan modern, ditempatkan agak keluar, di &lt;strong&gt;La Defense&lt;/strong&gt;. Namun, bangunan menjulang itu tetap diberi sentuhan artistik. Tak melulu tataan bata dan baja belaka. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Gerimis dan waktu menghentikan segala karsa. Kami harus pulang, meninggalkan Paris yang manis. Juga Oom Yo (d/h &lt;a href="http://tanahair.multiply.com"&gt;Suryo&lt;/a&gt;), guide &lt;em&gt;cum&lt;/em&gt; fotografer &lt;em&gt;cum&lt;/em&gt;  pemilik B&amp;amp;B, dengan segala &lt;em&gt;hospitality&lt;/em&gt;-nya. Aku merapal doa, agar kembali suatu saat. Paris, &lt;em&gt;Au revoir!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112362862808476535?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112362862808476535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112362862808476535' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112362862808476535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112362862808476535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/eiffle-im-not-on-top.html' title='Eiffle, I&apos;m Not on Top'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112346061576633554</id><published>2005-08-04T17:15:00.000-07:00</published><updated>2005-08-07T17:23:35.776-07:00</updated><title type='text'>Melancong ke Tombeau de Napoleon</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 172px; HEIGHT: 134px" height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/IMG_3191.jpg" width="180" align="left" /&gt;&lt;em&gt;Le Samedi&lt;/em&gt;, penghujung &lt;em&gt;Juilette&lt;/em&gt; 2005. Angin berhembus menghempas dingin pagi di Gallieni Station, Paris. Plang, pengumuman, semua berbahasa Perancis. Inilah wujud kepongahan anak cucu Napoleon, yang tak mau mengakui kelebihan anak cucu Lord Nelson. Beruntung kami dijemput teman, dosen Paramadina yang sekolah &lt;em&gt;Geopolitique&lt;/em&gt; di "Unpad" (&lt;em&gt;l'Universite&lt;/em&gt; Paris Delapan (8) d/h Universitas Sorbonne). Untuk menyesuaikan lidah, pagi ini kami menyantap &lt;em&gt;croissant. Bienvenue en France&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karena cuma berencana dua hari, maka &lt;a href="http://tanahair.multiply.com/"&gt;Suryo&lt;/a&gt;, sang guide meminta kami bergerak cepat. Terlalu banyak yang harus dilihat di Paris. Mulai dari yang &lt;em&gt;chic&lt;/em&gt; hingga &lt;em&gt;mythique&lt;/em&gt;, yang &lt;em&gt;artiste&lt;/em&gt; sampai &lt;em&gt;populaire&lt;/em&gt;. Namun gaya boleh Paris, tapi perut tetap Indonesia. Di atas Metro, kereta bawah tanah perut mulai berdendang. Tujuan pun berubah: Place d'Italie. Disini ada kedai mie Vietnam, menjual mie yamin mirip rasa Indonesia. Sejenak ke &lt;strong&gt;Saint Michel&lt;/strong&gt;, tempat &lt;em&gt;rendez-vous&lt;/em&gt; ternama di kota Paris, menikmati "ngafe" di negeri moyangnya cafe.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="130" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/parispantheon.jpg" width="170" align="left" /&gt;Paris terlalu indah untuk dibiarkan berlalu. Tak sempat duduk lama, kami terus mengembara. Merenung sebentar di &lt;strong&gt;Pantheon&lt;/strong&gt;, bangunan dengan &lt;em&gt;facade&lt;/em&gt; model Roma, tempat kuburan para "syuhada" pemikir Perancis macam Voltaire, Rousseau, dan Marie Curie. Lalu melanglang ke taman Luxemburg yang bersisian dengan gedung Senat. Lanjut ke &lt;strong&gt;Notre Damme&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;make a wish&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;point de zero&lt;/em&gt;, dan menyesap &lt;em&gt;creme glacee&lt;/em&gt; di atas jembatan yang mengangkangi sungai Seine.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nun dibawah sana, pinggiran sungai disulap menjadi pantai. Pasir ditebarkan dimana, ditambahi dengan tumbuhan tropis, menandai pesta &lt;em&gt;Paris Plage&lt;/em&gt;. Malam menjelang, kami beranjak ke &lt;strong&gt;Montmartre&lt;/strong&gt;, daerah ketinggian tempat menatap kota Paris. Terlalu naif sebenarnya untuk membandingkannya dengan Dago Tea House di Bandung sana.  Tapi tak apa. Setelah menyantap &lt;em&gt;crepe&lt;/em&gt;, kami turun bersama dingin yang mulai menusuk. Menuju stasiun kereta, kami melintasi "kawasan malam" &lt;strong&gt;Moulin Rouge&lt;/strong&gt;. Konon, ini menjadi tujuan wisata pembesar Jakarta yang bepergian tanpa istri. Masih banyak sudut yang harus dijejak besok. Saatnya berihat. &lt;em&gt;A bientot.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112346061576633554?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112346061576633554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112346061576633554' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112346061576633554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112346061576633554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/melancong-ke-tombeau-de-napoleon.html' title='Melancong ke Tombeau de Napoleon'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112326016912892895</id><published>2005-08-02T09:40:00.000-07:00</published><updated>2005-08-05T09:42:49.136-07:00</updated><title type='text'>Seribu Kanal Membelah Dam</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 152px; HEIGHT: 160px" height="180" hspace="3" src="http://document.linternaute.com/document/image/550/438958/velo-villes-symbole-canal-amsterdam-.jpg" width="160" align="left" /&gt;Sepi menyelimuti&lt;em&gt; Staanplaat&lt;/em&gt; Amstel, Amsterdam. Tak seperti terminal Pulogadung, yang diramaikan teriakan calo. Juga tak ada bau pesing penanda terminal atau tempat publik yang kenyamanannya di nomor-sekiankan. Setelah membersih diri sisa perjalanan semalaman dari London, kami bergegas ke &lt;em&gt;spoor station&lt;/em&gt; yang bersisian dengan &lt;em&gt;stallplaat&lt;/em&gt;. Tujuan pagi ini adalah &lt;em&gt;centrum&lt;/em&gt; kota Amsterdam. Seorang nenek yang aku bagi tempat duduk mengajakku bicara. Melihatku bingung, seorang lelaki paruh baya menyambung dengan bahasa Indonesia logat aneh: "Ia bilang, ramai sekali". &lt;em&gt;Godverdomme&lt;/em&gt;, tampang melayu memang mudah ditemui disini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keluar di &lt;em&gt;centraal station&lt;/em&gt;, pandanganku menyapu hotel Batavia. Entah ini sekedar mengenang tanah jajahan, atau untuk "penghargaan" tenaga yang diperas untuk &lt;em&gt;rodi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kultur stelsel&lt;/em&gt; abad silam nan kelam. Aku susuri jalan raya Damrak Straat, yang sedang marak menggelar korting summer. Disini menyeberang harus penuh kehati-hatian. Sebab jalan ini meladeni tiga moda kenderaan, mobil, trem, dan sepeda. Kami hanyut bersama arus orang yang bermuara di &lt;em&gt;Koninklijk Paleis&lt;/em&gt;. Di depan balikota ini, beberapa orang memajang diri dengan kostum serdadu jaman &lt;em&gt;baheula&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;none Belande&lt;/em&gt;, dan meminta duit sebelum dipotret. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 160px; HEIGHT: 191px" height="200" hspace="3" src="http://www.mehras.net/europe_pages/10_31_amsterdam/462_v_tram_on_street.JPG" width="160" align="left" /&gt;Lelah berkeliling, lapar pun mulai mengganggu. Kata kunci yang diberikan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://susje.multiply.com/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lely&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; untuk makan enak, adalah "Zeedijk" dan "New King". Bau masakan dengan bumbu menyengat segera menyergap. Ada bakso, nasi goreng warna kehitaman --mungkin digoreng diatas belanga hitam legam khas restoran Cina--, dan ikan goreng dengan bumbu mlekoh. &lt;em&gt;Zeedijk Straat&lt;/em&gt; juga menyediakan tontonan menarik dalam etalase, khas &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.red-light-district.nl/"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;kawasan merah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ketika rintik hujan menyentuh bumi, kami putuskan untuk menyusuri sungai naik &lt;em&gt;kanaal bus&lt;/em&gt;. Amsterdam memang dikenal sebagai negeri seratus kanal. Rakit bermesin itu pun meluncur menyuruk jembatan, yang jumlahnya di seluruh kota hampir seribu. Panjang seluruh kanal buatan sejak abad XVII ini, mencapai 100 kilometer, dibangun untuk mengatasi banjir, karena permukaan tanah berada dibawah permukaan laut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/belanda.gif" align="right" /&gt;Sehabis berlayar, sedianya kami akan ke &lt;em&gt;Vondelpark&lt;/em&gt;, taman seluas 48 hektar yang menjadi paru-paru kota, yang mengingatkan pada Kebun Raya di Buitenzorg sana. Karena sudah lelah, kami putuskan tidak pergi, tapi duduk menyesap thee dan koffie di cafe pinggir jalan, sambil menatap &lt;em&gt;none-none&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;ngebut&lt;/em&gt; bersepeda ontel disisi trem. Aku berdoa, semoga tidak bertemu anggota dewan yang sedang studi banding kesini. Sebab aku takut rasa hormatku kepada wakil rakyat itu memudar. Karena menurut hematku, yang harus dikirim studi banding itu adalah pegawai kereta api (mempelajari sistem trem), penata kota (belajar menyediakan lalulintas yang ramah buat pejalan kaki &lt;em&gt;(voet)&lt;/em&gt; dan sepeda &lt;em&gt;(fiets)&lt;/em&gt;), serta pegawai PU, untuk belajar mengatasi banjir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Malam pun turun. Kami bergegas kembali ke Amstal, mengejar bus menuju Paris. &lt;em&gt;Tot ziens&lt;/em&gt;, Amsterdam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112326016912892895?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112326016912892895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112326016912892895' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112326016912892895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112326016912892895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/08/seribu-kanal-membelah-dam.html' title='Seribu Kanal Membelah Dam'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112315623396750469</id><published>2005-07-28T04:46:00.000-07:00</published><updated>2005-08-04T04:50:33.976-07:00</updated><title type='text'>Menatap Tanah Air dari Tanah Blair</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 218px; HEIGHT: 189px" height="200" hspace="3" src="http://www.lastrefuge.co.uk/images/html/aerials_UK_historical_sites/cathedrals/images/AWDS_Cathedral01.jpg" width="160" align="left" vspace="3" /&gt; Kami melewati kota kecil nan lengang itu dengan kecepatan sedang. Hanya beberapa orang terlihat menapaki trotoar, atau duduk di taman. Selebihnya kesenyapan. Tony, warga Inggris yang mengawini orang Indonesia, menyetir sambil melahap sandwich isi udang. Sejenak kami lampaui plang penunjuk &lt;em&gt;"town center&lt;/em&gt;". Aku tanya Tony, "Apa sih bedanya &lt;strong&gt;town&lt;/strong&gt; dengan &lt;strong&gt;city&lt;/strong&gt;". &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ia menjawab dengan sebat, sambil menyeka bekas mayonaise di ujung bibirnya. "&lt;em&gt;City &lt;/em&gt;punya &lt;em&gt;church&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;cathedral, town&lt;/em&gt; cuma punya &lt;em&gt;church&lt;/em&gt;". Entah ini jawaban pelajaran sekolahan, atau hanya sekedar pendasaran pada apa yang selama ini ia lihat. Meski dalam sejarah, gereja dan katedral sebagai institusi keagamaan yang menjadi perpanjangan tangan raja, pernah ditutup oleh &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/history/state/monarchs_leaders/cromwell_01.shtml"&gt;Oliver Cromwell&lt;/a&gt;, &lt;em&gt;Lord Protector&lt;/em&gt; yang menginginkan Inggris Raya berbentuk republik.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 169px; HEIGHT: 131px" height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/IMG_0989.jpg" width="200" align="left" /&gt; Lupakan sejarah. Tapi andai ini benar, infrastruktur kota di Inggris itu sudah selesai pada abad ke-12. Era itulah sejumlah gereja besar dan kathedral berdiri. Satu hal yang mengagumkan, selama ratusan tahun mereka bisa mempertahankan bentuk dan luas kota. Jarak antar kota dipisahkan oleh hutan, daerah pertanian, rawa-rawa yang seolah tak tersentuh oleh pembangunan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini tentu berbeda dengan di Indonesia. Keberhasilan dinilai, karena Jakarta telah tersambung dengan kota penyangga, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok. Demikian juga dengan Bandung-Cimahi, Medan-Tanjungmorawa, atau Makasar-Maros. Padahal tata kota macam itu juga ada di Indonesia. Kotamadya ada mesjid Agung, dan semakin ke ke desa mesjidnya semakin mengecil.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Persoalannya ada pada sistem &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0507/21/metro/1901503.htm"&gt;pembangunan jalan.&lt;/a&gt; Seluruh kota disini, jalannya dibangun seperti di kompleks perumahan. Pendek2 tapi banyak, membentuk &lt;em&gt;grid&lt;/em&gt;, kotak-kotak. Mereka-mereka yang ngotot harus di pinggir jalan, semuanya kebagian. Akibatnya kota menjadi melebar. Tidak memanjang mengikuti garis jalan raya penghubung antarkota. Kota pun menumpuk pada satu bagian tertentu saja.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Andai ini dipraktekkan di Jakarta, maka daerah Kukusan, di belakang kampus UI, tidak lagi menjadi kawasan terbelakang. Dan itu berarti, keputusanku untuk membeli tanah disana, menjadi benar adanya. Seolah aku seorang perencana ulung yang berpikir futuristik, menatap jauh ke depan. Padahal dulu, pembelian itu hanya didasarkan satu hal: uangnya cuma cukup beli di kampung sana.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112315623396750469?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112315623396750469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112315623396750469' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112315623396750469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112315623396750469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/menatap-tanah-air-dari-tanah-blair.html' title='Menatap Tanah Air dari Tanah Blair'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112238047927082281</id><published>2005-07-26T05:12:00.000-07:00</published><updated>2005-07-26T05:22:57.713-07:00</updated><title type='text'>Smile, You're in Camera</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 375px; HEIGHT: 207px" height="265" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/bomb.gif" width="375" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bom London, 21 Juli 2005&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;"Blo**y H**l...",&lt;/em&gt; terikan itu menggema di ruang tamu kami pagi itu. Housemate kami, seorang Afrika, lalu membanting surat yang membuatnya kesal. Surat dari Polisi di East London, berisi tilang pelanggaran batas kecepatan. Isinya lengkap, mulai tanggal kejadian (lengkap dengan jam dan menit), lokasi, jenis mobil, serta kecepatan mobil. Ia memang ke pinggiran kota London beberapa hari sebelumnya, dan mengaku ngebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Apa saat itu ada polisi," tanyaku lugu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"No..no..It's from CCTV"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ya, CCTV &lt;em&gt;(Closed Circuit TeleVision)&lt;/em&gt; memang barang ajaib ang banyak membantu polisi di Inggris. Termasuk pengungkapan pelaku bom London. Wajah "pelaku" tertangkap kamera di beberapa tempat. Saking banyaknya alat ini di Inggris, dipercaya kota-kotanya memiliki CCTV paling banyak di dunia. Mulai dari yang disediakan pemerintah, hingga yang dipasang sendiri oleh pemilik toko dan rumah. Jadi, kalau jalan-jalan keliling London dalam sehari, siap-siap saja terekam 300 kali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 199px; HEIGHT: 151px" height="167" hspace="3" src="http://www.wymetro.com/NR/rdonlyres/CB66F609-AA77-44EF-A944-6FD2D624403F/0/29BU6345.jpg" width="201" align="left" /&gt;Mulai dari tiba di stasiun atau terminal, naik bus atau &lt;em&gt;tube,&lt;/em&gt; melintasi kota, masuk museum, semua terekam. Begitu naik bis sudah ada aba-aba, "4 dari 5 bus dilengkapi CCTV". Jadi jangan coba-coba mencet bel sembarangan, mencoret, apalagi ngamen sambil mengancam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mengingat dahsyatnya CCTV, terpikir untuk memasangnya nanti di Depok sepulang dari sini. Supaya kami tidak perlu lagi terpenjara oleh jeruji. Waktu usul aku sampaikan kepada istri, ia cuma senyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Pertama, yang mau diawasi di rumah itu hingga pakai CCTV segala, apa?"&lt;br /&gt;"Kedua, setelah image orang yang mau berbuat jahat itu terekam, mau diadukan kemana"&lt;br /&gt;"Ya polisi dong, biar mereka cari data ke kelurahan"&lt;br /&gt;"Emang semua orang punya KTP apa"&lt;br /&gt;"Harus itu, warga negara yang baik, &lt;em&gt;je&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;"Yang ngomong, emang punya KTP" &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;He..he.., aku baru ingat. Sejak tinggal tahun 96 di Depok, aku tak punya KTP Depok. KTP yang aku miliki keluaran Kelurahan Cawang, diurusin mertua sebagai persyaratan menikah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Membangun sistem itu memang tak mudah. Harus berkelindan dan berkesinambungan. Tapi ini bukan alasan untuk tidak memulai. Ayo pak Nurmachmudi, bangkitkan Depok&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112238047927082281?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112238047927082281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112238047927082281' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112238047927082281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112238047927082281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/smile-youre-in-camera.html' title='Smile, You&apos;re in Camera'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112219908703599659</id><published>2005-07-23T02:43:00.000-07:00</published><updated>2005-07-24T02:59:53.720-07:00</updated><title type='text'>Harrods, meuni Harot</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 241px; HEIGHT: 181px" height="120" hspace="2" src="http://www.foliophoto.co.uk/images/harrods_exterior.jpg" width="160" align="right" /&gt; "Kita sudah tiba di kota London". Suara sang sopir yang bergema lewat &lt;em&gt;speaker&lt;/em&gt;, membuyarkan mimpiku pagi itu. Bos National Express yang kami tompangi dari Norwich, sedang melintasi bagian timur London. Kemarin di dekat sini, Bethnal Green, terjadi lagi ledakan. Akibatnya pagi ini, suasana London sedikit berbeda. Polisi dimana-mana. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan ini yang kentara. Jalanan macet, bus sesak, dan trotoar penuh. Memang sebagian jalur tube belum dibuka. Terbukti, meski menyeramkan sarana transportasi publik bernama tube banyak menolong London dari kemacetan. Syukur, kami tidak terlambat tiba di Kedutaan Belanda. Pagi ini, kami harus memasukkan paspor kesana, dan nanti sore mengambil lagi setelah visa ditempelkan. Ah, leganya akhirnya dapat visa meski cuma 6 hari saja. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Masih banyak waktu, sebelum shalat Jumat. Kami ada janji Jumatan dan makan siang dengan Mbak Mariati dan Gusman, kawan kami yang sekolah di London. Tak jauh dari Kedutaan Belanda, tegak menjulang &lt;strong&gt;Harrods&lt;/strong&gt;, pusat belanja milik Muhammad Al Fayed, "bapak mertua" almarhumah Putri Diana.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Agak tercekat, sewaktu satpam memintaku melepas ransel dan membawanya dengan menjinjing. Apa dia sangka aku teroris, dengan bahan peledak di punggung. Belakangan aku sadar, ini cara mereka menghindari pengunjung menyenggol barang. Barang yang sungguh-sungguh mahal. Aku melintasi gerai penjual parfum. Penjaganya, perempuan2 cantik jelita dengan dandanan mentereng, sigap menyemprot sana sini. Malang, aku tidak. Tampang dan gayaku barangkali jauh dari kesan "potential buyer". &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hematku, Harrods adalah sarang kemewahan. Ada tas 7000 Pound (120 juta), handuk 1000 Pound. Aih, pegimane rasanya mengelap tubuh dengan kain seharga 17 juta itu. Nikmat apa rasa mewah belaka. Harrods sadar betul akan "rasa mewah" ini. Maka, tas jinjing plastik, yang di pasar Senen ditempeli wajah Delon laku dijual 5000 perak, karena ditempeli logo Harrods melambung jadi 5 Pound (75 ribu). Kabarnya, banyak juga ibu-ibu pejabat yang acap memborong barang disini. Kabarnya lho. Andai benar, kita turut senang tho?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sama senangnya ketika aku lihat baju bermerk "Fendi" dan "Marni". Mungkin mereka penjahit dari Tasikmalaya yang sukses di negeri orang. Belakangan aku sadar, aku salah besar.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aura kemewahan juga menjalar ke toilet&lt;em&gt;. Luxury Washroom&lt;/em&gt;. Tetap saja isinya toilet, cuci tangan (meski yang ini ngucurin airnya pakai infra-red), lalu ada parfum. Selebihnya biasa. Boleh jadi "luxury" yang dimaksud, toilet ini bersebelahan sama gerai penjual "daleman", yang setelah didiskon masih 95 Pound. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Andai Mang Pi'i, penjaga kost-ku dulu di Cisitu, Bandung tau aku ke Harrods, pastilah ia akan bilang: "&lt;em&gt;Euleuh..euleuh.. belanja wae meni harot&lt;/em&gt;". Harrods Mang, &lt;em&gt;sanes harot&lt;/em&gt; (Bhs Sunda: &lt;em&gt;harot&lt;/em&gt;= kelewat semangat). &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112219908703599659?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112219908703599659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112219908703599659' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112219908703599659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112219908703599659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/harrods-meuni-harot.html' title='Harrods, meuni Harot'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112194192403333581</id><published>2005-07-18T03:31:00.000-07:00</published><updated>2005-07-21T03:35:58.746-07:00</updated><title type='text'>Puspa Indah Taman Hati</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 187px; HEIGHT: 151px" height="160" hspace="2" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSCI0188.jpg" width="200" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 188px; HEIGHT: 152px" height="160" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSCI0187.jpg" width="200" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ffcc33;"&gt;Eaton Park, Norwich&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ujung minggu yang indah. Matahari bersinar terik sempurna, ditingkahi hembusan sepoi angin. Dari balik jendela, aku dapati tetangga sedang berjemur di taman belakang. Hari cerah, dan asupan sop buntut tadi malam, menebalkan tekadku untuk naik sepeda. Eaton Park, taman besar di dekat kampus UEA pasti ramai. Seperti kata pepatah, sekali mendayung, dua tiga keinginan terpenuhi. Ya membakar kalori, ya melihat pemandangan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Benar saja. Umat Norwich yang hanya disentuh panas matahari 3 bulan dalam setahun, tak mau kehilangan kesempatan. Ada balap sepeda sirkuit mini, juga lomba perahu mini kendali jauh. Mulai dari yang main &lt;em&gt;criket&lt;/em&gt; hingga main &lt;em&gt;fresbee&lt;/em&gt;. Derit papan luncur berpadu dengan cicit ban sepeda yang ngesot. Jeritan anak-anak yang main perosotan, berlomba dengan raungan mobil kecil yang dipandu &lt;em&gt;remote control&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Banyak pula yang hanya berjemur. Kelompok ini memenuhi bagian pinggir. Ada kelompok keluarga, lengkap dengan penganan. Ada pula yang berduaan memadu kasih, seolah taman besar milik mereka berdua saja. Lima cewek, yang gagal aku kenali bahasanya entah Brazil, entah Portugal, entah Mexico berkejaran main &lt;em&gt;fresbee&lt;/em&gt; hanya berbikini. Jangan tanya mana fotonya. Ketika akan mengambil gambar, di layar muncul pesan "Disk Full". Ketika aku berusaha menghapus foto-foto untuk mencipta &lt;em&gt;space&lt;/em&gt;, mendadak &lt;em&gt;low batt&lt;/em&gt;. Nasiibbb..!!&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Taman dan musim summer adalah paduan menarik. Mungkin itu sebabnya banyak taman disini. Disamping kampus, malah ada &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/55"&gt;danau besar&lt;/a&gt; yang dibiarkan berlingkup hutan. Ini berbanding terbalik dengan jumlah mall, yang hanya satu buah saja. Apa nggak malu nih kota sama Depok, yang dalam usianya yang enam tahun saja, sudah berhasil mendirikan (seingatku) 5 pusat belanja besar, dengan beragam sebutan: plaza, mall, town square.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pembangunan mal dan taman di sebuah tempat, pastilah didasarkan pada hukum &lt;em&gt;supply and demand&lt;/em&gt;. Mungkin ada yang beranggapan ketenangan jiwa bisa diperoleh di alam indah. Bisa jadi banyak pula yang mengira ketenangan dihasilkan saat melihat barang mewah, walau tanpa membeli sekalipun. Makanya, ketika pemerintah gagal menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum dianggap sebagai hal wajar. Pun demikian dengan pengembang perumahan yang ingkar janji, tidak lantas masuk &lt;em&gt;black list&lt;/em&gt; pengembang yang tidak boleh membangun lagi. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku merenung, akankah aku menghabiskan akhir pekan di danau UI, atau Depok Town Square sepulang dari sini. Entahlah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112194192403333581?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112194192403333581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112194192403333581' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112194192403333581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112194192403333581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/puspa-indah-taman-hati.html' title='Puspa Indah Taman Hati'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112167516561338892</id><published>2005-07-14T01:25:00.000-07:00</published><updated>2005-07-18T01:33:09.666-07:00</updated><title type='text'>Berlayar ke Lembah Ilmu</title><content type='html'>&lt;i&gt;Bangunan tua, perahu, dan sepeda merupakan ciri khas kota Cambridge, Inggris. Ada pula toko buku, pedagang kue, dan kedai teh yang berusia lebih dari seabad&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="160" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/P1010082.jpg" width="213" align="left" /&gt;PERAHU kami menyelinap diantara puluhan perahu yang melayari sungai Cam. Sesekali sang pendayung berteriak mengingatkan, agar merapatkan kaki dan bahu, supaya tidak tersentuh badan perahu lain. Cambridge, dimusim panas ini, memang sedang menuai pelancong. Dan salah satu daya tariknya: berperahu membelah kota. Kota yang kecil. Juga sungai yang kecil. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sungai selebar delapan meter ini, dilingkupi oleh jembatan. Jembatan ini dijejali pengunjung, untuk berfoto dengan latar belakang perahu yang sedang melintas, atau say hello kepada sanak saudaranya yang sedang &lt;i&gt;punting&lt;/i&gt; (berlayar) di bawah sana. Salah satu jembatan yang ternama adalah Mathematical Bridge. Menurut hikayat, jembatan ini didirikan tahun 1749. Penyebutan nama matematika disini, menurut mitos yang beredar, karena pendisainnya adalah ilmuwan Isaac Newton, dengan perhitungan matematika yang rumit, sehingga tanpa pasak. Sebetulnya ini hanya mitos, karena Newton wafat 1727, 22 tahun sebelum jembatan berdiri. Namun, nama Mathematical Bridge tetap abadi hingga kini, termasuk jembatan kayunya. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nama Cambridge terdiri dari kata (sungai) Cam dan Bridge (jembatan). Sungai ini mengalir mengelilingi sepertiga kota. Keindahan gedung-gedung tua itu dapat disesap dengan berperahu (punting) di sungai Cam, yang mengalir persis di belakang beberapa college. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Lepas berkecipak di sungai, kami pun berjalan memasuki pusat kota. Gedung sisa abad pertengahan yang tertata rapi, yang dilingkupi halaman dengan rerumputan yang terpangkas apik, menyambut kehadiran kami. Bangunan tua memang salah satu jualan kota ini. Gedung-gedung tua yang umumnya sekolah itu, masuk kategori “tua-tua keladi”. Sejumlah ilmuwan, seperti Isaac Newton, dan pemenang Nobel macam Archer Martin dan Max Perutz datang dari sini. Universitas Cambridge menjadi penyumbang terbesar peraih Nobel di seluruh dunia, yakni 80 orang. Sehingga kota Cambridge juga memproklamirkan diri sebagai pusat inovasi dan teknologi. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 182px; HEIGHT: 147px" height="128" hspace="2" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSC01285.jpg" width="170" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 179px; HEIGHT: 148px" height="128" hspace="2" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/P1010040.jpg" width="170" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ffcc33;"&gt;King's College, Cambridge&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bayangkan, di dalam kota Cambridge yang seluas 40 kilometer persegi, terdapat puluhan college. 31 diantaranya merupakan bagian dari Universitas Cambridge. Kami menapaki jalan St John Street yang menyambung dengan Trinity Street dan King’s Parade, tepat di pusat kota Cambridge. Disini berdiri tiga college ternama, yakni King’s College (1441), Trinity College (1546) dan St John College (1511). Puluhan orang setiap akhir pekan mendatangi tempat ini. Untuk sekedar duduk di pelataran, mengagumi arsitektur abad lampau, hingga belanja buku dan merchandise kampus. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ini mengingatkanku akan Bandung. Setiap akhir pekan, jalan Ganesha, di depan kampus ITB selalu ramai. Sayangnya, mereka tak datang untuk menikmati keindahan kampus. Tapi untuk naik kuda dan melihat kebun binatang yang kebetulan bersisian dengan kampus. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Cambridge memiliki sejarah panjang dalam ilmu pengetahuan. Ia merupakan kota kedua di Inggris, yang memiliki universitas. Setelah kampus yang pertama berdiri di Oxford tahun 1096, ditutup akibat pertikaian dengan penduduk lokal tahun 1209. Universitas Oxford pun dipindah sementara ke Cambridge. Lima tahun kemudian, orang-orang Oxford pulang dan mulailah warga Cambridge mendirikan college. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;College pertama yang didirikan adalah St Peter House di tahun 1284. Meskipun dibawah Universitas Cambridge, college-college ini independen dalam hal pemilikan dan pendanaan. Trinity College yang didirikan tahun 1546, merupakan institusi terkaya nomor tiga di Inggris Raya, setelah Royal Family dan Bank of England. Asetnya mencapai 310 juta Pound dan pemasukan tahunan 19 Juta Pound. College maha kaya lainnya adalah St John, dengan aset 91 juta Pound dan pemasukan 5,9 Juta Pound. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Meskipun kaya raya, college ini tetap sadar wisata. Memasuki wilayah sekolah, pengunjung dipungut bayaran 2 hingga 6 pound (sekitar 35 ribu hingga 100 ribu rupiah). Pengunjung rela membayar untuk melihat keindahan gedung, dan pada hari-hari tertentu mendengarkan choral service di chapel. College adalah tempat belajar dan tinggal para rahib, sehingga, hampir semua college mempunyai chapel. Paduan suara terbaik dimiliki King’s College. Karena semua “penyanyinya” harus laki-laki, maka anak-anak dihadirkan untuk mengisi suara sopran dan kontratenor untuk alto. Sekolah-sekolah ini juga memungut uang kuliah yang sangat besar. Hebatnya, meski membayar uang sekolah yang mahal, para mahasiswa di kota Cambridge jarang menggunakan mobil. Umumnya mereka berjalan kaki atau bersepeda. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saking tuanya Universitas Cambridge, mereka sudah menyumbang banyak orang terkenal, dengan pelbagai profesi. Mulai dari penemu, seperti Christopher Cockerel yang menemukan hovercraft, hingga fisikawan Stephen Hawkings. Mulai dari Perdana Menteri Inggris tahun 1768, Augustus Henry Fitzroy, hingga pencabik bas grup musik rock era 80-an, Radio Head, Colin Charles Greenwood. Bahkan warga Inggris percaya, mereka lebih tua dalam keilmuan dibanding Amerika. Sebab, John Harvard, pendiri Universitas Harvard di Boston, Mashacusette, Amerika, dulu bersekolah di Emmanuel College. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kota Cambridge masih menyimpan sejuta pesona masa lalu. Sebagai kota ilmu pengetahuan, jangan lewatkan berbelanja buku. Ada beberapa toko buku besar yang ada di sekitar trio college, King’s, Trinity, dan St John. Yakni toko buku University of Cambridge, Heffer, dan Borders. Di sebuah gang di seberang King’s College, ada toko buku yang sudah berumur seabad lebih. Sejak didirikan tahun 1896, mereka tak mau beranjak dari lokasi semula. Demi sebuah masa lalu. Masa lalu pula yang membuat toko kue Fitzbilles, yang diririkan 1922, tetap ramai. Ada juga The Orchard, toko penganan dan minum teh, tempat pemikir Cambridge, seperti John Stuart Mill (ekonom dan filosof 1806-1873) dan John Maynard Keynes (ekonom yang menjadi penasehat pemerintah Inggris pada perang dunia I) dulu sering minum teh sore-sore. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Layaknya tempat berjalan-jalan, Cambridge menyediakan toko souvenir. Beberapa toko menjual merchandise Universitas Cambridge, seperti t-shirt, topi, ransel, mug dengan kualitas bagus. Mau yang kualitas kelas dua, tapi bukan bajakan, ada di pasar di seberang Kings College. Disini pernah ada orang Indonesia berjualan mie goreng. Orang memanggilnya, Tante Lena. Ia terkenal di kalangan mahasiswa Indonesia dan negara-negara Asia. Sayang, sejak akhir tahun, ia berhenti berdagang. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Malam menjelang, toko mulai menutup pintu. Sejenak aku, &lt;a href="http://arisemut.blogspot.com"&gt;istri&lt;/a&gt;, dan empat tamu kami (Gusman dan Mbak Mariati dari London, bu guru Siska dari Brighton, dan &lt;a href="http://irmawan.multiply.com"&gt;Yudi&lt;/a&gt; dari Bradford) berehat di lapangan rumput. Lalu, kami tinggalkan Cambridge dengan sejuta kenangan. Mitos, masa lalu, dan usia tak membuat kota ini kehilangan pesona. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112167516561338892?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112167516561338892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112167516561338892' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112167516561338892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112167516561338892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/berlayar-ke-lembah-ilmu.html' title='Berlayar ke Lembah Ilmu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112111253897671628</id><published>2005-07-11T13:08:00.000-07:00</published><updated>2005-07-12T15:36:21.690-07:00</updated><title type='text'>Kesaksian dari Edgware Road</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img alt="London Attacks" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/edgware.bmp" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;London bak sebuah ruang gawat darurat raksasa setelah rangkaian bom meledak. Kontributor &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;TEMPO&lt;/span&gt;, &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Abdul Latief Siregar &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;menuliskan pengalamannya dari salah satu titik ledak: &lt;strong&gt;Stasiun Edgware Road. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kedutaan Belanda adalah tujuan saya pada Kamis pagi itu. Saya harus mengurus visa di kantor kedutaan itu, yang terletak di Hyde Park di pusat kota. Jadwal pertemuan saya dengan petugas visa pukul 10.30 waktu setempat. Ada dua pilihan menuju Hyde Park: bus atau tube (kereta bawah tanah)—kalau ingin lebih cepat. Saya melirik arloji. Waktu masih cukup. Pilihan saya jatuh pada bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru berjalan sepuluh menit, bus yang saya tumpangi berhenti di lampu merah di kawasan Maida Vale. Aneh. Lampu merah sudah berkali-kali berganti hijau tapi bus tak kunjung beringsut. Beberapa mobil pribadi mulai maju-mundur mencari celah berputar arah. Suara klakson, yang biasanya jarang terdengar di jalanan London, mulai bersahutan. Aha, akhirnya saya bertemu juga dengan kemacetan di Inggris, negara yang amat menjunjung tinggi aturan lalu-lintas. Andai ada "Pak Ogah" di lampu merah ini, terbayar lunas sudah kerinduan akan kemacetan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Penumpang mulai resah. Bus-bus di London selalu tepat waktu sehingga orang tak terbiasa menyisakan tempo untuk jaga-jaga. Telepon genggam mulai berbunyi kian kemari, bertanya kabar atau melaporkan bakal terlambat. Beberapa penumpang nekat turun, menempuh gerimis yang mulai jatuh. Setelah 20 menit tertahan, saya memutuskan bergabung dengan pejalan kaki lainnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Niat saya berjalan melewati titik kemacetan, lalu cari bus lain atau pindah ke tube. Mata saya awas mencari stasiun terdekat. Hati saya lega melihat plang Stasiun Edgware Road. Saya mempercepat langkah. Astaga! Alih-alih lowong, saya malah terjebak dalam barisan manusia yang memadati jalan tersebut. Rupanya, ada police line seratus meter menjelang Edgware Road, membuat arus pejalan kaki tertahan. Polisi ada di mana-mana. Mobil polisi, ambulans, pemadam kebakaran berjejer seperti sarden dalam kaleng. Situasi kian mencekam. Sirene ambulans dan mobil pemadam kebakaran meraung-raung tanpa henti. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Orang-orang saling bertanya. Ada yang mendekati polisi. Tapi Pak Polisi memilih tutup mulut dan hanya sigap menghalangi massa yang mencoba menyuruk-nyuruk di dekat tali pembatas. Saya ikut-ikutan mencondongkan tubuh ke depan, tapi segera terdorong oleh polisi yang melebarkan lokasi darurat. Ambulans kian ramai berseliweran. Saya mencuri dengar perbincangan seorang ibu yang baru saja menelepon. Katanya, ada ledakan di dalam stasiun, banyak yang terluka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/bom2.bmp" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tegang oleh keadaan yang tak pasti, saya menelepon seorang teman di Norwich—kota tempat tinggal saya, sekitar dua jam dengan kereta dari London—memintanya membuka situs BBC. Teman itu, yang baru saja terjaga, berteriak di telepon: "Ada ledakan di tube, belasan orang tewas." Masya Allah, betapa dekatnya saya dengan "kematian" itu. Andai tadi saya memutuskan naik tube, entah apa yang terjadi. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kepanikan menjalar. Teman-teman di Norwich mulai menelepon dan mengirim SMS. Yang paling panik tentu teman kami yang tinggal di flat kampus University College London, yang cuma berjarak beberapa meter dari Russel Square, lokasi ledakan lainnya. Kami ada janji kesana siang itu.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Entah kenapa, hari itu banyak blank spot area di London. Ada yang bilang polisi sengaja memblok sinyal di beberapa area untuk menghindari serangan berkelanjutan. Polisi menduga bom diledakkan dari jarak jauh dengan pemantik sinyal telepon. Tapi, yang lebih masuk akal, semua orang saling bertelepon sehingga jalur menjadi overload. Gagal sambung ini membuat teman-teman yang berusaha mencari kabar kian panik. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Beberapa waktu berlalu, saya meninggalkan Edgware Station. Lalu-lintas menyepi. Sebaliknya, pejalan kaki kian bertambah. Penumpang kereta yang gagal bepergian menyembul dari bawah tanah. Hujan menderas bercampur air mata dan darah. London berduka dengan sempurna. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Polisi memandu orang yang kebingungan mencari jalan pintas. Kerapian, kecepatan, dan ketenangan polisi mengatur keadaan membuat saya sedikit lebih tenang. Setelah berjalan kaki dua jam lebih, memutari dua taman besar, Hyde Park dan Kensington Garden, saya tiba di Kedutaan Belanda. Sudah amat terlambat, namun pegawai di sana bisa memahami kondisi saya. Bahkan ia berpesan agar hati-hati. "Mereka baru saja meledakkan bus tingkat," ujarnya sewaktu saya bilang akan naik bus. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Staf Kedutaan Belanda itu tampaknya menjadi ekstrahati-hati oleh keadaan baru yang melanda London. Saya hanya diberi waktu kunjungan enam hari, padahal dua kawan saya sebelum ini mendapat waktu sebulan—dengan syarat-syarat yang sama. Saya mencoba menghiba. Petugasnya hanya angkat bahu. "Pada saat-saat begini, kita harus ketat," ujarnya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dengan hati gulana, saya bergabung dengan orang-orang yang tengah antre bus di halte di seberang kedutaan. Tiba-tiba sebuah mobil polisi melintangi jalan. Beberapa polisi bergegas memasang police line. Astaga! Padahal di sini tak ada stasiun kereta bawah tanah. Polisi yang ditanya berkukuh tak menjawab. Pokoknya jangan melintas. Seorang pegawai, yang ngotot ia hanya keluar sebentar dan sekarang ingin masuk lagi ke kantornya, mendapat penjelasan lokasi ini diancam bom. Di kawasan Hyde Park Gate, tegak sejumlah kantor kedutaan. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya kembali menyusuri taman. Hawa dingin membuat tubuh ingin membuang air kecil. Saya menuju toilet bawah tanah di dekat situ. Terkunci rapat. Padahal sejam lalu saya singgah di sini dalam perjalanan ke Kedutaan Belanda. Polisi bilang, ini demi alasan keamanan. Saya lalu melompat ke bus yang tengah memutar arah. "Saya hanya sampai halte depan, kami diminta pulang. Semua bus berhenti operasi," kata si sopir. Di Hyde Park Corner, pojokan perbatasan Hyde Park dan Green Park, saya beristirahat sejenak. Di sana tampak sejumlah turis malang yang kebingungan membaca peta. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perut mulai keroncongan. Saya putuskan untuk makan di China Town sembari berharap toilet di Trafalgar Square masih buka. Menempuh hujan menyusuri Green Park, saya belum juga menemukan mujur: WC di taman yang biasanya padat oleh turis ini ikut-ikutan tutup. Alasannya sama: keamanan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Koran-koran petang mulai mengabarkan serangan pada Kamis pagi itu. Evening Standard bersampul hitam muram mencetak judul "Bomb on Tube". Kontras sekali dengan berita koran-koran pagi yang mengabarkan pesta besar menyambut kemenangan London sebagai tuan rumah Olimpiade 2012. Di salah satu sub-judul terbaca, Al-Qaidah mengklaim sebagai pelaku pengeboman. Saya terhenyak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nama saya yang berbau Timur Tengah bisa menjadi urusan bila tiba-tiba ada pemeriksaan. Belum lagi kalau muncul sentimen anti-Islam. Tapi tampaknya orang-orang tak terlalu peduli dengan imbas dan latar belakang politik di balik serangan ini. Perempuan berjilbab santai saja melintas. Tak jauh dari Edgware Station, kawasan yang banyak dihuni toko-toko bernama Arab, macam Al-Mustafa, Abu Ali Cafe, Beirut, tetap buka. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sehabis makan di China Town, --kawasan yang biasanya ramai macam di Glodok, Jakarta, itu sepi sekali hari itu--, saya kembali ke Trafalgar Square. . Di Trafalgar Square, suasana tegang mulai mencair. Turis bercampur dengan para pegawai kantor yang mengaso kelelahan berjalan kaki. Tube masih ditutup total, tapi sebagian jalur bus mulai dibuka. Trafalgar Square, yang mestinya ramai di musim panas ini, hanya terisi sebagian kecil.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari sudah beranjak petang, saya harus kembali ke Norwich. Sambil menantikan bus, saya duduk-duduk di stasiun bus luar kota, Victoria. Terlihat deretan penumpang yang tak terangkut sejak siang. Ada seorang nenek yang sudah menunggu sejak pukul sebelas siang tadi. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bus pengganti akhirnya tiba—sebuah bus dalam kota yang jelas-jelas tidak nyaman untuk perjalanan jauh. Tapi saya bersorak girang akhirnya bisa meninggalkan London. Saya terkenang ucapan penyiar televisi yang melakukan siaran dari Trafalgar Square: "Kemarin, saya berdiri di lapangan ini bergembira bersama ribuan orang yang merayakan kemenangan London sebagai penyelenggara Olimpiade 2012. Hari ini, saya harus menyiarkan berita duka." Gembira dan duka memang cepat sekali bersilih.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112111253897671628?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112111253897671628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112111253897671628' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112111253897671628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112111253897671628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/kesaksian-dari-edgware-road_11.html' title='Kesaksian dari Edgware Road'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112037970662107861</id><published>2005-07-02T01:30:00.000-07:00</published><updated>2005-07-11T13:10:42.616-07:00</updated><title type='text'>Delapan Penjuru Uang</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 364px; HEIGHT: 153px" height="130" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/4.jpg" width="423" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Petang merembang menjelang malam. Saat jam besar di menara Big Ben menunjuk angka 9, rocker gaek, Sting menghentak lapangan luas sarat manusia, &lt;em&gt;Hyde Park&lt;/em&gt;. Dua ratusan ribu anak manusia, yang memadati lapangan di tengah kota London sejak pagi, berjingkrak seolah tiada letih. Begitupun aku, yang sejak usai makan siang sudah duduk di depan tipi. Bukan karena terjangkit &lt;em&gt;post cleaner syndrome&lt;/em&gt;. Tapi karena siaran langsung &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://live8live.com"&gt;Live 8&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Juga final tenis putri Wimbledon. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Sting membuka dengan &lt;em&gt;"Message in the bottle".&lt;/em&gt; Layar besar dibelakangnya diisi gambar delapan kepala negara pemilik uang (G-8), serta teks &lt;strong&gt;"8 Men in 1 Room can change the World&lt;/strong&gt;". Itulah tema besar acara ini, mengentaskan kemiskinan di Afrika alias &lt;em&gt;Make Poverty History.&lt;/em&gt; Selain di London, acara serupa digeber di kota-kota masing-masing negara G-8 (Roma, Moskow, Paris, Tokyo, Kanada, Philadelpia, Berlin) serta Johannesburg, Afrika Selatan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Meriah. Acara yang digagas Bob Geldof ini diisi penampil lintas benua dan lintas usia. Mulai dari pujaan ABG (Anak Baru Gede) macam Travis, Mariah Carey, Robby William sampai kenangan para ABG (Angkatan Babe Gue) kayak Pink Floyd, The Who, dan Paul McCartney. Geldof berpengalaman mengadakan acara serupa 20 tahun silam. Dan sukses. Malam ini, ia memberi kejutan dengan memutar video usang tentang kelaparan di Afrika. Pada akhir tayangan, nampak seorang anak yang kesusahan menanggung lapar. Saat itulah ia menggandeng seorang gadis belia usia 20-an. Ia adalah anak yang menangis karena lapar tadi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Katanya, "sumbangan untuk Afrika bisa menghambat kematian 300 ribu anak". Tapi Geldof tak mau negara maju hanya memberi ikan. Ia meminta kail. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;From charity to justice&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Hanya dengan begini kemiskinan bisa menjadi sejarah yang perlu dikenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Hanya untuk Afrika. Padahal di Indonesia juga ada busung lapar, lumpuh layu, polio, juga kematian dalam gerobak. Mungkin Geldof tau belaka, bahwa Jakarta, jalanannya adalah &lt;em&gt;show room&lt;/em&gt; mobil besar, tempat dimana penjualan rumah meningkat pesat, dan pusat belanja selalu padat. Untuk Afrika butuh kesepakatan delapan kepala negara. Untuk Indonesia, kita masih bertumpu pada figur SBY yang hari ini masuk dalam urutan pertama 25 pemimpin Asia paling berpengaruh, versi majalah &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.businessweek.com/magazine/content/05_28/b3942402.htm"&gt;Business Week&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Ia dianggap berprestasi menanggulangi krisis multidimensional, seperti bencana alama, korupsi, terorisme, geliat ekonomi yang rendah, dan pengangguran tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tepat pukul 12 malam, Paul McCartney mengajak semua penampil naik panggung. Mereka berteriak, &lt;em&gt;Thank You Hyde Park&lt;/em&gt;. Mungkin tak lama lagi, kita juga bisa berseru bersama, &lt;em&gt;Haturnuhun euy,&lt;/em&gt; Cikeas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112037970662107861?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112037970662107861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112037970662107861' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112037970662107861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112037970662107861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/07/delapan-penjuru-uang.html' title='Delapan Penjuru Uang'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-112004223574019686</id><published>2005-06-27T03:40:00.000-07:00</published><updated>2005-06-29T03:50:35.746-07:00</updated><title type='text'>Berjalan Sampai ke Batas</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 220px; HEIGHT: 173px" height="170" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/kerja.jpg" width="200" align="left" /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Matahari menyorot tajam ke kamar tidur. Aku tersentak, bangun tergesa. Melirik jam dinding, hampir pukul 7. Masya Allah, telat deh. Kenapa alarm gak bunyi ya. Apa yang salah. Oho... tak ada yang salah. Memang biasanya, alarm aku &lt;em&gt;switch-off&lt;/em&gt; Jumat petang, dan &lt;em&gt;on&lt;/em&gt; lagi pada minggu malam. Tapi tadi malam tidak. Sebab, pagi ini aku tak mesti berangkat pagi. Sejak, senin ini, 27 Juni, aku pensiun dari tempat kerja, &lt;strong&gt;&lt;?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" /&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:placename&gt;Norfolk&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placename&gt;Norwich&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype&gt;University&lt;/st1:placetype&gt; &lt;st1:placetype&gt;Hospital&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;font-size:100%;"&gt;Melewati pergulatan panjang renungan, akhirnya aku memutuskan berhenti. Bukan karena kerja yang berat. Sebagai anak petani, aku mahfum dengan adagium kaum pekerja: &lt;strong&gt;"tiada mengetam tanpa menanam&lt;/strong&gt;". Meskipun jujur, bekerja 8 jam sehari, tanpa tantangan, monoton, membuatku bosan. Akibatnya, sebagai pekerja, aku selalu ingin waktu berlalu. Sementara sebagai orang yang sedang berlibur galibnya aku harus bersenandung kidung "&lt;em&gt;kemesraan ini, janganlah cepat berlalu&lt;/em&gt;". Kontradiksi inilah yang mendorongku keluar kerja 2,5 bulan sebelum pulang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jumat kemarin, aku tinggalkan rumah sakit dengan segenap rasa. Gembira, karena aku tak harus datang pagi-pagi lagi, menyapu dan berbagai aktivitas yang tak pernah terbayang akan pernah aku lakoni. Sekaligus sedih. Banyak kenangan disini. Mulai dari yang getir, mulai bekerja jam 6 pagi dimusim &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;winter&lt;/em&gt;, dimana matahari terbit pukul 8. Artinya aku berangkat dari rumah 3 jam sebelum matahari terbit. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terkadang menunggu bus dibawah siraman salju yang melinukan sumsum. Lalu mengepel tiada henti, karena setiap orang masuk menyisakan air yang membasahi lantai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;font-size:100%;"&gt;Musim memiliki kenangan tersendiri buatku. Sebetulnya, &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt; waktu yang paling indah untuk bekerja. Berangkat ditengah siraman matahari yang berbinar. Bunga mekar dimana-mana, termasuk "mekar-mekar" lain yang tiada sempurna tertutupi oleh minimnya pakaian musim panas. Indah sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rumah sakit juga memberiku pelajaran berharga, bagaimana bekerja di level paling jelata tanpa dipandang sebelah mata. Pun, ini adalah sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;puasa bathin, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;merasakan penderitaan orang lain dengan melakoni "penderitaan" itu secara langsung. Aku berdoa, kelak aku akan lebih bisa menghargai semua orang tanpa melihat strata sosialnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari ini, semuanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sudah berakhir. Delapan bulan lalu, aku awali menjadi &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/14"&gt;TKI&lt;/a&gt; dengan segenap perasaan. Kini, aku akhiri pula dengan segenap perasaan. Perjalanan singkat ini, adalah sesuatu yang enak dikenang, tak enak diulang&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-112004223574019686?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/112004223574019686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=112004223574019686' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112004223574019686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/112004223574019686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/06/berjalan-sampai-ke-batas.html' title='Berjalan Sampai ke Batas'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111919313234789859</id><published>2005-06-19T07:57:00.000-07:00</published><updated>2005-06-20T08:17:26.070-07:00</updated><title type='text'>Aku Mimpi Jadi Walikota</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 326px; HEIGHT: 358px" height="300" alt="latief multiply" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/sapu.jpg" width="183" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dering alarm mengagetkanku pagi itu. Sekejap kemudian, aku bangun dan segera shalat subuh. Istriku sudah tak ada. Ia telah pergi ke salon, yang sengaja dipesan buka pagi buta. Sebab hari ini hari istimewa, aku dilantik menjadi walikota Depok. Aku menjadi walikota pertama, yang dipilih secara langsung. Tak heran, pelantikan pun berlangsung meriah. Selepas bersalaman dengan Gubernur Jawa Barat, diluar antrian pegawai balaikota sudah mengular. Sebagian asyik di sawung-sawung makanan, dan sebagian lagi berjoget ditemani penyanyi dangdut. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tak tega aku mengadakan rapat ditengah kebahagiaan ini. Tapi besok aku bertekad, apapun harus ada rapat perdana. Akibatnya, tetamu yang ingin mengucap selamat terdampar di ruang tamu. Tak apa, semoga mereka mengerti, aku sedang menjalankan amanat rakyat. Target pertamaku, adalah masalah yang ada di depan mata rakyat sehari-hari, yakni kemacetan. Kepala Dinas PU lalu mengusulkan penambahan dan pelebaran jalan. Aku tak setuju. Aku lebih ingin penertiban angkot, penempatan rambu, serta pengaktifan lampu pengatur. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Entah aku kelewat mengejar, Kepala Dinas Perhubungan merasa tercecar soal izin angkot dan penambahan jalur yang terus dibuka. Rapat ini juga menyertakan Kapolres lewat sambungan telepon. Kepada Kapolres, aku meminta pengetatan kualifikasi pemberian SIM, sekaligus mengenakan biaya normal, sesuai buku. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hari ketiga, aku mendapat slentingan, dimusuhi tiga orang, Kepala Dishub, Kepala PU, dan Kapolres. Mungkin mereka kehilangan “ladang” yang selama ini menjadi lumbung kemewahan. Tak apa. Aku panggil Kepala Dishub dan Kepala Polisi Pamongpraja. Hari ini aku akan menertibkan angkot. Terminal bayangan hubar habir, terminal tak boleh ngetem, angkot yang tak sampai tujuan cabut izin. Sopir, calo, pegawai terminal pun memandang tak sedap ke arahku. Habis soal angkutan, aku mulai merambah pedagang kaki lima yang seenaknya mengambil pedestrian jatah pejalan kaki. Sepekan berdinas, aku dapati aku telah dimusuhi kolega, mitra, dan rakyat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 151px; HEIGHT: 151px" height="300" alt="latief multiply" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/bbb.jpg" width="183" align="left" /&gt;Pekan kedua, aku berangkat kantor dengan beban dipundak. Orang-orang yang berdiri di pinggi jalan, kulihat seperti mencibir ke arahku. Padahal bisa saja mereka tak memperhatikanku, atau sedang menunggu bis. Entah kenapa, aku merasa mereka adalah sopir, pedagang, calo yang mendadak menganggur karena penertiban yang aku lakukan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Suara azan membangunkanku. Menggeliat, aku menatap langit-langit yang putih. Masya Allah, semua ruangan ini putih. Lamat-lamat aku mendengar suara istriku mendaras doa-doa. Jarum suntik ditanganku menusuk, saat aku mencoba bergerak. Aku mengumpul ingatan, tadi siang aku jatuh saat mengambil wudu’. Kucoba membuka mata, tak kuasa. Aku merasa janjiku akan segera tiba. Seekor makhluk berwajah aneh, dengan seringai tajam, serta tangan berkuku panjang mencekikku. Ingin menjerit, kelu. Ingin berontak, kaku. Aku komat kamit melafaz doa. Sebelum tangan itu mencengkeram lebih erat, dan kuku menghunjam lebih dalam, tiba-tiba &lt;em&gt;kriiiinnnggggg&lt;/em&gt;...... Aku terlonjak. Alarm dari henpon membangunkanku. Keringat berbulir membasahi tubuhku. Masih dengan nafas tersengal, kuraih gelas. Seteguk air menormalkan denyut jantungku. &lt;p align="justify"&gt;Pagi itu, di bis dalam perjalanan ke rumah sakit, aku tersenyum mengenang mimpi itu. Mungkin ini sasmita, bahwa aku tak layak jadi pejabat. Jadi pejabat hanya untuk orang yang berurat baja, tulang besi, dan otot kawat. Dalam hati aku ngunandika, begini nih, kalau tukang sapu bermimpi jadi walikota. Ya stroke.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;ilustrasi: &lt;a href="http://seblat.multiply.com"&gt;seblat&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111919313234789859?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111919313234789859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111919313234789859' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111919313234789859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111919313234789859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/06/aku-mimpi-jadi-walikota.html' title='Aku Mimpi Jadi Walikota'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111825172865504928</id><published>2005-06-08T10:26:00.000-07:00</published><updated>2005-06-11T04:19:51.263-07:00</updated><title type='text'>York ya, bukan Yogya</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/18"&gt;&lt;img alt="Foto lain klik disini" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/1.jpg" align="left" /&gt;&lt;/a&gt;Belum ke Inggris, kalau belum ke York. Begitu bunyi ujar-ujar bernada promosi. Maka, siang ini pun kami telah “sempurna” berada di Inggris, setelah menjejak jembatan Lendal yang melingkupi sungai Ouse, yang membelah kota York. “Belum ke York, kalau belum melihat Clifford Tower”, kata Bang Jamal, anak Langkat yang sekolah di York. Maka aku pun segera berlari menapaki tangga menuju menara berada, agar sempurna bin komplit berada di Inggris.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari atas menara intai jaman baheula ini, kulepas pandang menyapu kota York. Perahu warna warni melarung di sungai Ouse, tembok melingkari sebagian kota, serta menara York Minster yang menjulang menggapai angkasa. Apa hebatnya menara ini? Ingatanku justru melayang ke benteng Port Rotterdam di Makassar. Disana aku pernah berdiri di &lt;b&gt;bekas&lt;/b&gt; menara intai yang menghadap ke pantai losari. Dikejauhan perahu berseliweran. Sementara di jalan bersisian dengan pantai, tenda penjaja es kelapa muda menyemarak suasana. Sayang, menara itu kini betul-betul bekas.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/18"&gt;&lt;img style="WIDTH: 117px; HEIGHT: 155px" height="160" alt="Foto lain klik disini" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/foto.jpg" width="120" align="left" /&gt;&lt;/a&gt;Masuk ke dalam, ada Arupalakka dan Hasanuddin berada dalam kepengapan. Debu menempel di kaca tempat penyimpanan berbagai macam senjata. Tumpahan coca cola di lantai, menambah gulita sejarah karena tempat menyimpan kisah heroik ini semakin tak diminati. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sementara di &lt;i&gt;city center&lt;/i&gt; York, sebuah toko cenderamata menjual kampak seharga ratusan Pound. Pun miniatur prajurit dengan pakaian perang dan senjata masa lalu, yang terbuat dari perak. Tak seindah perak produksi Yogya, tentu. Ah, bicara Yogya, kini kota gudeg itu tak lagi seindah lagu Kla Project. Kata seorang teman, apa bedanya Yogya dengan Tangerang. Sungguh perumpamaan yang kurang ajar. Tapi apa mau dikata. Yogya yang memiliki segalanya, budaya, bangunan tua, makanan khas, keramahan, entah kenapa tetap merasa kurang pede bila tak punya mall. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kita punya segalanya. Bila terlambat merawat, alamat gawat. Bisa-bisa anak cucu mengira benteng Takeshi-lah bentuk peperangan merebut kemerdekaan bangsa ini.&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;Gambar asyik, klik &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/18"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;strong&gt;aje&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111825172865504928?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111825172865504928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111825172865504928' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111825172865504928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111825172865504928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/06/york-ya-bukan-yogya.html' title='York ya, bukan Yogya'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111825149989660303</id><published>2005-06-06T10:22:00.000-07:00</published><updated>2005-06-08T10:24:59.903-07:00</updated><title type='text'>Dari Bradford hingga Old Trafford</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 151px; HEIGHT: 183px" height="200" alt="”Manchester”" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSC00405.jpg" width="150" align="left" /&gt;Keangkuhan menyambutku di Manchester. Lelaki tua di depan balaikota itu mendongak sambil menunjuk. Tak satu. Ada empat patung di halaman balaikota berpolah serupa, cara berdiri yang angkuh. Berjalan lebih jauh, prasangka itu perlahan menipis. Berbeda dengan Bradford dan Leeds, Manchester lebih modern. Tapi jualannya sama: gedung tua, gereja, balaikota, patung, alun-alun, dan tentu: kebersihan. Kebersihan dan keteraturan perlu dimunculkan, sebab kecuali itu, semua elemen ada di Bandung.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karena sepakbola adalah agama kedua bagi rakyat Inggris, maka &lt;b&gt;Old Trafford&lt;/b&gt; pun menjadi kiblat yang wajib disambangi. Trem yang menghela dua gerbong, mengangkut kami ke kota di pinggiran kota Manchester. Kota ini berdiri sendiri. Seharusnya, kesebelasan ini bernama Old Trafford United. Tapi UI Jakarta pun ada di Depok ya. Beberapa spanduk penolakan kepada Malcolm Glazer, saudagar Amerika yang akan membeli MU, masih terpasang di beberapa tempat. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 182px; HEIGHT: 136px" height="150" alt="Old Trafford" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSC00417.jpg" width="200" align="left" /&gt;Sayang hari itu stadion ditutup, sehingga keinginan untuk duduk di bangku Sir Alex Ferguson batal. Mau beli cenderamata juga ikutan batal. Bukan karena toko tutup, tapi harga yang melambung ke awan. Celana training yang sempat aku pegang-pegang dibandrol 30 Pound (Rp 500 ribu). Begitu mau dicoba, &lt;i&gt;lhadalah&lt;/i&gt;, made in Indonesia. Jangan-jangan Rancaekek.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perlancongan belum sah, bila tak reuni dengan rekan Indonesia. Kebetulan Djati, teman Chevening-nya Ari sedang berhajat, anaknya ulang tahun. Meski tinggal di bilangan &lt;i&gt;curry mile&lt;/i&gt;, sebutan untuk menandai kawasan tempat banyak restoran Pakistan yang menguapkan bau kari berada, keluarga Djati menyajikan ayam bakar bumbu kuning rasa Indonesia. Makanan, serta tingkah si &lt;i&gt;marvelous&lt;/i&gt; Marva yang menggemaskan, semakin memupus keangkuhan kota Manchester.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Mo liat foto, klik &lt;/em&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/21"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111825149989660303?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111825149989660303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111825149989660303' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111825149989660303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111825149989660303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/06/dari-bradford-hingga-old-trafford.html' title='Dari Bradford hingga Old Trafford'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111791246848559371</id><published>2005-06-03T12:12:00.000-07:00</published><updated>2005-06-04T12:14:28.493-07:00</updated><title type='text'>Yorkshire bikin Berdesir</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="150" alt="Leeds, UK" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/DSCI0208.jpg" width="200" align="left" /&gt;Pagi yang benderang. Kusesap kuah sop buntut nyaris tersedak. Kami tak bergegas, karena Mbak Mariati baru akan tiba di Leeds dari London, jam 1. Berjalan kami ke stasiun selama setengah jam. Mereguk sinar mentari ditengah angin yang berdesir. Leeds dan Bradford, kota bertetangga dibawah atap &lt;em&gt;county&lt;/em&gt; West Yorkshire. Yudi, sang &lt;em&gt;guide&lt;/em&gt;, mengajukan 3 usul: naik KA 25 menit, coach 30 menit, atau biskota yang 40 menit dan 1 jam. Ongkosnya beragam. Paling murah adalah bis kota, &lt;em&gt;one day ticket&lt;/em&gt; 2,8 Pound, bisa naik bis kemana saja di Bradford dan Leeds, sampai muntah. Kita pilih yang 1 jam, sebab melewati daerah pinggiran &lt;em&gt;(countryside)&lt;/em&gt; kedua kota ini. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bis bertingkat keluar dari stasiun yang tak ada calonya dengan perlahan. Melaju ke pinggiran kota, jalan berkelok, ada sungai, lengkap dengan rumah-rumah tertata rapi (tapi seragam). Aku ingat perjalanan dari terminal Depok menuju Cimanggis. Keluar terminal, melewati balaikota, ada sungai dengan jembatan yang selalu macet. Begitu pula kalau ke Sawangan. Jalan berkelok, sawah, kolam, lengkap dengan penjual duren dipinggir jalan. Aih, apa sih yang mereka punya tidak kita punyai. Jawabnya pendek: &lt;strong&gt;kebersihan dan keteraturan. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="150" alt="Leeds, UK" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/DSCI0211.jpg" width="200" align="left" /&gt;Dulu, aku selalu bangga bila antara satu kota dengan kota lain menyambung. Pemerataan pembangunan, kata Bapak Pembangunan. Ternyata akan sangat indah, jika antara Pasar Minggu dengan Depok terputus, antara Depok dengan Sawangan terpisah, antara Sawangan dengan Parung ada sawah luas, antara Cinere dengan Kukusan terbentang kolam dan kebun rambutan. Terkadang aku bisa mengerti jalan pikiran para penguasa. Menjaga kota sesuai aslinya itu mahal. Sedangkan memberi izin pembangunan, mendatangkan PAD (pendapatan asli daerah). Pemikiran mulya, toh.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Balaikota Leeds, dengan bangunan tua dan jam di puncak menaranya sudah terlihat. Kami harus segera turun, dan berjalan tanpa takut ditabrak motor yang nyelonong ke trotoar. Pusat kota Leeds, yang sebetulnya mirip dengan alun-alun Bandung itu pun kami jejak hingga petang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111791246848559371?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111791246848559371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111791246848559371' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111791246848559371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111791246848559371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/06/yorkshire-bikin-berdesir.html' title='Yorkshire bikin Berdesir'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111773154011392216</id><published>2005-05-28T09:26:00.000-07:00</published><updated>2005-06-02T09:59:00.160-07:00</updated><title type='text'>Mengembara ke Utara</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="150" alt="Bradford University" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/B2Uni.jpg" width="200" align="left" /&gt;Kedai Fish and Chips menyambut kami di peron stasiun Bradford. Pemandangan biasa. Yang tak biasa adalah logo “halal” yang terpasang di gerobak merah itu. Penjaganya, lelaki berwajah Pakistan sibuk melayani pembeli. Rupanya selain menjual ikan dan kentang goreng, ia menjaja kebab dan ayam masala khas Pakistan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Menuruni tangga, wajah-wajah Asia Tengah semakin banyak. Gadis berjilbab, atau yang mengenakan sari yang dimodifikasi menjadi busana muslimah modern, serta lelaki bergamis lengkap dengan janggut menjuntai berseliweran. Tak salah, &lt;a href="http://irmawan.multiply.com/"&gt;&lt;b&gt;Yudi&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, teman kami yang bersekolah di Bradford selalu mempromosikan Bradford sebagai daerah jajahan Pakistan di Inggris. Sayang, karena ada perbaikan rel, kereta kami telat tiba, sehingga aku gagal salat Jumat. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Di dekat rumah Yudi, jejak “kebesaran” ala negara berkembang itu semakin nyata. Sampah yang tidak masuk tong secara sempurna, jemuran yang malang melintang, serta bekas pijakan ban mobil di rerumputan sebagai jalur baru karena ditengah jalan ada penghalang. Lalu, mobil yang melaju kencang dengan tape berbunyi sama kencang. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="150" alt="Bradford Alhambra" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/B4Alhammalam.jpg" width="200" align="left" /&gt;Berjalan mengitari Bradford, tak terasa seperti di Inggris. Ditambah lagi, masjid dimana-mana, juga toko bernama islami macam Bismillah, Saif, Al Halal, dan Al Haq. Bau kari yang menerbitkan liur menebar dimana-mana. Tapi Yudi, sudah memasak sop buntut, sambel terasi ala Kuningan, tahu, dan ikan teri. Selepas bersantap, kami akan menonton final sepakbola &lt;a href="http://irmawan.multiply.com/journal/item/26"&gt;liga kampus&lt;/a&gt; Bradford. Azan Ashar dari mesjid Nurul Iman bergema. Allahu Akbar.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111773154011392216?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111773154011392216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111773154011392216' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111773154011392216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111773154011392216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/mengembara-ke-utara.html' title='Mengembara ke Utara'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111714828117229378</id><published>2005-05-26T15:55:00.000-07:00</published><updated>2005-05-26T15:58:01.180-07:00</updated><title type='text'>Ngemong Tak Meraja</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 232px; HEIGHT: 162px" height="170" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/balaibaa.jpg" width="130" align="left" /&gt;Aku terima surat itu dengan sukacita. Bukan. Bukan surat cinta, yang kata Vina Panduwinata, bisa membikin hati berbahagya. Ini surat dari &lt;strong&gt;Inland Revenue&lt;/strong&gt;, kantor pajak Inggris, berisi &lt;em&gt;cheque&lt;/em&gt; 823 Pound. Alhamdulillah. Ini adalah pajak dari gajiku yang dipotong 25 persen setiap bulan. Lumayan, kayaknya liburan keliling Eropa, sudah di depan jendela.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ceritanya, setiap bulan April dan Oktober, yang merupakan bulan pajak, setiap wajib pajak mendapat laporan. Karena aku warga asing, dan memiliki &lt;em&gt;National Insurance Number, &lt;/em&gt;maka pajak itu bisa diambil kembali. Awal mei lalu, pergilah aku ke kantor Inland Revenue. Ini adalah kali ketiga, aku berurusan dengan kantor pemerintah di Norwich sini, setelah urusan pajak, dan &lt;em&gt;National Insurance Number&lt;/em&gt;, semacam kartu kuning pencari kerja. Hanya sekejap, tidak bertele, dan bebas calo.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 231px; HEIGHT: 174px" height="120" alt="ari di balaikota norwich" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/balaiarisamping.jpg" width="150" align="left" /&gt; Ketika pertama kali berurusan dengan kantor pemerintah, November lalu, ada perasaan gundah. Khawatir repot, berlarut, dipersulit, dan ujung-ujungnya duit. Betul kata bijak bestari, pola pikir dipengaruhin oleh pengalaman. Saat itu kami mengurus pajak rumah tinggal. Tak tanggung, seorang kena 800 Pound. Berarti berdua, sekitar 27 juta perak. Berhari-hari surat itu kami abaikan. Hingga akhirnya, setelah membaca di situs yang dilampirkan dalam surat pemberitahuan, dan memenuhi semua dokumen, kami pergi juga. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Begitu masuk, tak ada ambtenar yang hilir mudik tanpa kerjaan, maupun calo yang "baik hati" dan suka menolong itu. Hanya resepsionis yang ramah memberi petunjuk ruang mana yang akan dituju. Ternyata disana ada banyak loket. Maklum kantor walikota. Kami mengambil tiket antrian yang dimuntahkan mesin, macam di bank-bank terkemuka di Jakarta. Menunggu sejenak, lalu dilayani oleh pamong praja yang betul-betul ngemong dan tak bersikap meraja. Sesuai petunjuk di situs mereka, pelajar tidak dikenai pajak, kami pun tanpa membayar sepeser. Ohoi.. berurusan di kantor pemerintah, tak mengeluarkan biaya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Aku lalu ingat kampungku nun jauh di sumatera utara sana. Dulu, dulu sekali sebelum reformasi, berurusan dengan kantor pemerintah, polisi berarti mengeluarkan duit lebih. Kalau tanpa dana batil, jangan harap urusan beres. Tak heran, Sumut, yang sejatinya akronim dari Sumatera Utara menjadi &lt;strong&gt;sumut&lt;/strong&gt;=&lt;strong&gt;s&lt;/strong&gt;emua &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt;rusan &lt;strong&gt;m&lt;/strong&gt;esti &lt;strong&gt;u&lt;/strong&gt;ang &lt;strong&gt;t&lt;/strong&gt;unai. Keluarga kami termasuk beruntung. Salah satu abangku bekerja di kantor bupati, satunya jadi polisi, dan iparku suster di rumah sakit. Makanya, bikin akta kelahiran lancar, bikin SIM mudah, dan kalau sakit tak perlu antri lama. Meskipun tetap membayar, tapi tidak semahal mereka-mereka yang tidak punya koneksi sama sekali. Tapi itu dulu, dan di kampungku. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dulu aku berpikir, para ambtenar ini berlaku begini karena gajinya kecil, dan pendidikan kenegaraannya kurang. Belakangan, setelah korupsi di KPU terbongkar, aku percaya korupsi itu bisa mengenai siapa saja. Meminjam fatwa Bang Napi: Korupsi terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelaku. Tapi karena adanya kesempatan. Waspadalah!. Ah, jadi ngelantur. Sudahlah. Kuciumi kembali surat itu, sambil membayangkan manisnya Paris, romantisnya Venezia.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111714828117229378?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111714828117229378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111714828117229378' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111714828117229378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111714828117229378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/ngemong-tak-meraja.html' title='Ngemong Tak Meraja'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111666394811004740</id><published>2005-05-21T00:06:00.000-07:00</published><updated>2005-05-21T07:08:16.340-07:00</updated><title type='text'>Tiran Diatas Dipan</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;i&gt;Perjuangan melawan kekuasaan adalah pergulatan ingatan melawan lupa&lt;br /&gt;--&lt;b&gt;Milan Kundera,&lt;/b&gt; The Book of Laughter and Forgetting&lt;/i&gt;-- &lt;/center&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt; &lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 226px; HEIGHT: 184px" height="200" alt="Soeharto sakit" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/Soehartosakit.jpg" width="226" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Koran The SUN betul-betul kurang ajar. Edisi Jumat-nya menampilkan gambar &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.thesun.co.uk/article/0,,2-2005230446,,00.html"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saddam Husein&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; yang hanya memakai (&lt;i&gt;maaf!&lt;/i&gt;) pakaian dalam. Dibumbui judul menarik khas &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.thesun.co.uk"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;SUN&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;, "&lt;strong&gt;Tyrant's in His Pants&lt;/strong&gt;". Sontak gambar itu mengundang kegeraman hingga ke Gedung Putih dan Baghdad sendiri. Pengacara Saddam berniat menuntut, karena menuduh ini bagian dari strategi pembunuhan karakter menjelang pengadilan Saddam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 21 Mei 2005. Mahasiswa berunjuk rasa mengenang kejatuhan Soeharto. Mereka ke Cendana. Disana Soeharto sedang sakit. Aku yakin, tak akan ada koran atau majalah yang akan menulis judul serupa Sun: "&lt;strong&gt;Tiran di Atas Dipan".&lt;/strong&gt; Meski judul itu menarik secara kaidah penulisan. Sebab menarik perhatian, bersajak, dan tepat sasar. Entahlah, ini membahagiakan atau memilukan. Mungkin ini gambaran kesantunan sebuah bangsa yang berjiwa besar. Tapi tak berarti mahasiswa yang berdemo itu tak santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 191px; HEIGHT: 191px" height="400" alt="demo anti soeharto" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/soeharto.jpg" width="221" align="left" /&gt;Setiap tahun, bak peringatan ulangtahun kelahiran saja, demo itu terus berulang. Sudah tiga Presiden, Gus Dur, Megawati, SBY yang mereka minta untuk membawa Soeharto ke pengadilan. Namun tujuh tahun reformasi yang membentangkan lembaran suram Mei, Kedungombo, Aceh, Papua, Tanjungpriok, G-30-S, Megakorupsi, dan banyak lagi itu, hanya ibarat tonggak sejarah. Bahkan, kini ada ajakan untuk melupakan itu semua. Tak kurang Ketua DPR (Agung Laksono), Ketua MUI (Dien Syamsuddin), Tokoh Petisi 50 (Bang Ali), juga korban penjara Priok (AM Fatwa) yang menyuarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah negeri, dimana sejarah berjalan lambat untuk menguap, ingatan itu akan selalu membentang. Tapi untuk apa. Mari bergulat melawan lupa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111666394811004740?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111666394811004740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111666394811004740' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111666394811004740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111666394811004740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/tiran-diatas-dipan.html' title='Tiran Diatas Dipan'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111592413425857572</id><published>2005-05-11T11:54:00.000-07:00</published><updated>2005-05-12T11:55:34.266-07:00</updated><title type='text'>Tak Lekang Oleh Senang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 209px; HEIGHT: 154px" height="200" hspace="3" src="http://www.argjiro.net/albi/yellow/images/20040610/20040430_marburg_01_public_bus.jpg" width="250" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pagi. Dingin. Di atas bus yang nyaman. Cara terenak menikmatinya adalah memejam mata. Jangan harap terlelap. Perjalanan hanya 30 menit. Lalu, biasanya memasuki kawasan kampus, bus sering direm sontak. Biasanya, ada tupai atau kelinci iseng menyeberang sembarang tempat, dan tanpa lihat kiri kanan. Dasar hewan. Mencoba memejam lagi. Ada getar di saku celana. Siapa yang pagi-pagi begini sudah bersilaturrahmi. Padahal tadi &lt;a href="http://arisemut.blogspot.com/"&gt;istri&lt;/a&gt; segera melanjut tidur setelah aku pergi. Dilayar tak ada nomor tercatat. Pasti dari Indonesia. Disana saat ini hampir pukul 1 siang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Alloww... Mister Siregar," suara renyah Indah, teman bekas sekantor, memecah pagi. Mungkin ia iseng, karena suntuk mencari tamu untuk program Metro Hari Ini.&lt;br /&gt;"Lagi di &lt;i&gt;tube&lt;/i&gt; ya mas,".&lt;br /&gt;"Lagi di bus, disini khan gak ada &lt;i&gt;tube&lt;/i&gt;".&lt;br /&gt;"Gak takut dicopet nih ngeluarin hape"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami lalu terbahak bersama. Indah pernah tinggal di Australia, dan pastilah ia tau bagaimana amannya bus dibanding di Jakarta. Lagian, siapa juga yang mau dengan Siemens &lt;em&gt;S-45&lt;/em&gt; yang sudah uzur, layar retak, dan sering mendadak mati sendiri itu. Di depanku, ada yang bersayang-sayangan dengan &lt;em&gt;PDA-Phone&lt;/em&gt;. Disebelah ada yang &lt;em&gt;mantuk-mantuk&lt;/em&gt; mendengarkan musik dari &lt;em&gt;i-Pod.&lt;/em&gt; Melihat bebasnya penumpang memamerkan barang elektronik, suatu kali dikepalaku terlintas ide "Operasi Senen". &lt;b&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Mencopet&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Bagaimana caranya ya. Bukankah kondisi paling oke buat operasi ini, saat berdesakan dan impit-impitan. Batal. &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;b&gt;Merampok&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;Bagaimana caranya keluar dari bus. Pintu hanya ada satu, di depan. Menggunakan sistem elektronis dengan kendali di sopir. Memaksa sopir agar membuka dengan menodong. Pasti dia tidak takut, karena posisinya aman, dilingkupi kaca. Dan ini satu lagi, kamera CCTV yang siap menghamburkan gambar. Gak jadi ah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 230px; HEIGHT: 135px" height="197" hspace="3" src="http://www.tempointeraktif.com/hg/photostock/2004/12/27/s_30d47701.jpg" width="226" align="left" /&gt;Kata "gak takut dicopet" itu pun terngiang. Memang salah satu "kesenangan" saat ini adalah rasa bebas dari ketakutan. Tak cuma di bus. Tapi juga di kota, di stasiun, dan di rumah. Nyaris tidak ada rumah yang memakai teralis disini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kewaspadaan&lt;/strong&gt; pun tak terasah. Ada lagi rasa yang hampir hilang: &lt;strong&gt;iba&lt;/strong&gt;. Kapan melihat anak kecil mengamen di terik matahari. Kapan bersua anak kecil yang dijemur oleh seorang ibu, demi mengharap belas orang lalu. Kapan melihat pengemis renta, yang kelelahan hingga terduduk di trotoar bermandikan debu jalanan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku tak ingin rasa waspada dan iba itu lekang hanya karena kesenangan sesaat. Akan tiba saatnya harus kembali ke negara tercinta. Bersua dengan segala realita itu. Setiap malam, aku memelihara dengan membaca koran &lt;a href="http://kompas.com"&gt;ini&lt;/a&gt;. Setelah &lt;em&gt;berita utama, opini&lt;/em&gt;, aku selalu melongok rubrik &lt;em&gt;Metropolitan&lt;/em&gt;. Membaca saudara sekandung saling bunuh demi warisan, maling ayam dibakar massa, tukang ojek digorok. Ah, Indonesia-ku.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111592413425857572?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111592413425857572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111592413425857572' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111592413425857572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111592413425857572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/tak-lekang-oleh-senang.html' title='Tak Lekang Oleh Senang'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111550949508263370</id><published>2005-05-05T16:39:00.000-07:00</published><updated>2005-05-07T16:52:07.286-07:00</updated><title type='text'>Pemilu Lalu, Penuhi Saku</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 204px; HEIGHT: 150px" height="150" alt="latief, norwich, pemilu" hspace="3" src="http://news.bbc.co.uk/olmedia/1960000/images/_1963490_blairs300_pa.jpg" width="250" align="left" /&gt; Lelaki itu keluar dari pondokannya. Mengenakan topi yang ditarik dalam hingga menutupi sebagian muka, ia menenteng kertas yang digulung menyerupai terompet. Lalu lewat kertas yang dimaksudkan sebagai pengeras suara itu, ia berteriak: "&lt;em&gt;Dumber student vote for Tory&lt;/em&gt;". Hanya itu. Ia pun masuk kembali. Mahasiswa yang sedang melintas menuju &lt;em&gt;polling station&lt;/em&gt; (TPS), atau asyik bermain bola senyum-senyum saja. Tak ada yang membalas, mengangkat tinju, atau menghunus clurit. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pemilu di Inggris, jauh berbeda dengan pemilu di tanah air. Wajar kita menggelarinya pesta demokrasi. Sebab suasananya ramai bak pesta. Ada umbul-umbul, ada mudik, ada tenda. Sedang disini, semuanya serba sederhana. Seperti TPS di kampus UEA, hanya mengambil tempat di sebuah ruang pertemuan. Di dekat rumah kami, di bangunan bekas pub. Kotaknya tak mengkilap. Pasti bekas pemilu sebelumnya. Kertas suara hitam putih. Tak ada saksi, tak ada pemantau. Pelaksananya hanya beberapa orang, bertugas mendata dan membagikan surat suara. Garing. Sederhana. Sekaligus hemat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 215px; HEIGHT: 150px" height="150" alt="Latief, Norwich, Depok, PolIing Station" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/IMG_2160.jpg" width="250" align="left" /&gt; Jangan-jangan kita juga bisa seperti ini. Menggunakan kotak suara bekas, komputer dapat sewa, surat suara sederhana. Jangan-jangan &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.kpu.go.id"&gt;panitianya&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; yang ogah ini berlangsung sederhana, agar dikira telah sukses mengerjakan gawe besar. Atau jangan-jangan, sengaja menciptakan banyak peluang untuk mark-up dana, &lt;em&gt;bancakan&lt;/em&gt;. Jangan-jangan ada banyak korupsi pada pemilu itu. Jangan-jangan malah sudah ada yang ditangkap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pemilu telah lalu. Tony Blair dan Partai Buruh kembali ke bangku kuasa. Besok mereka akan mulai menyusun kabinet. Sedangkan Tory dan Liberal Demokrat akan kembali menyusun agenda perlawanan oposisi. Semua bekerja. Demi Inggris Raya. Kita? Pemerintah yang awalnya diduga bakal diterpa banyak "masalah" di parlemen, karena Partai Demokrat yang mendukung SBY minoritas, kini melenggang nyaris tanpa awasan. Partai Golkar, partai pemenang pemilu, kini digenggaman Yusuf Kalla. Dan yang lebih penting, hampir semua partai "bekerja" keras mendongkel sesama, demi jabatan Ketua Umum. Jangan-jangan demokrasi kita masih ecek-ecek. Entahlah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111550949508263370?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111550949508263370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111550949508263370' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111550949508263370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111550949508263370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/pemilu-lalu-penuhi-saku.html' title='Pemilu Lalu, Penuhi Saku'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111511822180016725</id><published>2005-05-02T03:16:00.000-07:00</published><updated>2005-05-07T16:50:52.206-07:00</updated><title type='text'>Bacalah, atas Nama Kemajuan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="150" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/Picture3074.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ruangan 8x6 meter itu senyap. Padahal di dalamnya, ada sekitar 16 orang yang sedang beristirahat. Aku banting pintu sedikit keras, lalu menarik kursi dengan sebat, tapi tak cukup memancing untuk membuat mereka menoleh. Semuanya asyik dengan makanan, dan bacaan. Sesekali terdengar suara gemeresek kertas dibalik, ditingkahi kriuk kripik kentang. Selebihnya senyap. Padahal mereka teman sekerja yang sudah saling mengenal. Padahal ini adalah jam istirahat, saat bebas dari belitan rutinitas pekerjaan. Kenapa tidak bercengkerama, mengobrol, tertawa terbahak melepas suntuk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;::Membaca::&lt;/b&gt; adalah pemandangan rutin di banyak tempat. Bus, ruang tunggu, terminal, kedai kopi. Tak heran, di kota Norwich yang lebih kecil dari Depok ini, ada banyak toko buku, perpustakaan umum, serta penjual koran dan majalah. Ditambah lagi, tebaran toko derma (&lt;i&gt;charity shop&lt;/i&gt;) yang menjual aneka buku murah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 199px; HEIGHT: 136px" height="200" hspace="1" src="http://www.jurnalnet.com/file/beritautama/aktualita/sekolah_tenda.jpg" width="244" align="left" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 193px; HEIGHT: 135px" height="199" src="http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/15/sm1tenda14.jpg" width="270" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sekolah tenda di Aceh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku ingat di kotaku Rantau Prapat, Sumatera utara sana, dulu ada dua toko buku. Ketika mau berangkat ke Inggris tahun lalu, aku pulang. Ternyata tinggal satu. Itu pun sudah menjadi separuh. Separuh toko lainnya, dijadikan rumah makan dan kedai kopi. Padahal, sebagai penghasil karet, kota ini tergolong menengah ke atas. Agaknya, ini mencerminkan, budaya makan lebih populer ketimbang membaca. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sedangkan bagi orang sini, makan juga harus sambil membaca. Jadi, istirahat makan siang itu mereka gunakan untuk membaca. Bangsa yang besar adalah bangsa yang &lt;strike&gt;menghargai pahlawan&lt;/strike&gt; memiliki banyak alasan. Aku amati, mereka bisa membaca sambil makan karena menunya adalah setangkup roti, sebungkus keripik kentang, dan buah. Wajar. Coba, kalau makan siangnya ayam bakar, rendang, sambel terasi, dan makan pakai tangan. Alamat, itu buku berminyak dan bau terasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ah, itu hanya alasan bisa-bisanya aku saja. Mari kita galakkan membaca. Selamat &lt;b&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;Hari Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Semoga bangsa ini menjadi bangsa terdidik. Salah satunya, dengan banyak membaca.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111511822180016725?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111511822180016725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111511822180016725' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111511822180016725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111511822180016725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/05/bacalah-atas-nama-kemajuan.html' title='Bacalah, atas Nama Kemajuan'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111493954374213209</id><published>2005-04-30T02:22:00.000-07:00</published><updated>2005-05-01T02:25:43.746-07:00</updated><title type='text'>Di Halte itu Kutunggu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 166px; HEIGHT: 213px" height="213" hspace="3" src="http://www.altham.com/assets/images/Bus_.jpg" width="205" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berlari kecil, aku bernyanyi: &lt;i&gt;Ku berlari mengejar bis kota/ berlomba-lomba saling berebutan/ untuk dapat tempat yang nyaman....//&lt;/i&gt;. Aku memang sedang berlari mengejar bis, bukan untuk berebutan, bukan pula untuk sebuah tempat duduk yang nyaman. Tapi mengejar &lt;b&gt;waktu&lt;/b&gt;. Ya, waktu. Disini, jadwal kedatangan bis di halte teratur. Dan itu artinya, ekspektasi tiba di tempat tujuan juga teratur. Ada sih melesetnya. Tapi biasanya, deviasinya kurang dari lima menit. Makanya, pemandangan orang berlari menuju halte, searah maupun berlawanan dengan arah bus, adalah pemandangan lazim. Kadang geli melihatnya. Sekaligus mengagumkan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa harus lari?. Itu pertanyaan awal dulu. Tokh bisa stop aja dimana suka. Bukannya sopir itu butuh kita. Seperti semboyan yang banyak tercantum dalam stiker: "&lt;i&gt;Anda perlu waktu, kami perlu uang"&lt;/i&gt;. Ternyata o ternyata, kita butuh waktu, sopir tak butuh uang. Sebab ia digaji flat, ada tiada penumpang. Jadi, sopir bis hanya memburu waktu tiba di halte sesuai menit dalam daftar yang ia pegang. &lt;b&gt;Waktu&lt;/b&gt; menjadi panglima tertinggi, yang menjadi patokan bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat ini sambil mengenang, halte di Jakarta ternyata potret buram bagaimana sebuah sistem dibangun dan dijalankan. Bagaimana pun, disini pembangunan halte bukan proyek semata. Melainkan dibangun berdasarkan survey, agar bermanfaat maksimal, dan tidak menimbulkan kemacetan. Makanya ada halte yang jaraknya dengan halte lain jauh, ada pula yang berdekatan. Ada yang dibangun di bagian jalan yang dibuat ceruk, ada pula yang di pinggir jalan saja. Berbeda, berdasarkan kebutuhan lokasi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 225px; HEIGHT: 183px" height="225" hspace="4" src="http://www.cilt.dial.pipex.com/pictures/43archway300225.jpg" width="216" align="left" /&gt;Nah, itu untuk pembangunan infarstruktur. Bagaimana dengan penggunaan. Pemandangan di halte menunjukkan budaya berkelas tinggi. Penumpang menunggu, antri, bebas coretan, bebas pedagang, dan bus berhenti persis. Inilah gambaran &lt;u&gt;&lt;em&gt;kesadaran berkesinambungan&lt;/em&gt;&lt;/u&gt;. &lt;strong&gt;Penumpang&lt;/strong&gt; tak menunggu diluar halte, sebab itu melanggar aturan dan bus tak akan berhenti. &lt;strong&gt;Bus&lt;/strong&gt; tidak akan mengangkut penumpang diluar halte, sebab melanggar aturan, dan takut ditangkap. &lt;strong&gt;Polisi&lt;/strong&gt;, tidak akan menggunakan aturan ini untuk &lt;em&gt;pat gulipat&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;pritt jigo&lt;/em&gt;, sebab itu melanggar sumpah jabatan, dan kinerjanya diawasi oleh warga yang menggajinya lewat bayaran pajak. Elok. Sementara, di Jakarta, aku pernah diusir sama PKL yang menjadikan halte sebagai kios, karena dianggap menghalangi dagangannya dari pandangan calon pembeli. Duh!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu masa, aku berbincang dengan Cak Nur. Cerdik cendekia itu bilang, bangsa ini susah untuk maju, selama belum mematuhi hal-hal kecil, seperti lampu merah. Aku juga terkenang Paman Deng Xiao Ping. Katanya, "&lt;em&gt;Dengan sistem, orang paling jahat pun tak akan berbuat jahat. Tapi tanpa sistem, orang baik bisa berbuat tidak baik, bahkan menjadi jahat."&lt;/em&gt; Maka dengan membangun sistem yang tepat, dan hukum bukan lagi macan kertas, mungkin orang berpikir ulang untuk berbuat sesuatu yang melenceng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebagai &lt;em&gt;rahayat&lt;/em&gt;, sahaya hanya bisa bertutur hal yang tiada berat. Hanya tentang halte. Namun, keteraturan halte akan mengeliminasi kemacetan. Dan, sahaya percaya, keteraturan sistem secara keseluruhan, akan memberantas kemacetan lain, termasuk kredit macet. Semoga. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111493954374213209?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111493954374213209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111493954374213209' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111493954374213209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111493954374213209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/di-halte-itu-kutunggu.html' title='Di Halte itu Kutunggu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111444351624485141</id><published>2005-04-25T08:37:00.000-07:00</published><updated>2005-04-25T08:46:38.940-07:00</updated><title type='text'>Spring Perut Mlending</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 201px; HEIGHT: 151px" height="150" alt="Gloucester Street, Norwich, Apr 2005" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/b2dermaga.bmp" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:';"&gt;Kupandang petang yang merembang. Di jalanan dua sejoli tertawa riang. Mengenakan baju terbuka motif kembang, sendal, dan tak lupa kacamata dan rok yang mengembang. Ada pula remaja bermain papan luncur lengkap dengan celana gombrang. Membuat rambutnya yang panjang tergerai terbang. Petang yang elok. Tapi kenapa perutku sudah menjerit keroncongan? Oho.. hari boleh masih petang, tapi jam sudah menunjuk 7.30 pm. Inilah spring, musim dimana siang semakin panjang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img height="168" src="http://ronjones.org/CurrentComments/W-ObeseKidCartoon-.200.jpg" width="155" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:';"&gt;Siang yang semakin panjang ini membuat ritme kehidupan berubah total. Apalagi, kalau matahari bersinar terik. Warga Norwich yang jarang kena matahari itu pun seolah sedang menerima berkah besar. Keluar rumah. Membiarkan badan dijilati sinar ultra violet. Untuk itu, pakaian pun harus terbuka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepatu boot menghilang, digantikan sendal. Jaket tebal &lt;i&gt;nyungsep&lt;/i&gt; bermetamorfosa dengan tank top dan rok mini. Taman dibongkar. Pokoknya apa saja dilakukan asal kena matahari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 201px; HEIGHT: 151px" height="150" alt="Gloucester Street, Norwich, Apr 2005" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/sepeda.jpg" width="200" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:';"&gt;Kami pun tak mau kalah. Bukan karena rindu matahari. Ku raih sepeda, memaksakan bercelana pendek meski kedinginan, dan mengayuh berkeliling. Selain menikmati "pemandangan" sedap di mata, juga untuk membakar sedikit kalori. Bukan apa-apa. Karena adagium kuno, makan malam ya harus malam. Maka &lt;i&gt;dinner&lt;/i&gt; pun selalu di atas pukul 8. Akibatnya tak ada waktu untuk membakar kalori itu sebelum tertidur. Akibatnya lagi, perut pun semakin &lt;i&gt;mlending&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:';"&gt;Bagi yang tau bagaimana &lt;strike&gt;six-pack&lt;/strike&gt;&lt;i&gt; back-pack&lt;/i&gt;nya perutku selama ini, akan bilang: "alah..&lt;em&gt;spring&lt;/em&gt; pulak yang kau jadikan alasan".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:';"&gt;Tapi pengetahuan sejarahku kurang untuk menjelaskan, apakah bangsa Inggris punya korelasi sejarah, antara musim yang berubah ini dengan pembangunan sistem. Misalnya, pada musim dingin tak mungkin bertanam. Otomatis mereka harus punya simpanan makanan. Dus, mereka juga harus punya persediaan batubara dan makanan berkalori tinggi untuk penghangat badan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sayang, kita hanya punya satu musim abadi yang tiada henti berputik dan tak usai dipanen: musim korupsi dimana-mana. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111444351624485141?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111444351624485141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111444351624485141' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111444351624485141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111444351624485141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/spring-perut-mlending.html' title='Spring Perut Mlending'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111402127199883630</id><published>2005-04-19T11:17:00.000-07:00</published><updated>2005-04-24T01:30:52.326-07:00</updated><title type='text'>Bukan Pejabat Kampungan</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 279px; HEIGHT: 148px" height="192" hspace="3" src="http://image.guardian.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2004/01/27/3clarke.jpg" width="279" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku baru saja menyelesaikan tugas membersihkan pojok lobby, saat mata tertumbuk pada dua sosok yang sedang mengobrol. Aku merasa familiar dengan wajah keduanya. Setelah &lt;em&gt;scanning&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;tuning&lt;/em&gt; ingatan sejenak, aha..!, yang satu &lt;strong&gt;Charles Clarke&lt;/strong&gt;, dan lainnya &lt;strong&gt;Ian Gibson&lt;/strong&gt;. Clarke sering nongol di tipi dan koran. Sebab ia adalah Menteri Dalam Negeri dan petinggi Partai Buruh. Gibson, sebulan lalu, datang ke rumah sakit ini, mengikuti rapat karyawan yang menuntut kenaikan gaji. Mereka adalah &lt;em&gt;Member of Parliament (MP)&lt;/em&gt; Inggris, daerah pemilihan Norwich. Istilahnya mereka sedang pulang kampung menengok rumah sakit. Apalagi, masalah kesehatan (NHS) merupakan soal sensitif yang menjadi tema kampanye saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tapi sungguh keduanya bukan pejabat kampungan yang harus disambut. Tak ada keriuhan berarti, meski sedang ada tamu "besar". Berdua mereka ngobrol seperti keluarga pasien belaka. Tak ada pejabat rumah sakit yang mendampingi. Aku penasaran. Aku ikuti apa saja yang mereka lakukan. Di pojok, ada seseorang yang menurut naluriku, pengawal tertutup. Lalu, ajudan mendekat. Agaknya memberi tahu mobil sudah ready. Mobilnya Clarke, Mendagri itu, jenis MVP merk Ford. Mereka, Clarke, ajudan, dan sopir pun pergi, tanpa &lt;em&gt;vorijders&lt;/em&gt; dan sirene memekakkan telinga. Akan halnya Gibson, karena hanya MP bukan Menteri, ngeloyor tanpa ajudan. Mungkin ia nyetir sendiri, karena gaji sopir amatlah besar disini. Waktu datang menghadiri rapat karyawan sebulan lalu, ia juga datang tanpa disambut. Malah disuguhinya cuma minum air putih, dengan menuang sendiri dari botol ke gelas plastik.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 285px; HEIGHT: 189px" height="223" hspace="3" src="http://www.solok.go.id/gambar/L11.jpg" width="264" align="left" /&gt; Betul-betul negara "tak beradat". Bayangkan kalau ini di Indonesia. Paling tidak sang menteri membawa kepala biro humas, kepala dinas kesehatan (karena ini kunjungan ke rumah sakit), bupati lokasi rumah sakit berada, kapolres, dandim, dua polisi bermotor gede, satu truk polisi, dan puluhan ajudan bersafari. Rumah sakit akan menyeleksi perawat yang kinclong (atau bila tidak tersedia, menyewa artis lokal), serta tak lupa mendirikan tenda, memesan katering, dan musik &lt;em&gt;kibod&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Wong&lt;/em&gt; pejabat, &lt;em&gt;je.&lt;/em&gt; Masak tak disambut. Dimana kesopanan dan kesantunan itu.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Berapa besar negara ini menghemat biaya dan waktu, dengan menghilangkan tradisi sambut menyambut ini. Aku masih berdiri menerawang dari balik dinding kaca yang lebar, saat bahuku dicolek. Supervisor memintaku mengelap meja resepsionis. Duh, jam istirahat masih lama. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111402127199883630?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111402127199883630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111402127199883630' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111402127199883630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111402127199883630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/bukan-pejabat-kampungan.html' title='Bukan Pejabat Kampungan'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111357933007102158</id><published>2005-04-15T08:30:00.000-07:00</published><updated>2005-04-15T08:35:30.076-07:00</updated><title type='text'>Kampanye Garing Jalan Downing</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 220px; HEIGHT: 171px" height="120" hspace="3" src="http://www.dont-vote-labour.co.uk/MAY2005.jpg" width="150" align="left" /&gt; Tepuk tangan membahana di ruang &lt;em&gt;House of Common&lt;/em&gt;, London. Keriuhan ini mengantar Tony Blair duduk, sehabis mendebat pemimpin &lt;em&gt;Conservative&lt;/em&gt;, Michael Howard. Anggota dewan dari partai Buruh pun, ikut berdiri sambil berteriak &lt;em&gt;hear..hear&lt;/em&gt;. Ini kata lain dari setuju, yang sempat menjadi koor di DPR Senayan. Belum sempurna Blair duduk, Howard sudah berdiri dan mengeluarkan lemparan. Begitu seterusnya. Tak pernah sekalipun aku lihat Blair menoleh ke belakang, untuk meminta bantuan jawaban dari deputinya, menteri, juga anggota dewan dari Partai Buruh &lt;em&gt;(Labour).&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="120" hspace="3" src="http://news.bbc.co.uk/olmedia/1370000/images/_1370841_notlikely300.jpg" width="150" align="right" /&gt;Ini adalah debat rutin reboan, antara pemerintah dan oposisi. Tapi karena kini sudah masuk pekan kampanye, maka debat itu pun seolah debat calon PM, antara kandidat Buruh dan Tory, sebelum pemilu 5 Mei mendatang. Aku menonton debat itu di BBC. Kemeriahan kampanye memang hanya di media. Tak ada spanduk, rapat akbar, juga konvoi motor dan truk terbuka. Satu dua rumah di dekat kami tinggal ada memasang plakat kecil di halaman atau jendela. Selebihnya menggunakan media.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Maka televisi dan koran pun heboh. Televisi macam &lt;strong&gt;&lt;a href="http://news.bbc.co.uk"&gt;BBC&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;&lt;a href="http://itv.com"&gt;ITV&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; pun menyisakan jam siar dalam segmen khusus pemilu. BBC memanfaatkan bus tingkat yang disulap menjadi studio mini mobil, lengkap dengan &lt;em&gt;Satellite News Gathering&lt;/em&gt;, yang memungkinkan mereka &lt;em&gt;live&lt;/em&gt; dari mana suka. Bahkan koran kuning &lt;a href="http://thesun.co.uk"&gt;&lt;strong&gt;The SUN&lt;/strong&gt;, &lt;/a&gt;yang moncer karena gambar perempuan &lt;em&gt;topless&lt;/em&gt; di halaman tiga, tak kalah seronok. Namanya koran "jorok", maka idiom pemilu pun diplesetkan sesuai genre mereka. Tiga gadis SUN, disebut &lt;em&gt;Sunderbird&lt;/em&gt;, berpose mengenakan &lt;em&gt;underwear&lt;/em&gt; sesuai warna tiga partai besar. Merah untuk labour, biru untuk Tory, dan oranye untuk Liberal. Mereka juga mengusung &lt;strike&gt;manifesto&lt;/strike&gt; &lt;em&gt;mani-breast-o&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="WIDTH: 205px; HEIGHT: 159px" height="120" hspace="3" src="http://www.waunakee.k12.wi.us/midlschl/lunch/0405/MVC-022S.JPG" width="150" align="left" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tema kampanye pun tak seru. Bebas SPP, tunjangan rumah sakit, lapangan kerja, pengurangan kriminal, pajak, uang pensiun, juga jatah makan siang di sekolah. Tak ada misalnya: &lt;u&gt;"Kami akan menghukum mati koruptor".&lt;/u&gt; Atau, "&lt;u&gt;Kami akan meningkatkan taraf hidup masyarakat, menuju Indonesia yang &lt;em&gt;baldtahun thayyibatul wa rabbul ghafur&lt;/em&gt;".&lt;/u&gt; Juga "Peningkatan peran serta ekonomi lemah, dalam kancah perekonomian global" &lt;em&gt;[Iki opo, rek]...&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tapi jangan main-main dengan isu kampanye yang kedengaran sederhana tadi. Suatu kali Blair berdialog langsung di TV soal dana kesehatan NHS. Ketika masalah gaji pegawai rumah sakit, Blair menolak menaikkan dengan berbagai alasan ekonomi. Lalu seorang suster yang menjadi pendengar, bertanya pada Blair. Katanya, "Tuan Prime Minister, maukah anda mencuci pantat nenek dengan gaji serendah yang kami terima?". Blair tak kuasa menjawab. Beberapa hari kemudian, polling membuktikan, popularitas Blair turun beberapa persen.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ada untungnya mengangkat isu sederhana pada kampanye. Rakyat, lawan politik, pengamat, akan mudah untuk menilai keberhasilannya. Maka dalam kampanyenya, Tory selalu mendengungkan angka-angka statistik untuk menghantam pemerintahan Blair. Semua karena sederhana dan menukiknya isu. Coba, gimana mau menilai keberhasilan taraf hidup yang &lt;em&gt;baldtahun thayyibatul wa rabbul ghafur&lt;/em&gt;. Bikin janji aja kok repot. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111357933007102158?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111357933007102158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111357933007102158' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111357933007102158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111357933007102158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/kampanye-garing-jalan-downing.html' title='Kampanye Garing Jalan Downing'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111305459608097232</id><published>2005-04-11T06:45:00.000-07:00</published><updated>2005-04-11T09:18:48.316-07:00</updated><title type='text'>Mulutmu Harimaumu</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 182px; HEIGHT: 138px" height="253" hspace="3" src="http://www.indolink.com/Kidz/wdpeck03a.jpg" width="228" align="left" vspace="3" /&gt; &lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Aku memandangi Mario, yang tertunduk lesu. Tak ada canda, tiada tawa. Isapan rokoknya pun sekenanya. Pagi tadi dia datang, lalu diminta tidak bekerja. Ini semua berawal saat makan siang Jumat kemarin. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Anak Portugal itu disalahkan, karena &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;menyerang secara verbal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; pekerja lain. Saat makan siang itu, Mario yang bahasa Inggrisnya tak lancar, tapi suka bercanda bilang pada pekerja lain, Susan: "Kalo kamu makan ikan kebanyakan, kamu akan makin gendut". Susan diam saja. Tapi rupanya perempuan bertubuh subur itu, memendam amarah, lalu melapor kepada manejer. Tak tanggung-tanggung. Ia bilang ia, merasa diserang, &lt;em&gt;nervous&lt;/em&gt;, tidak nyaman atas perkataan Mario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="WIDTH: 182px; HEIGHT: 138px" height="194" hspace="3" src="http://www.antiracistaction.ca/aragr.jpg" width="182" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Tamatlah Mario. Negeri ini sangat menjunjung hak pribadi. Ada hukum &lt;strong&gt;Anti Racist&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Zero Tolerance&lt;/strong&gt; yang melekat pada setiap orang. Terutama pelayan publik. Pertama kali datang dulu, di belakang petugas imigrasi di bandara Heathrow, terpampang tulisan besar: &lt;em&gt;Orang ini bekerja melayani anda. Bila ia merasa diserang, baik fisik maupun verbal, kami akan mengusir anda.&lt;/em&gt; Begitu pula di bis, kantor balaikota, dan rumah sakit ini. Konon, ada pasien yang dipindahkan hanya karena ia menolak dilayani dokter berkebangsaan Arab. Mungkin ia pendukung Bush dan Blair. Barangkali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Aku ingat waktu remaja dulu. Ada &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, bila satu diantara kita yang terlibat permainan, melihat lebih dulu orang bunting, keling, dan botak, kita boleh memukul lawan main. Lingkungan dan budaya kita longgar dalam hal ini. Di layar tipi, banyak orang menuai untung hanya karena "kelebihan". Misalnya artis yang sangat gendut, Boneng yang giginya "lebih" maju, atau Ucok Baba, yang "lebih" kecil dari orang seumurnya. Kita juga punya kebiasaan memanggil orang sesuai "kelebihannya". Ada Udin Gendut, Man Jangkung, Iwan Botak, Mamat Cebol.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:'georgia,;"&gt;Memang, kalau dipikir, tak baik mengejek orang lain. Tapi apakah harus seserius Mario-gate. Padahal, si Mario itu, tak kalah gendut dibanding Susan. Ompong pula. Apalah salahnya, bila Susan membalas: &lt;em&gt;Eh, ngaca lu sono&lt;/em&gt;. Lain lubuk lain ikannya. Hak pribadi begitu dijunjung. Aku terkadang heran. Ngejek gak boleh, suit suit melanggar hukum. Tapi berciuman di depan umum bebas. Pakai pakaian yang terbuka, mangga wae. Berkaca pada kasus Mario, ini pelajaran penting. Seperti patua datuak: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dimano bumi dipijak, disitu langit dijunjuang.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111305459608097232?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111305459608097232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111305459608097232' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111305459608097232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111305459608097232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/mulutmu-harimaumu.html' title='Mulutmu Harimaumu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111323775820190230</id><published>2005-04-09T09:38:00.000-07:00</published><updated>2005-04-11T09:42:38.203-07:00</updated><title type='text'>Right or Wrong, It's My Canary</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 207px; HEIGHT: 151px" height="254" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/unitedcity2.bmp" width="195" align="left" /&gt;Warna hijau kuning menghiasi pusat kota Norwich, malam ini. Hawa dingin menusuk tulang, tak menjadi kendala supporter &lt;a href="http://www.canaries.premiumtv.co.uk/page/Home"&gt;&lt;strong&gt;Norwich City&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; bersukasita. Warga kota Norwich wajar bergembira. Tim kebanggaan mereka menang 2-0 atas si Setan Merah, &lt;a href="http://manutd.com/"&gt;&lt;strong&gt;Manchester United&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt; Ini kali pertama dalam 7 bulan terakhir, &lt;strong&gt;NCFC&lt;/strong&gt; tidak kebobolan. Aku yakin, kemenangan ini akan menjadi buah bibir dalam waktu lama. Lawan MU, &lt;em&gt;je&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 238px; HEIGHT: 188px" height="222" hspace="3" src="http://new.pinkun.com/content/NCFC/Stats/2004-2005/matches/img/040825NewcastleDoherty.jpg" width="210" align="right" /&gt;Ada satu hal yang membuatku kagum pada suporter disini. Dalam musim yang segera berakhir ini, &lt;strong&gt;The Canary&lt;/strong&gt; baru 4 kali menang, dari 32 pertandingan. Posisinya pun buncit dari 20 klub. Tapi, penonton tak pernah sepi. Malahan hari ini, penonton mencapai puncak dalam 15 tahun terakhir, 26 ribu orang. Padahal, NCFC diambang degradasi, melawan klub kuat pula. Harapan apa lagi? Tapi kok ya tetap &lt;em&gt;rame&lt;/em&gt;. Energi ini barangkali yang membuat NCFC tetap punya jamu kuat untuk tetap berjuang penuh. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Suatu kali, &lt;em&gt;housemate&lt;/em&gt; kami, yang suka membaca kabar dari Indonesia di internet, menanyakan soal polah publik yang merusak Senayan pasca kekalahan atas Singapura di Piala Tiger. Kepalang dia tahu, aku bilang saja, andainya Norwich ini di Indonesia, stadion itu sudah rata dengan tanah. Bayangkan, tim tak pernah menang, setiap habis pertandingan suporter membakar bangku, merusak taman, melempari toko, merusak bus. Pastilah setiap pertandingan, &lt;em&gt;City Council&lt;/em&gt; mengeluarkan biaya besar untuk mengerahkan ribuan polisi. Sebab, stadion di &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Carrow Road&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; itu bersebelahan dengan stasiun kereta dan dua toko besar, &lt;em&gt;Morrisons &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; Woolworth.&lt;/em&gt; &lt;span style="color:#006600;"&gt;(&lt;strong&gt;Baca&lt;/strong&gt;: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bola Berdarah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, kiriman &lt;/span&gt;&lt;a href="http://loper-koran.blogspot.com"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;loper koran&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Disini, satu-satunya "kekacauan" kalau ada pertandingan, jadwal bus menjadi molor. Karena pasti ada kemacetan di seputar stadion. Selebihnya ayem. Memang begitulah seharusnya. Apapun yang kita miliki harus kita banggakan. Mau teriak ah, &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcc33;"&gt;HIDUP PSMS...!!!!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111323775820190230?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111323775820190230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111323775820190230' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111323775820190230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111323775820190230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/right-or-wrong-its-my-canary.html' title='Right or Wrong, It&apos;s My Canary'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111289572962540860</id><published>2005-04-07T10:40:00.000-07:00</published><updated>2005-04-08T07:58:13.410-07:00</updated><title type='text'>Kotak Pandora Bernama Bencana</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 223px; HEIGHT: 179px" height="120" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/niasanak.bmp" width="150" align="left" vspace="3" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bak godam raksasa, gempa itu menggada pulau Nias nan naas. Bangunan kukuh, rubuh. Jalanan gagah, pecah. Tower listrik menjulang, tumbang. Kabel listrik panjang merantai, terjuntai. Pulau Nias pun menggulita seketika. Warganya, gulana selamanya. Kita terpana, bencana itu mengapa datang berbondong. Menyeruak relung jiwa, bahwa manusia itu kecil dan papa di mata Nya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Belum 100 hari bencana Aceh yang melantak kota menjadi tak berupa. Kini drama serupa seperti terputar ke mula. Jerit kematian, pengungsi kelaparan, eksodus tak berkesudahan. Dan satu lagi, &lt;strong&gt;kedatangan pasukan asing&lt;/strong&gt; bak rahmat bagi warga. Singapura datang membawa &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffcc00;"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/23"&gt;Chinook&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, capung besi yang lincah kian kemari. Mengangkut makanan ke pedalaman. Mengevakuasi korban ke daerah aman. Juga menjadi hiburan bagi anak-anak yang didera ketakutan. Singapura juga membawa detektor sonar yang bisa menyigi denyut jantung nun dibalik reruntuhan. Hasilnya, seorang warga yang sudah "terkubur" 5 hari, terselamatkan. Sorai membahana, menyanjung sang tetangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;img height="120" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/Aceh/acehheli4.jpg" width="150" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kemana kita? Pejabat dan pengamat yang dikuasai syahwat kuasa, tiada bermuka. "Ini menunjukkan bencana itu adalah universal, global, tidak mengenal sekat kebangsaan. Jadi wajar mereka memberi bantuan sesama tetangga", begitu kira-kira manisnya kata menutupi buruk rupa. Padahal, senyatanya kita sedang mengemis. Sedang membuka borok, bahwa kita tak punya apa-apa. Pertahanan kita rapuh. Hanya punya helikopter tua dengan mesin merk "Kanibal". Sebuah LSM dari Jerman mengirim bantuan dengan menyewa kapal dari Teluk Sibolga. Apa lacur, di tengah samudera mesin mati. Mau minta bantuan, radio juga mati. Padahal, di sungai Thames, London, kapal wisata saja dilengkapi radio canggih, pelampung dan ban bergantungan. Lengkap dengan &lt;em&gt;guard&lt;/em&gt; pula.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kita, mana pernah peduli dengan faktor keselamatan. Banyak cara untuk selamat di saat darurat. Tengoklah, awal kapal itu membuang 3 dari 6 ton bahan makanan untuk korban yang kelaparan. Sebuah ironi. Duhai, ironi apalagi gerangan ini. Disaat bencana mengepung, rakyat menjerit akibat kenaikan BBM, duta besar RI di PBB dibelikan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.laksamana.net/vnews.cfm?ncat=2&amp;news_id=8042"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;villa mewah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; di Jenewa seharga 8.1 juta dollar (kl 73 Milyar rupiah). Lalu pejabat Dephan yang berwenang mengatur pesawat dan kapal tentara, justru heboh dengan pengadaan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=192143&amp;amp;kat_id=23"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;mobil dinas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; senilai 10 milyar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Mengapa kita? Arkian, kata Nabi, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih mulia dari pada menerima. Namun, mengemis, kerjasama bilateral, kesadaran global, adalah pilihan kata yang bisa dihiaskan di media massa. Mestinya, ingat pepatah tua:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;tingginya Chinook terbang dapat diukur,&lt;br /&gt;dalamnya teluk Nias dapat diduga&lt;br /&gt;dalam hati pasukan asing, siapa tau.&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111289572962540860?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111289572962540860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111289572962540860' title='24 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111289572962540860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111289572962540860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/kotak-pandora-bernama-bencana.html' title='Kotak Pandora Bernama Bencana'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111243527707938712</id><published>2005-04-01T01:44:00.000-08:00</published><updated>2005-04-08T07:59:49.510-07:00</updated><title type='text'>Menggodok Mogok</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 153px; HEIGHT: 131px" height="225" hspace="6" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/buruhspanduk.bmp" width="173" align="left" /&gt;Kenapa aku berasa lelah ya? Pegal dan linu persendian dan &lt;em&gt;kempol-kempol&lt;/em&gt;ku sudah mulai Selasa lalu. Paginya, entah aku telat atau bisnya yang mangkir, aku terdampar di halte York Street 40 menit. Jam 6.35 hingga 7.15 pagi. Hanya bermodal jaket tipis, di udara 8 derajat. Sinusitis itu pun beraksi. Maka, seharian aku bersin dan hidung meler. Seninnya, karena &lt;em&gt;easter monday&lt;/em&gt; merupakan &lt;em&gt;bank holiday&lt;/em&gt;, bis mulai pukul 9. Aku pun terpaksa ber &lt;em&gt;kring-kring goes goes&lt;/em&gt; (a.k.a naik sepeda). Coba ini di Depok. Pasti udah minta pijit sama Engkong atau Mbak Mur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 162px; HEIGHT: 143px" height="344" hspace="6" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/buruhprestrike.bmp" width="207" align="left" border="1" bordercolor="yellow" /&gt;Nah, selasa itu aku sudah berpikir untuk pulang. Tapi, karena berharap Rabu dan Kamis ada mogok kerja, aku bertahan. Apalagi pukul 12 ada rapat &lt;em&gt;union&lt;/em&gt;. Eh, &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; taunya, mogok ditunda, saudara-saudara. Rapat pun berlangsung panas. Aku merasa, pimpinan union dan &lt;em&gt;strike committe&lt;/em&gt; terbeli. Aku gak tau, ini naluri jurnalistik atau alam bawah sadar yang terbentuk karena kehidupan panjang di negeri yang penuh misteri sogok menyuap. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebetulnya, peduli setan dengan mogok dan naik gaji itu. &lt;strong&gt;4,85 Pound (kl. Rp 75 ribu) per jam&lt;/strong&gt;, itu jumlah yang sangat-sangat besar buatku. Jangankan dibanding dengan UMR di Indonesia, dengan gajiku saja yang berposisi semi manager (&lt;em&gt;ck..ck..ck..manager cing&lt;/em&gt;!), jumlah itu masih jauuuhhh. Kenaikan ini hanya penting bagi pekerja dari Norwich. Karena mereka akan selamanya bekerja disini, dan tau betapa jumlah ini kecil dibanding pekerja kelas lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Makanya, aku jadi sedikit dari pekerja dari negara non Inggris yang ikut aksi ini. Bukan sok-sokan. Aku mau belajar. Melihat dan merasakan. Seperti rapat hari ini. Aku yakin banyak pikiran serupa sepertiku pada kepala orang-orang ini: &lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;strong&gt;union terbeli&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;. Sebab paginya, ada rapat antara perusahaan dengan Union. Lalu, kenapa orang-orang Union yang biasanya provokatif, kini menjadi corong perusahaan. Hebatnya, tak ada itu yang lompat meja, nyerocos tanpa dipersilakan, apalagi lempar kursi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 155px; HEIGHT: 132px" height="244" hspace="6" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/buruhbentrok.bmp" width="174" align="left" /&gt;Aksi ini juga mengikuti aturan hukum yang jelas. Negosiasi panjang,&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/45"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;demo&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;strong&gt;,&lt;/strong&gt; jajak pendapat menentukan mogok atau tidak, dan progres mogok. Tiga minggu setelah hasil jajak pendapat diserahkan, baru mogok boleh dimulai. Hanya 2 hari dalam sepekan. Minggu depannya, 3 hari, 4 hari, dan 5 hari. Semuanya tertata. Dan dijamin, anggota Union tidak mendapat masalah karena kesertaannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Di negaramu gak kayak gini ya", kata seorang bapak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Eitss... tunggu dulu. Silap anda. Kebebasan berserikat dan berkumpul di negara saya diatur dalam konstitusi. Pasal 28. Terkenal itu"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Tapi kok demo sering ada bentrok dengan polisi" (&lt;em&gt;eh, ngejar doi)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;"Oo.. itu beda. Itu dinamika bos. Saking semangatnya kami menyalurkan aspirasi. Kalau kami demo kreatif. &lt;em&gt;Gak&lt;/em&gt; kayak kalian. Kering dan membosankan"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ada lagi yang mengaitkan dengan agama. "Negaramu kan &lt;em&gt;the biggest Moslem country&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Gak&lt;/em&gt; boleh demo dong ya". Apa hubungannya pak. Aturan di negara kami itu tak kalah dengan aturan di negara kalian. Bedanya, pada pelaksanaan doang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111243527707938712?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111243527707938712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111243527707938712' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111243527707938712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111243527707938712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/04/menggodok-mogok.html' title='Menggodok Mogok'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111192228722040495</id><published>2005-03-26T03:02:00.000-08:00</published><updated>2005-03-28T10:18:06.780-08:00</updated><title type='text'>Sandya ning Kala Yusuf van Bendungan Udik</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 353px; HEIGHT: 245px" height="270" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/buburayam.bmp" width="380" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;Yusuf bin Ahmad&lt;/b&gt;, sehari-hari berniaga bubur ayam di depan Gedung Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sabtu, 26 Maret, Yusuf tewas secara mengenaskan dengan menggantungkan dirinya pada tiang jemuran. Malam sebelumnya, ia menonton televisi, menyaksikan aparat Tramtib menertibkan pedagang dengan cara memukuli. "Lihat tuh Bu, lihat tuh! Jahat sekali mereka. Pedagang ditendang-tendang!" cerita Sopiah mengutip kekesalan suaminya ketika menonton televisi. Tiga minggu sebelumnya, Yusuf mengalami perlakuan serupa seperti yang ia pirsa di tipi: gerobaknya digaruk. Entah gelegak sensasi apa yang dialami Yusuf, paginya ia pun mengakhiri hidup. Ketakutan telah menjelma menjadi kematian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 153px; HEIGHT: 122px" height="90" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/garuktramtibb.bmp" width="125" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Balada Yusuf dari Bendungan Udik ini banyak dijumpai disekitar kita. Kehidupan minus kepastian. Dibumbui pula dengan kisah pilu penipuan, intrik, pengkhianatan. Tengoklah perjalanan almarhum Yusuf ini sebelum &lt;i&gt;sanya ning kala&lt;/i&gt; tiang jemuran. Sudah menikah 18 tahun, punya 2 anak, menumpang di rumah orang tua. Membeli rumah over kredit secara mencicil, setelah menjual warisan leluhur di kampung. Mau balik nama, belum punya duit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 154px; HEIGHT: 118px" height="90" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/garuktramtib.bmp" width="125" align="left" /&gt;Pernah punya simpanan Rp 20 juta hasil jual tanah juga. Dipinjam teman yang mengaku kesusahan, sambil berjanji menambah tiga juta saat mengembalikan. Si teman menjaminkan rumah apabila uang tidak kembali. Saling percaya, tanpa surat menyurat. Tujuh bulan berlalu, uang tak kembali. Mau menarik rumah jaminan, eee... ternyata sudah dijual.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Berbagai masalah, membuat Yusuf sakit-sakitan. Istri tau diri. Saat suami trauma, berdagang sambil waspada buat &lt;i&gt;ngabur&lt;/i&gt;, ikut bekerja. Menjadi tukang masak. Bekerja 10 jam sehari, dibayar Rp 15 ribu. &lt;u&gt;&lt;strong&gt;Seribu lima ratus per jam&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;. Ya Tuhan, negeri ijo royo-royo loh jinawi. Aku termangu tak kuasa bertitah. Besok, kami, para pekerja kebersihan rumah sakit Norwich, akan mogok kerja. Menuntut kenaikan gaji. Rupanya, gaji &lt;strong&gt;4,85 Pound/jam (kl Rp 75 ribu)&lt;/strong&gt; dirasa tidak adil lagi. Ah, manusia memang tiada henti meminta. &lt;em&gt;Allah Robbul Izzati&lt;/em&gt;, ampuni aku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111192228722040495?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111192228722040495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111192228722040495' title='27 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111192228722040495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111192228722040495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/sandya-ning-kala-yusuf-van-bendungan.html' title='Sandya ning Kala Yusuf van Bendungan Udik'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111151010210167785</id><published>2005-03-22T08:46:00.000-08:00</published><updated>2005-03-22T08:55:23.423-08:00</updated><title type='text'>Doraemon Penghilang Malu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/jubahhilang.jpg" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Menghilang...!!!, teriak Doraemon sambil menunjuk Suneo. Ajaib, Suneo pun melangkah ringan melewati musuhnya Giant, tanpa kelihatan. Doraemon, tokoh kartun dalam film berjudul sama, memang sakti mandraguna dalam menciptakan pelbagai peralatan. Tak lama lagi, kemampuan menghilang ini tak hanya ada pada film kartun, Harry Potter, atau "Dunia Lain" belaka. Adalah &lt;b&gt;Andrea Alù dan Nader Engheta&lt;/b&gt; dari Universitas Pennsylvania di Philadelphia, yang mencoba menciptakan jubah penghilang. Mereka mengatakan, bahan yang mereka sebut &lt;i&gt;plasmonic cover&lt;/i&gt; bisa membuat suatu benda nyaris tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Pendek kata, model ini bisa dibayangkan seperti sistem yang dipakai Romulans dalam film &lt;b&gt;Star Trek "Balance of Terror"&lt;/b&gt; tahun 1966, dimana sebuah pesawat ruang angkasa bisa dibuat menghilang dalam sekejap. Kunci konsep ini adalah mengurangi hamburan dan pantulan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini fisika yang merepotkan dan bikin pusing kepala. Padahal kita sudah pusing dengan naiknya BBM yang tak cuma diimbuhi harga naik, tapi juga mogok makan pendemo dan, perkelahian anggota dewan yang terhormat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 197px; HEIGHT: 146px" height="120" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/dprricuh.bmp" width="150" align="left" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 189px; HEIGHT: 146px" height="120" src="http://www.chinanews.com.cn/n/2003-11-07/26/_1068174380_TAIWAN-PARLIAMENT-SCUFFL-25.JPG" width="150" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;                             Antara Taiwan dan Jakarta&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Nah, anggota Dewan ini adalah salah satu sasaran utama, bila jaket penghilang itu telah masuk pasar. Sungguh, aku berharap banyak temuan ini terlaksana. Aku sudah siap menjadi distributor untuk Indonesia. Dijamin laku keras. Aku membayangkan, akan membuka outlet di dua tempat di Jakarta. Pertama di bilangan Blok M. Ini strategis, mengingat dekat dengan Senayan (DPR), Gedung Bundar (Kejaksaan Agung), dan Mabes Polri. Di dua tempat terakhir ini, setiap hari banyak berseliweran koruptor yang akan diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tempat lagi, di kawasan Menteng. Disini ada kantor KPK, dan mayoritas menteri berkantor. Juga, Istana Presiden. Siapa tau mereka yang ada disana mulai malu, karena kebanyakan mengumbar janji, dan kini sadar ternyata semuanya berat. Jangan marah ya bapak-bapak. Sudah ah, saya mau menghilang dulu. Menghilang....!!!!!!&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111151010210167785?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111151010210167785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111151010210167785' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111151010210167785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111151010210167785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/doraemon-penghilang-malu.html' title='Doraemon Penghilang Malu'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111091843395214231</id><published>2005-03-15T12:20:00.000-08:00</published><updated>2005-03-15T12:35:22.436-08:00</updated><title type='text'>6 Bulan di UK</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img height="225" alt="LONDON TRAFALGAR" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/B2Traf.jpg" width="300" border="4" bordercolor="orange" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;i&gt;Trafalgar Square, &lt;b&gt;London&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;i&gt;How are you&lt;br /&gt;Are you all right.&lt;br /&gt;Its good to meet you again.&lt;br /&gt;I hope you are all fine&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit hal berbeda pada cerita kali ini. Ada bahasa Inggrisnya. Bukan mau gagah-gagahan. Tapi mau menjadi penanda, bahwa bahasa ini adalah salah satu hal membahagiakan yang aku peroleh setelah berada di UK. Dan hari ini, kami genap 6 bulan berada di UK, ditandai dengan mendaratnya pesawat &lt;i&gt;British Airways&lt;/i&gt; di bandara Heathrow, London, 15 September tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/7"&gt;&lt;center&gt;&lt;img height="225" alt="Klik untuk foto Cambridge lainnya" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/Cambridge103130.jpg" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;i&gt;King's College, &lt;b&gt;Cambridge&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/a&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;6 bulan di UK. Ada senang ada sedih. Salah satunya soal bahasa itu tadi. Senang, karena sekarang sudah &lt;i&gt;pede&lt;/i&gt;lah berbincang sama orang. Padahal awal tiba dulu, wii..., malu-maluin. Coba, kayak waktu mau naik bis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;i&gt;+ University, please (menyebut tujuan)&lt;br /&gt;- Seventy three&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(Aku dengarnya dia menyebut "cemetery")&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;i&gt;+ No, not cemetery, but university&lt;br /&gt;- Yes, s-e-v-e-n-t-y t-h-r-e-e..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih, karena sudah 6 bulan, rasanya kok masih "gini-gini aja nih". Gimana mau &lt;i&gt;ngelamar&lt;/i&gt; BBC, CNN, UNDP, etc. Tapi aku harus bersyukur, sebab yang aku peroleh meski sedikit adalah rahmat luar biasa. Keberangkatan ke UK ini, adalah kekuatan pemaksa, &lt;i&gt;force majeure&lt;/i&gt; agar aku belajar bahasa. Sekarang aku menjadi jurkam "belajar bahasa" kepada kawan-kawan dan keluarga. Supaya tidak sesal kemudian tiada berguna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/17"&gt;&lt;center&gt;&lt;img alt="Klik utk foto Birmingham lain" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/b2alun.bmp" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;i&gt;Centenary Square, &lt;b&gt;Birmingham&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;/a&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;6 bulan di UK. Setengah jalan sudah terlalui. Senang karena sebentar lagi pulang. Bertemu sanak saudara dan handai taulan. Bertemu pecel lele, tahu, tempe, pete. Sedih, karena akan bertemu kemacetan, ketidak-teraturan, ketidak-amanan, ketidak-nyamanan. Disini, keteraturan itu membuat jam tidur berkurang. Kalau di Jakarta, semua kesempatan digunakan untuk tidur. Termasuk di bis ketika berangkat dan pulang. Soalnya, badan dan pikiran sangatlah lelah. Bayangkan, setiap pagi, aku masuk kerja jam 7. Tapi bisa berangkat naik bis yang jam 6.40. Soalnya, perjalanan tanpa macet itu hanya 20 menit (jarak yang kalau ditempuh dengan jalan kaki kl. 1 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, waktu dan tidur semakin berkualitas. Tidak banyak terbuang hanya karena kemacetan. Maka waktu untuk membaca dan main internet pun semakin banyak. Oh ya, ini "kesedihan" satu lagi. Saat aku menulis cerita ini, azan sedang berkumandang. Bukan dari mesjid, tapi dari internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 bulan lagi, semoga lebih banyak senang ketimbang sedihnya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well, that's all for now, see you later...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111091843395214231?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111091843395214231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111091843395214231' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111091843395214231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111091843395214231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/6-bulan-di-uk.html' title='6 Bulan di UK'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111071818204363826</id><published>2005-03-12T04:40:00.000-08:00</published><updated>2005-03-28T09:47:07.813-08:00</updated><title type='text'>Nasionalisme Kelam di B'Ham</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/17"&gt;&lt;em&gt;&lt;img style="WIDTH: 197px; HEIGHT: 142px" height="100" alt="Di depan stadion" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSCI0108.jpg" width="150" align="left" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;img style="WIDTH: 176px; HEIGHT: 145px" height="100" alt="Supporter" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/suporterdenmark.bmp" width="150" align="left" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hallo..hallo Bandung&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ibukota Priyangan&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;sekarang telah menjadi lautan api&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Mari bung, rebut kembali.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Darahku berdesir kencang menyanyikan lagu ini, sabtu petang di Birmingham. Apalagi, ketika pebulutangkis Alven Yulianto dan Luluk Hadiyanto, yang namanya baru saja diumumkan sesaat sebelum lagu itu mengalun, muncul di &lt;em&gt;court 2&lt;/em&gt;. Aku, &lt;a href="http://arisemut.blogspot.com"&gt;istri&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://aljayuzi.blogspot.com"&gt;8 teman&lt;/a&gt; dari Norwich, dan pelajar-pelajar Indonesia dari sejumlah kota di Inggris, terus bernyanyi, berteriak, mengibarkan merah putih, dengan kebanggaan dan rasa nasionalisme luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="150" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/lulukalven.bmp" width="120" align="left" /&gt;Setelah berjuang 72 menit, Luluk dan Alven tunduk 12-15, 15-6, 10-15 dari pemain Denmark. Kami sungguh tak kuasa menahan duka. Terdiam sesaat, ditengah deru suara riang suporter Denmark. Dibawah sana, Luluk tak mampu menahan kecewa. Ia terduduk lesu di karpet, dibawah panggung penonton. Bajunya yang berpeluh diangkat ke dada. Berselonjor, dengan punggung terkulai bersandar. Terpuruk, terduduk, dan tersuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luluk dan Alven wajar kecewa. Alur permainan mereka dominasi. Hanya karena kesalahan sendiri, akhirnya mereka menelan pil pahit. Aku menangis dalam hati. Sebagai manusia biasa, pastilah Alven dan Luluk gulana bukan kepalang. Dalam hati aku bilang, malangnya negeriku. Bulutangkis adalah benteng terakhir penangkis anggapan bahwa Indonesia tidak memiliki suatu apapun yang bisa dibanggakan. Kini bulautangkis itu pun semakin terpuruk. Tak satu pun pemain Indonesia yang mencapai final. Padahal dulu, &lt;i&gt;All Indonesian final&lt;/i&gt; sering terjadi di beberapa partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang buat kami yang datang jauh dengan membawa van besar &lt;i&gt;17 seats&lt;/i&gt; dari Norwich (3 jam perjalanan). Kekalahan pun diderita ganda campuran Nova Widiyanto dan Liliyana Natsir. Juga dari Denmark. Bendera pun dilipat, sambil keluar &lt;em&gt;&lt;strong&gt;National Indoor Arena (The NIA)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dengan teriakan tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos/album/17"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;img style="WIDTH: 196px; HEIGHT: 144px" height="110" alt="Birmingham, Kota Seribu Kanal" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/DSCI0102.jpg" width="150" align="left" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tapi kami tak menyesal. Setidaknya, bisa sedikit membangkitkan rasa nasionalisme, tanpa harus menyandang senjata dan meneriakkan Ganyang Malaysia. Pertandingan yang masih tersisa kami abaikan. Kami menyusuri kota Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris dengan perasaan gembira. Mungkin gembira dalam duka. Entahlah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111071818204363826?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111071818204363826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111071818204363826' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111071818204363826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111071818204363826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/nasionalisme-kelam-di-bham.html' title='Nasionalisme Kelam di B&apos;Ham'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111057204976092241</id><published>2005-03-11T12:12:00.000-08:00</published><updated>2005-03-11T12:15:36.630-08:00</updated><title type='text'>Derma Hidung Merah</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 368px; HEIGHT: 46px" height="60" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/bannerrednose.bmp" width="368" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Hari ini banyak perempuan di rumah sakit berbaju merah. Lucunya, di hidungnya terpasang bulatan hingga menyerupai badut. Tak cukup, rambutnya dipasangi temali warna warni dominasi merah, dan wajah digambari. Juga merah. Sepengingatanku, pada hari-hari biasa sebagian dari mereka jelita. Tapi hari ini, cukup untuk mengundang tawa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="110" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/rednose.bmp" width="150" align="left" border="3" bordercolor="red" /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Oho.. rupanya hari ini, 11 Maret, hari “Hidung Merah” atawa &lt;b&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Red Nose Day&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Acara ini kalender 2 tahunan, yang dirayakan di antero Inggris Raya, juga Australia. Sambil berkeliling mempertontonkan hidung merahnya, mereka menyodorkan kotak sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://rednoseday.com"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:red;"&gt;Red Nose Day&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; digagas oleh komedian Inggris Lenny Henry, untuk &lt;span style="color:yellow;"&gt;&lt;i&gt;menciptakan dunia yang damai bagi semua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;. Acara ini dikenal juga sebagai &lt;b&gt;comic relief&lt;/b&gt;, pengumpulan dana dengan cara gembira ria. Berbagai macam acara dilakukan untuk menyemarakkannya. Seperti &lt;i&gt;fun run&lt;/i&gt;, lomba lari dengan kostum unik, bahkan ada –maaf—berdansa telanjang di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="110" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/rednoserame.bmp" width="150" align="left" border="3" bordercolor="red" /&gt;Dua tahun lalu, acara ini menangguk dana masyarakat 61 juta Pound (kl 1 trilyun rupiah lebih). Jumlah ini menggemukkan kocek panitia &lt;b&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Red Nose Day&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; menjadi 337 juta Pound (kl Rp. 5,7 Trilyun rupiah. Ada 7000 proyek yang ditangani &lt;b&gt;comic relief&lt;/b&gt;. Mulai dari Aids, &lt;i&gt;homeless&lt;/i&gt;, korban konflik dan perang, hingga korban kekerasan rumah tangga. Tahun ini, fokus bantuan, adalah korban tsunami Asia, dan kelaparan di Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Inggris memang tergila-gila kepada derma. Berbagai cara atraktif mereka lakukan untuk meraup dana. Hebatnya, mereka tak hanya menadahkan tangan. Kemarin, di rumah sakit juga, ada 2 tentara dari detasemen kesehatan, mencari dana dengan menyemir sepatu siapa saja. Aku geli melihatnya. Teringat di Indonesia. Bukankah tentara dari detasemen serupa yang memukuli awak LSM Farid Faqih hingga babak belur? Pernah juga, ada nenek-nenek dengan pakaian senam, seolah dia masih remaja belia saja, berjoget mengikuti musik hip hop, untuk dana kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan kecewa. Di Jakarta sana, pengumpul dana juga cukup menarik. Memasang drum ditengah jalan, mbak-mbak dan mas-mas memegang alat penjaring ikan, ditemani pula lagu-lagu. Atau bermodal kotak kayu, tape dengan kaset dakwah, maka: "Bapak-bapak, ibu-ibu, ...... raihlah sorga". Sungguh sebuah kata yang tak cuma atraktif, tapi menjanjikan.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111057204976092241?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111057204976092241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111057204976092241' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111057204976092241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111057204976092241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/derma-hidung-merah.html' title='Derma Hidung Merah'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111040131114616998</id><published>2005-03-09T12:43:00.000-08:00</published><updated>2005-03-27T09:58:16.930-08:00</updated><title type='text'>Solar Kencing Berlari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 379px; HEIGHT: 200px" height="120" alt="Mencuri Solar" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/solarkencing.jpg" width="170" align="left" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Pergilah ke utara. Tepatnya kawasan jalan Yos Sudarso, Tanjungpriok. Disini solar dijual Rp 2000. Seratus perak dibawah harga resmi pemerintah. Jangan buru-buru menuding itu solar oplosan. Ini barang bagus. Bisa murah karena dibeli tanpa modal uang, tapi modal nekat. Nyawa, atau minimal kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penjual solar eceran ini mendapat pasokan dari orang yang menyabung nyawa dengan membuka kran truk tangki yang sedang melaju. Truk yang baru saja mengisi di depo Plumpang, ketika melintas di jalanan macet, segara dipepet orang bermodal jeriken. Mereka menyebutnya "solar kencing". Bukan sekali dua terjadi kecelakaan, dengan korban nyawa atau patah kaki terlindas truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah &lt;i&gt;rahayat&lt;/i&gt; Indonesia. Gigih, berani, tangguh, patriot. Makanya, lembaga-lembaga dunia pun keheranan. UNDP yang mengeluarkan &lt;i&gt;poverty line&lt;/i&gt; 2 dollar/hari, kagum bahwa bangsa yang 40 persen penduduknya berpenghasilan dibawah 2 dollar itu tetap hidup. Mereka hidup survive, subsisten karena lingkungannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 190px; HEIGHT: 137px" height="100" alt="Pemulung" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/pemulung.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 183px; HEIGHT: 135px" height="100" alt="Gelandangan" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/gelandangan.jpg" width="160" align="left" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;center&gt;&lt;img style="WIDTH: 232px; HEIGHT: 160px" height="100" alt="pinggir kali" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/miskin.jpg" width="160" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.time.com/time/europe/html/050314"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Time edisi Eropa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; terbaru mengangkat soal kemiskinan. Pedih kita melihatnya. Potret &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.time.com/time/covers/1101050314/photoessay"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;kemiskinan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; diumbar. Ada foto anak-anak tertidur di pelataran stasiun Cikini. Ada foto bapak-bapak mandi dilingkupi jemuran dengan latar belakang KRL melintas. Ada pemulung ditengah gunung sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau kita lihat dekat, tidaklah semenor pada gambar itu. Pemulung itu tetap bergembira. Gelandangan di pinggir kali, tetap nyaring menirukan lagu dangdut dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, manusia Indonesia memang unik dan ajaib. Bagi mereka senang dan susah, tipis sekali bedanya. Mungkin mereka pembaca &lt;b&gt;The Prophet&lt;/b&gt;-nya Gibran, &lt;i&gt;"Ketika manusia bercengkerama dengan kebahagiaan di tempat tidur, kesedihan sedang menunggu di kamar tamu".&lt;/i&gt; Bagaimana manusia bisa lari dari kebahagiaan atau kesedihan jika kita serumah dengan keduanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111040131114616998?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111040131114616998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111040131114616998' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111040131114616998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111040131114616998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/solar-kencing-berlari.html' title='Solar Kencing Berlari'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-111002957274173481</id><published>2005-03-05T05:26:00.000-08:00</published><updated>2005-03-05T05:40:47.410-08:00</updated><title type='text'>Tercekat di Ambalat</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;img height="130" alt="KRI TNI AL" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/kapalbaris.jpg" width="170" align="left" border="3" bordercolor="black" /&gt;&lt;img height="130" alt="F-16 AU" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/f-16.jpg" width="170" align="left" border="3" bordercolor="black" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Tujuh kapal perang Indonesia, kini merapat dengan garang ke Karang Unarang, laut Sulawesi. Diatas, pesawat tempur meraung mengawal konvoi ini. Kedatangan gugus tempur ini kesana adalah untuk menjaga blok Ambalat, yang diklaim Malaysia sebagai bagian dari wilayahnya. Tak ayal, Jenderal SBY pun gusar. Selain deploy pasukan, diperintahkan pula pembangunan mercu suar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski terjadi beberapa kali provokasi, seperti pesawat Malaysia yang memotong haluan kapal perang RI, serta kapal perang Tentara Diraja Malaysia yang berlabuh begitu rapat, syukur kedua serdadu serumpun itu bisa menahan diri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secara historis kawasan itu dulunya merupakan wilayah Kerajaan Bulungan, seperti juga Pulau Sipadan dan Ligitan. Nah, pasca lepasnya Sipadan-Ligitan, rupanya Malaysia “dikasi hati minta rempela”. Pertamina Malaysia, Petronas, sudah memberikan konsesi kepada Shell untuk mengebor disana. Padahal Indonesia sudah memberi konsesi serupa kepada perusahaan Itali, ENI, serta Unocal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img height="130" alt="TKI Pulang" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/tki.jpg" width="170" align="left" border="3" bordercolor="black" /&gt;Apakah ini semata soal uang, minyak, atau kedaulatan.Mengapa pula Malaysia, negara kecil yang dulu pernah mau diganyang Bung Karno, begitu semena-mena. Mungkinkah datuk-datuk dan Tun disana besar kepala setelah mencaplok Sipadan. Yang lebih gawat, jika Malaysia merasa &lt;i&gt;pede abis&lt;/i&gt;, karena menganggap Indonesia adalah orang kalah, yang tercermin dari kasus TKI. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="130" alt="TKI Diusir" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/tkipaspor.jpg" width="170" align="left" border="3" bordercolor="black" /&gt;TKI yang diusir, disiksa, tapi datang lagi, agaknya telah membuat martabat kita sebagai bangsa tergerus. Jangan-jangan Malaysia menjadikan ini ukuran, bahwa TKI adalah legitimasi psikologis tentang bangsa yang kalah secara keseluruhan. Orang yang diusir, lalu datang lagi, adalah orang yang menggadaikan harga diri. Tapi inilah pilihan tersulit bagi saudara-saudara kita itu, ditengah peruntungan yang buruk di negara sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku pribadi mendukung “perang” ini. Siapa tahu, jika hasil bumi disana dikeruk secara normal, harga BBM bisa turun lagi. Lalu, jangan lupa, abis itu perangi kemiskinan dong... Mau ya...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-111002957274173481?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/111002957274173481/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=111002957274173481' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111002957274173481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/111002957274173481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/tercekat-di-ambalat.html' title='Tercekat di Ambalat'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-110989067927995015</id><published>2005-03-04T14:55:00.000-08:00</published><updated>2005-03-03T15:04:53.633-08:00</updated><title type='text'>Ada Setelah Tiada</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 261px; HEIGHT: 273px" height="340" alt="ayam ngepel" hspace="4" src="http://www.bestmop.com/images/SwanSprayFloor_1.png" width="280" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Pagi ini aku berangkat tergesa. Udara dingin membuatku malas bangkit dari peraduan. Akibatnya, aku dapat bis yang jadwalnya mepet dengan jam mulai kerja. Bis yang berjalan tertatih untuk menghindari slip karena salju, menyebabkan aku telat tiba di &lt;a href="http://latief.multiply.com/journal/item/14"&gt;Rumah Sakit&lt;/a&gt;. Begitu mau mulai, aku kaget mendapati &lt;i&gt;eco mop&lt;/i&gt; tidak ada di &lt;i&gt;cup board&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;store&lt;/i&gt;. Barang kecil ini digunakan seperti sapu, namun dipasang seperti kain pel. Kemampuannya menyerap debu membuatnya multi fungsi, sebagai sapu sekaligus menahan debu tidak berterbangan menimbulkan polusi. Mungkin ini sebabnya, disebut &lt;i&gt;eco mop&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 198px; HEIGHT: 147px" height="152" hspace="4" src="http://www.bonette.se/images/floor.jpg" width="130" align="left" /&gt;Aku tanya &lt;i&gt;team leader&lt;/i&gt;, dijawab barang kecil itu sudah sejak kemarin tidak ada. Solusinya, si &lt;i&gt;eco&lt;/i&gt; diganti dengan lap lain yang diperuntukkan membersihkan meja. Karena fungsinya memang berbeda sejak awal, makan ketika digunakan tidak dalam domain areanya, lap itu kurang bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 201px; HEIGHT: 160px" height="120" hspace="4" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/bbmprotessby.jpg" width="150" align="left" /&gt;Saat itulah, aku tersadar betapa pentingnya lap putih kecil berserabut itu. Saat ia begitu dibutuhkan, tapi tidak ditemukan. Terasa ada setelah tiada. Banyak kejadian macam ini dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang sederhana, sedang, maupun dalam konteks besar. Bapak Presiden kita SBY, yang menyebut dirinya pilihan rakyat, akan tau betapa pentingnya orang banyak bernama rakyat itu, ketika pemilu mendatang kehilangan suara pemilih. Padahal, ketika berkuasa saat ini, kebijakannya tidaklah memihak rakyat Indonesia. Bahkan tidak rakyat Cikeas. Ah, kok ngelantur ke soal Presiden sih. Tukang sapu aja, pake ngomong &lt;i&gt;pulitik&lt;/i&gt;. Tabik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-110989067927995015?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/110989067927995015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=110989067927995015' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110989067927995015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110989067927995015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/ada-setelah-tiada.html' title='Ada Setelah Tiada'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-110962416352473974</id><published>2005-03-01T12:53:00.000-08:00</published><updated>2005-03-01T12:10:07.186-08:00</updated><title type='text'>Orang Miskin Dilarang Sakit</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="WIDTH: 189px; HEIGHT: 147px" height="120" alt="antre bbm" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/antrebbm.jpg" width="150" align="left" /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Malam ini BBM naik lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Antrean pun terjadi dimana-mana. Mulai dari bajaj hingga mobil bagus. Berebutan mengisi BBM dengan harga lama. Padahal berapa sih yang bisa diisi. Katakan 100 liter. Selisih harga baru dan lama untuk bensin Rp 600. Artinya menghemat 100 x Rp 600 = Rp 60 ribu. Untuk uang sejumlah itu, banyak orang rela mengantri berkilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, kata Pak SBY, salah satunya bila mengikutkan program kompensasi, justru akan mengurangi kemiskinan. Jargon ini pun dijual lewat "iklan layanan pemerintah" yang dilansir &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&amp;id=4577"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Freedom Institute&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; milik Aburizal Bakrie. Pemerintah sudah menyiapkan dana kompensasi superbesar, Rp. 17,8 Trilyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 187px; HEIGHT: 146px" height="120" alt="antre minyak tanah" hspace="3" src="http://img.photobucket.com/albums/v663/arisutanti/bbmibu.jpg" width="150" align="left" /&gt;Tapi siapapun tahu, kenaikan BBM akan diikuti gelombang kenaikan di segala bidang. Ya ongkos, ya sembako. Rezim berganti-ganti, setiap kenaikan BBM selalu berlindung dibalik kepedulian orang miskin yang akan mendapat subsidi silang. Kali ini yang dirancang adalah dana kesehatan dan dana pendidikan. Kalau ini gagal, anak-anak dari kalangan bawah akan semakin kehilangan kesempatan untuk merubah nasib, dan ujung-ujungnya keluarga itu akan miskin 7 turunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 186px; HEIGHT: 145px" height="120" alt="”pasien" hspace="3" src="http://www.kompas.com/utama/news/0402/17/060933.jpg" width="150" align="left" /&gt;Subsidi adalah barang milik orang miskin yang sulit mereka dapat. Untuk memperoleh layanan kesehatan gratis harus melewati prosedur bertele. Mulai surat keterangan miskin dari RW. Iya kalau udah punya KTP. Kalau sakitnya semacam demam berdarah, bisa "tamat" sebelum surat miskin didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku bermenung lama, sambil memandangi resepsionis jelita melayani calon pasien di Rumah Sakit Norwich. Disini, pengobatan gratis. Maka, untuk mendapatkan kamar, berlaku sistem reservasi. Pasien menginap, datang dengan membawa surat panggilan. Ah, seandainya bangsaku yang dilayani macam itu. Pastilah kaset lagu Iwan Fals berjudul &lt;b&gt;ambulan zigzag&lt;/b&gt; tak laku :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;i&gt;Suster cantik datang mau menanyakan&lt;br /&gt;Dia menanyakan data si korban,&lt;br /&gt;Dijawab dengan jerit kesakitan&lt;br /&gt;Suster menyarankan bayar ongkos....pengobatan&lt;br /&gt;Hai sungguh sayang korban tak bawa uang&lt;br /&gt;Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata&lt;br /&gt;Silakan bapak tunggu dimuka&lt;br /&gt;Hai modar aku.....hai modar aku&lt;br /&gt;Jerit si pasien merasa kesakitan &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hai orang miskin, dilarang sakit!!!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-110962416352473974?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/110962416352473974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=110962416352473974' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110962416352473974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110962416352473974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/03/orang-miskin-dilarang-sakit.html' title='Orang Miskin Dilarang Sakit'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-110953930218296547</id><published>2005-02-27T13:18:00.000-08:00</published><updated>2005-02-28T13:11:46.203-08:00</updated><title type='text'>Musim Yang Mendua</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Malam yang basah. Juga beku. Aku memandangi salju bak buliran ribuan kapas melayang menjejak bumi. Sesekali ada yang hinggap di kaca jendela tempat aku melongok. Mobil mobil dan jalan raya sudah putih bersaput salju. Sepasang anak manusia melintas dibawah. Cekikikannya membuatku menatap lebih lama. Si perempuan melempar pacarnya dengan bola salju. Lalu si lelaki menyauk es di kap mobil. Mereka berkejaran di malam dingin ini. Pasti mereka sedang menyesap cinta yang putih dan selembut salju.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos"&gt;&lt;img style="WIDTH: 114px; HEIGHT: 101px" height="110" alt="pagi" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/mobil.jpg" width="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img style="WIDTH: 119px; HEIGHT: 98px" height="110" alt="siang" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/baang.jpg" width="140" /&gt;&lt;img style="WIDTH: 112px; HEIGHT: 98px" height="110" alt="subuh" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/baapagi.jpg" width="140" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;td width="140"&gt;&lt;a href="http://latief.multiply.com/photos"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;Minggu 10 am    Minggu 02 pm    Senin 06 am&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Aku tersenyum. Tapi hatiku mendua. Senang karena akhirnya bisa melihat salju, yang gagal datang pertengahan januari lalu. Sedih, karenja besok pagi aku harus bekerja keras menjaga atrium --&lt;i&gt;main entrance&lt;/i&gt;-- Rumah Sakit tetap bersih. Tak apalah capek sedikit, tokh ini hanya setahun sekali. Lagipula, kapan lagi bisa berjalan di atas es. Maka nikmatilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya sekarang sudah musim semi. Ditandai dengan pergantian pakaian yang bergantungan di etalase toko, menjadi &lt;i&gt;spring collection&lt;/i&gt;. Aku masih terus menatap. Persis dibawah lampu jalan, berdiri tegak pohon tanpa daun. Ajaib, sudah lebih 2 bulan ia tak berdaun, tapi masih tetap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus segera tidur. Sebelum berangkat ke peraduan, nun jauh di lubuk hati, selarik &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bicarasufi.com/bscweb/Quran/41-55/surah055a.html"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Ayat Suci&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt; mengalun: &lt;b&gt;"Maka nikmat Allah yang mana lagi, yang hendak kamu dustakan?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-110953930218296547?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/110953930218296547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=110953930218296547' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110953930218296547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110953930218296547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/02/musim-yang-mendua.html' title='Musim Yang Mendua'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-110927800888482217</id><published>2005-02-24T12:32:00.000-08:00</published><updated>2005-02-24T12:51:56.200-08:00</updated><title type='text'>Pulang...</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;"...jangan sampai episode ini melunturkan keberanian, semangat, dan kegigihan wartawan menjalankan tugas jurnalistik. Wartawan menjadi bagian terpenting penegakan kebenaran, misi kemanusiaan, dan pengembangan demokrasi..."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;-Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono-&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=58715"&gt;&lt;img style="WIDTH: 242px; HEIGHT: 178px" height="149" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/meutyasby.bmp" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Jakarta, 24.02.05, Istana Kepresidenan&lt;br /&gt;Baghdad, Irak 3-14 &lt;span style="color:#000099;"&gt;(Liputan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Ramadi, Irak 15-22 (Disandera)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-110927800888482217?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/110927800888482217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=110927800888482217' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110927800888482217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110927800888482217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/02/pulang.html' title='Pulang...'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8495426.post-110876575287138714</id><published>2005-02-18T14:27:00.000-08:00</published><updated>2005-02-20T02:46:46.526-08:00</updated><title type='text'>Meutya, Dari Pidie Sampai Ramadi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;center&gt;&lt;img height="250" alt="meutya saat farewell party" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/pondoklaras3.jpg" width="345" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Baaaannggggg.....Aku di Baghdad neh, sejak 3 Februari. Sulit cari berita. Banyak isu, tapi dimana-mana gak boleh shooting. Minta ID aja, sambil nodongin senjata. Lelah lihat Baghdad. Bukan takut sih. Dimana-mana orang nenteng senjata. Kemarin mobil kita ditembak, hanya karena tentara AS mau lewat. Sampai mau tidur, masih dengar letusan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Email Meutya tertanggal 10 Februari itu, aku baca dengan mata berkaca. Pagi ini, pukul 6 tepat, sesaat sebelum berangkat kerja, aku baca &lt;u&gt;detik.com&lt;/u&gt;. Di Jakarta pukul 13, saat berita itu muncul: &lt;b&gt;"Dua wartawan Metro TV hilang di Irak&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;Meutya berangkat ke Irak bersama juru kamera Budiyanto. Bagi Budi, ini adalah keberangkatan yang ketiga kali. Ia disana, sebelum Amerika menginvasi negara Saddam ini. Lalu, setelah Saddam terguling. Selain piawai membidik gambar, Budi mahir menjalankan &lt;i&gt;videophone&lt;/i&gt;, alat pengirim gambar &lt;i&gt;compact&lt;/i&gt; dengan wahana telepon satelit. Hal ini yang membuat Budi pergi berulang ke Irak. Selain tentunya, ia mudah diajak kerjasama, tidak neka neko, dan penolong.&lt;br /&gt;Ini klop dengan Meutya. Bagiku, keduanya memiliki arti besar, selain sebagai kolega. Karena rumah kami, yang searah, aku dan Budin kerap pulang bareng. Meutya, pernah bersamaku di Aceh, selama 2 pekan, di awal darurat militer, Juni 2003. Aku field producer, ia presenter dan reporter. Ia penasaran dan memaksa untuk selalu ikut ke daerah rawan. Aku tegas, tak membolehkannya ke Pidie. Sambil bercanda aku bilang, kalau ada apa-apa, bisa mati aku digorok Agus Isrok. Pacarnya ini adalah anggota Kopassus, putra mantan KSAD, Subagyo HS.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari Aceh, aku memegang program &lt;b&gt;Metro Siang&lt;/b&gt;, Meutya &lt;i&gt;main presenter&lt;/i&gt;nya. Pertemanan kami semakin dekat. Ia cantik khas Sunda, dan keras sesuai titisan darah Makassar. Kami kerap berdebat. "Abang adalah teman sekaligus guru bagiku", katanya di hari keberangkatanku dari Jakarta ke Inggris, 14 September lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img height="130" src="http://img.photobucket.com/albums/v600/alsiregar/meutyaibu.jpg" width="170" align="left" hsapce="3" /&gt;Ia seakan tak mau berpisah. Padahal sehari sebelumnya, ia, Agus, dan kawan-kawan Metro lainnya sudah datang ke rumah. Meutya memberiku buku, &lt;b&gt;"A nation in waiting"&lt;/b&gt;. Pagi ini kupandangi buku itu. Tulisan Meutya di halaman depan, membuatku semakin merindunya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, aku mendapati panggilan telepon tanpa nomor. Aku terkesiap. Pasti Jakarta. Pasti Meutya dan Budi. Suara berat Muzakkir Husein menyapa berat. "Udah tau belum, udah positif". Aku tercekat, bibirku kelu. "Mereka disandera di Ramadi, tapi selamat". Muzakkir mendekatkan telepon ke layar TV yang sedang menyiarkan berita itu pukul 2 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kubaca lagi email Meutya. &lt;span style="color:red;"&gt;Pengen banget ke UK, tapi gimana dong..., emang dekat yak&lt;/span&gt;. Aku menyesal, tak segera membalasnya dulu. Aku tulis: "Mutmut, semoga kamu tidak kenapa-napa ya. Datanglah ke Norwich, we miss you so much. Pengalaman mendebarkanmu itu akan kita jadikan buku kenangan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#000099;"&gt;&lt;em&gt;Diambil Koran&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;TRIBUN TIMUR&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Makassar, 20 Februari 2005&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8495426-110876575287138714?l=latiefs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://latiefs.blogspot.com/feeds/110876575287138714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8495426&amp;postID=110876575287138714' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110876575287138714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8495426/posts/default/110876575287138714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://latiefs.blogspot.com/2005/02/meutya-dari-pidie-sampai-ramadi.html' title='Meutya, Dari Pidie Sampai Ramadi'/><author><name>Latief</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
