Bandung, Miris van Sampah
Hujan membasahi pagi. Titik kecil tak deras, tapi dingin menusuk ngilu. September 2004, Norwich yang autumn bersuhu 10C di pagi hari. Suhu yang berbeda jauh dengan Jakarta, yang baru kami tinggalkan dua hari bersilih.
Suara gradak gruduk di bawah, memaksaku lepas dari jeratan duvet. Mengintip dari jendela lantai dua, melihat tukang sampah sedang memindahkan isi tempat ke kereta dorongnya. Gila. Kardus bekas kami membawa rempah dan bumbu untuk setahun, diterlantarkan begitu saja. "Tukang sampah apaan nih", pikirku.
Baru setelah housemate kami, yang sudah setahun di Norwich bangun, aku tau jawabannya. Pertama: the bin man hanya mengangkat sampah yang terikat rapi dalam plastik. Kedua, kardus dalah jenis recycle bin, yang pengangkatannya berbeda hari dengan sampah basah. Dan sampah kardus, botol, kertas, dan kain harus ditaruh di halaman, bukan di belakang. Jangan2 tukang sampah tadi, ekawicara: "warga macam apaan nih"
Ya, pelajaran sosial pertama tinggal di Norwich, adalah soal sampah. Penanganan sampah sudah dimulai dari dapur, dengan pemisahan dan penempatan yang baik. Pantesan hanya 2 orang yang mengoperasikan truk besar itu. Sayang, aku tak pernah sampai ke area pengolahan, sebab sama sekali tak menyangka, akan terjadi darurat sampah macam di Bandung saat ini.
Kini bukit dan gunungan sampah merebak di antero kota Bandung. Bukit sampah itu, seperti mengejek sawargi Bandung, yang memapas bukit jadi griyo, FO, resto. Sampah memang harus dilihat bukan sebagai tumpukan pembuangan belaka. Tetapi sebagai sampah sebagai muara penerapan aturan yang keliru.
Ketika sungai banjir di msuim hujan, kekeringan di masa kemarau, kita alpa bahwa itu disebabkan pinggiran kali tak tertangani dengan baik. Ketika jalanan macet, akibat penempatan mal dan warung di belokan jalan, kita khilaf bahwa itu bukti penerapan IMB tidak sesuai aturan.
Banjir dan macet berlalu seiring waktu. Tapi sampah tidak. Baunya menyengat hingga istana. Presiden yang datang ke Bandung pun, mengaku mencium uapnya. Padahal, ia ada di dalam mobil mewah, dan sepanjang jalan yang dilaluinya pasti sudah "ditertibkan" aparat lokal. Lalu, seperti apa pula bau yang tercium warga Bandung?
Kalau sesuatu yang sudah terduga macam sampah ini, tak bisa diatasi, pegimane pula dengan gempa Sabtu kelam di Bumi Mataram? Subhanallah.
3 Comments:
hehehehe....
keknya bandung bisa jadi inspirasi dakuh buat berbisnis.
bagimana kita buat bisnis penampungan sampah.
trus bisa memperkerjakan banyak tenaga kerja neh...
sebagai pemulung..
gimana setuju ngak eyang ???????
gak cuma bandung sebenernya.. di mana2 ternyata banyak orang jorok.. suka buang sampah sembarangan mbah..
best regards, nice info » » »
Post a Comment
<< Home